Lord Of Athlanda

Lord Of Athlanda
meet her parents


__ADS_3

Kondisi kaki Lardo sudah semakin membaik setelah mengalami cedera 3 hari yang lalu. ia juga sudah bisa memulai latihan basketnya seperti biasa meskipun ia masih tidak diperbolehkan untuk terlalu banyak beraktivitas. tapi karena ia terus bersikeras, tidak ada cara lain selain menuruti apa keinginannya.


Setelah selesai latihan, Eiji dan juga anggota ekskul basket lainnya mengajak Lardo untuk ikut makan malam bersama dengan mereka di sebuah restoran yang letaknya tak jauh dari sekolah. Lardo pun menyetujui hal itu dengan senang hati karena berhubung dia sedang senggang.


"Jadi kau tidak memiliki hubungan apapun dengan wakil ketua?" Tanya Eiji yang saat itu tengah menyantap ramen miliknya. Lardo hanya menggeleng sebagai jawaban dengan posisi sedang menenggak teh hangat miliknya. "Padahal banyak sekali murid yang beranggapan kalau kalian itu mempunyai hubungan yang spesial, makanya teman-teman perempuan di kelasku merasa sangat sedih dan juga patah hati." Sambar teman Lardo yang lain. "Aku tidak memiliki hubungan apapun dengan perempuan itu, lagipula setiap kami bertemu, kami selalu saja berdebat. bagaimana kalian bisa beranggapan kalau kami menjalin hubungan?" Tanya Lardo terheran-heran.


"Tapi saat kalian sedang bertengkar seperti itu memperlihatkan sisi yang sangat menggemaskan di antara kalian berdua." Jawab Eiji yang membuat Lardo terdiam dan menghela nafas pelan.


Setelah makan malam bersama, Lardo dan juga teman-temannya berniat untuk pulang ke rumah. mereka berpisah di stasiun karena hanya Lardo yang berbeda arah pulang dengan mereka. Saat Lardo memasuki area stasiun, terlihat seorang pria yang sedikit lebih tua dari ayahnya tengah membereskan barang-barang bawaannya. sepertinya ia tidak sengaja menjatuhkan semua barang-barang miliknya itu. Tidak seorang pun yang berniat untuk membantu pria itu, sehingga Lardo yang tidak sengaja melihatnya langsung bergerak cepat untuk membantu pria itu.


"Paman, apa kau baik-baik saja?"


Pria itu menoleh ke arah Lardo dan menarik senyum manis dengan wajah yang terlihat sudah sangat lelah. Lardo merasa sangat tidak tega saat matanya bertemu dengan mata pria paruh baya itu. "Biar aku bantu." Ucap Lardo.


"Terima kasih, Nak. Maaf karena paman sudah merepotkanmu." Lardo menggeleng pelan. "Tidak, paman tidak merepotkanku sama sekali." Setelah merapihkan semua barang-barang milik pria itu, Lardo berniat untuk mengantarnya sampai ke rumah. "Apa rumah paman masih jauh dari sini?" Tanya Lardo yang saat ini tengah berdiri berhadapan dengan pria itu.


"Setelah naik kereta dan turun di stasiun Aizuki, rumah paman tidak jauh dari sana."Ternyata dekat dengan rumah Lardo, maka dari itu Lardo memutuskan untuk mengantarnya sampai ke rumah sambil membawakan beberapa barang-barangnya.


Saat di dalam kereta, pria itu hanya tersenyum tipis sambil menundukkan kepalanya. membuat pandangan Lardo tidak bisa terlepas darinya.


"Apa paman baik-baik saja?" Tanya Lardo memastikan. Pria itu menoleh ke arah Lardo dan menganggukkan kepalanya pelan. "Aku baik-baik saja, hanya saja aku sudah lama tidak pulang karena bekerja di luar kota. aku sangat tidak sabar bertemu dengan istri dan juga anak-anakku." Jawab pria itu yang membuat Lardo tertegun cukup lama.


"Menyedihkan sekali ketika aku harus tinggal jauh dari mereka. meskipun begitu, setiap harinya mereka selalu menelfonku atau mengirimkan aku pesan. putriku sering bilang kalau aku harus tetap semangat dalam bekerja agar aku bisa terus menghidupi mereka semua. saat mereka menyemangatiku seperti itu, aku merasa energiku pulih kembali. dan aku ingin terus berusaha lebih keras demi mereka." Lardo tidak tau apa yang terjadi pada dirinya, tapi ia merasa hatinya sangat terenyuh saat mendengar apa yang dikatakan oleh pria di sampingnya.

__ADS_1


"Aku merasa sangat senang saat Tuhan memberikanku 2 orang putri yang tidak pernah mengeluh akan kehidupannya. meskipun hidup di dalam keluarga yang sederhana, mereka selalu merasa cukup dengan apa yang ada. putri pertamaku selalu memberikan aku kekuatan, adiknya pun sama. mereka adalah sumber dari kekuatanku. menjadi ayah dari mereka berdua mungkin sebuah keberuntungan untuk diriku. putri pertamaku selalu berkata Tidak ada yang perlu dikeluhkan, aku selalu bersyukur Tuhan memberiku kehidupan seperti sekarang ini. Kalau ini memang jalan hidup yang sudah di tentukan. mau tak mau, suka tak suka, kita tetap harus menjalaninya." Lardo mengerjapkan matanya berkali-kali. ia dapat mengingat dengan jelas kata-kata itu, karena Leora pernah mengatakan hal yang sama kepala Lardo.


Mereka sudah sampai di stasiun Aizuki, Lardo mengikuti langkah pria itu dari belakang dan pergi menuju ke rumahnya. syukurlah rumah pria ini terletak tidak jauh dari rumahnya, jadi Lardo bisa pulang tidak terlalu terlambat.


Saat pria itu berhenti di sebuah rumah yang sangat familiar untuk Lardo membuat Lardo terdiam cukup lama. sebuah nama yang tertulis di depan gerbang membuat Lardo tidak mengedipkan matanya sama sekali.


'Keluarga Mitsuke'


"Rumah ini adalah rumah Leora, berarti pria ini adalah ayah Leora?" Pikiran Lardo seketika melayang entah kemana. pria itu mempersilahkan Lardo untuk masuk dan mengajak Lardo berkunjung ke rumahnya sebagai tanda terima kasih karena sudah membantu dirinya. mau tidak mau, Lardo memasuki rumah itu dengan langkah yang terlihat ragu.


"Aku pulang."


"AYAHHHHHHH!!!" Terlihat seorang gadis kecil berlari dari sebuah ruangan dan menghampiri pria itu lalu memeluknya cukup erat. tapi setelah gadis kecil itu menyadari keberadaan Lardo, ia langsung bersembunyi di belakang tubuh ayahnya.


Lardo masih merasa penasaran, apa mereka semua adalah keluarga Leora atau bukan?


"Ayah, kau sudah pul-ehh?"



Leora terdiam cukup lama dan terus menatap ke arah Lardo yang secara tiba-tiba berada di rumahnya. ia benar-benar bingung kenapa lardo bisa berada di rumahnya saat ini.


"Kau? sedang apa kau disini?"

__ADS_1


Ayah, ibu dan juga adik Leora merasa terkejut, ternyata Leora sudah mengenal sosok laki-laki yang di bawa ke rumah oleh ayahnya. "Leora, kau mengenali anak ini?" Tanya ayah Leora yang langsung mendapat anggukkan kepala dari Leora tanda mengiyakan. "Dia adalah adik kelasku di sekolah."


"WAHHH- benarkah?"


Ibu Leora langsung tersenyum lebar dan mempersilahkan Lardo untuk segera duduk di ruang tamu. sedangkan Ibu Leora bersama dengan Leora pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman serta cemilan untuk mereka.


"Ternyata kau sudah mengenal putriku, ya?" Tanya ayah Leora yang tak lain bernama Haru Mitsuke. "Iya, paman. dia adalah kakak kelasku." Jawab Lardo sambil terkekeh pelan. Leora sudah selesai membuatkan teh dan juga cemilan untuk mereka lalu segera membawakannya ke ruang tamu.


Disana ayah Leora menceritakan bagaimana ia bisa bertemu dengan Lardo dan mengajaknya untuk berkunjung ke rumah. sementara Leora hanya terdiam sambil menopang dagu dan mendengarkan seluruh cerita ayahnya.


Pandangan Lardo tidak terlepas dari Leora yang saat itu tengah duduk di hadapannya. Leora terlihat sangat berbeda saat sedang mengenakan pakaian biasa, ia terlihat jauh lebih cantik dan juga langsing. dibandingkan saat sedang mengenakan seragam sekolah.


Setelah cukup lama berbincang, Lardo pamit untuk pulang karena ia takut ibunya mengkhawatirkan dirinya. Leora diminta untuk mengantarkan Lardo sampai ke depan gerbang karena ibu Leora harus membereskan piring dan juga gelas sedangkan ayah Leora harus membersihkan diri. jadi mau tidak mau, Leora harus mengantar Lardo.


Sesampainya di depan gerbang, Lardo menoleh ke arah Leora yang tengah menundukkan pandangannya. "Ada apa? apa kau tidak senang aku datang ke rumahmu?" tanya Lardo yang langsung membuat Leora tersadar dari lamunannya.


"Berhenti menanyakan hal bodoh seperti itu, karena kau sudah membantu ayahku, anggap saja ini sebagai tanda terima kasih." Lardo tiba-tiba menarik senyum tipis sehingga membuat pipi Leora berubah menjadi merah padam.


"Karena ayah dan ibumu sudah mengenaliku, mungkin aku akan sering-sering berkunjung kerumahmu." Mendengar ucapan itu keluar dari mulut Lardo membuat Leora membulatkan matanya sempurna. "APA? APA YANG KAU KATAKAN BARUSAN?!" Lardo tertawa puas melihat bagaimana ekspresi Leora saat ini. ia mengarahkan jari jemarinya lalu mencubit pipi Leora gemas. "Aku hanya bercanda. baiklah, aku akan pulang sekarang." ucap Lardo.


Leora hanya terdiam dengan wajah gugupnya. "Sampaikan ucapan terima kasihku pada kedua orang tuamu." setelah mengatakan itu, Lardo melangkah pergi meninggalkan kediaman Leora menuju rumahnya.


"Ck, apa-apaan dia itu?"

__ADS_1


__ADS_2