
Juna yang merasa tidak nyaman terus melihat jam tangan yang terpasang di pergelangan tangan sebelah kanan nya. Ketika ia akan minum, hp nya tiba-tiba berdering. Saat melihatnya ternyata ada pesan masuk dari Kais.
Juna tidak membalas pesan itu, dia hanya tersenyum senang saat membaca tiap katanya. Kepalanya mulai terasa pusing, dan saat sudah bosan dia langsung berdiri dan berencana akan pergi dari tempat itu.
“Kak, Kak Juna mau kemana?” celetuk Baesik menggapai jaket Juna yang akan pergi dari tempat itu.
“Aku... aku masih ada janji sama orang lain,” balas Juna sembari ia terus menggeleng-gelengkan kepalanya, untuk berusaha membuat dirinya terus sadar.
Terlepas dari pegangan Baesik, ia melangkah keluar dan langsung menuju mobil nya.
“Pak kita pulang sekarang,” pinta Juna terhadap supir pribadinya.
15 menit perjalanan ia tempuh, di perjalanan ia sudah tidak bisa menahan kantuknya. Perlahan tapi pasti matanya terus menutup, hingga akhirnya dia tertidur di dalam mobil.
15 menit kemudian...
“Tuan... tuan muda. Bangun, sudah sampai rumah.” Supir pribadinya itu berusaha terus membangunkan Juna dengan menggoyang-goyangkan badannya, tetapi hal yang ia sudah lakukan itu tidak berhasil.
Dan sang supir hampir menyerah, karena itu akhirnya dia berencana meminta tolong ke pengawal lainnya untuk membantu memindahkan Juna ke dalam rumah.
Sebelum para pengawal datang, perlahan-lahan Juna terbangun dari tidurnya. Ia bangun dengan memegangi kepala bagian belakangnya yang merasa pusing.
Degan perasaan bingung, dia menatap sekelilingnya, yang ternyata sudah sampai dirumahnya. Dia yang merasa sudah lebih stabil, akhirnya keluar dari mobil dan perlahan berjalan masuk kedalam rumah.
“Oh, tuan... tuan sudah bangun ternyata,” ucap supir yang mengantarnya.
“Ho, terimakasih sudah mengantar saya dengan selamat. Saya masuk dulu,” jawab Juna dengan jalan yang masih terhuyung-huyung.
“Ye, sama-sama tuan,” balas sang supir.
Juna masuk kedalam rumah, secara perlahan dia melangkah melewati setiap anak tangga untuk menuju kamarnya, tetapi ketika ia sampai di anak tangga terakhir...
“Aaacckk,” rintih Juna yang jatuh tersandung.
Mendengar hal itu, Kais yang ternyata tertidur di ruang tengah akhirnya terbangun dan segera berlari menghampiri Juna.
“Heeyy! Kamu gak apa... aaauuu, Juna! Kamu minum berapa banyak? Badan kamu sangat bau alkohol,” ujar Kais menatap Juna yang masih mabuk.
__ADS_1
“Kenapa... kenapa kamu masih bangun jam segini? Bukan kah aku tadi menyuruh mu tidur lebih dulu?” cakap Juna dengan pandangan yang masih sedikit kabur.
“Diam! Aku akan membantumu ke kamar sekarang.” Kais mencoba membantu Juna berdiri.
“Aaaakk... pelan-pelan sakit.” Juna meringis kesakitan sewaktu akan berdiri.
“Haaaaiiiss, kaki kamu pasti terkilir. Tapi kamu gak bisa tidur disini,aku akan membantumu dan kamu harus mencoba berdiri pelan-pelan, oke.” Kais meraih lengan Juna dan mengalungkannya di lehernya, lalu ia membantunya berdiri.
Ketika sudah sampai di kamar Juna, Kais langsung membantingnya di kasur, ia juga membenarkan posisi tidur Juna dengan menyeretnya.
Tidak lupa, ia juga menyelimuti tubuh Juna dengan selimut miliknya. Ketika Kais akan pergi. “Jangan pergi, tetaplah disini. Aku mohon,” celetuk Juna tiba-tiba meraih tangan Kais yang akan keluar dari kamar.
“Dia sudah tertidur, tapi masih….” Perkataannya belum sempat ia selesaikan, tangannya langsung ditarik Juna hingga membuatnya terjatuh dan tertidur di sebelah Juna.
“Kenapa dia tiba-tiba berubah menjadi seperti ini,” batin Kais menelan ludah, ia merasa sangat gugup dan membuat detak jantungnya semakin meningkat.
Keesokan paginya….
Perlahan mata Juna terbuka, dia terbangun karena terpantul sinar matahari pagi yang langsung mengarah ke arahnya.
Saat pertama kali dia membuka mata ia sangat terkejut dengan keberadaan Kais yang tidur di sebelahnya.
“Aaacckk!” rintih Juna merasakan sakit di pergelangan kakinya.
“Kamu mau kemana?” panggil Kais membuka matanya dan melihat Juna berencana akan turun dari kasur.
“Aku mau memasukkan baju ku ke koper.” Juna yang masih memegangi kakinya, langsung berbalik dan menatap Kais.
“Kaki kamu terkilir, kamu tunggu disini sebentar, aku akan kembali,” ucap Kais dengan nada yang sedikit dingin, keluar dari kamar.
“Kenapa ekspresinya cukup dingin hari ini? Apa aku melakukan kesalahan tadi malam?” gumam Juna mencoba mengingatnya.
Kais kembali masuk ke kamarnya dan langsung memegang kaki Juna, ia mengoleskan sebuah saleb.
“Kamu tahan sedikit,” ucap Kais melirik ke arah Juna.
“Tungu-tungu, apa maksud….” Ucapan Juna terpotong karena tindakan yang dilakukan Kais secara tiba-tiba.
__ADS_1
“Kraacckk!”
"Aaaaakkk!!" Tanpa aba-aba Kais langsung memutar kaki Juna yang terkilir dengan cukup keras, hingga membuatnya meringis kesakitan.
“Heeiii… kamu kejam banget jadi cewek, aaaiissshh... sakit,” rengek Juna memegangi kakinya.
“Salah kamu sendiri kenapa tadi malam pulang dengan kondisi mabuk, aaauuuhh...,” balas Kais, beranjak dari tempat ia duduk dan keluar dari kamar Juna.
“Apa aku semabuk itu tadi malam?” batin Juna.
Setelah mendapatkan pengobatan pada kakinya, Juna pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya, seusai mandi ia berganti baju dan keluar dari kamarnya.
Juna keluar dari kamar dan langsung turun ke lantai bawa, langkah demi langkah ia lakukan melewati tiap anak tangga.
“Uwaaahh, Bik... makanannya banyak banget, Tante Dewi sudah pulang?” tanya Juna.
“Belum tuan, cuman...,” balas asisten rumah tangganya yang belum selesai menyelesaikan ucapannya.
“Aku yang minta masak banyak,” sahut Kais yang muncul dari kamarnya.
“Tapi kenapa? Apa kamu yang ingin makan sebanyak ini?” tanya Juna bingung.
“Kita juga butuh makan sampai nanti sore,” balas Kais langsung duduk di kursi.
“Nanti sore? Tapi kan nanti jam 10 kita sudah balik ke Indonesia?” tutur Juna mengerutkan dahinya.
“Jam 10? Juna, sekarang sudah jam…,” sanggah Kais menunjuk ke arah jam dinding.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.