Love And Mystery

Love And Mystery
-32- Awal Dari Perburuan Besar


__ADS_3

“Dia... sudah dibawa keluar dari pelabuhan ini,” jawab sang pelaku yang masih terus cengengesan.


Juna yang sudah mengetahui kemana pelaku lain membawa korban pergi segera memerintahkan seluruh anggota tim nya mengikutinya.


Sebelum pergi, tidak lupa Juna memborgol penculik pertama yang sudah ia tangkap. Lalu ia menyerahkan ke polisi patroli, agar langsung dibawa ke Kantor Polisi.


10 menit perjalanan, akhirnya Juna sampai di tempat yang diduga persembunyian pelaku, ia turun dari mobilnya dan mencoba melihat sekitar. Dia mulai melangkahkan kakinya menelurusi jalan yang ada di hadapannya, dan ketika itu ia melihat sebuah mobil sedan berwarna hitam pekat terparkir di tepi jalan.


Dengan cepat Juna langsung menyentuh setiap tuas pintu mobil, terutama tuas pintu pada kursi pengemudi, dari sentuhan itu dia melihat seorang laki-laki memakai topeng silikon menggendong seorang perempuan dan dia adalah Keysa. Juna segera mengikuti langkah sang pelaku, diikuti seluruh anggota timnya.


“Kalian ke arah sana, aku dan Marco akan ke arah sini,” pinta Juna membagi timnya.


“Baik Kap,” jawab Yuyun.


Juna mulai berjalan dengan cepat menuju arah yang ia tuju, diikuti Marco dibelakangnya. Ketika akan memasuki sebuah gua misterius, dia mulai mengeluarkan pistol dan senter miliknya. Dia dan Marco melangkah memasuki gua dengan sangat hati-hati dan terus waspada.


Saat di pertengahan jalan Juna menemukan dua jalan yang bercabang, ia langsung menghentikan langkahnya.


“Kap, jalannya bercabang, kita harus bagaimana Kap?” tanya Marco yang mengetahui Juna berhenti.


“Agen M lihat ini, serangga-serangga ini takut dengan cahaya. Tapi disini banyak serangga yang mati, seperti ada orang yang sudah menginjaknya, karena lewat begitu saja tanpa membawa penerangan.” Juna mengarahkan senter yang ia bawa sembari menjelaskan ke Marco yang ada di sebelahnya.


“Iya benar Kap, itu artinya ada orang yang melewati jalan ini,” sahut Marco.


“Kita harus masuk ke sana,” ajak Juna melangkah masuk lebih dulu.


Sedangkan Marco hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya, ia juga segera mengikuti Juna yang sudah berada di depannya.


Dan beberapa detik kemudian….


“Aaakk!!” jerit Marco hingga membuat Juna membalikkan badannya.


Begitu Juna membalikkan badannya, ia segera disambut oleh orang bertopeng yang langsung menyerangnya.


“Hah... hah... lama tak jumpa Bae Juna, sepertinya dirimu tumbuh dengan baik meskipun tanpa orang tua,” celetuk orang yang menyerangnya dengan sebuah senjata palu besi dengan gagang kayu yang cukup panjang.


“Apa? Dari mana kamu tau kalau aku sudah tidak memiliki orang tua,” balas Juna memasang wajah marahnya.


“Taulah, karena aku yang sudah menjadi hakim kematian untuk orang tua mu, dan juga hakim kematian untuk seluruh orang-orang terdekatmu, termasuk hakim kematian untuk diri kamu sendiri.” Selesai mengucapkan kata-katanya, orang bertopeng itu langsung menyerang Juna dengan senjata yang ia bawa.

__ADS_1


Juna dengan cepat menghindar dan menangkis lengan pelaku hingga membuat senjata yang dibawa pelaku membentur dinding gua.


“Cepat juga, itu artinya kamu ingin hidup. Tapi kenapa kamu membiarkan calon adik ipar kamu perlahan kehilangan banyak darah,” celoteh sang pelaku.


“Buaaakkk!!”


“Dimana dia!! Dimana dia sekarang!!” teriak Juna menggemah di seluruh gua, setelah memukul pelaku dengan sangat keras.


“Dia... perlahan akan membusuk bersama ikan-ikan yang baru diangkat dari kapal, hahaha….” Pelaku terus menjawab pertanyaan Juna tanpa ada kata bersalah keluar dari mulutnya.


“Kap!! Kapten!!!” panggil anggota timnya yang terdengar dari kejahuan.


“Aiiisshh....” Pelaku mencoba melepaskan diri dari Juna, ia memanfaatkan Juna yang lengah karena suara anggota timnya.


Pelaku berhasil melepaskan diri dari Juna dan langsung berlari ke dalam gua, Juna yang melihat itu dengan cepat mengejar pelaku.


Beberapa menit kemudian pengejaran itu berakhir pada ujung gua, dimana Juna melihat hanya ada kolam kecil. Karena Juna sangat yakin pelaku menyelam ke dalam kolam itu, ia melepaskan mini phone dan meletakkan hp beserta mini phone nya di tepi kolam kecil itu, lalu ia menyusul ikut menyelam.


Di pertengahan jalan ketika Juna berenang, dia melihat kalau kolam itu terhubung langsung dengan laut, merasa dirinya tidak mampu menahan nafas terlalu lama, ia segera kembali kedalam gua dan kembali mencari ke anggota tim nya.


“Kap! Kapten kemana saj….” Yuyun berpapasan dengan Juna yang baru datang dari dalam gua, kata-kata nya langsung berhenti ketika melihat pakaian Juna yang basah semua.


“Kalian tau tempat dimana penyimpanan ikan?” tanya Juna dengan nafas yang masih ngos-ngosan.


“Agen Y cari ke tempat penyimpanan ikan sebelah Timur, dan aku akan ke penyimpanan ikan Utara. Lalu Agen C temanin Agen M, dan satu lagi kalian amankan senjata pelaku,” pinta Juna sebelum melangkah pergi.


Yuyun dan Juna pergi ke tempat yang sudah mereka tuju sejak awal. Sesampainya Juna di lokasi, ia dengan cepat mulai mencari, beberapa orang menatap Juna dengan tatapan aneh, hingga beberapa orang yang akan keluar dari tempat itu menghampiri Juna.


“Mas nyari apa disini? Karena saya lihat…,” ucap orang itu yang kata-katanya terpotong.


“Saya polisi dari Jakarta pusat, saya ingin bertanya apa ada orang mencurigakan yang datang ke sini dengan menggendong anak perempuan?” tanya Juna dengan menunjukkan tanda pengenalnya.


“Kita tidak terlalu memperhatikan seseorang yang keluar masuk, tapi….” Saat orang itu menjelaskan apa yang dia ketahui tiba-tiba saja….


“Aaaaaaaa…!!!” teriak seseorang dari arah utara Juna.


Tanpa berpikir panjang Juna segera berlari ke arah sumber suara, dan saat itu ia melihat Keysa yang tak sadarkan diri dengan posisi duduk di sebuah ruangan pendingin, sembari tangan kanan nya memegangi luka yang ada di perutnya.


“Keysa... Keysa bangun!!” Juna mencoba mengoyang-goyangkan tubuh Keysa tapi tidak bangun juga.

__ADS_1


Juna juga mencoba mengecek nadi Keysa dan ia merasa nadi nya terlalu lemah, ia menebak mungkin karena sudah kehilangan cukup banyak darah.


“Agen J, panggil ambulance sekarang, cepat!!” pekik Juna yang mulai terlihat panik.


“Siap Kap!” tegas Jiny.


Juna langsung menggendong Keysa keluar dari ruangan itu. Sambil menunggu ambulance Juna mencoba memberi Keysa CPR.


“Kak Juna...,” ucap Keysa dengan lirih, ia mulai membuka matanya setengah.


“Oh, Keysa kamu sudah sadar,” balas Juna melihat Keysa membuka kedua matanya setengah.


“Kak, aku minta tolong ke Kakak.” Dengan nafas yang masih tersenggal-senggal, Keysa masih mencoba menyampaikan sesuatu pada Juna.


“Yaa... jangan banyak bicara dulu,” cetus Juna.


“Enggak Kak, aku harus... menyampaikan ini sekarang dan tolong rekam kata-kata ku ini di hp Kakak,” ujar Keysa dengan mata yang setengah terbuka.


“Ho apa, sampaikan pelan-pelan dan jangan terlalu memaksakan diri.” Juna mengeluarkan hp nya dan menyalakan perekamnya.


“Tolong Kakak tetap bersama Kak Kais, jangan pernah tinggalin dia sendiri. Karena pelaku bertopeng yang membawaku sebenarnya mengincar Kak Juna dan orang-orang terdekat Kak Juna, dan... Kak Kais adalah orang pertama yang dia incar,” tutur Keysa dengan nafas yang gak beraturan.


“Kak Kais, maafkan aku apabilah nanti Kakak menemukanku dalam kondisi sudah tidak sadarkan diri atau kalau semisal aku tidak bisa bangun lagi, aku mohon Kakak relakan aku pergi,” tambah Keysa.


“Kakak boleh bersedih, tapi jangan terlalu lama, dan satu lagi Kak... apabilah aku tidak bangun lagi, izinkan aku membantu sesama dengan donor organ,” sambung Keysa dengan nafas yang masih ngos-ngosan, dan akhirnya ia kembali pingsan.


“Key... Keysa! Keysa bangun!” teriak Juna yang kembali panik.


Beberapa menit kemudian ambulance datang dan segera membawa Keysa ke rumah sakit, didalam ambulance semua alat penunjang kehidupan dipasang, dan pada layar alat bernama EKG menunjukkan kalau denyut jantungnya semakin melemah meskipun sudah dipasang dan di beri beberapa suntikan obat.


“Aku mohon tolong selamatkan dia,” gumam Juna sembari terus menatap Keysa dengan sedih dan khawatir.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2