Love And Mystery

Love And Mystery
-15- I'm Not Loser


__ADS_3

Ketika sudah berada didalam ruangan acara mereka langsung disambut oleh Subi, Suhyang dan Debi, yang membuat Kais memegang Juna lebih erat dari pada sebelumnya.


“Ooww, lihat siapa ini. Bukankah dia sih culun yang dulu hanya bisa duduk ketika diguyur minyak belut? Hahaha,” sindir Subi yang langsung berpapasan dengan Kais yang baru masuk.


“Waaahh... Subi sepertinya sih culun ini sudah naik kelas, dia sok jadi artis didepan wartawan-wartawan itu,” sahut Debi tersenyum sinis.


“Juna, kamu yakin masih mau jalan bareng sama dia? Jujur saja image dia terkenal buruk disekolah ini,” ejek Subi sekali lagi.


“Iya Juna mendingan sama Subi yang sudah pasti lebih memiliki image yang bagus dan aku jamin kalau sama dia kamu akan menjadi pasangan terbaik disini,” celetuk Suhyang.


“Haaahh, Subi kalau boleh tau pekerjaan kamu sekarang apa?” tanya Juna.


“Pekerjaanku? Sekretasis kantor, kenapa memangnya? Kamu mulai tertarik ya sama aku,” seru Subi yang menyombongkan dirinya.


“Haaahh….” secara tiba-tiba Kais mengeluarkan senyum smirk nya mendengar ucapan Subi.


“Hooyy! Culun kenapa kamu tersenyum?” cetus Debi yang merasa tersinggung.


“Apa... kamu tersenyum? Waaahh kamu sudah berani ya mengejek aku?” sahut Subi yang mendengar ucapan Debi.


“….” Juna yang akan menyanggah, tidak bisa berkata apa-apa setelah Kais tiba-tiba angkat bicara.


“Enggak, lucu aja... dulu kalian memperlakukanku seperti itu, tapi pada akhirnya kalian sendiri malah mengapdikan diri pada orang?” celetuk Kais secara tiba-tiba.


“Apa? Heeii!! Memang apa pekerjaan kamu?” suara Subi meninggi setelah merasa diremehkan oleh Kais.


“Dokter forensik, kenapa? Kalian mau aku bedah sekarang juga disini!! Biar kotoran dihati kalian hilang semua sekalian, waaahh... kalian lihat sekarang, karena bagaimanapun juga... sekarang aku sudah berada diatasmu, heeehh,” ucap Kais dengan sangat berani, lalu dia kembali melempar senyum smirk ke Subi.


“Apa kamu bilang tadi? Heee!! Kamu sudah berani sama aku... waaahh... kamu bener-bener sudah tidak waras!!" Subi merasa sangat marah karena ucapan Kais, dia juga langsung membentak Kais dan hampir mengajaknya gelut.


"Subi... Subi, sebaiknya kita pergi dari sini. Banyak mata yang menatap ke arah kita.” Debi mencegah Subi bertindak lebih jauh, supaya mereka tidak lebih dipermalukan.


“Lepasin... lepasin!! Aku akan habisi dia sekarang juga!” Subi meronta-ronta dan mencoba melepaskan badannya yang dipegangi dua temannya.


“Subi, hentikan atau kamu akan malu sendiri dan image yang selama ini kamu bangun menjadi jelek, kita pikirkan membalasnya nanti... huh,” bujuk Suhyang, mencegah Subi bertindak diluar kendali.


“Haaahh, baik... lihat saja nanti! Aku akan balas penghinaan kamu ini!!” Subi menoleh ke arah sisi kiri dan kanan dan benar saja banyak yang menatap ke arahnya, karena itu dia akhirnya menghentikan perbuatannya, lalu pergi dari hadapan Kais dan Juna.


“Haaaaaahhhhh.…” Kais dapat menghela nafas lega, setelah anak-anak yang mengganggunya itu pergi.


“Kamu gak apa-apa kan?” tanya Juna yang melihat Kais menghela nafas dengan panjang sambil menundukkan kepalanya.


“Ho, aku baik-baik saja,” jawab Kais menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


“Kalau begitu sebaiknya kita duduk dulu disana,” ajak Juna.


Setelah duduk beberapa menit, mereka mulai makan kue yang sudah disajikan.


“Kais kamu tunggu disini sebentar, aku mau ke toilet dulu. Kamu gak apa-apa kan aku tinggal sendirian?” ucap Juna secara tiba-tiba.


“Ho, aku gak apa-apa kok. Aku akan tetap menunggu disini,” jawab Kais tersenyum ke arah Juna.


Juna berdiri dari tempat duduknya, lalu pergi ke toilet. Selang beberapa waktu seseorang mendekati Kais....


“Permisi, kamu Kais kan yang dulu pakai kacamata kan?” sapa seseorang.


“Iya, kamu siapa ya?” jawab Kais yang kebingungan sambil menatap orang tersebut.


“Aku Juhyuk, dulu kakak kelas kamu. Apa kamu masih ingat?” celetuk laki-laki yang bernama Juhyuk itu.


“Aaahh, Kak Juhyuk?” jawab Kais.


“Iya benar, waaahh... ternyata kamu masih ingat juga. Aku gak nyangkah kamu bisa berubah sedrastis ini,” ujar Juhyuk melihat Kais dengan tatapan kagum.


“Aahh, biasa saja Kak. Kak Juhyuk datang kesini sendirian?” tanya Kais menatap kesegala arah tapi tidak menemukan orang yang bersama Juhyuk.


“Ho, Kais... aku lihat kamu masih berteman saja sama Juna? Apa kamu gak merasa risih? Ya, maksud aku, Juna kan dulunya termasuk siswa populer sama seperti Subi, apa kamu gak merasa kalau dia mau berteman sama kamu hanya karena kasihan? Sejujurnya, kamu wanita yang sangat baik dan bahkan menurutku kamu terlalu baik untuk terus berteman sama Juna,” ujar Juhyuk.


“Aaa... kalau soal itu aku juga dengar pendapat orang lain, memang aku terlalu baik buat seorang Juna, apalagi dengan perubahanku saat ini malah Juna terlalu buruk buat jadi teman ku….” Ketika Kais menjelaskan hal ini ke Juhyuk, tiba-tiba Juna datang dari arah belakang dan dia mendengar ucapan Kais hanya sepotong dari keseluruhan pendapat Kais ke dirinya.


***


Sementara itu, pendapat lengkap Kais yang dijelaskan ke Juhyuk sangat berbeda dengan apa yang sudah didengar Juna.


“Aaa.. kalau soal itu aku juga dengar pendapat orang lain, memang aku terlalu baik buat seorang Juna, apalagi dengan perubahanku saat ini malah Juna terlalu buruk buat jadi temanku, tapi... diriku sendiri masih menganggap aku masih sama seperti yang dulu, dan tidak ada perubahan apapun yang terjadi padaku,” tutur Kais.


“Kalau misalnya aku yang sekarang terlalu baik buat Juna, maka aku yang dulu justru malah sangat buruk buat Juna. Karena itu Kak, tanpa adanya Juna, aku yang sekarang gak akan terbentuk dan gak akan pernah ada disini saat ini, maaf Kak sebelumnya aku permisi mau ke toilet dulu,” tegas Kais, menyangkal pendapat Juhyuk dengan keras, lalu dia beranjak dari kursinya dan berjalan menuju toilet.


“Kais, tunggu sebentar.” Juhyuk ikut berdiri, lalu dia mengejar Kais dan langsung meraih tangan Kais.


“Ada apa Kak?” cetus Kais sambil melirik tangannya yang dipegang Juhyuk.


“Aahh, maaf. Sebenarnya ada yang aku mau sampaikan ke kamu dari dulu,” ucap Juhyuk yang langsung melepaskan pegangannya.


“Apa?” sahut Kais dengan singkat.


“Aku sudah lama suka sama kamu sejak dulu, tapi aku dulu ragu mau ngomong ke kamu,” ucap Juhyuk sambil menundukkan kepalanya.

__ADS_1


“Haaahh, Kakak ragu atau takut mendapatkan image jelek karena suka sama anak culun sepertiku?” Kais menyunggingkan ujung bibirnya, karena mendengar ucapan Juhyuk.


“Eng... enggak beneran, aku cuman ragu mau ngomong... tapi aku beneran suka sama kamu,” tambah Juhyuk.


“Kak Juhyuk, ragu sama belum berani itu perbedaannya sangat tipis, sebelumnya aku minta maaf ke Kakak, karena sudah ada laki-laki lain yang mengisi hatiku, dan cuman orang itu satu-satunya yang menyatakan perasaannya ke aku, meskipun mungkin dia juga ragu-ragu menanyakan hal tersebut, seperti yang Kakak katakan tadi, tapi seenggaknya dia bukan pengecut yang takut mendapatkan image jelek karena menyukaiku dan bahkan dekat denganku,” tegas Kais menjawab kata-kata Juhyuk yang sudah jelas penuh dengan kebohongan.


“Apa itu Juna orang nya?” tebak Juhyuk yang menatap Kais akan melangkah pergi.


“Ho, dia Juna. Orang yang sudah Kakak jelek-jelekkan tadi,” cetus Kais dengan dingin lalu pergi meninggalkan Juhyuk sendiri.


***


Sementara itu…


“Haaahhh, bisa-bisanya dia mengatakan semua itu setelah kita berteman sangat lama,” kesal Juna yang berada di area tepi kolam renang yang sepi.


“Kenapa perasaanku jadi sedih dan sangat kecewa seperti ini setelah mendengar ucapannya, dan disaat seperti ini kenapa aku sangat ingin merokok, tapi kan... aku sudah lama berhenti merokok,” gumam Juna sambil menatap ke arah kolam renang.


Juna merabah-rabah Jas yang dia kenakan bermaksud untuk mencari hp nya tapi dia tidak sengaja menemukan kotak rokok yang ternyata masih tersisa satu batang, dan setelah merabah-rabah lagi dia menemukan koreknya juga.


Pada akhirnya dia mengambil sisa satu batang tersebut dan menaruhnya di mulutnya, ia langsung menyulutnya, tapi ketika rokok itu sudah menyalah….


“Heeyy! Apa yang akan kamu lakukan? Bukannya kamu sudah sangat lama berhenti merokok?” Kais tiba-tiba datang, dia mencabut rokok yang sudah menyala tersebut dari mulutnya dan melemparnya kedalam kolam renang.


“Haaahh, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu disini bukankah kamu tadi masih didalam dan sedang ngobrol dengan Kak Juhyuk?” Juna yang tadinya duduk langsung berdiri dan menatap Kais yang baru datang.


“Apa? Dari mana kamu tau? Apa itu sebabnya kamu gak kembali dan malah duduk sendirian disini?” jawab Kais yang semakin bingung dengan ucapan Juna.


“Kais, aku pikir kita sudah sangat dekat dan aku mengetahui semua sifat kamu, tapi... hhaaahhh... ternyata aku salah, kita belum sedekat itu meskipun kita sudah berteman bertahun-tahun. Aku... sangat kecewa sama kamu,” ucap Juna dengan ekspresi sedih dan melangkah akan meninggalkan Kais.


“Hei, tunggu apa yang kamu maksud? Sifat apa? Dan kenapa kamu jadi berubah seperti ini?” Kais menghentikan langkah Juna dengan meraih tangannya, sambil dia melemparkan pertanyaan yang dia bingungkan.


“Kamu gak usah pura-pura lagi menjadi temanku, sekarang kamu bukan gadis yang culun seperti dulu, jadi carilah teman lain yang lebih pantas buat kamu. Karena aku... haaahhh... karena aku terlalu buruk buat kamu.” Juna melepaskan tangan Kais yang memegang pergelangan tangannya, setelah itu dia langsung melangkah meninggalkan Kais sendiri.


Kais melepas sepatunya, ia berlari menyusul Juna dan langsung memeluknya dari belakang. “Juna! Jangan pergi, aku gak paham kamu marah ke aku karena apa, tapi aku mohon jangan pergi. Aku bisa menerima sikap dingin kamu, tapi aku gak sanggup melihat kamu marah ke aku dan benar-benar berkata dingin seperti itu. Aku tau mungkin ini sedikit terlambat tapi, aku harus menyampaikan ini ke kamu, kalau aku... kalau aku... aku...,” gagap Kais.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2