
Sementara itu….
“Permisi nyonya besar, tuan muda datang bersama temannya,” ucap salah satu asisten rumah tangganya.
“Apa, Juna ada disini? Katanya dia tidak biasa datang minggu ini?” Tante Dewi yang selama ini hanya hidup bersama Juna dan Saras langsung mengetahui kalau yang datang adalah Juna begitu asisten rumah tangganya menyebutnya tuan muda.
Sebenarnya Tante Dewi memiliki satu putra, tetapi putranya tersebut memiliki penyakit bawaan sejak lahir, dan pada saat usia 17 th putra semata wayangnya atau sepupu Jihan dan Juna ini meninggal.
Semeninggalnya putranya Tante Dewi sering bertengkar dengan suaminya, karena sering salah-menyalahkan soal kematian putra mereka dan juga sering mempermasalahkan keberadaan Jihan dan Juna, tetapi karena Tante Dewi tetap ingin mempertahankan Jihan dan Juna, maka dia lebih memilih bercerai dengan suaminya.
“Krrriiieett....” Juna masuk kedalam rumahnya, diikuti dengan para pengawal yang membawa barang-barang mereka.
“Tante!" Juna langsung berjalan dan memeluk Tante Dewi.
“Juna... Juna... kenapa kamu bisa tiba-tiba ada disini? Bukan nya, kamu bilang minggu ini sibuk?” jawab Tante Dewi yang membalas pelukan Juna.
“Aaahh... yasudah jelas rindu sama Tante, karena itu aku datang lebih cepat, Tante Dewi baik-baik saja kan?” ucap Juna, ia melepaskan pelukannya dan menatap wanita berusia 50 tahunan itu.
“Tante masih mudah, jelas Tante baik-baik saja,” jawab Tante Dewi.
“Oo, tenyata kamu Kais yang datang bersama Juna.” Tante Dewi melihat Kais yang baru ia sadari sudah berdiri dihadapannya, ia juga sudah mengenal Kais cukup lama. Karena dulu Kais sering main ke rumah Juna untuk mengerjakan tugas bersama, atau hanya sekedar mampir sebentar.
“Iya Tan, Tante Dewi beneran baik-baik saja kan?” Kais melempar senyum ke Tante Dewi.
“Oh, iya Tante dengar dari Jihan kamu sudah jadi dokter otopsi yang hebat,” puji Tante Dewi.
“Aahh... hebat apanya, biasa aja kok Tan, Kak Jihan terlalu melebih-lebihkan.” Kais merendah atas pujian yang diutarakan Tante Dewi.
“Kalian pasti capek, tapi karena kamar Juna sudah lama kosong, jadi Tante baru menyuruh para asisten rumah tangga untuk membersihkannya.
Kais kamu bisa langsung menempati kamar tidur tamu kalau kamu ingin segera beristirahat, karena kamar tidur tamu setiap hari dibersihkan, jadi kamar nya sudah siap ditempati,” ujar Tante Dewi.
“Baik Tan, terimakasih banyak sudah di izinkan menginap di rumah ini selama berada di Seoul, kalau begitu aku permisi terlebih dahulu mau memasukkan barang-barang ke kamar.” Kais mulai mencoba menarik kopernya untuk dipindahkan ke kamar yang akan ia tempati.
“Hee! Itu kelihatannya sangat berat, sini biar aku bantu... kamu langsung ke kamar saja,” ucap Juna, yang langsung mendekat ke Kais yang bersusah payah menarik koper besarnya.
“Enggak usah, biar aku saja. Aku masih mampu sendiri,” tolak Kais sembari satu tangan memegang kopernya dan satu tangannya berusaha menepuk-nepuk telapak tangan Juna yang berusaha membantunya.
“Aaauuww! Sakit, kamu mau aku gak jadi pergi ke acara itu, lepasin tangan kamu supaya mempermudah aku dan jari kakiku selamat semua nya,” protes Juna yang satu jari kakinya terlindas roda koper besar milik Kais.
“Kalian ini apa-apaan sih, dari dulu belum berubah juga. Sudahlah, pengawal! Bawa koper itu ke kamar tamu 1,” kata Tante Dewi yang selalu menjadi saksi keluarnya tingkah kekanak-kanakan Juna dan Kais.
Dengan seketika pengawal yang berjaga di depan pintu rumah, masuk dan langsung memindahkan koper besar milik Kais ke kamarnya.
“Juna kamar kamu sudah selesai dibersihkan, jadi kamu bisa langsung ke kamar,” tambah Tante Dewi kepada Juna, setelah mengetahui asisten rumah tangga sudah keluar dari kamarnya.
“Oke Tan,” jawab Juna dengan singkat tetapi masih sopan.
“Oke kalau begitu, kalian istirahat terlebih dahulu. Kita akan ketemu lagi saat makan malam nanti.” Tante Dewi pergi setelah mengatakan kata-kata terakhirnya.
__ADS_1
“Siap Tan,” balas Juna.
“Ya, kamar aku ada disebelah sana... pintu kamarnya ada gantungan gambar tembaknya, kalau ada apa-apa kamu langsung ke kamar saja, karena biasanya kalau sudah dirumah seperti ini... aku jarang turun kebawah,” tunjuk Juna memberi tahu letak kamarnya.
“Oke, tapi aku usahakan tidak akan meminta tolong. Karena aku juga sebenarnya sangat malas berjalan ke atas seperti itu,” balas Kais.
“Yaaaiiisshh, kamu itu. Yasudah terserah kamu saja.” Juna yang sedikit kesal dengan jawaban Kais, langsung naik ke lantai atas untuk menuju kamar tidur nya.
“.…” Sementara itu Kais hanya tersenyum melihat wajah kesal Juna yang langsung pergi menuju kamarnya.
Beberapa menit kemudian….
Kais sudah berada dikamarnya, dia ingin mencharger hp nya yang kehabisan baterai, tetapi dia lupa tidak membawa charger hp nya.
Dia berniat meminjamnya ke Juna, tetapi karena hp nya mati dan selain itu, dia juga ingat perkataan Juna, jadi dia memutuskan langsung pergi ke kamar Juna.
Didepan kamar Juna, ia terus mengetok-ngetok kamar pintu kamarnya, tetapi tidak mendengar respon dari dalam.
Akhirnya dia memiliki inisiatif untuk membuka pintu kamar dan benar saja, Kais melihat Juna tertidur pulas dan bahkan Juna belum mengganti pakaiannya.
“Juna, Juna ya... apa charger hp mu sedang kamu gunakan?” tanya Kais, dengan menggoyang-goyangkan badan Juna yang sedang tertidur pulas.
“Apa ini, dia tidak merespon? Apa aku cari saja sendiri,” gumam Kais matanya jelalatan kesetiap sudut ruangan.
“Oh, itu dia! Menancap di stop kontak, tapi tidak ada hp yang dicharger,” gumam Kais berusaha menggapai charger yang masih tertancap di stop kontak yang berada di atas tempat tidur Juna.
“Haaaiiisshh, hampir saja,” desis Kais didalam hatinya, dia tidak berani menatap Juna karena wajah mereka sangat dekat dan hampir tidak ada jarak, membuatnya marasa canggung.
Kais memejamkan matanya dan berusaha berdiri dari posisinya, tetapi sesuatu lebih membuatnya terkejut untuk kedua kalinya.
“Kamu ngapain?” celetuk Juna yang sudah membuka matanya dan melihat jarak mereka sangat dekat.
“M... m... maafkan aku. Aku cuman ingin meminjam charger, tapi kamu masih tidur, jadi aku cuman berusaha mengambilnya sendiri,” gagap Kais yang mengetahui Juna membuka matanya, dengan canggung ia juga cepat-cepat berdiri.
“Aku gak yakin kamu cuman mau meminjam charger, haaaahh... jangan-jangan sebenarnya, kamu mau melakukan sesuatu yang buruk ke aku.” Juna langsung mengambil bantal yang ada di dekatnya, lalu memeluknya dengan nada bercanda.
“Heey!! Kamu pikir aku wanita sembarangan? Lagian aku gak pernah punya pikiran menganggap kamu sebagai laki-laki yang menarik, heeeiisshh,” protes Kais langsung keluar dari kamar Juna.
“Hhaaahh... apa itu tadi, baguslah kalau begitu. Itu artinya memang gak perlu membangunkan perasaan ku yang sudah lama tertidur,” gumam Juna setelah Kais keluar dari ruangannya.
Malam hari nya….
“Juna bagaimana pekerjaan baru kamu di Indonesia?” tanya Tante Dewi.
“Biasa saja Tan, tidak ada bedanya dengan di Seoul,” jawab Juna sambil mengunyah makanannya.
“Kais benarkah itu?” Tante Dewi berganti melempar pertanyaan ke Kais.
“He! Aaahh iya Tan, pekerjaan sebagai polisi semuanya hampir tidak ada bedanya,” cetus Kais memasang ekspresi bingung.
__ADS_1
“Oh, ya? baguslah kalau begitu, tapi ingat satu hal.. jangan sampai kamu banyak terluka,” tutur Tante Dewi.
“Siap Tan,” jawab Juna secara singkat.
“Yasudah kalau begitu Tante mau istirahat dulu dikamar,” balas Tante Dewi beranjak dari kusinya.
“Tante! Tante masih mengelolah perusahaan fashion kan?” tanya Juna secara tiba-tiba menghentikan langkah Tante Dewi.
“Iya, kenapa memangnya?” balas Tante Dewi.
“Kalau begitu aku bisa kan meminjam beberapa baju untuk acara special night," ujar Juna melempar senyumnya.
“Special night? Acara apa itu?” tanya Tante Dewi.
“Aaa, cuman reuni SMA kok Tante,” sahut Kais.
“Oh, boleh silakan datang saja dan pilih bajunya sendiri. Saran Tante kalau acaranya malam, sebaiknya datang pada sore hari, supaya bisa menyesuaikan dan memilih yang lebih pas,” saran Tante Dewi.
“Ok Tante,” balas Juna.
“Yasudah Tante ke kamar dulu, mau istirahat,” pamit Tante Dewi langsung pergi.
“Juna, malam ini kamu gak ingin keluar kemana gitu? Ini masih jam 8 malam,” tanya Kais yang masih mengunyah makanannya.
“Enggak, aku malas keluar. Lagian juga ini sudah masuk musim dingin, jadi lebih baik menghangatkan tubuh di rumah,” cetus Juna yang terus mengunyah makan yang ada di mulutnya.
“Hei! Bagaimana kalau kita ke namsan tower, aku sudah lama tidak kesana, huh?” rengek Kais kepada Juna, agar dia mau pergi bersama.
“Astaga, enggak! Aku semakin gak mau kalau ke Namsan Tower. Heei! Kamu pikir kita sedang berkencan apa,” tolak Juna menekuk wajahnya.
“Memang tempat itu hanya untuk orang yang berkencan saja? Pasti kan ada, orang yang kesana itu bersama temannya, saudaranya atau bahkan keluarganya, pokoknya aku mau kesana! Kalau kamu gak mau pergi, biar aku pergi sendiri. Belum tentu juga aku bisa kesini lagi,” gerutu Kais mulai memanyunkan bibirnya.
“Kamu yakin? Kamu mau berangkat sendiri?” tanya Juna untuk meyakinkan Kais kembali.
“Iya! Aku akan berangkat sendiri,” jawab Kais dengan kesal dan dingin.
Beberapa menit setelah acara makan malam….
.
.
.
.
^^^.^^^
Bersambung.
__ADS_1