
“Eeeemmm, guys sepertinya kalian harus bergegas karena pelaku baru saja mengumumkan kalau siaran akan dimajukan,” ucap Jiny yang tak melepas pandangannya dari layar monitor komputer.
“Apaaa!! Hei... percepat sedikit,” pinta Juna untuk mempercepat gerakan mereka memasang perlengkapan.
Selesai memasang semua perlengkapan, mereka bergegas menuju mobil dan pergi ke lokasi.
35 menit berjalanan berlalu, dan akhirnya sampai di TKP....
Mereka sudah sampai di TKP, mereka sengaja tidak memarkir mobil mereka di lapangan sekolah, melainkan diluar pagar sekolah. Hal itu mereka lakukan adalah bagian dari rencana yang sudah disusun dengan rapih.
“Oke, kita turun, tetapi jangan berjalan melalui lapangan depan, kita lewat samping dan masuk melalui tangga sebelah timur, setelah itu cari dilantai 2, 3 dan 4... sisanya biar mini drone yang mengambil alih,” kata Juna sebelum turun dari mobil.
“Baik Kap,” jawab Charly menganggukkan kepalanya.
Mereka mulai turun dari mobil dan langsung berlari ke arah samping sekolah yang cukup rimbun dan dipenuhi oleh pepohonan.
Sesampainya mereka di bagian samping sekolah mereka langsung naik ke lantai yang sudah mereka rencanakan, setelah naik mereka baru menerbangkan mini drone.
Langkah yang mereka sudah rencanakan sejauh ini berhasil berjalan dengan lancar. Mereka segera menyusuri lantai yang sudah mereka rencanakan sejak awal.
Juna yang sedang mencoba menyentuh apar yang tertempel didinding, dia tidak sengaja melihat pelaku sedang menggendong korban, dengan cepat Juna mencoba menyentuh benda lainnya yang mungkin terdapat jejak pelaku.
“Haaaahhh... bahan peledak? Ini gila,” gerutu Juna mengerutkan kedua alisnya.
“Agen Y, Agen C dalam gedung ini terdapat bahan peledak. Agen Yu fokus cari bahan peledak itu, dibantu dengan mini drone dan apabila sudah ketemu segera putuskan sensor jarak jauhnya yang terhubung ke kontrol jarak jauhnya, biar aku dan Agen C yang mencari pelaku,” pinta Juna membagi tugas kembali melalui mini phone.
Langkah demi langkah Juna jalani, dan akhirnya ia menemukan satu lampu yang menyala di satu ruangan, Juna yang mengetahui hal tersebut, bergegas masuk ke ruangan itu, tetapi ruangan itu kosong dan hanya terdapat….
Juna mendesis kesal. “Psiko, harus berapa nyawa lagi yang harus dia hilangkan.” batin Juna sangat terkejut, melihat kaki tangan pelaku yang sudah terbujur kaku.
Ketika berada di ruangan itu, tiba-tiba saja Juna mendengar derap kaki sedang berlari.
“Berhenti disana!!!” teriak Charly.
“Ddduuuuaaarrrr....”
Juna yang mendengar suara itu sangat terkejut, dia dengan cepat berlari ke sumber suara.
“Kap, tersangkah ketemu... dia menuju ke atap, tetapi sedang tidak bersama korban,” cetus Charly melalu mini phone.
“Ho, aku menuju kesana sekarang,” balas Juna sambil terus berlari secepat mungkin.
Setelah beberapa detik kemudian....
__ADS_1
Juna sampai di lantai paling atas, yaitu lantai 4 dan dilantai itu ia bertemu dengan Charly yang masih ada di lantai 4 dengan pandangan yang masih terus waspada.
“Kap, dia ke atap,” tunjuk Charly ketika melihat kemunculan Juna.
Juna terengah-engah setelah berlari setelah sampai di lantai 4. “Oke, aku akan kesana, aku akan infokan keberadaan korban jika sudah mengetahuinya.” Juna kembali berlari menuju atap, setelah menjawab kata-kata Charly.
Setibanya di atap Juna berusaha membuka pintu, tetapi ternyata pintu menuju atap terkunci. Juna tidak kehilangan akal, ia terus menendang dan mendorongnya dengan badannya, setelah mencoba beberapa kali, pintu itupun terbuka. Juna perlahan melewati pintu itu, tapi tiba-tiba saja….
“Brrraaaacckkk….” Pelaku melayangkan sebuah lembaran kayu bekas, tepat pada saat Juna melewati pintu, hal tersebut membuat Juna langsung tersungkur.
“Aaaahhh...,” rintih Juna yang sedikit kesakitan.
“Ha... ha... ha... kakak, seharusnya tidak ikut campur masalah anak muda,” ejek Pelaku dengan terkekeh melihat Juna yang sudah tersungkur, ia pun perlahan mendekat setelah mengetahui Juna terjatuh.
“Hhaaah... aaaaiisss,” gerutu Juna memegang kepala belakangnya.
Tanpa berkata-kata Juna langsung meraih pistolnya dan menembakkan ke arah kaki pelaku. “Dduarrr....”
“Aaaaccckk!!!” teriak pelaku yang kesakitan, karena kakinya tertembak.
“Bukan cuman kamu yang bisa berbuat curang, kakak juga bisa main penjahat-penjahatan,” ucap Juna membentuk senyum smirk dibibirnya.
“Berhenti!! Berhenti melangkah atau aku ledakkan sekarang juga gedung ini!!” ancam pelaku menunjukkan kontrol bom jarak jauh yang dia pegang.
Mendengar hal itu Juna langsung menghentikan langkahnya, sebab dia belum ada kabar dari Yuyun tentang bahan peledak yang dipasang pelaku.
“Ha... ha... ha... perjalanan masih panjang? Kak, perjalanan panjang... hanya untuk orang yang hidupnya nomal. Sejak saat wanita itu mulai ada, hidupku sudah hancur berkeping-keping tidak ada jalan selanjutnya untukku,” gerutu pelaku yang terdengar sangat putus asah.
“Kap, hati-hati... aku menemukan fakta baru, Alvaro besar di keluarga yang broken home. Orang tua nya bercerai, lalu ibu kandungnya meninggalkannya sejak usia 8 th. Pada usia 10 th ayahnya menikah lagi dan sejak saat itu dia sering dipukuli oleh ibu tirinya, selain itu dia juga pernah mengalami pelecehan yang juga dilakukan oleh ibu tirinya. Saat di usia 18 th dia membakar rumah beserta perusahan ayahnya, akibat dari semua itu, kedua orang tuanya meninggal di tempat,” ungkap Jiny memaparkan fakta baru yang ia temukan di tengah-tangah Juna membujuk pelaku.
“Hhaaaaahh... hei, memangnya kamu saja yang mengalami hal buruk?” ucap Juna.
“Aku juga harus berjuang dan hidup sendiri sejak usia 7 tahun, tapi apa? Aku tidak pernah menyerah seperti yang kamu lakukan,” kesal Juna, hingga ia menceritakan apa yang ia alami.
“Hhaah, bohong!! Aku gak akan gampang percaya dengan kata-kata orang seperti kakak yang gak tau apa-apa!!” sangkal pelaku, menampik semua yang Juna bicarakan.
“Kalau kamu waktu itu merasa tersakiti dan menderita, seharusnya kamu kabur dari rumah, bukankah waktu itu kamu hampir berusia 11 th? Panti asuhan pada saat itu sudah banyak, kamu bisakan berlari ke tempat itu dan mengadu semua apa yang kamu alami, aku yakin, kalau saat itu kamu punya keberanian lebih seperti sekarang, kamu pasti akan bisa hidup normal seperti anak-anak lainnya, bukan malah mengumpulkan dendam dan melampiaskan pada usia 18 th dengan membakar rumah sendiri,” ucap Juna.
“Alvaro, kalau kamu tidak berusaha keluar dari lubang itu sendiri, maka kamu akan terus tertimbun dan akan terus semakin terperosok semakin dalam, karena hidup selalu menghadapi pilihan pahit ataupun manis, dan apapun yang sudah kamu pilih akan menjadi masa depan kamu seperti sekarang,” tambah Juna yang masih mencoba meluluhkan hati pelaku.
“Kap, semua bahan peledak berhasil diamankan dan dikeluarkan dari gedung,” ucap Yuyun secara tiba-tiba dari mini phone.
“Oke, sekarang berhenti main-main dan letakkan itu sekarang juga, atau aku beneran menembak,” suruh Juna kepada pelaku.
__ADS_1
“Hhaahahaha... tembak saja! Kalau beran…,” tantang pelaku terus mengoceh.
“Duuaaaarrr....” Juna benar-benar melepaskan tembakan yang diarahkan ke tangan pelaku.
“Aaaaccccckkk….” Pelaku merintih kesakitan dan akibat dari tembakan itu kontrol bom jarak jauh yang dipegangnya terlepas.
Melihat pelaku kesakitan dan terjatuh dilantai, Juna langsung mendekat dan melilitkan sebuah perban ke dua luka korban yang berdarah, perban itu dia temukan ketika sedang mencari pelaku, pada awal masuk gedung sekolah.
“Alvaro anda ditahan atas tuduhan pembunuhan dan percobaan pembunuhan berencana, anda berhak diam dan anda juga berhak didampingi pengacara, apapun yang anda katakan dapat digunakan untuk melawan anda dipengadilan.” Sesudah membalut luka pelaku, Juna langsung memborgol pelaku.
“Agen C, Elva ada di lantai dua kelas 3A, dia berada didalam lemari besi,” tutur Juna melalui mini phone.
Pelaku sedikit terkejut ketika Juna memberi tahu tentang keberadaan korban, karena selama percakapan mereka tidak pernah membahas atau tanya dimana korban berada.
“Kakak, tau dari mana keberadaan Elva?” tanya pelaku memasang wajah bingung.
“Insting! Ini adalah hadiah yang berhasil aku dapatkan dari hasil menentukan pilihan yang tepat,” jawab Juna.
\= Penangkapan dan pencarian kasus penculikan Elva berusia 23 tahun ditutup \=
Pelaku langsung dibawa ke kantor polisi untuk di interogasi, sedangkan Elva dibawa ke rumah sakit. Selain itu semua tim kembali ke kantor polisi.
.
.
.
.
.
Bersambung…
**********************************************
+ Cuplikan episode 8 +
dari mana aku harus memulainya,” gumam Juna sambil menatap selembar foto ayahnya dan tim nya sewaktu masih bekerja dikepolisian.
Juna memasukkan foto ayahnya ke dalam tasnya, dan dia segera berangkat ke kantor polisi.
Waktu itu Juna sekilas melupakan masalah foto, karena ia disibukkan harus membaca berkas-berkas penting.
__ADS_1
“Tok... tok....” Seseorang mengetok pintu ruangan Juna.
“Kap, ada informasi dari BFN kalau hasil tes...."