Love And Mystery

Love And Mystery
-22- Back To Jakarta


__ADS_3

“Jam 10? Juna, sekarang sudah jam 1 siang,” sanggah Kais menunjuk ke arah jam dinding.


“Cepet baget sudah jam 1 siang?” pekik Juna terkejut melihat jarum jam dinding yang sudah diangka 1.


“Iya, itu kan salah kamu sendiri yang gak bangun-bangun setelah mabuk semalam,” ucap Kais dengan nada dingin.


Juna hanya bisa mengehela nafas. “Seharusnya aku gak minum terlalu banyak,” keluh Juna terduduk menundukkan kepalanya.


“Yasudah kalau begitu, aku akan pesan tiket pesawat lagi,” tambah Juna mengambil hp nya dari kantong celananya.


“Gak perlu! Aku barusan sudah pesan tiket nya,” sahut Kais sembari ia menggigit buah apel.


“Serius? Haaahh, untung saja. Kalau begitu jam berapa?” tanya Juna.


“Jam 5,” jawab Kais dengan singkat.


“Apa! Yasudah kalau begitu aku mau masukkan barang-barang dulu ke koper,” ujar Juna berlari ke kamarnya.


“Hei!! Hati-hati, Kaki kamu baru sembuh!” teriak Kais melihat Juna berlari ke kamarnya.


-- Pukul 3.45 Sore --


“Kita berdua pamit mau balik ke Indonesia dulu, kalian semua yang ada disini baik-baik, jaga diri kalian dan juga titip tolong jagain Tante baik-baik,” ucap Juna sebelum masuk ke dalam mobil yang akan mengantarnya kebandara.


“Iya tuan, kita pasti akan selalu jagain nyonya, tuan juga sering-sering main kesini. Biar rumah ini gak terlalu sepi,” jawab salah satu asisten rumah tangganya.


“Pasti, kalau ada waktu aku akan sering kesini. Kalau begitu kita pergi dulu.” Juna tersenyum dan langsung masuk mobil.


“Terimakasih banyak semuanya,” ucap Kais melempar senyum ramahnya dan mengikuti Juna masuk ke dalam mobil.


Mobil yang mengantar mereka pun akhirnya berangkat menuju ke bandara, selama diperjalanan mereka menghubungi Tante Dewi melalui vidio call.


Mereka membahas apapun dari obrolan yang serius, sampai obrolan yang membuat mereka ngakak bersama-sama.

__ADS_1


Tak terasa mobil mereka akhirnya sampai di bandara, supir pribadinya membantu membawakan barang-barang mereka hingga sampai ke dalam.


Ketika akan menuju pesawat, tidak lupa Juna mengucapkan terimaksih kepada supir yang sudah mengantarnya, setelah itu mereka berdua langsung menuju ke pesawat yang akan mereka naiki.


-- 7 Jam Kemudian --


Juna dan Kais sampai di bandara Indonesia, ia mengambil sebuah trolli dan menaikan semua barang-barangnya ke trolli tersebut. Mereka berdua mendorong trolli itu bersama-sama hingga sampai di parkiran mobil.


Satu persatu mereka turunkan dari trolli dan memasukkannya kedalam mobil. Setelah semua beres, mereka masuk ke mobil dan Juna segera memacunya untuk kembali ke Jakarta.


-- Jakarta --


“Kais sudah sampai rumah kamu,” ujar Juna menatap Kais yang masih memejamkan kedua matanya.


Juna mencoba membangunkannya, tetapi begitu ia melihatnya lebih dekat, dia pun tau kalau Kais hanya pura-pura tidur.


“Haaahh... kamu mau tidur berapa lama lagi? Apa perlu aku melanjutkan berkendara menuju apartemenku?” cakap Juna, masih menatap Kais yang pura-pura tidur.


“Gak boleh! Udah turun. Jangan lupa, kita ini di Indonesia, dan aku juga gak mau nanti tiba-tiba apartemen ku digrebek sama pihak kepolisian,” celetuk Juna menanggapi ucapan Kais yang asal bicara.


“Kalau begituuu... itu artinya kita akan berpisah disini dong.” Kais tertunduk lesuh mengungkapkan kekecewaannya.


“Ho, sudahlah jangan drama. Lagian kita masih satu kota, apartemen ku juga deket, dan yang pasti aku masih sering ke BFN,” tutur Juna mencoba menenangkan sang sahabat yang ternyata semakin manja ketika mereka sudah berkencan.


“Haaaahh... tapi kan itu beda. Kita bertemu karena pekerjaan, lagian yang kita bahas palingan juga tentang sebuah kasus, kalau gak ya tentang otopsi,” balas Kais keluar dari mobil dengan wajah tertekuk.


Juna yang melihat Kais turun dari mobil pun menyusulnya, selain itu ia juga membantu menurunkan barang bawaan Kais yang masih ada didalam mobilnya.


“Masuklah, aku akan menunggu sampai kamu masuk. Karena ini juga sudah malam,” ujar Juna menuruh Kais masuk lebih dulu.


“Oke,” jawab Kais singkat, ia berbalik dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.


“Eeemm... tunggu sebentar!” panggil Juna meraih lengan Kais, ia menariknya dan jatuh ke dalam pelukannya.

__ADS_1


“Juna, kita sedang didepan rumah. Keysa bisa melihat kita seperti ini,” cetus Kais yang masih terkejut dalam pelukan Juna.


“Keysa? Maksud kamu adik kamu Keysa?” sahut Juna.


“Ho, adik ku,” balas Kais singkat.


“Heeemm... biarkan saja dia tau, memangnya kenapa aku melakukan ini? Kamu gak suka?” ucap Juna sembari masih membelai lembut rambut kepala belakang Kais.


“Suka, sa... ngat suka,” balas Kais tersenyum malu, wajahnya memerah dalam dekapan Juna.


*****


Sementara itu….


“Siapa yang memarkir mobil di depan rumah malam-malam begini?” celetuk Keysa dari dalam rumah, mengintip dari balik tirai jendela.


“Haaa! Kak Kais? Itu Kak Kais kan? Tapi sama siapa dia, bukannya dia bilang akan keluar negeri bersama teman, apa itu teman yang dia maksud? Tapi mana ada teman yang peluk-peluk seperti itu,” gumam Keysa dalam kebingungannya sendiri.


“Tapi sepertinya aku kenal laki-laki itu, sepertinya dulu aku sering bertemu dengannya. Haaaah... jangan-jangan itu, sebentar aku harus memastikan sesuatu.” Keysa berlari menuju kamar Kais dan langsung mengambil sebuah foto, lalu ia kembali mengintip di balik tirai jendela.


“Dia... dia... Kak Juna! Yang dulu pernah ia….” Keysa menjadi ikut terkejut setelah tau kalau ia mengenal orang yang sedang bersama Kakaknya.


.


.


.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2