Love And Mystery

Love And Mystery
-9- Flashback


__ADS_3

Juna pergi dari gedung BFN dan pulang menuju apartemennya, di apartemennya Juna mempersiapkan semuanya, dia memasukkan sedikit pakaiannya karena di rumah Tantenya masih banyak baju miliknya yang tertinggal.


“dreeett... dreettt....” Notifikasi sebuah pesan masuk ke hp Juna.


“Apa kamu beneran akan datang ke acara itu?” tulis Kais di pesan singkatnya.


Juna menghela nafas sambil tersenyum membaca pesan dari Kais. “Iya, kenapa? Apa kamu sudah tidak tertarik lagi untuk ikut?” balas Juna.


“Aku cuman ingin memastikan saja. Kalau begitu aku akan ikut kamu ke Seoul,” balas Kais lagi.


“Apa dia baik-baik saja ya, kalau bertemu dengan mereka. Mengingat dia dulu sangat tersiksa, karena adanya mereka,” gumam Juna sembari ia mengingat kembali apa yang sudah terjadi dengan Kais dulu.


-- Flashback --


“Heeii! bawa sih culun itu kesini,” suruh Subi.


Seorang perempuan berpenampilan culun di gandeng dua orang dan dibawa sesuai perintah perempuan yang bernama Subi.


“Culun, duduk kamu sekarang,” pinta Subi.


“…” Perempuan yang disebut culun itu langsung duduk menuruti Subi.


“Tuang itu sekarang!” Subi menyuruh teman-temannya menuangkan minyak belut.


“Oke, Subi,” jawab teman-teman Subi yang bernama Suhyang dan Debi.


Sebotol minyak belut itu dituangkan ke anak culun yang sedang duduk berlutut itu.


“Hahahaha... hei! Sekalian air pel nya juga.” Subi terkekeh melihat anak culun itu bermandikan minyak belut yang menyebabkan seluruh seragamnya basah dan bau.


“Siap Subi.” Debi mengambil seember air pel dan mengguyurkan ke anak culun itu.


“Hahahahaha, Kais... ini peringatan buat kamu, jangan pernah mencoba-coba menggoda Juna.” Subi mendekat ke anak culun tersebut yang ternyata dia adalah Kais.


“Heeei!! Apa yang sudah kalian lakukan!” teriak seorang laki-laki tampan, berambut dan bermata coklat, yang tiba-tiba datang bagaikan seorang super hero .


“Juna, kamu disini... pasti kamu ingin bertemu denganku kan?” jawab Subi seorang perempuan yang menwarnai rambutnya dengan warna hijau tersebut menyibakkan rambut panjangnya ke belakang dan bersikap seakan ia siswa wanita paling cantik di sekolah itu.


“Hhaaaahh, bertemu? Maaf tapi memang kita pernah kenal? Yang aku kenal cuman dia... karena sering lihat dia di perpustakaan, dan aku ada perlu sama dia karena belum mengembalikan buku ku yang dia pinjam,” cetus Juna memasang senyum smirk andalannya.


“Apa? Jadi kamu juga sering ke perpustakaan, kok kamu gak pernah bilang ke aku,” ucap Subi dengan centil.


“Memang kamu siapa? Kamu saja yang terlalu percaya diri kalau semua orang mengenal kamu, minggir!!” Juna sedikit mendorong Subi, hingga Subi sedikit melangkah mundur.

__ADS_1


“Berdiri! Ngapain tetap duduk disini?” Juna meraih lengan Kais tanpa merasa jijik, karena dia sudah berlumuran minyak belut dan Juna juga langsung memaksanya berdiri.


Sedangkan Kais sendiri hanya bisa menatap Juna dalam diam dan cuma bisa menuruti kata-kata Juna.


“Kalian, dengar baik-baik... mulai hari ini Kais adalah sahabatku, kalau sampai kalian berani ganggu dia... aaah bahkan kalian dekati dia, aku jamin kalian akan mengalami hal buruk yang belum pernah kalian alami sebelumnya, kalian paham!” ucap Juna memperingatkan Subi dan teman teman-temannya.


“…” Sementara itu Subi dan teman-temannya hanya terdiam, karena takut dan tidak tau harus berbuat apa.


“Ayo kita pergi dari sini,” ajak Juna kepada Kais, untuk meninggalkan Subi dan teman-temannya.


Setelah pergi menjauh dari Subi beserta teman-temannya….


“Yaa… lepasin aku sudah bilang kan, jangan menyapa aku disekolah, memang kamu mau dibenci juga seperti aku? Kenapa kamu tiba-tiba melanggar perjanjian kita,” ucap Kais yang ternyata mengenal Juna dan dia hanya berpura-pura tidak mengenal.


“Eeeiii, siapa suruh bikin perjanjian seperti itu, lagian mana bisa aku diam saja melihat sahabatku diperlakukan seperti itu, Kais kita baru kelas satu SMA... tapi kamu sudah diperlakukan seperti ini, bagaimana dengan kelas-kelas berikutnya, aaauuu... aku semakin gak sanggup membayangkannya,” balas Juna.


“Sudahlah aku mau ke toilet dulu.” Kais berpaling pergi meninggalkan Juna.


“Heei... tunggu, bawa ini juga.” Juna menyerahkan sebuah bungkusan kepada Kais.


“Apa ini?” Kais berbalik dan menerima pemberian Juna


“Itu? Seragam ganti, pakai itu sesudah mandi," kata Juna.


“Jangan bilang ini seragam baru?” balas Kais.


“Hhaaaahhh... Juna kamu gak perlu ngelakuin ini, aku bisa pakai baju olahraga punyaku sendiri,” jawab Kais.


“Baju olahraga? Kamu gak ingat, kalau kamu sampai pakai baju olahraga lagi hari ini... kamu bisa disuruh keluar dari kelas, sudah pakai saja itu,” pinta Juna.


Kais yang tidak punya pilihan lain hanya bisa menurut apa kata Juna. Sesudah mandi dan ketika ia akan berganti pakaian, Kais menemukan label harga yang belum terlepas, pada baju dan rok pemberian Juna.


“Apa ini? katanya seragam bekas, tapi masih ada label harganya,” gerutu Kais, tetapi karena dia tidak punya pilihan akhirnya dia tetap memakai seragam pemberian Juna.


Setelah mengganti seragam, Kais keluar dan langsung menghampiri Juna.


“Hey! Kata kamu seragam bekas, tapi kenapa masih ada ini nya.” Kais menunjukkan label harga yang sudah ia lepas.


“Aaa... aku lupa melepas itu, tapi memang beneran bekas kok, bekas dari toko nya," canda Juna.


“Aaaiiishh... kamu ini ya benar-benar, dari dulu.” Kais melayangkan pukulan yang tidak keras ke Juna.


2 Tahun Kemudian….

__ADS_1


“Kais aku mau tanya.” ucap Juna.


“Tanya apa?” jawab Kais.


“Aku punya teman dan dia suka sama seseorang cewek, tapi dia dan cewek ini sudah berteman sejak lama, menurut kamu... kalau temanku ini menyatakan perasaannya, apakah perasaan temanku ini akan diterima sama sih cewek?” Juna mengajukan pertanyaan yang sebenarnya pertanyaan itu untuk dirinya sendiri.


“Pertanyaan macam apa itu? Heii, itu bukan urusan kamu... kenapa kamu yang ikutan repot.” Kais adalah orang yang peka, tetapi sekali lagi dia cuman berpura-pura tidak tahu agar hubungan mereka tidak menjadi canggung.


“Hei... hei... kamu mau kemana jawab dulu pertanyaanku, biar kalau temanku minta saran lagi, aku bisa jawab.” Juna menarik lengan Kais yang akan beranjak pergi.


“Oke, aku jawab... bilangin ke teman kamu itu, agar tidak menyatakan perasaannya. Karena hubungan mereka berdua bisa menjadi canggung, bagaimanapun juga mereka sudah berteman sangat lama, jadi kalau teman kamu tiba-tiba mengutarakan perasaannya, aku bisa jamin teman kamu itu dan teman ceweknya akan merasa canggung dan gak bisa berbicara seperti biasanya. Itu jawaban dari aku, sudah aku mau ke kantin dulu,” jelas Kais memberi jawaban atas pertanyaan Juna.


“Hey, tunggu aku!” teriak Juna yang melihat Kais sudah berjalan menjauh.


-- Flashback Selesai --


~ Masa Kini ~


Keesokan harinya…


Juna sudah bersiap berangkat ke Seoul, satu koper yang berukuran sedang dimasukkan ke dalam mobil, lalu dia segera memacu mobilnya untuk menuju kebandara, tetapi sebelum itu Juna menjemput Kais terlebih dahulu.


7 jam ia habiskan diperjalanan, sesampainya di bandara Incheon mereka berdua berganti pakaian yang lebih tebal dan juga memakai jaket tebal.


Perjalanan belum usai, mereka harus menaiki taxi untuk menuju Seoul, selama berada di Korea Selatan mereka terus menggunakan bahasa Korea, meskipun cuman berbicara berdua.


Sesampainya di rumah Tante Dewi…


Juna membantu menurunkan barang-barang Kais dan barang-barangnya sendiri, lalu mereka berjalan masuk, sesampainya di depan gerbang, para petugas keamanan sudah mengetahui kalau yang datang adalah Juna.


Pengawal-pengawal tersebut langsung membantu membawakan semua barang-barang mereka berdua.


***


Sementara itu….


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2