Love And Mystery

Love And Mystery
-48- Malam Penuh Bintang


__ADS_3

Dilihat dari jauh pun dia sudah mengetahuinya, kalau itu adalah suaminya yang sedang terlelap dengan pakaian yang masih lengkap, bahkan sang suami masih tidur dengan sepatu yang masih terpasang.


“Dia sampai lupa melepas sepatunya,” ucap Kais, sembari melangkah mendekati sang suami yang masih terlelap.


Satu-persatu sepatu yang masih dikenakan Juna dilepaskan, tidak lupa Kais juga menarik selimut untuk menutupi kaki Juna.


Dengan mengingat apa yang terjadi di ruangan Jihan, Kais menyempatkan menatap sang suami dengan tatapan sangat dalam. Diiringi hembusan nafas nya yang menyesakkan, Kais masih belum mengetahui apa yang ada dipikiran suaminya.


Suara batuk Juna yang tiba-tiba muncul, langsung memecahkan tatapan dalam Kais. “Chagi kamu baik-baik saja? Ini, kamu minum dulu.” Seperti istri siaga pada umumnya, Kais dengan cepat mengambil segelas air minum yang ada di atas meja.


Tanpa bertanya apapun lagi, Juna segera meminum air yang diberi sang istri. “Thank you, kamu sudah datang? Maaf aku ketiduran, sampai gak tahu kalau kamu sudah datang,” ucapnya sambil mengangkat badannya untuk bangun dari tempat tidur.


“Dari tadi. Kamu tidur aja lagi, aku mau mandi dulu.” Kais yang beranjak dari atas tempat tidur, tiba-tiba lengannya ditarik Juna dengan cukup keras, hingga membuat mereka berdua terjatuh diatas tempat tidur.


Dengan komuk sangat terkejut, seketika Kais membeku seperti bongkahan es. Kedua matanya seketika terbelalak, satu mulut yang dia punya pun tiba-tiba terkunci rapat, dan hanya jantung nya yang dapat mengungkapkan bagaimana persaan nya saat itu.


Tatapan yang begitu intens dan dalam, membuat degupan jantung mereka berdua tidak dapat disembunyikan lagi, suara itu hampir menggema memenuhi ruangan.


Seperti tersihir akan kecantikan istrinya, tiba-tiba Juna mengangkat kepalanya dan menempelka bibirnya ke bibir sang istri. Iya, dia menciumnya sekilas lalu melepaskannya kembali setelah sedikit tersadar.


“He...em, sepertinya aku benar-benar kecapean hari ini,” celetuk Juna canggung.


Suasana pun tiba-tiba berubah menjadi canggung, Juna yang merasa kebingungan pun berusaha bangkit dari tempat tidurnya.


Tapi...


Kejadian tidak terduga pun tiba-tiba terjadi, Kais dengan cepat menarik kerah kemeja sang suami. “Kamu mau kemana? Kamu sudah memulai lebih dulu, jadi kamu harus tanggung jawab.” Seakan melayangkan sebuah balas dendam, Kais lebih dulu balik mencium sang suami.


Ciuman yang tadinya hanya sekilas, kini berubah menjadi semakin dalam. Ciuman yang intens itu diiringi dengan tangan Juna yang mulai bergerak semakin menarik pinggang sang istri untuk semakin mendekat kepadanya.


Dalam hitungan detik, satu-persatu baju mereka sudah berguguran di lantai yang dingin, dan decitan suara tempat tidur mereka juga seketika menggema diseluruh ruangan pada malam yang sunyi itu. Tempat tidur yang sebelumnya tertata rapih kini berubah menjadi seperti kapal pecah yang terkena gempuran ombak.


Saat Juna sedang sibuk mencium sana sini, tiba-tiba saja Kais menepuk-nepuk pundak Juna sebegai tanda untuk menghentikan gerakannya.


Setelah Juna menghentikan gerakannya, Kais langsung bertanya, “Hey, gimana kalau aku hamil sebelum pesta pernikahan?"


“Kalau begitu kita tunggu saja sampai bayinya lahir,” jawab Juna dengan smirk diwajahnya.

__ADS_1


Jawaban Juna saat itu merupakan perbincangan mereka untuk terakhir kalinya pada malam yang panas saat itu, dan tanpa ada sepatah kata apapun, mereka berdua terus melanjutkan aktifitas mereka pada malam yang sunyi itu. Hanya diiringi suara keseruan mereka dibawah malam yang penuh bintang.


~Keesokan harinya~


“Dreett... dreett...” hp Juna tiba-tiba bergetar, disaat pemiliknya masih tertidur dengan pulas.


Terganggu dengan getaran hp nya, Juna akhirnya mulai terbangun dari tidurnya. Dia mengulurkan tangannya, dan merabah-rabah tempat ia meletakkan hp nya.


“Ho?! Ini Bae Juna,” jawab Juna, yang nyawanya baru terkumpul.


“Heem aku tahu. Oh iya, menurut balasan email yang Kakak kirim... Kakak mau minta bantuan tim khusus?” tanya Baesik, yang ternyata penelepon Juna.


“Ha?! Hey, gimana kamu bisa tahu masalah tim khusus?” Dengan nada sedikit terkejut, Juna seketika menoleh ke arah istrinya yang masih tertidur disebelahnya, dia juga mencoba memastikan kalau istrinya tidak mendengar pembicaraan mereka berdua.


“Kan Kakak yang cerita melalui email. Bahkan Kak Juna sampai menceritakannya secara detail, itu sebabnya aku ingin memastikannya secara langsung,” ujar Baesik.


“Email?!” Juna terdiam sejenak karena terkejut dengan jawaban Baesik, sebab dia sendiri merasa tidak mengirim email balasan terhadap dokumen-dokumen yang sudah Baesik kirim.


“Iya. Kalau Kakak gak percaya aku bisa---,” sahut Baesik yang ingin menunjukkan sebuah bukti kalau dia mendapatkan balasan dari email Juna.


“Oke, aku memang merencanakan itu. Tapi aku gak bisa jelasin sekarang, nanti aku telepon lagi.” Dengan nada pelan Juna mencoba memutus telepon mereka, agar istrinya yang masih tertidur tidak mendengar pembicaraan mereka berdua.


“Eeemm... Kamu sudah bangun? Aku pikir kamu masih tidur.” Kais tiba-tiba membuka kedua matanya, dia segera bangkit dari tempat tidurnya, dan merubah posisinya menjadi duduk.


Melihat istrinya bangkit dari tempat tidur, Juna ikut duduk dibelakang istrinya. “Kamu mau kemana? Aku masih belum ingin menginggalkan kasur.” Tiba-tiba Juna melingkarkan kedua lengannya dipinggang sang istri, dan menyandarkan dagunya disatu pundak sang istri.


Dengan seluruh badan yang masih tertup selimut mereka terus melanjutkan perbincangan pagi mereka. “Hey, kamu belum puas memperdaya aku semalaman?” Kais menoleh ke arah suaminya yang masih bersender di pundak kanannya.


“Heem?! Memperdaya? Bukannya kamu yang memperdaya duluan? Kamu yang membuat aku mabuk sampai tidak sadar dengan apa yang aku lakukan,” jawab Juna dengan lirih dibelakang telinga Kais.


“Kita harus kerja hari ini, kamu juga harus selesaikan kasus kamu itu. Ah iya, jangan pikir karena perbuatan kamu tadi malam, kamu bisa melupakan utang kamu,” sindir Kais.


Bagai amplop dan perangko, Juna masih tidak mau melepaskan rangkulannya. “Utang apa?” jawab Juna yang terlihat bingung.


“Utang penjelasan, tentang misi rahasia bahaya kamu,” ucap Kais. “Kalau sampai hari ini kamu gak mau cerita... Malam indah seperti tadi malam, tidak akan terjadi lagi dalam waktu dekat,” ancam Kais, sembari berusaha melepaskan lengan Juna yang masih merekat.


Kais berdiri dari tempat tidur dan berjalan menuju ke kamar mandi untuk menyegarkan badannya. Sementara Juna sempat terdiam sejenak setelah mendengar ancaman sang istri, mengingat kembali ancaman yang dilontarkan sang istri yang terdengar cukup lucu, dia hanya bisa menyerigai sambil tertawa kecil setelah kepergian sang istri.

__ADS_1


~Kantor polisi~


Pada hari yang tenang tiba-tiba saja Juna dipanggil Pak Komisaris ke ruangannya. Meskipun tidak disampaikan kenapa dia dipanggil, Juna segera berdiri dari kursinya dan berjalan ke ruangan Pak Komisaris.


~Ruangan Komisaris~


Katika sampai didepan ruangan Pak Komisaris, Juna mengetok pintu ruangan Pak Komisaris terlebih dahulu untuk menunjukkan rasa hormat terhadap atasannya. Barulah setelah mendapatkan izin, dia mulai membuka pintu ruangan dengan sopan.


Juna membungkukkan badannya sedikit untuk memberi hormat saat ada di hadapan Pak Komisaris. Iya, Karena Juna adalah keturunan langsung orang Korea Selatan dan dia juga besar di Seoul, jadi dia sudah terbiasa membungkukkan badannya sedikit untuk menunjukkan sopan santunnya terhadap orang yang lebih tua, sekaligus orang yang jabatannya lebih tinggi.


Konon katanya semakin rendah seseorang membungkukkan badannya, maka orang tersebut semakin sopan perilakunya, karena semakin menghormati orang yang ada dihadapannya.


.....


“Permisi Pak, kalau boleh saya tahu... Kenapa Bapak manggil saya?” tanya Juna memulai pembicaraannya.


“Juna silakan duduk dulu, kamu mau minum apa? Teh, Kopi, atau yang lainnya?” Melihat Juna yang sudah berada diruangannya, Pak Komisaris pun berdiri dari kursi empuknya dan menghampiri Juna yang sudah duduk di sofa pendek yang ada di ruangan itu.


“Terimakasih banyak Pak, saya minum ini saja,” ucap Juna, sambil mengangkat air mineral dalam kemasan gelas yang sudah tersusun rapih di atas meja panjang berwarna coklat gelap yang ada dihadapannya.


“Baiklah kalau begitu,” balas Pak Komisaris.


Pak Komisaris duduk didekat Juna dengan membawa sebuah map kertas berwarna biru yang sudah diletakkan diatas meja.


“Saya memanggil kamu kesini karena masalah kontrak kamu yang hampir habis,” kata Pak Komisaris.


“Menurut yang sudah tertulis didalam kontrak, kamu ditugaskan ke Kepolisian ini hanya untuk membantu menangkap pelaku pembunuhan berantai, dan sekarang pelaku itu sudah tertangkap jadi….


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2