
Keesokan hari nya….
Juna bangun dari tempat tidurnya, lalu dia berjalan menuju dapur untuk sarapan.
“Selamat pagi Tanteooaaaahh,” sapa Juna yang sambil menguap.
“Astaga, Juna... mulut kamu hampir sobek itu, jangan terlalu lebar membukanya,” sahut Tante Dewi.
“Tenang saja Tan... mulut Juna ini elastis, jadi gak akan sobek, tapi ngomong-ngomong dimana Kais kok dia belum ada disini? Apa jangan-jangan dia belum bangun?” tanya Juna celingak-celinguk menatap ke arah kamarnya dan sekeliling untuk mencari Kais.
“Kata pengawal, dia masih olahraga, oo... itu dia sudah datang.” Tante Dewi langsung menatap Kais yang baru datang dan menuju ke meja makan.
“Selamat pagi Tan, waaahh... Tante ini makanannya banyak banget, sepertinya enak-enak semua,” sapa Kais yang langsung duduk di meja makan dan menatap satu-persatu makanan yang ada diatas meja.
“Tan, seharusnya jangan di keluarin semua, bahaya kalau sudah kedatangan wanita pemakan segala ini,” ejek Juna menatap Kais yang sedang lapar mata.
“Hee! lebih baik pemakan segala... dari pada kurus kering,” protes Kais membalas ejekan Juna dengan menjulurkan lidahnya.
“Apa kamu bilang tadi!” sahut Juna yang merasa sedikit tersinggung dengan kata-kata Kais.
“Sudah... sudah... kalian ini apa-apaan, ini masih pagi juga. Sudah cepat makan keburu dingin,” selah Tante Dewi yang mencegah perdebatan antara Juna dan Kais.
“Oh iya Tan, aku boleh tanya sesuatu sama Tante?” ucap Juna yang menatap Tante Dewi sedang mengunyah makanan.
“Ho, tanya apa?” balas Tante Dewi.
“Apa, Ayah dulu juga punya keistimewahan seperti aku? Maksudku keistimewahan dapat melihat masalalu dengan sentuhan,” tanya Juna, yang sebenarnya pertanyaan tersebut mengejutkan Tante Dewi.
“Kenapa kamu bisa berfikiran seperti itu?” tanya Tante Dewi.
“Aaa, karena ada faktor tertentu yang menyebabkan aku berfikiran seperti itu,” jawab Juna.
“Eeemm, iya Ayah kamu dulu juga punya keistimewahan sepeti kamu, itu sebabnya waktu kamu kecil Ayah kamu sangat bersyukur karena keistimewahan itu tidak menurun ke kamu, kalau kebakaran itu tidak terjadi... kamu pasti hidup normal seperti para pemuda biasanya.” Tante Dewi menceritakan semuanya secara Jujur kepada Juna.
“Ah, Juna... Tante hampir lupa, berkas yang Tante temukan ada di laci meja kamar Tante. Kalau misal kamu penasaran isi berkasnya, kamu bisa ambil sendiri kalau Tante sedang tidak ada dirumah” tambah Tante Dewi.
“Iya Tante,” balas Juna.
“Yasudah kalau begitu, Tante mau pergi ke kantor dulu. Kalian jangan berantem lagi seperti tadi, okay!” ujar Tante Dewi.
“Oke,” jawab Juna dengan singkat.
Tante Dewi pun pergi meninggalkan mereka berdua yang masih makan dimeja makan.
“Juna, apa pertanyaan kamu tadi ada hubungannya dengan kasus yang sedang kamu tangani? Lalu berkas apa yang Tante maksud?” tanya Kais secara tiba-tiba.
“Ho? aaa... enggak ini cuman pertanyaan acak yang ingin aku ketahui, dan kamu gak perlu tau soal berkasnya. Karena tidak terlalu penting,” jawab Juna yang terkejut dengan pertanyaan Kais.
__ADS_1
“Ini bukan sesuatu yang membahayakan kan?” tanya Kais kembali yang menunjukkan ekspresi khawatir.
“Aaa... enggak, tenang aja” jawab Juna dengan santai.
“Baguslah kalau begitu. Kalau begitu aku mau mandi dulu,” ucap Kais yang beranjak dari tempat duduknya dan langsung menuju kamarnya.
“Ho,” balas Juna dengan singkat.
Kais masuk ke kamarnya, setelah menghabiskan makanannya, Juna juga langsung menuju kamarnya sendiri, dan dia kembali merebahkan badannya dikasur empuk miliknya.
30 menit kemudian….
“Apa ini kenapa suasananya sepi sekali, Juna kemana kok dia gak kelihatan dari tadi, dia gak mungkin molor lagi kan?” gumam Kais yang keluar dari kamarnya dan duduk di ruang keluarga.
“Bi! Apa Bibi tahu Juna kemana?” tanya Kais ke salah satu asisten rumah tangga yang sedang bekerja di rumah itu.
“Aaa, tuan muda masih dikamar nya, nona,” jawab asisten rumah tangga itu, lalu pergi meninggalkan Kais sendiri.
“Jadi dia beneran kembali molor? Waahh... gak bener ini anak. Aku harus gangguin dia, agar dia gak kebanyakan molor, enak saja aku masih kepikiran soal nanti malam, eh... dia malah enak-enakan masih molor,” gerutu Kais yang langsung berjalan ke kamar Juna.
Setelah sampai di kamar Juna….
“Juna! Junaaa... bangun! Junaaa b.a.n.g.uuuunn!” teriak Kais yang perlahan melangkah masuk ke kamar Juna.
Juna yang merasa terganggu akan teriakan Kais langsung menutupi telinganya dengan bantal.
“Hoooyy!! Bangun!” Kais semakin menjadi-jadi, dia memengang satu tangan Juna dan berusaha membuatnya bangkit dari tempat tidur.
“Junaaa... banguuunn!!” tariak Kais sambil menggoyang-goyangkan tangan Juna.
“Yaaiisshh, kamu ini….” tangan Kais tertarik oleh tangan Juna lebih kuat dari sebelumnya, yang mengakibatkan badan Kais ikut terjatuh tepat diatas Juna, dan saat itu pula sebuah kecelakaan terjadi.
Kedua bibir mereka secara tidak sengaja langsung menempel dengan tepat sasaran, keduanya sama-sama sangat terkejut, kedua mata mereka langsung terbuka lebar. Kais yang sangat terkejut tidak langsung bangkit dari posisinya, hingga beberapa saat kemudian dia baru tersadar dan langsung kembali berdiri.
“Ma... ma... maaf itu tadi tidak sengaja, salah kamu sendiri kamu pakai narik tangan aku, jadinya seperti itu,” ucap Kais dengan canggung dan bingung harus ngomong apa.
“….” Dengan masih berada di posisi terlentang, Juna hanya bisa diam seribu kata, karena terkejut dengan kejadian yang baru dia alami.
“A... aku... permisi keluar dulu,” pamit Kais yang langsung melangkah dengan cepat keluar dari kamar Juna.
“Apa itu tadi, dia... mencuri first kiss ku, hhaaaahhh... tapi kenapa harus dia? Kenapa harus dia dari sekian banyak wanita, lalu apa ini? Kenapa jantungku jadi berdegup sangat cepat, perasaan dan pikiranku seketika menjadi kacau,” batin Juna dalam lamunannya.
***
Disisi lain….
Setelah keluar dari kamar Juna, Kais kembali ke kamarnya.
__ADS_1
“Haaaiissshh... apa yang sudah terjadi tadi, dari sekian banyak laki-laki kenapa harus Juna yang mendapatkan first kiss ku, ini juga kenapa perasaanku menjadi kacau seperti ini? Ayolah Kais, apa kamu beneran suka sama dia? Tapi kenapa harus dia?” gerutu Kais sendiri didepan cermin kamar mandi kamarnya.
Setelah kejadian tersebut mereka tidak keluar kamar sama sekali hingga sore menjelang.
“Oke, oke harus tenang ini sudah waktu nya harus memilih baju untuk acara nanti malam, kalau aku gak gugup dan menciptakan kecanggungan, dia pasti akan bersikap biasa saja, jadi aku harus tenang,” gumam Juna yang menenangkan dirinya sendiri.
Setelah lumayan tenang, Juna keluar dari kamarnya dan langsung turun ke lantai bawa, tidak lupa juga dia membawa kunci mobil sekalian.
“Kais... kita harus memilih baju untuk nanti malam!” teriak Juna yang memanggil Kais.
***
Sementara itu di dalam kamar Kais….
“Kenapa suara dia setenang itu? Apa semudah itu melupakan kejadian tadi? Apa tragedi tadi tidak berarti apa-apa buat dia?” gumam Kais, sambil menempelkan telinganya ke pintu, untuk mendengarkan suara dari luar kamarnya.
“Tok... tok... tok....”
“Heeyy! keluar... kamu jadi ikut gak acara nanti malam?” ucap Juna dengan nada tinggi.
“Iya... iya... ini aku sudah keluar, mau berangkat sekarang?” sahut Kais membuka pintu kamarnya dengan ekspresi tenang.
“Ho, kita berangkat sekarang,” jawab Juna yang juga memasang ekspresi tenang.
Mereka langsung menuju ke mobil, setelah masuk mobil dan akan memegang setir mobil, tiba-tiba tangan kiri Juna bergetar.
“Juna, kamu yakin baik-baik saja?” tanya Kais yang menatap tangan Juna bergetar.
“Ho, aaahh... aku baik-baik saja,” jawab Juna dengan sedikit canggung.
“Tapi tangan kamu....” Kais menatap tangan Juna yang bergetar.
“Oh, aaa... ini, bukan masalah serius,” balas Juna yang melempar senyum ke Kais.
“Aaah... yasudah kalau begitu,” balas Kais yang mengalihkan pandangannya dan menahan tawanya.
“Jadi dia cuman pura-pura tenang? Haaahh….” Kais terkekeh dalam hati mengetahui Juna menyembunyikan rasa gugup nya.
Juna menyembunyikan tangan kirinya dan memegang setir mobil hanya menggunakan satu tangannya, lalu ia langsung memacu mobilnya menuju ke salah satu butik milik Tante Dewi
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung…