
Juna keluar dari kamarnya, dan segera membasuh tangannya dengan air mengalir. Saat ia kembali duduk di sofa panjangnya, ia melihat layar hp nya menyalah dan dia melihat email masuk dari Jiny.
Melihat email itu Juna segera menelepon Jiny. “Ho, Agen J... dari berkas yang kamu kirim, itu beneran alamat lengkap Rumah Pak Beni?” tanya Juna meragukan berkas yang dikirim Jiny.
“Iya Kap, itu hasil dari pencarian yang sudah aku lakukan,” balas Jiny.
“Yasudah kalau bagitu, kerja bagus dan terimakasih untuk semuanya,” ucap Juna.
“Oh iya Kap, aku lupa mau menyampaikan sesuatu kalau di tim golden time kedatangan anggota baru lagi,” celetuk Jiny ketika Juna akan menutup teleponnya.
“Anggota? Maksud kamu orang baru akan masuk ke tim kita?” ujar Juna bingung.
“Iya Kap, dia seorang perempuan. Bukan hanya itu dia juga pernah menjadi Kapten di tim nya sebelumnya, sama seperti Kapten dia juga dari Korea Selatan,” papar Jiny.
“What! Tapi kenapa, apa Pak Komisaris ingin mengganti ku?” tanya Juna bingung.
“Sepertinya bukan mengganti Kap, tapi lebih tepatnya untuk membantu Kapten,” jawab Jiny menjawab kebingungan Kaptennya.
“Yasudah kalau begitu itu lebih baik, karena ada yang membantu tim lapangan saat aku ada masalah seperti ini,” tutur Juna.
“Yasudah kalau begitu Kap,” ucap Jiny.
“Ho.” Juna menutup teleponnya lebih dulu.
Setelah menutup telepon, dia beranjak dari duduknya dan kembali ke kamar tidurnya dengan membawa alat pel untuk membersihkan tumpahan sup yang belum dibersihkan.
Pada saat di kamar, Juna sesekali melirik ke arah Kais, dan Juna melihat dia kembali tertidur. Setelah membersihkan bekas sup yang tumpah, Juna kembali duduk di kursi panjangnya.
Dia merebahkan badannya di kursi panjang itu, dan dia menghela nafas panjang, seakan ingin menghempaskan semua masalah dan semua yang sedang dia pikirkan.
Tanpa terasa akhirnya Juna terlelap dalam tidurnya. Pada tengah malam saat Juna tertidur, tiba-tiba Kais terbangun, dia keluar dari kamar dan secara perlahan melangkahkan kakinya ke ruang tengah, ia menatap Juna yang sedang tertidur dengan bekas luka ditangannya yang belum diobati dan luka goresan di wajahnya yang tidak terlalu ia rawat.
Kais menatap Juna dengan jarak yang dekat. “Dia sampai seperti ini, dari kemarin. Tapi aku malah tenggelam dalam kesedihan ku sendiri,” gumam Kais.
“Sebaiknya aku obati dia, sebelum lukanya bertambah parah,” sambung Kais.
Kais berjalan ke kotak obat dan mengambil alkohol, kapas, obat merah, dan sebuah salep. Lalu ia kembali dan duduk di sebelah Juna yang sedang tertidur.
Secara perlahan ia meneteskan alkohol di kapas dan pelan-pelan mengoleskan ke luka yang ada di wajah Juna, sesekali ia juga meniup nya.
Setelah itu Kais juga mengoleskan obat merah ke lukanya, selain itu ia juga mengoles salep di luka bakar Juna.
Sesudah mengobati semua lukanya, Kais mengembalikan semua obat yang sudah ia ambil ke tempatnya dan ia langsung kembali ke kamarnya.
Keesokan harinya….
Pukul 9 Juna baru terbangun dari tidurnya, ia terbangun karena mencium aroma masakan dari arah dapurnya. Perlahan-lahan dia membuka mata dan melihat seseorang sedang beraktifitas di dapurnya.
__ADS_1
Juna merubah posisinya menjadi duduk dan ia langsung menatap ke orang yang sedang ada di dapur.
“Kamu sudah bangun,” sapa orang itu menatap ke arah Juna dengan senyum cerahnya.
“Haaahh... sepertinya aku sedang bermimpi.” Juna kembali merebahkan badannya dan mencoba menutup matanya kembali, setelah menatap kalau orang itu adalah Kais.
“Hei! Kenapa kamu kembali tidur?” Kais langsung menghampiri Juna dan menarik lengan Juna bermaksud untuk membuatnya bediri.
“Ternyata beneran, ini bukan mimpi. Kamu terlihat baik-baik saja hari ini? Dan terlihat tidak seperti kemarin?” Juna langsung berdiri dan menatap Kais dengan senyum diwajahnya.
“Heem... seperti kata Keysa. Aku boleh sedih, tapi gak boleh terlalu lama, karena Keysa juga pasti gak suka melihat aku terus sedih seperti kemarin,” balas Kais dengan senyumnya.
“Terus hari ini, kamu ngapain di dapur? Kamu masak sesuatu?” tanya Juna mengalihkan tatapannya ke arah dapur.
“Eeemm... iya tapi…,” balas Kais ragu.
“Tapi kenapa? Coba aku ingin lihat.” Juna langsung melangkahkan kakinya ke arah dapur.
“Telur gulung?” celetuk Juna setelah melihat makanan yang ada di atas piring.
“Yaa... aku cuma bisa masak beberapa makanan dan menurutku yang paling enak cuman telur gulung,” jawab Kais melirik ke arah Juna, seakan ingin mengetahui reaksi Juna.
“Oke, kalau begitu sisanya biar aku yang buat,” ujar Juna sembari menahan tawanya.
“Waaahh! Kamu ngeledek aku karena cuman masak telur gulung? Aku cuman masak ini, bukan berarti gak bisa masak makanan lain, tapi…,” kilah Kais.
Beberapa menit kemudian….
Semua makanan buatan Juna sudah jadi, ia mulai menyajikan makanannya di mangkok dan piring, tidak lupa ia juga menghias makanan tersebut, layaknya makanan yang dibuat oleh seorang Koki terkenal.
“Waaahh... Juna sejak kapan kamu bisa memasak makanan seperti ini?” kagum Kais melihat satu persatu makanan yang sudah disajikan di piring dan mangkok.
“Dari dulu, tapi kebetulan pada saat di Rumah Tante Dewi banyak asisten rumah tangga, jadi ya... buat apa aku susah-susah masak,” jawab Juna sembari kedua tangannya masih terus bergerak dan menata makanan yang sudah ia buat di meja makan.
“Oke saatnya kita makan,” gumam Juna yang masih bisa didengar orang terdekatnya.
3 menit kemudian….
“Juna, eeemm... aku berencana ingin menjual Rumah ku, bagaimana menurutmu?” tanya Kais ragu.
“Menjual? Kenapa? Bukankah Rumah itu banyak mengandung kenangan kamu bersama Keysa?” tanya Juna balik.
“Aku tau, itu sebabnya aku ingin menjual Rumah itu. Aku sudah gak ingin pergi ke Rumah itu, apalagi tinggal di Rumah itu, karena gak ingin terlarut dalam kesedihan lagi. Makanya aku ingin menjualnya dan membeli apartemen sederhana seperti ini, toh aku cuman sendirian, jadi Rumah itu terlalu besar buatku,” jelas Kais.
“Eeem, kalau memang itu sudah menjadi keputusan kamu... lakukanlah, aku cuman bisa mendukung kamu,” ujar Juna melempar senyumnya.
“Tapi proses penjualannya pasti memakan waktu yang cukup lama, dan aku juga gak bisa disini untuk waktu yang lama, tapi aku juga gak mau di Rumah itu sendirian,” gumam Kais masih bisa didengar Juna.
__ADS_1
“Kalau begitu, gimana kalau sementara kamu tinggal dengan Kak Jihan? Aku dengar, apartemennya cukup luas dan punya 2 kamar,” sahut Juna.
“Tapi! Aku sudah bilangkan, aku gak mau merepotkan orang lain. Apalagi Kak Jihan,” ujar Kais sembari terus mengunyah makanan yang ada di mulutnya.
“Orang lain? Tapi aku juga kan orang lain, lalu apa bedanya dengan Kak Jihan?” tanya Juna heran.
“Tapi kan kamu calon…,” celetuk Kais dengan ragu dan langsung menghentikan ucapannya.
“Calon? Calon apa maksut kamu?” tanya Juna sambil menahan senyum diwajahnya.
“Sudahlah habiskan saja makananmu,” kilah Kais menundukkan kepalanya dan wajahnya tiba-tiba berubah menjadi merah seperti udang goreng.
“Hei... kenapa wajah kamu tiba-tiba berubah jadi merah seperti itu?” Juna menarik ujung bibirnya, dan ia juga berusaha ingin menatap mata Kais yang disembunyikan dengan menundukkan kepalanya.
“Dreeett... dreeettt... dreettt....” Tiba-tiba hp Juna berdering, ia segera menghampiri hp nya yang terletak diatas meja ruang tengah.
Dengan cepat Juna mengangkat telepon itu, dan sang penelepon ternyata adalah Jiny. “Ho, ada apa?” jawab Juna.
“Kap, Kapten hari ini cuti lagi?” tanya Jiny.
“Ho, aku masih ada urusan lain. Apa ada hal penting lain yang perlu kamu sampaikan?” ucap Juna.
“Eeemm... ini sebenarnya bukan hal penting sih Kap, tapi sepertinya Kaptwo ingin bicara sama Kapten. Aku akan telepon lagi dengan panggilan vidio.” Jiny langsung mematikan teleponnya dan menelepon Juna kembali dengan panggilan vidio.
“Oh... Kapten berada di Rumah rupanya,” sapa Jiny melihat sekilas pintu kamar Juna.
“Iya aku di Rumah. Tapi Agen J, kamu tadi manggil Kaptwo? Apa artinya Kaptwo?” tanya Juna bingung.
“Aaa... Kaptwo artinya Kapten dua, tapi kita sepakat untuk menyingkatnya menjadi Kaptwo,” balas Jiny dengan sedikit tertawa kecil.
“Haaa... jadi begitu,” sahut Juna.
“Oh iya Kap, ini Kaptwo ingin berbicara dengan Kapten secara langsung,” ucap Jiny yang langsung menyingkir dari layar kamera.
“Hallo selamat siang Kap, aku….” Orang yang dipanggil dengan sebutan Kaptwo itu mengambil alih kamera, dia menghentikan sapaannya ke Juna karena terkejut, ternyata Kapten yang bernama Juna itu adalah orang yang ia kenal.
Begitu juga dengan Juna yang juga langsung terlihat kaget begitu orang itu muncul di layar hp nya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.