
“Itu artinya kamu Juna anak dari Pak Arya yang dulu polisi itu?” balas perempuan itu.
“Jadi Kakak beneran kenal sama saya? Kalau boleh tau, Kakak sekarang umur berapa ya?” sahut Juna.
“Umur saya sekarang 40 th, saya tahu pasti umur kamu sekarang 30 th kan? Saya ingat betul dulu sering menyapa kamu waktu masih kecil,” jawab perempuan itu.
“Kalau begitu apa saya bisa bicara 4 mata sama kak? Ada hal yang ingin saya ketahui tentang masa lalu” ucap Juna menunjukkan ekspresi penuh harap.
“Baik, tapi sebelumnya saya mau bawa masuk Ayah saya dulu. Silakan duduk,” sambut perempuan mantan tetangga Juna itu.
“Baik, terimakasih.” Juna melangkahkan kakinya menuju kursi yang ada di teras rumah perempuan itu.
Beberapa menit kemudian….
“Maaf karena sudah menunggu lama mas, sebelumnya perkenalkan nama saya Anjani. Kalau boleh saya tau mas Juna ini ada perlu apa ya dengan saya?” ucap perempuan itu mengenalkan namanya.
“Jadi gini Kak, saya cuman ingin tahu selama keluarga saya tinggal disini, apa ada orang mencurigakan bertamu ke rumah saya atau orang mencurigakan yang sedang mengintai rumah saya?” tanya Juna.
“Saya tidak terlalu ingat semuanya. Tapi yang saya ingat beberapa kali ada anak berusia sekitar 13 th sering menatap rumah kamu dari jauh, awalnya saya pikir itu cuma kebetulan, tapi sebelum rumah kamu terbakar dia juga ada disana,” papar Anjani menjelaskan apa yang dia ingat.
“Jadi apa maksud Kakak, dia penyebab kebakaran itu terjadi? Apa dia yang sengaja membakar semuanya?” cetus Juna semakin diliputi rasa penasaran.
“Kalau masalah itu saya kurang tahu. Karena saat itu saya melihat anak tersebut seperti hanya menumpahkan minuman didepan rumah kamu, jadi menurut saya itu tidak terlalu aneh. Saat itu juga saya kembali kedalam dan fokus menonton tv, tapi beberapa saat kemudian... banyak yang berteriak kebakaran, dan rumah yang ada didekatnya juga harus segera mengungsi, karena di takutkan kebakarannya meluas,” balas Anjani kembali menjelaskan apa yang sudah ia lihat secara langsung.
“Itu artinya ada kemungkinan anak itu yang membakar rumah ku,” ujar Juna mengerutkan dahi nya, seakan dia tidak mempercayai kalau kedua orang tuanya tewas gara-gara anak usia 13 th.
“Bisa jadi seperti itu, tapi semuanya tidak ada jejak dan bukti fisiknya. Terutama teknologi jaman dulu tak secanggih sekarang,” ungkap Anjani menganggukkan kepalanya.
“Baik kalau begitu terimakasih banyak Kak sudah mau menyisihkan waktunya buat saya,” ujar Juna berdiri dari duduknya.
“Iya sama-sama mas Juna,” jawab Anjani.
“Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu,” pamit Juna.
Juna menundukkan kepalanya dan melangkah pergi, ia kembali ke dalam mobil miliknya. Sebelum ia pergi, dia kembali mentap rumah masa kecilnya itu, ia hanya bisa menghela nafas karena sebagian misteri yang ingin dia ketahui terpecahkan, tapi disisi lain dia juga sedih kalau kemungkinan rumahnya terbakar hanya karena perbuatan anak berusia 13 th, dimana anak itu seusianya dikala itu.
“dreett... dreett....”
__ADS_1
“Ho, ada apa?” jawab Juna.
“Kamu dimana?” tanya seseorang yang meneleponnya.
“Aku diluar kantor, kenapa memangnya?” balas Juna.
“Kamu bisa gak mampir kesini sebentar, ada yang mau aku bicarakan,” ucap sang penelepon.
“Oke, aku akan kesana,” balas Juna terakhir dan menutup teleponnya.
-- BFN [Badan Forensik Nasional] --
Juna datang ke BFN untuk menemui seseorang, sesampainya di depan gedung BFN, dia langsung masuk dan menuju ke ruangan orang itu, dan orang yang akan ia temui itu adalah Kais.
Dia tetap menemui Kais meskipun suasana hatinya sedang buruk, setelah mengetahui kenyataan tentang kebakaran yang terjadi dirumahnya.
“Tok... tok....”
“Masuk….” Ucap orang itu dari dalam ruangan.
Juna masuk kedalam ruangan dan ia langsung duduk di kursi panjang yang ada di ruanganya.
“Ini!” ucap Kais yang langsung duduk disebelahnya sambil menyodorkan beberapa lembar kertas di atas meja.
“Apa ini?” tanya Juna dengan perasaan bingung.
“Kamu coba baca, nanti kamu juga tau isinya,” balas Kais.
“Ini….” ujar Juna dengan bingung.
“Ho, itu hasil otopsi mayat pembunuhan yang terjadi di tahun 1997. Itu kan yang kamu cari?” kata Kais menatap Juna dengan ekspresi dingin.
“Kamu dapat dari mana semua ini?” tanya Juna kembali.
“Gak penting aku dapat dari mananya, sekarang aku tanya ke kamu dan aku harap kamu menjawabnya dengan jujur,” ujar Kais menatap kedua mata Juna dengan perasaan penuh harap.
“Kenapa kamu mencari berkas-berkas penyelidikan kasus pembunuhan pada masa itu? Apa ada hubungannya dengan kasus yang kamu tangani sekarang ini?” sambung Kais.
__ADS_1
“Gak ada, aku sudah bilang itu bukan masalah penting, dan kamu gak perlu tau semua itu.” Juna mengalihkan pandangannya dan mencoba menghindari tatapan Kais.
“Juna, kenapa sih kamu gak mau jujur sama aku? Aku juga setiap hari mengotopsi dan mencari bukti-bukti kasus pembunuhan, dan aku juga tau alasan para polisi kembali membuka kasus masalalu. Alasan yang pertama, kasus itu pasti berhubungan dengan kasusnya yang sekarang dan yang kedua pelaku pembunuhan itu sama,” ungkap Kais menjelaskan apa yang ia pikirkan.
“Kamu gak perlu tau soal masalah ini, dan lakukan saja pekerjaan kamu seperti bisanya.” Juna tetap tidak memberikan jawaban yang pasti ke Kais, ia beranjak dari tempat duduknya dan akan berjalan keluar dari ruangan Kais.
“Aku cuman khawatir sama kamu!” ucap Kais secara tiba-tiba.
“Aku juga mengkhawatirkan keberadaan kamu didekatku, karena itu sebaiknya kamu tidak tau apapun soal ini.” Juna menghentikan langkahnya, lalu ia berbalik dan memberikan tatapan yang cukup dalam ke arah Kais.
“Apa kamu gak percaya ke aku? Mayat dengan bukti permen mint itu... aku yang mengotopsi, itu artinya secara tidak langsung aku juga terlibat dalam masalah ini,” tutur Kais mentap Juna dengan senduh.
Juna menghelah nafas panjang. “Dari awal seharusnya aku gak menjadikanmu orang yang terpenting dalam hidupku,” gumam Juna yang masih terdengar oleh orang di dekatnya.
“Jadi maksud kamu, kamu menyesal kita berkencan?” sahut Kais mendengar ucapan Juna.
“Bukan begitu maksud aku, aku cuman…,” sangkal Juna.
Kais mendengus kesal. “Kamu keluar dari ruangan ku sekarang,” usir Kais tanpa melihat Juna.
“Kais bukan begitu yang aku mak…,” ujar Juna kembali yang ingin menjelaskan perkataannya.
“Aku bilang keluar sekarang!!” usir Kais dengan nada tinggi.
Tanpa menjawab apapun lagi, Juna keluar dari rungan Kais. Dia juga langsung keluar dari gedung BFN dan pulang menuju ke apartemennya, dan ia izin untuk pulang lebih awal ke atasannya.
-- Apartemen Juna --
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.