
“K... K... Kap, Kapten baik-baik saja.” Suara Jiny tiba-tiba masuk ke dalam mini phone yang digunakan Juna.
“Ho... Agen J, aku baik-baik saja.” Dengan suara tertatih dan ngos-ngosan Juna masih berusaha menjawab panggilan Jiny.
“Pelaku bernama Septian, usia 26 th, pekerjaannya peternak anjing liar yang selalu ia temukan di hutan dan jalanan,” papar Jiny tentang identitas pelaku.
“Oke,” balas Juna singkat, ia segera mempercepat larinya dan begitu sedikit mendekat. “Duaaarrr.” Juna langsung menembak pelaku pada bagian kakinya.
Hal itu membuat pelaku jatuh tersungkur. “Aaaaaccckkk,” teriak pelaku kesakitan.
Nafas Juna yang sudah memburu terus melanjutkan langkahnya menuju pelaku.
“Cuman segini saja kemampuan mu untuk kabur,” ejek Juna terseyum sinis.
Pelaku hanya menunjukkan wajah sinisnya, sembari terus memegangi luka yang ada di kaki nya.
“Dimana korban?” tanya Juna yang kesekian kalinya.
Sekali lagi pelaku tidak menjawab dan hanya terkekek di depan Juna.
“Haaiiss, manusia gak berguna!” bentak Juna.
Dia yang sudah sangat kesal langsung melayangkan beberapa pukulan ke wajah pelaku.
Tanpa berkata apapun, Juna segera memegang lengan pelaku dan memborgolnya, ia juga langsung menyeretnya untuk kembali ke depan gudang.
Sesampainya digudang, ia sudah melihat angota tim lainnya yang sudah sampai ditempat.
“Kap, Kapten baik-baik saja?” tanya Marco menghampiri Juna dengan wajah cemas.
“Ho, aahh... aku lupa mendakwanya waktu memborgolnya Agen C tolong lakukan itu. Dan kalian berdua ikut aku,” ajak Juna.
Marco dan Yuyun mengekor Juna yang berjalan lebih dulu, Juna menuju ke tempat yang membuat Marco dan Yuyun bertanya-tanya kemana mereka akan pergi.
Setelah sampai di depan suatu ruangan, Juna segera memutar tuas ruangan yang dapat dikatakan itu adalah ruang bawah tanah. Tapi ruangan itu hanya digunakan untuk menyimpan makanan yang butuh pendingin, dan pelaku menggunakan itu untuk menyimpan daging hewan buruannya, untuk memberi makan para hewan peliharaannya.
“Eeeuumm, baunya busuk banget,” celetuk Yuyun otomatis menutup hidung dan mulutnya.
“Sebenarnya apa yang disimpan pelaku, daging busuk pun gak sampai seperti ini bau nya,” sahut Marco.
“Kita masuk sekarang,” ajak Juna mulai melangkah lebih dulu masuk kedalam ruagan.
__ADS_1
Perlahan tapi pasti, mereka melangkah melewati setiap anak tangga yang berjajar ke bawah, senter yang mereka bawa akhirnya mereka nyalakan. Karena penerangan yang minim, dan disisi lain mereka juga harus terus waspada tentang setiap kemugkinan yang terjadi.
“Cekleeekk!!” Begitu pintu dibuka, mereka bertiga seketika terkejut melihat apa yang tergantung disana.
“Psiko! Agen M keluarkan Kiky terlebih dahulu dan Agen Y….” pinta Juna masih tercengang melihat apa yang ada dihadapannya, ia Juga sampai berhenti mengedipkan matanya.
“Aku tahu Kap, aku akan hubungi petugas forensik,” sahut Yuyun keluar dari ruangan dan menelepon petugas forensik.
Sementara Kiky akan dilarikan ke rumah sakit, kemungkinan dia mengalami hipotermia, karena ia sudah terlalu lama berada di dalam pendingin.
Sedangkan Juna yang tidak tega melihat 3 mayat yang tergantung itu, dia langsung keluar dari ruangan kembali ke depan gudang.
“Kalian selesaikan ini hingga akhir, aku akan ikut ke Rumah Sakit. Sambil mengobati gigitan anjing ini,” ucap Juna menunjukkan lengannya yang terluka.
“Baik Kap,” jawab Charly.
“Siap Kap,” balas Marco.
Sedangkan Yuyun masih sibuk berbicara dengan petugas forensik, selain itu pelaku Juga sudah dibawa ke Kantor Polisi.
\= Pukul 4.30 pagi, kasus penangkapan pelaku penculikan korban yang bernama Kiky resmi ditutup \=
Sedangkan Charly ikut ke Kantor Polisi untuk membawa pelaku secara langsung, untuk mencegah hal buruk.
Begitu petugas forensik datang, mata Marco tertuju langsung ke dr. Kais. “Agen Y... hei Agen Y!” panggil Marco.
“Ho, ada apa?” tanya Yuyun.
“Itu Dokter Kais kan? Kenapa dia datang langsung? Tuben sekali,” tanya Marco dengan heran.
"Bukan tumben, tapi memang sekarang dia lebih sering datang langsung" jawab Yuyun membalik badannya.
“Aah... bukan cuman itu, dr. Kais dan Kapten itu ternyata bersahabat, bahkan sejak mereka duduk di bangku SMP,” imbuh Yuyun.
“Benarkah? Kok aku baru tau, kamu tau dari mana?” ucap Marco semakin terkejut dan tidak mempercayainya.
“Karena kamu baru gabung tim lagi, makanya kamu ketinggalan informasi. Mereka sendiri yang bilang, waktu menyelidiki hilangnya Elva, tepatnya setelah kamu kecelakaan,” jelas Yuyun.
“Aaaa... jadi seperti itu, apa itu sebabnya sifat mereka mirip? Apa orang yang tinggal di Seoul itu semua dingin seperti itu?” gumam Marco yang masih dapat didengar oleh orang lain.
“Siapa yang dingin?” sahut Kais yang tiba-tiba mendekat ke arah Marco.
__ADS_1
“Apa! Aaaa... korban yang terlalu lama di ruang pendingin Dok,” jawab Marco terkejut dan menundukkan kepalanya.
Kais hanya tersenyum melihat Marco yang seperti ketakutan saat ia dekati.
“Yuyun!!” panggil Kais.
“Ooo, Dokter manggil saya?” tanya Yuyun menatap ke kanan dan ke kiri memastikan siapa yang memanggilnya, tapi ternyata malah Kais.
“Iya siapa lagi yang namanya Yuyun disini,” jawab Kais dengan nada dan tatapan dingin seperti biasa.
“Tapi kenapa Dokter manggil saya? Biasanya Dokter hanya manggil Kapten,” balas Yuyun.
“Itu dia yang aku mau tanyakan, Juna dimana?” tanya Kais yang langsung to the point.
“Aaa... Kapten? Dia ke Rumah Sakit,” ujar Yuyun dengan santai.
“Dia nganterin korban secara langsung? Tumben banget?” sahut Kais heran.
“Dia gak cuman nganter kok Dok, dia kesana juga ingin ngobati lukanya,” tambah Yuyun.
“Apa! Luka?” balas Kais dengan mata terbelalak.
“iya, dia mengalami luka setelah anjing liar menggigitnya. Kelihatannya juga lebih parah dari pada luka yang ada di kaki ku ini.” Yuyun menunjukkan lukanya yang ada di pergelangan kakinya.
“Apa dia baik-baik saja sekarang? Dia bisa saja infeksi, karena itu bukan dari gigitan anjing biasa, melainkan anjing liar. Air liurnya lebih banyak mengandung kuman dan bakteri,” batin Kais yang terus memikirkan keadaan Juna, dan berlalu pergi dari hadapan Yuyun dan Marco.
*****
Sementar itu di Rumah Sakit....
.
.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1