
Ketika akan melanjutkan langkahnya, Juna tidak menyangkah dia melihat langsung apa yang dikatakan Jaguar kepadanya. Iya, yang dia lihat adalah sang istri sedang berbicara dengan dr. Lucky tepat didepan ruangan kerjanya.
Map yang dipegangnya otomatis menjadi sedikit tertekuk, efek terkena imbas amarah Juna yang tak tertahankan.
Sangat kesal, itu yang ada dibenak Juna sekarang. Sambil menundukkan kepalanya, dia membentuk smirk dibibirnya sebelum bertindak. “Sayang!!” pekik Juna.
Saat itu juga suara Juna menggemah hingga terdengar ke satu lorong yang dia lewati, suara yang cukup keras itu juga berhasil menembus dinding kaca yang membatasi setiap ruangan yang berjajar di ruangan itu.
Setiap telinga yang ada di ruangan itu mendengar suara Juna, hingga membuat setiap orang yang mendengarnya menatap tajam ke arah Juna yang sedang berjalan.
Sementara itu, Kais hanya bisa menatap ke arah sumber suara dengan kedua mata yang terbuka lebar, dengan perasaan bingun dan sedikit kaget, ia bertanya-tanya kenapa sang sumi tiba-tiba memanggilnya seperti itu dengan suara lantangnya, seakan seperti memberi tahu dunia tentang status asli hubungan mereka berdua.
Langkah kaki Juna yang ia ayunkan semakin cepat, hingga membuatnya sampai disebelah Kais dengan cepat. “Ah, ini dari Kak Jihan. Katanya kamu minta laporan ini.” Juna segera memberikan map titipan Kakaknya kepada Kais yang masih menatapnya dengan tatapan bingung.
Dokter Lucky yang ada didepan Kais mulai berdehem ria untuk memecahkan suasana yang canggung. “Kais dia siapa kamu?” celetuk dr. Lucky.
“Ah, kenalin Saya Bae Juna. Suami sah dr. Kais,” sahut Juna mengulurkan satu tangannya.
Suara lantang Juna saat itu juga membuat hampir seluruh rekan-rekan Kais, dan orang yang kenal akhrab dengan Juna keluar dari ruangan mereka. Demi memuaskan rasa ingin tahu nya, semua orang yang cukup terkejut dengan ucapan Juna, satu persatu berdiri di depan pintu ruangan mereka dan menatap ke arah Juna, Kais, dan dr. Lucky.
Setelah beberapa detik terdiam dan hanya menatap tangan Juna, pada akhirnya dr. Lucky mulai angkat suara, “Kais, apa benar itu? Kamu... sudah menikah dengan dia?” tanya dr. Lucky kembali.
Sembari menatap ekspresi sang suami yang dia anggap lucu, senyum Kais mulai mengembang dengan lebarnya. “Iya, aku memang sudah menikah dengan dia. Kita menikah di Seoul,” jawab Kais sambil terus menatap sang suami yang ada disebelahnya.
“Haaahh....” Seketika terdengar suara samar-samar orang yang ikut terkejut, setelah mendengar pernyataan Kais.
Dokter Lucky mulai mengerutkan dahi nya, diiringi helaan nafas sesaknya. “Tapi... tapi kenapa semua teman kuliah gak pernah ada yang memberi tahu, kalau kamu sudah menikah?” tanya dr. Lucky yang masih tidak mempercayai ucapan jujur Kais.
“Kalau masalah itu....” Kais kembali ingin memberikan jawaban, tapi ucapannya tiba-tiba dipotong.
“Kita hanya mengadakan upacara pernikahan secara kecil-kecilan, hanya keluarga dekat yang hadir. Lagian, apa urusan Dokter tentang masalah pernikahan kita? Kalau bisa Dokter jangan terlalu dekat dengan istri saya, dan ngobrol seperlunya saja.” sahut Juna dengan kata-kata tegasnya seketika membungkam dr. Lucky.
Tanpa berkata apapun lagi, Juna menggenggam tangan sang istri dan mengajaknya masuk kedalam ruangannya.
Di dalam ruangan Kais~
__ADS_1
Ketika mereka sudah ada didalam ruangan kerja sang istri, seketika rasa kesalnya meluap melalui hembusan nafas panjangnya. “Kamu sebaiknya jauh-jauh dari laki-laki seperti dia. Apaan itu tadi, bisa-bisanya merayu wanita di jam kerja,” cerocos Juna meluap kan semua rasa kesalnya.
“Heem, aku yakin dia gak akan berani melakukan itu lagi,” angguk Kais yang langsung duduk di kursi kerja nya.
“Bagus kalau gitu.” Meskipun masih ada sedikit rasa kesal di batin Juna, ia berusaha mencoba bersikap tenang dan tidak memperpanjang ocehannya. Juna juga mencoba kembali merelax kan pikirannya dengan bersandar di sebuah sofa berwarna biru laut.
Sambil menatap ke arah Juna yang sedang bersantai di kursi, Kais jadi kembali teringat apa yang ingin dia tanyakan. Tanpa berfikir panjang kembali, dia segera berdiri dari kursi kerjanya dan beralih duduk disebelah sang suami.
“Tapi Chagia, kenapa kamu jam segini biasa ada disini? Kamu gak ke Kantor Polisi apa? Terus kenapa kamu manggil aku dengan sebutan sayang? Karena biasanya kamu manggil aku dengan sebuatan Chagia. Iya memang sih artinya sama, tapi aneh aja gitu menurut aku. Ah... dan satu lagi yang paling penting, kenapa kamu tiba-tiba membuka status hubungan kita secara blak-blakan?” Sambil duduk dan berpangku dagu, Kais dengan cepatnya melempar semua pertanyaan yang dari tadi terus berputar di kepalanya.
Menerima begitu banyak pertanyaan dari sang istri, secara otomatis Juna langsung membuka kedua matanya, ia kembali menghelah nafas sebelum memberikan jawaban. “Gimana kalau mulai hari ini kita ganti sebutan? Aku tahu kamu belum terlalu terbiasa dengan sebutan sayang, tapi aku cuman ingin seperti kedua orang tua ku dulu, hidup di Indonesia dan cara dia hidup pun sangat melokal. Meskipun Ayah aku baru di Indonesia beberapa tahun,” jawab Juna dengan kata-kata yang sedikit menyentuh.
“Oke, lagian kita juga berencana membangun keluarga kecil kan di negara ini. Kalau begitu mulai hari ini aku akan panggil kamu dengan sebutan sayang, seperti kamu manggil aku tadi,” angguk Kais menyetujui permintaan sang suami.
Hanya membalas dengan senyuman lebarnya, itulah cara Juna menjawab ucapan sang istri yang masih duduk disebelahnya.
“Oh, satu lagi... kenapa kamu tadi tiba-tiba membuka status hubungan kita?” sahut Kais menaikkan kedua alisnya.
“Kalau soal itu kan aku sudah bilang, laki-laki seperti itu ... bukan laki-laki yang baik,” balas Juna dengan nada canggung.
“Hey! Kenapa kamu malah senyum-senyum seperti itu? Memang ada yang lucu?” pekik Juna dengan wajah sedikit kesal.
“Ho, bilang aja kamu cemburu kan... lihat aku dekat sama dr. Lucky?” jawab Kais semakin melebarkan senyuman di bibirnya.
“Haaaiisshh, siapa juga yang cemburu. Masih baikan aku juga kemana-mana,” ucap Juna dengan memanyunkan bibirnya.
“Ah... jadi begitu. Oke, aku percaya.” Dengan wajah yang lebih mendekat ke Juna, Kais terus menahan tawa di wajahnya.
Merasa sedikit kurang nyaman dengan tatapan sang istri, Juna kembali mengalihkan tatapannya ke sang istri. “Kamu percaya? Dengan tatapan seperti itu?” tanya Juna dengan tatapan ragu dikedua matanya.
Kedua tangan Kais langsung menjepit kedua pipi Juna, dan degan gemasnya Kais terus menguyel-uyel kedua pipi orang yang paling dia cintai itu, hingga membuat bibir Juna sedikit manyun. “Astaga, kamu gemes banget kalau lagi cemburu seperti ini,” ucap Kais dengan senyum di bibirnya.
“Ho, aku memang cemburu. Sekarang lepasin tangan kamu, atau aku akan….” Juna yang mulai terganggu pun mulai menontarkan ancaman dengan wajah gemasnya, tapi ancaman itu seketika dipotong kembali sama Kais.
“Akan apa? Akan apa? Ha... ha....” sambung Kais yang terus masih menguyel-uyel pipi Juna dengan perasaan gemas.
__ADS_1
Tanpa aba-aba, Juna langsung melepaskan kedua tangan sang istri, dan langsung menarik pinggang sang istri, hingga membuat jarak antara mereka berdua menjadi sangat dekat, bahkan hampir tidak ada jarak diantara mereka berdua. “Akan seperti ini,” ujar Juna membentuk smirk diwajahnya.
Tangan Kais dengan cepat sudah melingkar di leher Juna, dan karena jarak yang terlalu dekat, seketika membuat wajah Kais menjadi memerah layaknya kepiting rebus, dengan jantung yang terus berdegub lebih cepat, Kais mencoba merubah suasana. “Hei, kamu sudah gila apa? Kita sedang ada di kantor BFN. Udah jam segini, emang kamu gak dicariin sama pimpinan kamu?” ucap Kais.
“Enggak. Siapa juga yang mau nyariin pengangguran kayak aku,” balas Juna, sambil menyibakkan beberapa helai poni yang menutupi wajah sang istri.
Berbeda dengan Juna, Kais yang terkejut mendengar ucapan Juna, langsung mendorong dirinya untuk menjauh dari sang suami yang ada dihadapannya itu. “Apa? Pengangguran? Tapi katanya kontrak kamu masih diperpanjang 2 minggu lagi, tapi kenapa....” Entah seberapa terkejutnya Kais mendengar ucapan sang suami, hingga membuat kedua alisnya langsung terangkat.
“Iya aku tahu, tapi aku lebih memilih keluar, terus akan melanjutkannya ke project independen,” jelas Juna diiringi anggukan kepalanya.
“Luar biasa suami aku ini, terus rencana kamu kedepannya apa coba?” tanya Kais kembali.
“Eeemm, rencana aku... menyelesaikan kasus ini hingga tuntas, memberi hukuman untuk pelaku yang sudah membunuh keluarga ku dengan hukuman yang seberat-beratnya, lalu aku akan memilih pekerjaan yang lebih tenang, misalnya seperti jadi dosen di akademi kepolisian, dan terakhir hidup damai sama kamu sampai tua nanti,” jelas Juna diiringi senyuman diwajahnya.
“Indah, semoga kita bisa cepat mewujudkannya,” sahut Kais yang langsung membelai punggung tangan Juna.
Obrolan mereka terus berlanjut, dan ditengah-tengah obrolan asik mereka, hp Juna tiba-tiba berdering. Tanpa menunggu waktu lagi, Juna langsung menjawab telepon masuk yang ada di hp nya.
“Ho, ada apa?”
“Kalian sudah sampai?”
“Oke, aku akan segera kesana.”
Setelah menjawab telepon pentingnya, Juna langsung mematikan layar hp nya, dan memasukkan kembali ke kantong saku celananya.
“Ada apa?” tanya Kais dengan wajah bingung.
.
.
.
Bersambung~
__ADS_1