Love And Mystery

Love And Mystery
-53- Dokter Lucky


__ADS_3

Setelah Eunbyul terlihat sudah masuk kedalam Kantor, selanjutnya Juna juga mengikuti masuk ke dalam Kantor. Berbeda dengan Eunbyul yang masuk ke ruangan tim nya, Juna malah menuju ruangan Pak Komisaris.


Kantor komisaris~


Juna mengetuk pintu dengan sopan didepan pintu ruangan orang terhormat yang akan dia kunjungi itu, beberapa ketukan yang sudah dilayangkan pun akhirnya mendapatkan respon dari dalam, lalu ia pun dipersilahkan untuk masuk dan disuruh duduk di sofa yang ada diruangan itu.


“Kamu mau minum apa? Teh atau kopi?” tanya Pak Komisaris yang berjalan menghampiri Juna.


“Terimakasih untuk tawaran Bapak, tapi saya disini hanya sebentar.” Jawab Juna menatap ke arah sumber suara.


“Oke, tapi ada apa kamu menemui saya hari ini?” tanya Pak Komisaris kembali.


“Saya menemuhi Bapak hari ini hanya untuk menyerahkan surat pengunduran diri saya dan ID Card kepolisian saya, setelah ini saya akan mulai bekerja secara mandiri,” balas Juna dengan senyum lebarnya.


Mendengar apa yang sedang diucapkan Juna, Pak Komisaris menganggukkan kepalanya, sebagai tanda ia memahami ucapan Juna. “Oke, itu artinya kamu akan bekerja sama sama dengan pihak luar? Atau kamu minta bantuan langsung dari kepolisian Seoul?” sahut Pak Komisaris.


“Heemm... bisa dikatakan seperti itu Pak, Saya sudah mendapatkan bantuan dari kepolisian Seoul, tapi selain itu saya juga akan meminta bantuan Kapten Eunbyul dari tim golden time, jadi bisa disebut seperti agen ganda,” ujar Juna menjelaskan rencana yang sudah ia rancang secara samar-samar kepada Pak Komisaris.


Senyum lebar yang di lemparkan Pak Komisaris adalah sebuah kode kalau dia memahami apa yang dijelaskan Juna. “Rencana yang bagus, menurut saya itu rencana yang cukup cerdik,” jawab Pak Komisaris.


“Karena sudah tidak ada yang ingin disampaikan lagi, jadi saya pamit meninggalkan ruangan.” Juna berdiri dari tempat duduknya, tidak lupa ia juga menyodorkan sebuah amplop panjang berwarna putih, yang berisikan surat pengunduran dirinya, dan sebuah ID Card kepolisian miliknya.


Sebelum melenggang keluar ruangan, Juna membungkukkan badannya terlebih dahulu untuk menghormati orang yang ada di hadapannya itu.


***


Keluarnya Juna dari ruangan Pak Komisaris menandakan masa kerjanya dikepolisian tempat dia bekerja telah usai. Langkah cepatnya menandai awal baru baginya sebagai agen ganda yang siap untuk melaksanakan rencananya untuk menangkap pelaku pembunuhan berantai yang sebenarnya.


Diiringi tatapan tajamnya, Juna kembali masuk kedalam mobil pribadinya yang berwarna merah. “Akhirnya aku resmi jadi pengangguran,” ucapnya dengan hembusan nafas beratnya.


Tanpa membuang waktu lagi, Juna segera memacu mobilnya kembali rumah pribadinya. Mobil berwarna merah itu pun terus ia pacu dengan kecepatan normal, melewati beberapa lampu merah yang berdiri tegak di beberapa perempatan jalan yang dilewati Juna.


Siang itu jalanan tidak terlalu ramai, meskipun banyak pengendara yang mengendarai mobil pribadi, tetapi kendaraan yang melaju dijalan itu masih dapat bergerak dengan kecepatan normal.


Beberapa menit kemudian~

__ADS_1


Sampailah Juna di sebuah rumah yang terlihat paling megah di lingkungannya, iya rumah siapa lagi kalau bukan rumah pribadi Juna dan sang istri.


Juna melepaskan sabuk pengaman yang mengikatnya di kursi mobilnya, lalu ia turun dari mobil nya dan segera membuka pintu pagar rumahnya sendiri.


Merasa lebar dari pintu pagar yang sudah ia buka sudah cukup, Juna segera memasukkan mobil yang sudah ia pakai kedalam halamannya.


Setelah memarkirkan mobil merahnya dihalaman miliknya, Juna turun dari mobil dan langsung masuk kedalam rumahnya. Langkah kaki cepatnya itu pun menuju sebuah laci almari yang terletak diruang tengah, dia membuka laci kecil itu dan meletakkan kunci mobilnya di laci yang ada di hadapannya.


Tidak berhenti disana, Juna berganti mengambil kunci mobil lain yang memiliki gantungan berwarna senada dengan warna mobilnya.


Entah apa yang dipikirkan Juna, ia kembali melangkahkan kakinya keluar dari rumah. Kali ini dia berniat pergi dengan mengendarai mobil lain yang berwarna biru.


Secara perlahan, Juna mulai mengeluarkan mobilnya dari halaman rumahnya, dan tidak lupa juga ia kembali menutup dan menggembok pagarnya dengan gembok sidik jari. Iya, Juna sengaja menggunakan gembok sidik jari agar keamanannya lebih terjamin, dari pada menggunakan gembok biasa.


Juna yang memacu mobilnya dengan kecepatan sedang itu berjalan menuju BFN, tempat sang istri dan sang Kakak bekerja.


BFN [Badan Forensik Nasional]~


Sesampainya ditempat itu, Juna memarkirkan mobil biru mini nya ditempat parkir dengan kode B2, dan setelahnya barulah ia melangkahkan kakinya memasuki gedung BFN.


Karena saat itu ia sudah tidak memiliki ID Card kepolisiannya, dia hanya bisa memanfaatkan kartu keanggotaan BFN yang diberikan sang istri.


Berhasil melewati pintu masuk khusus, Juna segera melangkahkan kakinya menuju ruangan kerja sang istri. Disepanjang jalan, Juna melewati beberapa ruangan analisa sidik jari dan analisa bukti, di pertengahan jalannya, salah satu betugas BFN kenalan Juna yang bernama Jaguar menyapanya. “Oh... Kapten Juna! Ada keperluan apa datang ke sini? Ada kasus baru?” sapa Jaguar mengangkat kedua alis dan satu tangannya.


“Gak ada yang serius, dan gak ada kasus baru juga. Aku cuman ingin bertemu is….” Juna seketika mengatupkan kedua bibirnya, dia hampir keceplosan mengungkapkan menyebut Kais sebagai istrinya.


“Heem?! Is...? Aaaa... mungkin maksud Kapten, dr. Kais?” sahut Jaguar menebak sesuai feelingnya.


Senyuman canggung Juna mulai mengembang, diiringi helaan nafasnya yang menandakan kalau dia merasa lega dengan jawaban Jaguar. “Iya... aah benar itu. Kais, aku mau bertemu dia sekarang, dia pasti ada di ruangannya kan?” Takut keadaan semakin canggung, Juna ingin segera cepat-cepat kembali melanjutkan langkahnya menuju ruangan Kais.


“Oh... tunggu dulu, seingat aku dr. Kais ada di ruang otopsi sekarang, dia ada jadwal otopsi bersama dr. Lucky,” ucap Jaguar sampai menghentikan langkah Juna.


Celetukan Jaguar berhasil membekukan langkah Juna, keterkejutan yang diterima Juna membuatnya kembali mengajukan pertanyaan ke Jaguar yang masih berdiri di tempat. “Dokter Lucky?” tanya Juna dengan satu alis terangkat.


“Iya, dia Dokter baru di sini. Seingat ku, dr. Kais pernah bilang kalau dr. Lucky itu seniornya waktu kuliah. Apa Kapten Juna gak diberitahu soal ini? Aneh, padahal hubungan kalian kan sangat dekat?” jelas Jaguar dengan cukup detail.

__ADS_1


“Hahaha... itu dia aku juga heran. Padahal hubungan kita sangat dekat, tapi kenapa gak pernah cerita masalah dr. Lucky. Sepertinya aku harus tanya langsung ke dia.” Saat itulah pikiran Juna menjadi tak karuan, bisikan demi bisikan yang entah datang dari mana terus mempengaruhi pikirannya.


Langka cepat Juna menuju ruangan Kais adalah sebuah kode kalau dia ingin membuktikan ucapan Jaguar sendiri, dan masih dengan prasangka negatif yang mempengaruhi pikirannya dia langsung membuka ruangan Kais, tetapi yang dia lihat hanyalah ruangan kosong tak berpenghuni.


“Haah... ternyata dia benar-benar gak ada di ruangannya,” gumam Juna dengan smirk diwajahnya yang diiringi dengan kepalan tangannya kembali menutup pintu ruangan kerja sang istri.


“Oke, kalau begitu aku akan tunggu di ruangan Kak Jihan.” Beban pikiran negatif yang terus berputar di kepala Juna, mengiringi langkahnya menuju ke ruangan kerja sang Kakak.


Ruangan Jihan~


Selama 7 menit, Juna terus mengoceh tanpa arah dan terus berputar-putar melepaskan semua beban pikirannya. Hingga membuat Jihan yang mulai terganggu pun, akhirnya angkat suara, “Hey! bisa diem gak? Kamu gak lihat aku sedang kerja? Lagian kalau ada masalah kenapa gak kamu tanyain langsung ke dia? Kelihatannya dia sudah kembali ke ruangannya,” sahut Jihan dengan kedua alis yang hampir menyatu.


“Oh iya?! Kakak tahu dari mana?” celetuk Juna setelah kata-katanya dipotong sang Kakak.


“Kamu gak lihat jam? Kamu sudah nyerocos membuang semua rasa kesal kamu selama 7 menit 30 detik, kamu gak cape apa? Aaah... Adik Ipar barusan mengirim pesan, suruh bawain hasil lab yang kemarin, jadi itu artinya dia sudah ada di ruangannya,” jawab Jihan dengan wajah kesalnya.


“Jadi sebaiknya kamu pergi dari ruangan ini, dan sekalian bawa ini juga. Biarkan aku kembali kerja dengan tenang okey,” tambah Jihan, yang langsung berdiri dari tempat duduknya, dan meyodorkan sebuah map berwarna merah ke tangan Juna dengan sedikit kasar.


Sesudah menyerahkan map ke tangan Juna, Jihan kembali duduk dan melanjutkan pekerjaannya. Sementara badan Juna otomatis membeku dalam beberapa detik, yang ada di pikirannya saat itu, “Aaa... sepertinya rasa kesalnya bukan bercanda,” batinnya.


Tak lama kemudian, Juna akhirnya tersadar dari lamunannya dan segera berpamitan dengan sang Kakak, “Oke, aku akan antarkan ini ke ruangannya sekarang.” Juna menundukkan kepalanya terlebih dahulu, lalu ia segera melangkah pergi.


Setelah keluar ruangan Jihan~


“Oowwh... dia benar-benar menakutkan kalau marah,” gumam Juna diiringi dengan hembusan nafasnya.


Ketika akan melanjutkan langkahnya, Juna tidak menyangkah dia melihat langsung apa yang dikatakan Jaguar kepadanya. Iya, yang dia lihat adalah....


.


.


.


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2