
“Kap, Ibu Rudi memiliki nama asli Alisa Nugraha, dia diadopsi saat berusia 6 th. Selain itu dia juga pernah mengalami kekerasan pada usia 7 th yang dilakukan Ayah angkatnya, dan yang paling mengejutkan, ternyata suami dia sudah wafat,” celetuk Jiny melalui mini phone di tengah-tengah Juna membujuk pelaku penganiayaan.
“Apa, yang membawa Rudi adalah... Ayah Anda?” tebak Juna lagi. Hingga membuat Ibu Rudi menatapnya dengan raut wajah ketakutan.
“Haaahhh... semuanya korban tidak ada di Rumahnya, cari disekitar,” pinta Juna melalui mini phone.
“Kalian borgol dia, dan serahkan ke polisi patroli, kita cari lagi di sekitar,” ujar Juna keluar dari Rumah korban.
Setelah keluar dari Rumah, Juna mencoba kembali mengingat-ingat apa yang sudah ia lihat, lalu ia mencoba kembali bertanya kepada Pak Satpam kompleks.
“Permisi Pak, apa Bapak melihat orang mencurigakan yang lewat? Atau sebuah mobil yang mecurigakan barusan melewati pos ini?” tanya Juna sambil menatap Pak Satpam itu dari atas hingga bawah.
“Enggak, saya tidak melihat. Tapi ngomong-ngomong, apa Pak Polisi sudah menemukan anak kecil yang Pak Polisi cari? Ini silakan diminum terlebih dahulu,” jelas Pak Satpam sembari menyodorkan sebuah minuman dengan kedua tangannya ke Juna.
“Oh terimakasih Pak. Kalau boleh saya tau Bapak dari mana? Kok bawa-bawa senter,” ujar Juna menerima minuman, ia juga melihat senter yang dibawa Pak Satpam.
“Aaa... ini saya habis dari ruang kendali, untuk memeriksa mesin dan pipa-pipa yang bocor,” jawab Pak Satpam.
“Oh, tapi kenapa Pak Polisi tidak meminumnya? Apa tidak suka dengan rasa minumannya?,” tambah Pak Satpam melihat Juna masih terus memegang minuman pemberiannya.
“Aaa... bukan seperti itu, saya akan minum. Tapi apa saya bisa mencoba melihat ruangan itu?” balas Juna yang masih memegang minuman pemberian Pak Satpam.
“Disana hanya ada sekumpulan mesin dan pipa, ruangannya juga pengap dan panas. Apa tidak masalah buat Pak Polisi?” ucap Pak Satpam berusaha mencegah Juna ke ruang kendali.
“Tidak apa-apa, saya sudah terbiasa dengan keadaan panas,” jawab Juna mulai meminum minuman pemberian Pak Satpam.
“Baik kalau begitu ikuti saya,” ajak Pak Satpam.
Juna mengekor Pak Satpam yang berjalan lebih dulu, saat sudah berada di dalam ruang kendali Juna mulai menatap ke semua arah.
“Lihat sendiri kan Pak Polisi, disini hanya ada sekumpulan mesin dan pipa,” celetuk Pak Satpam tiba-tiba memulai pembicaraan.
“Iya Bapak benar,” jawab Juna sembari terus menggelengkan kepalanya karena merasa pusing.
“Lagian Pak Polisi kenapa harus bersusah payah mencari anak kecil yang nakal seperti itu?” Pak Satpam itu mendekat ke Juna, karena dia melihat Juna sudah mulai bernafas secara tidak teratur.
“Kenapa pandangan saya terlihat kabur, dan nafas saya juga menjadi sesak?” ucap Juna mulai terlihat lemas.
“Saya sudah bilangkan, seharusnya anda tidak ke sini. Karena disini sangat pengap dan panas, lagian seharusnya Anda tidak perlu bersusah payah mencari anak kecil yang nakal seperti itu. Mendidik seorang anak yang nakal seperti itu memang seharusnya dipukul, kalau tidak gedenya semakin kurang ajar,” cakap Pak Satpam mulai memegang pundak Juna.
__ADS_1
“Anda pasti orangnya? Yang suka menganiaya anak dibawah umur, termasuk anak bernama Rudi yang kita cari?” tebak Juna mencoba melepakan pundaknya yang masih di cengkram Pak Satpam, tapi malah terjatuh.
“Itu... bukan termasuk penganiayaan, tapi hanya sekedar memberi hukuman terhadap anak yang nakal. Seperti yang saya bilang, kalau anak-anak harus dipukul agar mau menurut apa kata orang dewasa,” kilah Pak Satpam, meskipun sudah jelas dia adalah pelaku utama penganiayaan terhadap anak yang bernama Rudi.
“Itu hanya... hah... alasan... saya, tidak akan biarkan itu terjadi.” Suara Juna mulai terbatah-batah dan hampir pingsan.
“Bagaimana caranya? Sebelum menangkap saya, Pak Polisi akan lebih dulu menyusul Rudi, anak yang Pak Polisi sedang cari... sudah tewas di tangan saya sendiri.” Pelaku mulai mengeluarkan sebuah suntikan yang sudah berisi cairan didalamnya.
“Satu suntikan ini, bisa membunuh beruang dalam 1 menit. Jadi entah apa yang terjadi jika dipakaikan ke manusia,” sambung pelaku mulai mendekatkan suntikan itu ke leher Juna.
Sedangkan Juna hanya bisa diam saja disaat nyawanya terancam, dan ketika jarum itu sudah hampir menyentuh kulit Juna, ia dengan cepat mencengkram baju pelaku dengan kedua tangannya dan langsung membantingnya ke arah samping.
“Aaaahh…,” rintih pelaku kesakitan ketika terjatuh dan mengenai tumpukan pipa bekas yang tergeletak dilantai.
“Haaahh... akhirnya selesai juga. Woy Pak tua... semua bukti sudah terekam disini,” celetuk Juna menunjukkan hp nya yang sudah merekam semua yang dikatakan pelaku.
“Apa! Kenapa bisa?” Pelaku itu kembali berdiri dan mencoba menggapai hp Juna, tapi dengan satu dorongan dari Juna, pelaku kembali terjatuh.
“Apa Anda pikir saya mudah di tipu oleh penjahat rendahan seperti Anda? Saya adalah polisi dari Seoul, tau Seoul dimana... di Korea Selatan. Jadi penipu seperti Anda sangat mudah ditebak,” sahut Juna.
Juna mengingat kembali apa yang sudah dia lakukan....
*****
“Disana hanya ada sekumpulan mesin dan pipa, ruangannya juga pengap dan panas. Apa tidak masalah buat Pak Polisi?” ucap Pak Satpam berusaha mencegah Juna ke ruang kendali.
“Tidak apa-apa, saya sudah terbiasa dengan keadaan panas,” jawab Juna mulai meminum minuman pemberian Pak Satpam.
“Baik kalau begitu ikuti saya,” ajak Pak Satpam.
Juna mengekor Pak Satpam yang berjalan lebih dulu, di tengah-tengah perjalanan Juna memuntahkan minuman yang sudah ada didalam mulutnya dari tadi, dan saat itu Pak Satpam sudah masuk ke dalam ruangan lebih dulu.
Selain itu dia juga diam-diam menyiapkan aplikasi rekaman suara yang ada di hp nya, sebelum memasuki ruang kendali.
-Flashback selesai-
*****
“Sekarang katakan dimana Rudi!” bentak Juna.
__ADS_1
“Kamu pikir saya dengan mudahnya mengatakan begitu saja?” jawab pelaku.
“Haaahh... saya bilang, dimana Rudi!!” Juna mengambil pisau yang ia bawa, dan langsung mengoreskan ke kaki pelaku.
“Aaaaacckk!!!” teriak pelaku yang sangat merasa kesakitan.
“Benar saja, percuma mengajak diskusi seorang penjahat rendahan seperti Anda,” ujar Juna meletakkan pisaunya kembali ke tempatnya.
“Saudara Nugraha, anda dituduh melakukan penganiayaan terhadap anak dibawah umur dan percobaan pembunuhan terhadap seorang anak dan perempuan, anda berhak diam dan menyewa seorang pengacara. Apapun yang Anda katakan dapat digunakan untuk melawan Anda di pengadilan.” Juna langsung memborgol pelaku dan mengaitkan borgol itu ke salah satu pipa yang saling terhubung satu sama lain.
Setelah itu Juna segera pergi ke ruangan tempat pelaku menyembunyikan Rudi. Ruangan yang dia cari tidak ditemukan, dia hanya menemukan jalan buntu dan penuh dengan tembok. Tidak kehilangan akal Juna merabah seluruh tembok dan dia menemukan satu tembok palsu, yang sebenarnya adalah pintu masuk ke ruangan lain.
Dengan cepat Juna mencari sebuah alat untuk membobol tembok itu, setelah berhasil sedikit terbuka ia melihat Rudi yang sudah sangat lemas dan hampir tak sadarkan diri. Dengan cepat ia kembali melebarkan lubang tembok yang sudah ia bobol.
Baru setelah itu Juna langsung masuk ke ruangan sebelah, ia dengan cepat mencoba membangunkan Rudi, tapi Rudi tidak bisa membuka matanya, karena keadaannya sudah semakin memburuk.
Sebelum keluar dari ruangan itu, Juna juga melihat seorang mayat laki-laki, tapi saat itu dia masih fokus harus menyelamatkan nyawa Rudi dengan membawanya keluar secepat mungkin, agar segera dibawa ke Rumah Sakit oleh ambulance.
Setelah Rudi dibawa ke Rumah Sakit oleh ambulance....
“Kalian hubungi tim forensik sekarang,” pinta Juna.
“Apa ada mayat didalam sana?” sahut Eunbyul mendekat ke Juna.
“Ho, sepertinya mayat suami Bu Alisa,” jawab Juna menganggukkan kepalanya.
Charly langsung menghubungi tim forensik dan beberapa menit kemudian tim forensik tiba di TKP, saat itu Kais turun dari mobil tim forensik, ia melihat Juna sedang mengobrol dengan Eunbyul, Eunbyul juga sesekali menunjukkan rasa khawatir terhadap Juna. Hal itu membuat raut wajah Kais langsung….
.
.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1