Love And Mystery

Love And Mystery
-34- Perpisahan Terakhir


__ADS_3

“Juna,” panggil Kais dengan suara lirih.


“Heem,” sahut Juna.


“Aku akan menyetujui donor organ itu,” ucap Kais melepas headset yang ia pakai.


“Kamu yakin?” tanya Juna kembali.


“Iya aku yakin. Bagaimana pun juga ini permintaan Keysa, dia memiliki niat baik untuk membantu orang lain, yang masih memiliki semangat untuk hidup,” balas Kais dengan sedikit senyum diwajahnya.


“Kalau begitu kita harus segera, bilang ke pihak donor organ,” ujar Juna.


“Heem... tapi itu artinya, sudah saatnya aku berpisah dengan Keysa,” sahut Kais menunduk lemas.


“Kalau kamu belum siap, kita bisa tunda nanti sore,” tutur Juna.


“Enggak, kalau kita terlalu lama, organ-organnya bisa rusak dan tidak bisa di donorkan,” tolak Kais.


“Kita harus ke bagian donor organ sekarang, tapi sebelum dilakukan operasi... aku ingin bertemu dengan Keysa untuk terakhir kalinya,” ucap Kais kembali meneteskan air matanya.


“Oke, kalau begitu aku akan temani kamu kesana,” jawab Juna.


Beberapa menit kemudian, mereka beranjak dari tempat duduknya. Mereka melangkahkan kakinya menuju ke bagian donor organ, dan Kais langsung menyampaikan keputusannya.


Setelah itu, pihak pendonor organ menyodorkan sebuah surat persetujuan untuk ditandatangani, dan tanpa berpikir panjang Kais langsung memberikan tanda tangannya.


Sebelum dilakukan operasi, Dokter mengizinkan Kais untuk bertemu dengan Adiknya untuk terakhir kalinya, dia mengajak Juna untuk bertemu dengan Keysa.


--Di dalam ICU--


Kais semakin tidak bisa membendung kesedihannya, air matanya tidak dapat lagi ia hentikan setelah menatap kondisi Keysa yang menggunakan berbagai alat penunjang hidup.


“Keysa maafin Kakak, sepertinya kita harus berpisah disini. Kalau saja Kakak tau, kamu akan pergi secepat ini, Kakak akan turuti semua keinginan kamu. Kakak gak akan lagi menahan kamu, dan Kakak juga gak akan biarkan kamu terus kesakitan seperti ini, karena itu Kakak akan melepaskan kamu,” ucap Kais sesenggukan menyampaikan kata-kata terakhir untuk Adiknya.


“Kak sangat bahagia karena kamu hadir dan sudah menjadi Adik Kakak, dikehidupan berikutnya Kakak harap kamu tetap menjadi Adik Kakak,” sambung Kais, tangisnya menjadi-jadi dan kembali memeluk Juna yang ada disebelahnya.


“Keysa... Kak Juna, pasti akan menepati janji Kakak. Kamu gak usah khawatir dan pergilah dengan tenang.” Juna membalas pelukan Kais, ia juga menyampaikan kata-kata terakhirnya untuk Keysa, sembari tangan kanannya memegang tangang Keysa dan tangan kirinya menepuk-nepuk pelan punggung Kais.


Setelah menyampaikan pesan terakhirnya, mereka keluar dari ruangan ICU. Beberapa menit kemudian operasi pun segera dilakukan.


*****


1 Jam kemudian….


Dokter keluar dari ruang operasi dan menyampaikan waktu kematian Keysa, ia juga menyampaikan proses pengurusan jenazah Keysa dan pemakamannya.


--Pukul 3 Sore--

__ADS_1


~Pemakaman umum~


Keysa diantarkan ke peristirahatan terakhirnya menggunakan ambulance, diiringi oleh tangisan Kakaknya, Juna, teman-teman kuliahnya dan juga orang terdekat lainnya. Dan saat peti jenazah Keysa dimasukkan ke dalam liang lahat, tiba-tiba saja.


“Bruuukk!!” Seketika Kais terjatuh lemas ke arah Juna yang sedang berdiri disebelahnya.


“Kais bangun!” ucap Juna dengan refleks menangkap Kais yang terjatuh ke arahnya.


“Kak, tolong lanjutkan sisanya,” kata Juna menatap Jihan yang juga menatapnya, ia juga segera menggendong Kais menuju mobilnya.


“Ho... oke,” balas Jihan melihat Juna meninggalkannya dengan menggendong Kais.


13 Menit kemudian....


“Aah...” rintih Kais yang mulai membuka matanya.


“Oh, kamu sudah sadar. Kamu baik-baik saja,” tanya Juna khawatir.


“Aku baik-baik saja, apa pemakamannya sudah selesai?” balas Kais dengan mata sembab.


“Ho, semuanya sudah pulang,” ujar Juna.


“Aah, jadi begitu. Haaaah... itu artinya aku benar-benar sudah berpisah dengannya.” Dengan nada sedih, Kais kembali meneteskan air matanya, meskipun matanya sudah sembab.


“Aku, akan antar kamu pulang sekarang,” tutur Juna.


“Kalau begitu, gimana kalau kamu ke rumah Kak Jihan dulu untuk sementara waktu,” tutur Juna memberi tawaran ke Kais.


“Tapi aku gak ingin merepotkan Kak Jihan. Aku, juga sebenarnya gak mau Kak Jihan melihatku menangis berlebihan,” ucap Kais menatap Juna.


“Haaahh, kalau begitu gak ada pilihan lain selain apartemenku,” jawab Juna tersenyum.


Juna menjalankan mobilnya menuju apartemennya. Di pejalanan suasana di dalam mobil mereka sunyi, sesekali Juna mengalihkan pandangannya ke Kais yang terus menatap ke arah luar jendela dengan tatapan sayu dimatanya, dan suasana itu terus berlanjut hingga mereka sampai di apartemen Juna.


--Apartemen Juna--


“Masuklah, disini memang cuman ada satu kamar, tapi kamu gak usah khawatir. Karena aku bisa tidur di sofa, dan sofa ku cukup nyaman,” ajak Juna langsung duduk di sofa panjang miliknya.


“Maafkan aku, gara-gara aku... kamu jadi tidur di sofa.” Kais melihat Juna dengan tatapan merasa bersalah.


“Gak apa-apa, aku sudah biasa tidur disini. Istirahatlah, kamu pasti capek,” suruh Juna dengan nada lembutnya.


“Heem,” balas Kais sedikit tersenyum.


Meskipun hari belum gelap, mereka berdua tertidur secara otomatis.


Hari mulai gelap, Juna yang sudah merasa lelahnya sedikit berkurang langsung terbangun, dan saat itu ia mendengar suara seseorang menangis dari arah kamar tidurnya. Dia sudah bisa menebak kalau suara itu adalah suara Kais yang kembali menangis hingga sampai sesenggukan.

__ADS_1


Juna menghela nafas panjang. “Aku tau disaat kondisi seperti ini, menghibur dan menenangkan dia pun tidak cukup, bahkan gak akan mampu meredahkan tangisnya. Tapi setidaknya aku bisa berada di sebelahnya, dengan mengetahui apa yang dia rasakan, tanpa harus bertanya langsung kepadanya,” batin Juna dalam hati.


Juna melihat jam dinding yang terus berdetak, ia melihat jarum jam sudah mengarah ke angka 8, dan saat itu dia baru sadar, kalau mereka belum makan dari tadi pagi. Tanpa berpikir panjang Juna mengambil hp nya dan memesan makanan melalui sebuah aplikasi.


Beberapa menit kemudian….


Makanan yang ia pesan datang, Juna segera menyiapkan makanan dengan memindahkan setiap menu makanan ke piring dan mangkok yang sudah ia cuci sebelumnya.


Ketika semua makanan sudah siap, Juna berencana memanggil Kais untuk makan bersamanya, tetapi setelah ia pikirkan kembali, Kais pasti tidak akan mau keluar, apalagi makan dengannya.


Pada akhirnya dia mencoba makan terlebih dahulu, lalu menyisahkan satu piring nasi dan satu mangkok sup untuk Kais. Sesudah ia menghabiskan makanannya ia memberanikan diri untuk menyuruh Kais makan malam.


“Tok... tok....”


“Kais, apa kamu masih tidur?” tanya Juna sembari mengetok pintu kamarnya.


Kais tidak menjawab, dari dalam kamar terdengar sunyi. Diliputi rasa khawatir Juna mencoba membuka pintu kamarnya, dan ternyata pintunya tidak terkunci.


Dia melangkah masuk dengan membawa mangkok sup dan langsung menyalakan lampu kamarnya.


“Kais, kamu harus makan. Kalau enggak kamu kamu bisa sakit,” tatap Juna cemas, ia meletakkan mangkok yang ia bawa di atas meja sebelah tempat tidurnya.


“Juna, aku gak lapar. Aku... juga gak ***** makan,” jawab Kais menatap Juna balik.


“Kalau begitu paling tidak maka sup ini. Sup ini masih panas, jadi bisa membuat kamu….” Juna mengambil sup yang ia letakkan diatas meja dan mencoba menyuapi Kais dengan sendok yang ia pegang.


“Aku sudah bilang, aku gak ***** makan!” Kais dengan sedikit kasar menampih mangkok yang Juna pegang, hingga membuat semua sup nya tumpah.


“Aaaahh!” rintih Juna terkena tumpahan sup yang masih cukup terasa panas itu.


“Juna, maafin aku. Aku gak bermaksud melukai tangan kamu, aku benar-benar minta maaf.” Kais bangkit dari tempat tidurnya dengan wajah khawatir dan merasa bersalah begitu mendengar suara Juna yang merasa tangannya kesakitan.


“Aku baik-baik saja... ini bukan apa-apa, kamu gak perlu terlalu khawatir,” jawab Juna membalas rasa khawatir Kais dengan senyuman.


“Aku akan bereskan ini, kamu istirahat saja,” ucap Juna yang langsung keluar dari kamarnya.


Juna keluar dari kamarnya, dan segera membasuh tangannya dengan air mengalir. Saat ia kembali duduk di sofa panjangnya, ia melihat hp nya menyalah dan dia melihat email masuk dari….


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2