Lord Of Athlanda

Lord Of Athlanda
declaration of love the girls


__ADS_3

Keesokkan harinya Lardo berangkat ke sekolah seorang diri, saat sedang berada di loker, Lardo melihat isi lokernya penuh dengan banyak surat yang entah berasal darimana. "Apa-apaan?" Lardo menggaruk belakang kepalanya bingung.


Ia mengambil semua surat itu dan membuangnya ke tempat sampah yang tersedia hingga tidak tersisa 1 pun. setelah itu ia segera pergi menuju kelas. dalam perjalanan menuju kelas, banyak sekali murid perempuan yang menyapanya, meskipun hanya mengucapkan selamat pagi kepada Lardo. tapi sayang sekali, Lardo sama sekali tidak menggubris mereka.


"Dia tampan sekali."


"Apakah dia sudah memiliki pacar?"


"Jantungku berdegup dua kali lebih cepat setelah melihat pangeran pagi ini." begitulah yang di ucapkan oleh mereka. ingin sekali Lardo segera sampai ke kelas karena tidak tahan dengan semua yang mereka ucapkan.


Tapi saat Lardo baru saja ingin melangkah masuk ke dalam kelas, pandangannya sudah tertuju pada seorang perempuan yang tengah duduk di kursi miliknya sambil memandang ke arah Lardo dengan senyum lebar. "Kau sudah datang, selamat pagi." ucapnya dengan nada suara yang terdengar ramah.


Lardo seketika mengerjapkan matanya lalu ternganga karena merasa tidak percaya dengan apa yang dilihat oleh kedua matanya saat ini. Lardo melangkah menuju kursi miliknya sambil terus menatap ke arah perempuan itu dengan tatapan datar.


"Minggir, aku ingin duduk."


"Iya-iyaaa..." Perempuan itu adalah Leora, siapa lagi kalau bukan Leora yang selalu saja menjahili Lardo. Leora menyandarkan tubuhnya pada dinding kelas dengan kedua tangan yang ia lipat di depan dada. "Banyak sekali surat di kolong mejamu, surat apa itu?" mendengar pertanyaan Leora membuat Lardo secara spontan memeriksa kolong mejanya dan ternyata benar apa yang Leora katakan.


Banyak sekali surat di dalam kolong mejanya sehingga membuat Lardo menepuk dahi malas. Leora terkekeh melihat Lardo yang sepertinya kualahan dengan teror para perempuan di sekolahnya. "Yang benar saja, ini sangat mengerikan lebih dari film the ring."

__ADS_1


"Sepertinya semua murid perempuan dari kelas 1 sampai 3 sangat menyukaimu." Lardo menghembuskan nafasnya setelah mendengar ucapan Leora barusan. "Apa itu termasuk dirimu?" Leora tiba-tiba ternganga saat Lardo melontarkan pertanyaan itu padanya. "TENTU SAJA TIDAK! untuk apa aku melakukan hal yang sangat menjijikkan seperti itu."


Lardo merapihkan semua surat yang berada di dalam kolong mejanya satu persatu. "Harus aku apakan surat-surat ini?" gumam Lardo. "Apa kau tidak berniat untuk membaca isi di dalam surat itu?" Lardo mengalihkan pandangan lesuhnya kepada Leora sekilas lalu kembali menatap surat-surat itu.


"Sudah, meskipun hanya beberapa. isinya hampir sama semua yaitu memintaku untuk kencan dengan mereka karena mereka menyukaiku. bukankah itu sangat memuakkan?" Leora tertawa puas melihat bagaimana reaksi Lardo terhadap tingkah semua murid perempuan di sekolahnya. "Mau bagaimana lagi? aku juga mengakui kalau kau adalah murid tertampan di sekolah, sebelumnya tidak ada murid yang penampilannya seperti dirimu. mungkin karena hal itu kau banyak disukai oleh murid perempuan di sekolah ini."


"Berarti kau mengakui kalau aku memang yang paling keren dan tidak ada lawan, benar kan?" Leora seketika melayangkan pukulannya ke wajah Lardo sehingga membuat Lardo merasa kesakitan. "Jangan asal bicara, pria bodoh."


"OI! MURID KELAS 2!"


Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang sepertinya tengah berteriak ke arah Lardo dan juga Leora. hal ini membuat mereka berdua menoleh ke arah asal suara itu. Shenna tau bahwa murid kelas 2 yang orang itu maksud adalah dirinya.


"Kenapa kau berani sekali mendekati pangeran?" Tanyanya sambil melangkah menghampiri Lardo dan juga Leora bersama dengan pasukannya yang berjalan di belakang perempuan itu. "Meskipun kau wakil ketua, kau tidak bisa bertingkah seenaknya." Leora yang mendengar ucapan itu hanya bisa tersenyum miring dengan tatapan sombongnya.


"Lihat-lihat, apa kau bisa memeluknya seperti ini?" tiba-tiba Leora menarik Lardo ke dalam pelukannya dan memeluk Lardo dengan sangat erat sehingga membuat Lardo kesulitan bernafas. semua perempuan itu semakin geram dengan apa yang dilakukan Leora. "LEPASKAN PANGERANKU, DASAR PEREMPUAN GILA!" Leora menjulurkan lidahnya meledek.


Lardo hanya bisa terdiam dengan wajah datar sambil terus mengamati perdebatan di antara para wanita ini. hingga akhirnya bel masuk pun berbunyi. perempuan-perempuan itu sudah pergi meninggalkan kelas Lardo dan hanya Leora yang masih berada disana.


"Mereka menyebalkan sekali."

__ADS_1


Gumam Leora yang membuat Lardo melirik ke arahnya sambil menopang dagu. "Kenapa kau memelukku seperti tadi? kau ini sangat memanfaatkan keadaan ya ternyata." Leora terkejut mendengar ucapan Lardo lalu menggaruk belakang kepalanya karena merasa malu. pipi Leora yang seketika berubah menjadi merah padam membuat Lardo ingin sekali menarik senyum namun berusaha untuk di tahan olehnya.


"Cepat pergi ke kelasmu, sebentar lagi guru datang." Leora dengan perasaan malunya segera meninggalkan kelas Lardo tanpa basa basi sedikit pun. sepanjang jalan menuju kelasnya, ia hanya bisa meremas ujung roknya dengan jantung yang berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya.


"Kenapa kau memelukku seperti tadi? kau ini sangat memanfaatkan keadaan ya ternyata." Mengingat apa yang Lardo ucapkan membuat Leora menghembuskan nafas berat dengan tatapan lelahnya. "Hal memalukan apa yang baru saja aku lakukan? Huh... benar-benar memalukan."


.........


Jam istirahat sudah tiba, Lardo memutuskan untuk memberanikan pergi ke kantin meskipun ia harus menghadapi semua murid perempuan yang terus menerus berusaha untuk mencari perhatian Lardo. ia memesan beberapa makanan dan juga minuman, setelah itu ia memilih untuk duduk di kursi kosong yang terletak di tengah-tengah kantin.


"Itu pangeran, kudengar tadi pagi ia dipeluk oleh wakil ketua. benar-benar perempuan tidak tau malu." Lardo seketika teringat oleh Leora. ia takut sesuatu terjadi pada Leora setelah apa yang dia lakukan pagi tadi.


"Oi, pria bodoh."


Sosok Leora tiba-tiba muncul dan duduk di kursi yang sama dengan Lardo. hal ini membuat seluruh pasang mata yang berada di kantin itu terfokus pada Leora. tapi Leora sama sekali tidak menggubris mereka, seakan tidak perduli dengan apa yang akan mereka katakan. "Kau... syukurlah kau baik-baik saja. aku kira kau sudah babak belur karena di hajar habis-habisan oleh semua penggemarku."


"Hentikan, jangan bicarakan hal itu. memalukan sekali." Tawa Lardo langsung pecah karena melihat ekspresi Leora yang berusaha menutupi rasa malunya. "Siapa suruh memeluk seorang pria tanpa persetujuan darinya secara tiba-tiba? kau bahkan nyaris membunuhku karena pelukan eratmu itu." Ucapan Lardo membuat dirinya menerima tinju yang diberikan oleh Leora.


"Jika kau terus membahasnya, bisa menghilangkan nafsu makanku." Lardo hanya terdiam meskipun rasanya ia ingin sekali tertawa kencang hingga seluruh dunia dapat mendengar tawanya itu.

__ADS_1


Mereka akhirnya terdiam dan menyantap makanan milik mereka dengan lahap. "Bagaimana reaksi murid perempuan di kelasmu?" Leora menghela nafas lalu menutup seluruh wajahnya dengan telapak tangannya. "Aku rasa seluruh murid perempuan di sekolah ini adalah pengemar beratmu. murid perempuan di kelas ku sangat marah setelah berita tentang aku yang memelukmu tersebar luas. bahkan ketua osis pun langsung menghubungiku dan memintaku untuk memberikan penjelasan kepadanya." Lardo hanya bisa tertawa mendengar apa yang di ucapkan oleh Leora.


"Kau jatuh ke lubang yang kau buat sendiri." Leora langsung mengalihkan pandangannya ke arah Lardo. tiba-tiba Lardo menjulurkan lidahnya meledek. "Bodoh."


__ADS_2