
“Hallo selamat siang Kap, aku….” Orang yang dipanggil dengan sebutan Kaptwo itu mengambil alih kamera, dia menghentikan sapaannya ke Juna karena terkejut, ternyata Kapten yang bernama Juna itu adalah orang yang ia kenal.
Begitu juga dengan Juna yang langsung terlihat kaget begitu orang itu muncul di layar hp nya.
“Bae Juna!” celetuk orang yang dipanggil Kaptwo.
“Haaahh...Kim Eunbyul!” balas Juna dengan ekspresi terkejut.
“Jadi Kapten tim golden time itu kamu? Haaahh... aku gak menyangkah, aku pikir Juna yang lain. Apa ini sebabnya aku gak bisa menemukan kamu dimanapun? Karena kamu kabur ke Indonesia?” ucap wanita yang biasa di panggil Eunbyul itu.
“Aku bukan kabur, aku cuma dipindah tugaskan,” protes Juna.
“Oke, kalau begitu kita bicara lagi kalau kamu ke kantor, karena aku harus pergi, tiba-tiba ini ada kasus baru,” pamit Eunbyul.
“Ho, selamat bertugas,” balas Juna mengakhiri panggilannya.
“Kamu kenal secara pribadi dengan Eunbyul?” celetuk Kais tiba-tiba.
“Iya dia temanku di KNPU, aaah... lebih tepatnya sahabatku di KNPU,” jawab Juna sembari kembali melangkah ke meja makan.
“Aaa... jadi sahabat kamu ternyata bukan cuma aku. Tentu saja, kamu dulu kan termasuk anak populer di sekolah, jadi mustahil kalau hanya punya satu sahabat. Lalu apa persahabatan itu juga pernah berubah status seperti kita sekarang?” cetus Kais.
“Eeemm... kalau dikatakan berubah sih enggak, tapi bisa disebut hampir berubah,” jawab Juna kembali melahap makanan yang ada di depannya.
“Hei! Kenapa kamu diam saja?” sambung Juna menatap Kais yang kembali menunduk dan ekpresinya sedikit berubah.
“Haah! Eeem... Juna, aku tau caranya agar aku bisa tetap tinggal disini, tanpa takut di grebek kalau ada pemeriksaan sewaktu-waktu,” sahut Kais kembali menatap Juna.
“Heem... gimana caranya?” tanya Juna yang masih terus menjejalkan makanan ke mulutnya tanpa menatap Kais balik.
“Pernikahan, aku yakin dengan cara itu pihak manapun yang ada di Indonesia ini tidak akan mengusirku,” celetuk Kais tiba-tiba.
Seketika Juna langsung tersedak mendengar ucapan Kais. “Apa! Kamu gila, kita gak bisa mengadakan upacara pernikahan dalam kondisi seperti ini,” jawab Juna sembari menyeruput minuman di gelasnya.
“Kok gila, emang kamu gak mau menikah denganku?” ucap Kais dengan ekspresi yang tiba-tiba berubah.
“Bukan begitu maksud aku. Pembunuh Keysa belum tertangkap, dan kalau misalkan kita menikah, itu artinya kamu adalah keluargaku juga. Jadi aku takut pelaku akan lebih menargetkan kamu, dan posisi kamu akan menjadi lebih berbahaya dari sebelumnya,” jelas Juna menatap Kais dengan tatapan cukup dalam.
“Kalau begitu kita daftarkan saja. Maksud ku gak perlu adakan upacaranya, kita cukup menikah secara hukum,” saran Kais.
“Tapi kenapa kamu tiba-tiba punya ide menikah, maksud aku... kenapa kamu ingin menikah?” tanya Juna penasaran dan bingung.
“Enggak apa-apa, aku cuman ingin mencegah sesuatu yang buruk mungkin terjadi,” balas Kais dengan senyum kecilnya.
__ADS_1
“Tunggu, jangan bilang kamu takut kalau aku, suka sama Eunbyul?” ujar Juna menarik ujung bibirnya.
“Kamu tenang saja itu gak akan terjad…,” sambung Juna menghentikan ucapannya ketika melihat Kais kembali menundukkan kepalanya.
“Kamu... beneran takut hal itu terjadi?” tanya Juna kembali.
“Enggak, bukan hal itu yang aku takutkan. Tapi aku cuma takut, kamu bertahan disisi ku hanya untuk memenuhi janji kamu ke Keysa, dan karena keterpaksaan itu... lama-kelamaan kamu akhirnya bersikap dingin ke aku, terus pada akhinya kamu pergi dari hidupku untuk selamanya,” balas Kais dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Hal itu gak akan terjadi, aku pastikan gak akan pernah terjadi,” ujar Juna membalas tatapan Kais.
“Tapi Juna, setiap orang bisa berubah. Setiap orang juga memiliki rasa bosan, dan yang ingin aku sampaikan, kapanpun kalau kamu mulai bosan bersamaku atau terus disampingku, kamu harus segera bilang ke aku. Karena aku harus menyiapkan diri terlebih dulu,” cetus Kais mulai meneteskan air matanya dan ia juga menatap dalam ke arah Juna.
“Hei... kenapa kamu bicara seperti itu. Aku bilang, aku gak akan pernah ngelakuin itu. Kenapa kamu malah menangis?,” sanggah Juna melangkah mendekat ke Kais, ia menunduk dan menghapus air matanya.
“Aku bicara seperti ini, agar kamu tau... kalau aku juga membutuhkan persiapan sebelum kamu pergi. Karena kalau kamu memang benar-benar pergi dari hidupku, itu artinya... aku benar-benar akan hidup sebatang kara,” ujar Kais.
Juna menghela nafas panjang. “Kamu tenang aja, aku gak akan pergi kemana-mana. Kalau memang kamu ingin menikah secara hukum, ayo kita lakukan. Tapi... kita tetap gak bisa memberi tau orang sekitar, karena aku sangat takut dengan keselamatan kamu, apabilah psikopat itu mengetahuinya,” tutur Juna memeluk Kais yang masih duduk di kursi.
“Heeem, gak masalah. Tapi... apakah Indonesia bisa melakukan pernikahan secara hukum?” Kais melepaskan pelukannya dan langsung menatap Juna.
“Sepertinya gak bisa, dan kalau kita mau ngelakuin itu... dengan terpaksa kita harus mendaftarkannya di Korea Selatan,” balas Juna.
“Kalau begitu salah satu dari kita harus ke Korea Selatan?” sahut Kais.
“Tapi bukannya kamu harus bekerja? Karena setahu ku kamu sudah terlalu banyak mengajukan cuti,” tanya Kais.
“Gak apa-apa, 3 hari sudah cukup untuk pulang dan pergi Seoul-Jakarta. Cuman untuk mengurus seperti itu,” balas Juna meyakinkan Kais.
“Tunggu sebentar... masih ada waktu untuk penerbangan berikutnya, kita bisa siap-siap dan pergi ke Bandara secepatnya.” Juna mengambil hp nya dan melihat jadwal penerbangan yang ada di sebuah aplikasi.
“Apa? Tunggu dulu, kamu benar-benar akan pergi hari ini juga?” cetus Kais dengan tatapan terkejutnya.
“Heem, kita harus berangkat hari ini juga. Kamu belum merubah kewarganegaraan mu menjadi WNI kan?” tanya Juna yang ingin memastikan.
“Belum. Aku memang berencana merubahnya, tapi belum aku lakukan, karena aku bermaksud ingin menunggu Keysa lulus dari kuliahnya lebih dulu,” papar Kais.
“Yasudah kalau begitu, itu artinya prosesnya lebih mudah.” Juna melangkahkan kakinya ke arah kamar dan bermaksud untuk berkemas.
“Tunggu dulu, kamu beneran akan pergi sekarang?” cecar Kais dengan wajah nampak masih bingung.
“Iya kita akan berangkat hari ini juga, aku sudah pesan tiketnya. Cepat kamu siap-siap sekarang,” pinta Juna sembari tangannya terus bergerak memasukkan bajunya kedalam koper kecilnya.
“Aah... Seoul kemungkinan masih musim dingin, jadi bawa pakaian yang penting saja. Kita juga gak akan lama disana,” tambah Juna.
__ADS_1
“Tapi... pakaian ku kan semuanya di Rumah,” celetuk Kais menatap ke arah Juna.
“Haahh... iya juga, kalau begitu aku harus cepat, dan mampir ke Rumah kamu dulu sebelum ke bandara,” balas Juna yang masih memasukkan pakaiannya ke koper kecil.
“Oke, kalau begitu biar aku siap-siap dulu,” sambung Kais pergi ke kamar mandi.
Setelah memasukkan bajunya di koper, mereka berdua langsung berangkat menuju ke rumah Kais. Di Rumah itu Kais mengemas baju-baju nya dan sebuah dokumen penting yang mungkin dia butuhkan nanti. Sesekali Kais menghela nafas untuk mengurangi sesaknya, ketika kembali mengingat apa yang pernah ia lakukan di kamar itu bersama adiknya Keysa.
Dari Rumah Kais mereka langsung berangkat, menuju ke bandara. Di Bandara mereka harus menunggu selama 1 jam, dan setelah 1 jam berlalu, pesawat yang mereka tumpangi akhirnya lepas landas menuju Seoul-Korea Selatan.
--7 Jam kemudian--
Mereka telah sampai di Korea Selatan, dan karena mereka sampai pada malam hari, jadi mereka harus menginap di hotel terlebih dahulu selama 1 malam. Di hotel itu mereka terpaksa hanya menyewa satu kamar, karena sudah tidak tersedia dua kamar kosong yang bersebelahan.
--Hotel--
“Tidurlah, ini sudah malam. Aku tahu kamu pasti capek,” pinta Juna memasukkan dua koper milik mereka dan langsung duduk di sofa panjang yang ada di hotel.
“Oke,” balas Kais merebahkan badannya di kasur yang ada di kamar itu.
Beberapa menit kemudian….
“Juna!” panggil Kais dari atas tempat tidur.
“Heem,” respon Juna yang baru mulai memejamkan matanya.
“Kamu sudah tidur?” tanya Kais.
“Ho, hampir,” balas Juna singkat.
“Bagaimana dia bisa tidur, dalam suasana seperti ini,” gumam Kais yang masih dapat didengar Juna.
“Aku dengar, memang kondisi seperti apa yang kamu maksud…?” sahut Juna mendengar celotehan Kais.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.