Lord Of Athlanda

Lord Of Athlanda
holidays also meet you


__ADS_3

Akhir pekan telah tiba, sejak kemarin malam Lardo sudah membuat janji dengan Fujimoto yang tak lain adalah teman sekelasnya untuk pergi bersama ke perpustakaan kota. sudah lama sekali rasanya ia tidak menghabiskan waktu bersama dengan seorang teman.


Ia teringat terakhir kali pergi jalan-jalan bersama dengan Shenna. "Bagaimana keadaannya sekarang?" Gumam Lardo pelan dengan kedua tangan yang sibuk memasukkan beberapa buku catatan ke dalam tasnya. Lardo bersiap-siap untuk pergi ke perpustakaan dengan mengenakan pakaian santai.


Tiba-tiba telfon rumahnya berdering, Rossa yang saat itu tengah berada di ruang tamu bersama dengan Lili langsung mengangkat telfon itu. "Kediaman Dimitri, siapa disana?" Fujimoto dapat menebak kalau seseorang yang mengangkat telfonnya adalah ibu Lardo.


"Bibi, aku adalah Fujimoto tatsuba. teman sekelas Lardo. apa Lardo sekarang ada di rumah?" Tanya Fujimoto memastikan. Rossa langsung tersenyum sambil mengangguk pelan. "Oh temannya Lardo, Lardo sedang berada di kamarnya. sebentar, akan bibi panggilkan." Tak lama setelah itu terdengar suara Rossa yang memanggil nama putranya.


"Ada apa, bu?"


Tanya Lardo bingung sambil menuruni anak tangga perlahan-lahan. "Temanmu menelfon." Lardo langsung mengambil alih telefon rumah dari Rossa saat itu juga. "Fujimoto, ya?" Fujimoto tertawa pelan mendengar suara Lardo yang sangat datar. "Iya, benar. ini aku. kau sudah siap belum? aku sekarang sudah siap, sebentar lagi aku akan berangkat ke stasiun. kita bertemu di stasiun saja, ya?"


"Aku sudah siap, baiklah kalau begitu. kita bertemu di stasiun nanti."


Lardo sekarang sudah tiba di stasiun dan tengah mencari-cari keberadaan Fujimoto di tengah ramainya orang yang berlalu lalang.


"APA YANG KAU LAKUKAN?!" Lardo secara tiba-tiba tak sengaja mendengar suara keributan yang berasal tak jauh darinya. Lardo langsung pergi menuju asal suara itu untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Lardo membulatkan mata lebar saat melihat Leora tengah berada di pojok stasiun dan terdapat 2 orang laki-laki yang mengelilinginya.


Dengan cepat Lardo menghampiri Leora, ia menarik pergelangan tangan Leora dan membuat Leora langsung terjatuh ke dalam pelukannya. Leora sangat terkejut, jantungnya bahkan saat ini sudah berdetak dua kali lebih cepat dibandingkan biasanya. "Apa yang kalian inginkan?" Suara bariton Lardo terdengar sangat hangat di telinga Leora.


"Jika kalian tidak pergi sekarang, aku tidak akan segan menghabisi kalian." Ancam Lardo yang pada 2 orang laki-laki yang langsung membuat mereka melangkah pergi meninggalkan Leora dan juga Lardo. Leora tidak tau harus mengatakan apa sekarang pada Lardo, Lardo menggenggam kedua bahu Leora dan menatap wajah Leora yang sekarang tengah tertunduk diam. "Kau baik-baik saja?" Tanya Lardo memastikan.


"Aku... aku baik-baik saja." Jawab Leora gugup.


"Apa yang sebenarnya terjadi? kenapa kau tidak berusaha untuk melawan mereka?" Lardo dapat melihat kedua tangan Leora masih bergetar ketakutan. Lardo menghela nafas pelan lalu menuntun Leora dan mengajaknya duduk di sebuah kursi yang tersedia di stasiun. Lardo juga membelikan Leora sebotol air mineral agar Leora dapat sedikit menenangkan perasaannya.


"Bagaimana keadaanmu sekarang?" Tanya Lardo menatap wajah Leora yang sedari tadi hanya diam tanpa sepatah kata pun. "Aku baik-baik saja, tidak perlu merasa cemas." Jawab Leora setelah keheningan cukup lama mendominasi mereka.

__ADS_1


Lardo menghela nafas lega. "Syukurlah, bagaimana bisa mereka melakukan hal itu padamu? apa telah terjadi sesuatu?" Tanya Lardo merasa penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya. Leora menaikkan pandangannya, matanya kini tengah menatap lekat kedua mata Lardo yang berada di hadapannya.


"Mereka berdua adalah rentenir, dulu mereka selalu datang ke rumahku untuk menagih hutang. dan sekarang hutang keluargaku pada mereka sudah terbayar lunas. tapi mereka masih saja menggangguku. mereka selalu..." Ucapan Leora terhenti, entah kenapa ia tak mampu melanjutkan ucapannya.


Lardo menggerakkan sebelah tangannya ke puncak kepala Leora lalu mengusap kepala gadis itu perlahan-lahan. "Seperti apa yang aku katakan kemarin, semakin kau takut pada mereka yang berniat jahat padamu, mereka akan semakin berani dan akan menakutimu secara terus menerus. kau bisa mencoba melawan mereka, atau berteriak meminta pertolongan sebelum hal yang lebih buruk terjadi. benar kan?" Sambung Lardo yang di jawab dengan anggukkan kepala oleh Leora.


"Jika kau menjadi sosok pemberani di dalam sekolah, kau juga harus menjadi sosok pemberani saat berada di luar sekolah." Ujar Lardo yang membuat Leora menatap lekat padanya. Lardo memang memiliki hati yang baik, ia selalu membantu Leora di saat Leora membutuhkan pertolongan, pantas saja banyak murid perempuan di sekolahnya terkagum-kagum dengan Lardo.


"DIMITRI!"


Lardo menoleh ke asal suara yang memanggil namanya bersamaan dengan Leora. ia melihat Fujimoto tengah berjalan mendekat ke mereka dengan sorot mata tajam yang siap menerkam Lardo saat itu juga. "Fujimoto..." Lardo merasa bersalah karena terlalu fokus dengan keadaan Leora, ia hampir saja lupa kalau ia memiliki janji dengan Fujimoto.


"Ternyata kau disini." Gumam Fujimoto yang saat itu tengah melirik ke arah Leora dengan tatapan sinisnya. "Kak Fuji, kau disini juga?" Tanya Leora gugup.


"Aku memiliki janji dengan si brengsek ini, kita akan pergi ke perpustakaan kota dan bertemu di stasiun. tapi sedari tadi aku cari-cari ia tidak kunjung datang, ternyata ia sibuk disini ya bersama denganmu." Jawab Fujimoto yang membuat Leora langsung tertunduk, ikut merasa bersalah. "Fujimoto, aku bisa menjelaskannya padamu."


Leora menatap ke arah Lardo dengan tatapan bingungnya begitu juga dengan Fujimoto. "Ada apa?" Tanya Leora.



Tatapan Lardo saat itu membuat pipi Leora kembali merona. "Kenapa dia menatapku seperti itu? wajahnya tampan sekali. memang benar si brengsek ini hanya bisa menebar pesonanya saja!" Batin Leora kesal. "Ikutlah bersama kami." Ujar Lardo yang langsung membuat Leora dan juga Fujimoto terkejut mendengarnya.


"OI, DIMITRI BODOH. KENAPA KA-"


Lardo langsung menatap Fujimoto dengan tatapan dinginnya sehingga membuat Fujimoto diam seketika. "Tidak masalah, berbahaya untuknya pulang sendirian. ikutlah bersama denganku dan juga Fujimoto ke perpustakaan kota, setelah itu aku akan mengantarmu pulang."


Fujimoto yang pada dasarnya memang tidak pernah akur dengan Leora karena satu hal langsung mengerucutkan bibirnya kesal karena merasa tidak setuju. "Kenapa kita harus mengajak anak kecil seperti dia? dia pasti akan merengek minta pulang." Celetuk Fujimoto meledek.

__ADS_1


"KAK FUJI!!!" Leora mengepalkan kedua tangannya erat karena merasa kesal sambil menatap Fujimoto tajam. "Kau selalu saja merusak waktu bersantaiku." Ucap Fujimoto yang membuat Leora mendengus.


"Sudahi saja pertengkaran kalian itu, kita harus berangkat sekarang sebelum hari mulai sore." Lardo sudah melangkah pergi meninggalkan Leora dan juga Fujimoto yang masih berdebat di belakangnya.


Leora berjalan di belakang Lardo seperti biasa, mengikuti langkah Lardo dengan perlahan-lahan sambil menundukkan kepala merasa malu. lagi dan lagi, ia harus merepotkan Lardo.



"Kenapa kau tidak mengantarku pulang lebih dulu? setelah itu kau bisa pergi bersama dengan Kak Fujimoto ke perpustakaan." Tanya Leora memecah suasana dingin di antara mereka.


"Tidak akan sempat, lagipula itu pasti jauh lebih merepotkan dan buang-buang waktu." Jawab Lardo yang membuat Leora mengangkat kepalanya menatap punggung Lardo. ia mengepalkan tangannya lagi sambil mengulum bibirnya.


"Apa... apa aku selalu merepotkanmu?"


Pertanyaan yang di lontarkan oleh Leora membuat langkah Lardo terhenti. "Tidak, kau sama sekali tidak merepotkanku. jika memang kau merepotkanku dari awal, mungkin aku tidak ingin berhubungan denganmu lagi, karena aku tidak pernah mau di repotkan oleh hal-hal yang tidak memiliki arti apapun di dalam hidupku."


"Lalu apa arti diriku di dalam hidupmu?"


Lardo langsung memasang sorot wajah bingung yang teramat kaku setelah mendengar pertanyaan Leora secara tiba-tiba.



"Kau itu... kau... kau hanya anak kecil yang menjengkelkan sih." Lardo menggaruk pelipisnya gugup dengan ekspresi datar yang langsung mendapat tatapan sinis dari Leora.


"WOI, KALIAN! Cepatlah sedikit!" Teriak Fujimoto yang sudah meninggalkan mereka berdua lumayan jauh. "Iya, iya." Lardo langsung melangkah pergi menyusul Fujimoto sementara Leora masih terdiam sambil mengerucutkan bibirnya malas.


"Dia itu apa-apaan? sangat tidak pandai dalam menyampaikan suatu hal." Gumam Leora merutuk kesal sambil melipat kedua tangannya sejajar di depan dada.

__ADS_1


__ADS_2