Love And Mystery

Love And Mystery
-46- Kepingan Memori


__ADS_3

Beberapa menit kemudian sebelum semua makanan yang ada dihadapannya habis, Juna mendapatkan pesan dari Eunbyul, yang mengabarkan kalau mereka akan mengintrogasi pelaku kembali.


Seketika ekspresi Juna langsung berubah. “Kamu kenapa? Apa ada yang terjadi di kantor kepolisian?” sahut Kais.


“Ho?! Aaah... Iya, katanya mereka akan mengintrogasi pelaku lagi. Jadi aku harus---,” jawab Juna dengan nada ragu dan merasa bersalah karena tidak sempat menghabiskan makanannya.


“Kamu segera pergi. Semakin cepat pelaku dinyatakan bersalah, semakin cepat pula pelaku dijebloskan ke penjara,” sahut Kais ikut memasang ekspresi datar.


“Tapi makanan aku belum habis.” Juna menatap semua makanan yang ada dihadapannya, denga perasaan merasa bersalah.


“Tenang aja, kamu bisa melanjutkannya nanti. Aku akan letakkan ini dikulkas, nanti bisa dihangatkan lagi. Lebih baik kamu pergi sekarang, rekan tim kamu pasti sudah menunggu,” ucap Kais dengan wajah malaikatnya mencoba menenangkan Juna yang terlihat masih bersalah.


“Baiklah kalau begitu. Aku siap-siap dulu, lalu berangkat,” jawab Juna membalas senyum yang dilemparkan Kais.


Juna meletakkan sendoknya di atas meja, dan segera berjalan ke kamarnya untuk bersiap-siap sebelum berangkat ke Kantor Polisi.


Kantor Polisi~


Begitu sampai di kantor polisi, Juna segera menuju ke ruang introgasi. Di ruangan itu sudah ada Eunbyul, Marco dan Charly, sementara Yuyun sudah menyiapkan diri untuk mengintrogasi pelaku secara langsung.


Dan beberapa menit kemudian....


Yuyun yang sudah selesai mengintrogasi pelaku, segera keluar dari ruangan. Kemudian dia melangkah ke ruangan dimana semua nggota timnya berkumpul.


“Kap, pelaku sudah mengakui tuduhan yang kita tanyakan, tapi---,” ucap Yuyun memberi laporan kepada Juna sambil membalik lembaran kertas yang dia pegang, tapi dia juga tiba-tiba merasa ragu dan menghentikan kata-katanya.


“Tapi apa?” tanya Juna.


“Ada satu jawaban yang sedikit aneh. Dia sedikit ragu, dan menurut ku dia seperti dikendalikan,” sambung Yuyun.


“Kalau begitu, selanjutnya biar aku yang masuk ke ruang itu,” ungkap Juna secara mendadak yang cukup mengejutkan seisi ruangan.


“Hei, itu bahaya. Gimana kalau pelaku semakin marah waktu melihat kamu?” sahut Eunbyul sedikit terkejut dan khawatir ketika mendengar ucapan Juna.


Seketika Juna langsung menatap ke arah Eunbyul yang berniat menghentikannya. “Menghadapi penjahat seperti itu, kita harus lebih menekannya. Lagian ada yang mau aku tanyakan langsung ke dia, jadi... Biarkan aku yang masuk ke ruangan itu selanjutnya,” tatap Juna dengan keputusan bulatnya.


Eunbyul yang mengetahui sifat Juna, akhirnya berhenti melarangnya. Dia hanya bisa berharap tidak terjadi apapun saat Juna mulai masuk ke ruangan.


Ruangan introgasi~

__ADS_1


Juna masuk ruangan dengan tatapan tajamnya, dan ketika Juna mulai duduk di kursi, pelaku sudah membalas tatapan Juna dengan pelakuan yang sama.


“Aku sudah menyampaikan semuanya, jadi untuk apa anda datang sendiri kesini,” celetuk pelaku memulai pembicaraan.


“Tapi ada satu hal lagi yang belum mereka tanyakan. Kita lihat saja apakah kamu masih merasa yakin setelah mendengar pertanyaan ini,” balas Juna yang mulai mencetak smirk dibibirnya.


Satu tangan Juna mulai merabah-rabah beberapa tombol yang ada di bawah meja, dan seketika semua kamera dan audio yang ada diruangan mati, selain itu pintu yang ada diruangan itu langsung terkunci.


Semua anggota tim yang ada di ruangan sebelah langsung panik, karena layar monitor dengan sekejap menjadi gelap.


Sementara Juna yang ada di ruang introgasi mulai bertindak dengan cepat, dia langsung meletakkan dua foto diatas meja. “Kamu bukan pelaku yang sebenarnya, melainkan dia yang melakukannya. Aku tahu semuanya, sebenarnya dia yang melakukan kan? Terus kamu yang disuruh mengakui semua perbuatannya,” kata Juna memasang tatapan tajam dan menusuk.


Kedua mata pelaku mulai terlihat gemetar, dan sedikit ketakutan. “Hey, bukan hanya itu... Aku juga tahu dia seorang psikopat yang menyamar sebagai polisi, dan bersikap seolah merasa tidak bersalah. Jadi, aku kasih kesempatan ke kamu untuk ngasih tau semua bukti kebusukannya, atau... Aku bisa membuat dia salah paham dan membunuh kamu kapan pun dia mau, pikirkan itu semua baik baik,” kata Juna dengan suara pelannya.


Beberapa saat kemudian....


“Braaacckk...!!” Anggota timnya yang terlihat panik akhirnya berhasil membuka pintu ruangan introgasi, yang tadinya dikunci Juna dari dalam.


Setelah pintu terbuka, Juna dengan cepat memasukkan foto-foto yang dia bawa ke dalam saku jaketnya.


Dengan wajah cemas, Eunbyul masuk lebih dulu kedalam ruangan. “Hey! Kenapa kamu mematikan kamera? Kamu sudah melanggar aturan, apa kamu mau kena hukuman?!” pekik Eunbyul dengan suara meninggi.


Eunbyul yang merasa sedikit marah karena ucapannya tidak mendapatkan respon, akhirnya memutuskan untuk mengikuti langkah Juna yang menuju ruangan tim mereka.


Juna yang sadar langkahnya diikuti seseorang pun, akhirnya memutuskan untuk berhenti secara mendadak. “Eunbyul, aku minta sama kamu untuk stop khawatirkan aku. Aku tahu kamu mengkhawatirkan aku, karena kamu menyimpan perasaan kan ke aku?” ucap Juna seketika membalik badannya, dan menatap Eunbyul.


“Kalau kamu sudah tahu, kenapa kamu masih pura-pura tidak mengetahuinya? Juna... Aku sudah menantikan ini dari dulu, tapi kamu masih---.” Dengan nada emosional, Eunbyul menatap Juna dengan sangat dalam, tapi ucapannya tiba-tiba terpotong.


“Tapi aku dari dulu sampai sekarang hanya mencintai satu wanita, dan wanita itu sekarang sudah menjadi tunangan aku. Meskipun semuanya belum mengetahuinya, tapi aku rasa kamu harus tahu ini semua,” sambung Juna tanpa berbasa-basi lagi langsung mengatakan fakta yang cukup mengejutkan untuk Eunbyul.


“Apa?! Kamu sudah tunangan? Tapi kenapa di jari kamu belum ada---,” balas Eunbyul dengan mata terbelalak dan nada terkejut, Eunbyul masih mempertanyakan apa yang diucapkan Juna.


Juna mengangkat satu telapak tangannya. “Di jari aku memang tidak ada cicin yang melingkar, karena memang cincin itu aku letakkan lebih dekat di hati ku,” jawab Juna menarik sebuah kalung, tempat dimana cincinnya digantungkan.


Setelah melihat cincin yang sudah ditunjukkan Juna, Eunbyul hanya bisa terdiam seribu bahasa. “Kalau memang tidak ada yang dikatakan lagi, aku permisi dulu,” ucap Juna kembali melanjutkan langkahnya menuju ruangan tim.


Beberapa jam kemudian~


Introgasi terhadap pelaku pembunuhan yang selama ini mereka cari telah selesai dilakukan. Meskipun begitu, Juna masih belum merasa yakin kalau yang mereka tangkap adalah pelaku pembunuhan berantai yang sebenarnya.

__ADS_1


Karena itu Juna kembali mengirimkan email kepada temannya yang ada di Seoul untuk menanyakan hasil pencarian yang baru dia tanyakan tadi malam.


Beberapa menit kemudian....


Terdapat 5 email masuk sekaligus, dan email itu dari pengirim yang sama. Email itu berasal dari Baesik, teman sekaligus junior Juna yang ada di kepolisian Seoul, yang bisa disebut seorang hacker tersembunyi.


Setelah menerima email itu, Juna tidak langsung membukanya. Dia segera logout dari akunnya dan mematikan komputernya.


Saat semuanya sedang sibuk, Juna berdiri dari kursinya dan mengatakan, “Semuanya, aku akan pergi ke BFN sebentar, ada yang harus aku periksa lagi. Kalau ada apa-apa segera hubungi aku.”


Seketika seluruh anggota timnya yang tadinya sibuk, langsung menatapnya. “Kap! Apa perlu aku temani?” celetuk Marco.


“Gak usah, karena aku kesana juga mau ngomong sesuatu ke Kakak ku,” jawab Juna yang melangkah pergi meninggalkan ruangan tim nya. Dengan langkah terburu-buru, Juna menuju mobilnya dan memacunya menuju BFN.


BFN (Badan Forensik Nasional)~


Setibanya di BFN, dengan langkah cepatnya Juna menuju ke ruangan Kakaknya.


“Kak Jihan, aku mau pinjam laptop Kakak. Dimana Kakak meletakkannya?” ucap Juna setelah menutup pintu dari dalam, dan berada didalam ruangan Kakaknya.


“Juna kenapa kamu bisa ada disini? Dan kenapa kamu jauh-jauh kesini hanya mau pinjam laptop? Bukannya di Kantor Polisi sudah ada komputer?” tanya Jihan yang terkejut dengan kedatangan Juna di ruangannya.


“Gak ada waktu untuk menjelaskan, jadi dimana Kakak meletakkan laptop nya?” tanya Juna sambil menjelajahi seluruh sudut ruangan dengan kedua matanya.


“Disana, loker no 2 dari atas. Jangan lupa kembalikan setelah---,” tunjuk Jihan ke arah yang dia maksud.


Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Juna segera mengambil laptop Jihan. Dia mulai membukanya, dan langsung membuka satu-persatu email dari Baesik. Kedua matanya langsung terbelalak setelah membaca satu file yang menunjukkan bahwa….


.


.


.


.


.


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2