Love And Mystery

Love And Mystery
-33- Badai


__ADS_3

Sesampainya di Rumah Sakit, Keysa langsung dibawa ke ruang operasi, karena keadaannya sudah kritis. Dengan pakaiannya masih setengah basah, Juna masih menunggu di kursi panjang yang ada di depan ruang operasi.


Beberapa menit kemudian….


Kais datang bersama Jihan berjalan cepat menghampiri Juna. “Juna bagaimana keadaan Keysa?” tanya nya.


“Kamu sudah disini, haaah... maafkan aku keadaan Keysa kritis. Dia harus mendapatkan operasi darurat, karena luka di perutnya membuat denyutnya terus melemah.” Juna langsung mendongakkan kepalanya yang tertunduk, ketika mendengar suara Kais.


Kais menghela nafas singkat, wajahnya berubah menjadi semakin khawatir dan langsung duduk disebelah Juna, begitu juga jihan yang ikut duduk disebelah Kais.


1 Jam kemudian….


Dokter keluar dari ruang operasi, Kais yang sudah sangat khawatir langsung berdiri.


“Dokter bagaimana kondisi adik saya?” tanya nya dengan wajah cemasnya.


“Kondisi adik Anda cukup buruk, saya tidak terlalu yakin kalau dia bisa sadar kembali. Karena terdapat kerusakan pada otaknya yang cukup parah dan dia juga mengalami kehilangan banyak darah, jadi kemungkinan besar dia akan mengalami mati otak,” ucap Dokter yang mengoperasi Keysa.


“Meskipun kemungkinan sadarnya sedikit, tapi kita semua sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan pasien, karena bagaimanapun juga keselamatan pasien yang paling utama. Karena itu kita harus pantau terus bagaimana kondisi kedepannya, dan kita hanya bisa berdo’a untuk kesembuhannya,” sambung sang Dokter.


“Haaahh... terimakasih banyak Dok,” jawab Kais mulai meneteskan air matanya.


“Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu.” Dokter berpamitan dan melangkah pergi dari hadapan Kais.


“Mati otak,” gumam Kais sendiri yang masih dapat didengar Juna dan Jihan.


“Juna! Kenapa baju kamu basah begitu?” tanya Jihan menatap Juna yang ikut tertunduk lemas.


“Ho! Aaah... bukan apa-apa Kak. Aku tadi coba mengejar pelaku, tapi dia malah berenang terlalu jauh, hingga sampai ke laut lepas,” sahut Juna mencoba menjelaskan yang terjadi pada dirinya.


“Apa! Laut? Itu artinya kamu menyelam sampai ke laut lepas?” cetus Kais mendengar perkataan Juna.


“Enggak bukan gitu. Jadi maksud aku, tadi aku berniat mengejar pelaku dari dalam gua, tapi tiba-tiba pelaku menyelam ke kolam kecil yang ada di dalam gua. Saat aku ikuti menyelam, ternyata kolam itu terhubung dengan laut, jadi aku kembali dan batal ngikuti pelaku.” Juna kembali menjelaskan apa yang dia alami.


“Hei! Aku sudah bilang kan, jangan mendekati bahaya. Lihat wajah kamu sampai seperti itu! Aaiisshh... kenapa semua orang gak mau mendengarkan orang lain,” cetus Kais kesal.


“Kais aku gak apa-apa, ini cuman luka…,” sanggah Juna terpotong.


“Tinggalkan aku sendiri,” selah Kais.

__ADS_1


“Apa?” tanya Juna bingung.


“Kamu gak dengar ucapanku, aku ingin sendiri. Kak Jihan juga, tolong pergi dari sini,” usir Kais dengan perasaan kacau.


“Oke, kita akan pergi,” balas Juna beranjak dari duduknya dan mengajak Jihan pergi bersamanya.


Mereka berdua berjalan keluar dari Rumah Sakit. “Kamu baik-baik saja kan?” celetuk Jihan tiba-tiba.


“Ho? Aaah, iya aku baik-baik saja Kak,” balas Juna dengan senyumnya.


“Yasudah kalau begitu, kamu pulang dan bersihkan diri kamu. Kalau kamu masih khawatir dengannya, kamu bisa kesini lagi setelah membersihkan diri kamu,” tutur Jihan.


Mereka terus berjalan menuju ke parkiran mobil dan pulang ke rumah mereka sendiri-sendiri.


Sesampainya di Rumah Juna….


Juna berjalan masuk ke dalam kamarnya, ia mengambil beberapa baju dan di letakkannya di atas kasurnya. Sedangkan ia langsung berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Setelah ia mandi, dia berganti baju dan melangkah keluar kamar untuk mengambil air mineral, snack dan minuman bersoda dari lemari es, lalu ia kembali ke ruang tengah dan meletakkan semua yang sudah ia bawa di meja panjang yang ada di hadapannya.


Dia duduk di sofa panjang, sembari kedua tangannya mencoba membuka minuman bersoda dan meminumnya sedikit demi sedikit, dia bersandar pada sofa panjang miliknya, lalu ia menghelah nafas panjangnya, seakan ia ingin mengeluarkan semua perasaan sesak yang ada di pikiran dan hatinya.


Karena badannya terasa sangat letih dan lelah, pada akhirnya Juna tertidur di atas sofa hingga keesokan harinya.


“Dreet... dreet... dreett....” Hp Juna terus berdering, tetapi karena dia tidur di sofa dan hp nya berada di kamar, jadi dia tidak mendengar panggilan masuk yang ada di hp nya.


Beberapa detik kemudian….


Juna terbangun dari tidur panjangnya, tanpa melihat dan mencari hp nya, dia langsung melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan badannya sebelum berangkat ke Kantor Polisi.


Setelah mandi dan berganti baju, tanpa membuka layar hp nya, ia langsung memasukkan ke kantongnya. Sebelum pergi ia mengambil minuman dari lemari es, dan baru dia segera melangkahkan kakinya menuju ke parkiran mobilnya.


Sesampainya di dalam mobil, ia mulai mengecek hp nya, dan terdapat 12 panggilan tak terjawab dari Kais. Karena merasa sangat khawatir Juna langsung meneleponnya.


“Ada apa, kenapa kamu….” Kata-kata Juna terpotong.


“Juna... bagaimana ini, Keysa... Keysa... sepertinya akan pergi,” potong Kais dengan suara lirih dan sedih.


“Apa maksud kamu?” tanya Juna menghentikan semua kegiatannya.

__ADS_1


“Keysa, dia mengalami mati otak dan kata salah satu Dokter, dia sudah terdaftar dalam donor organ. Terus saat ini... saat ini aku diminta untuk menentukan pilihan,” ucap Kais dengan sesenggukan.


“Aku akan segera kesana, kamu tunggu aku,” balas Juna yang langsung menutup telepon.


Juna meletakkan hp nya dan segera memacu mobilnya menuju ke Rumah Sakit.


--Di Rumah Sakit--


Juna turun dari mobilnya, tidak lupa ia mengunci mobilnya dan langsung masuk ke dalam Rumah Sakit dengan sedikit berlari. Dalam hatinya, ia merasa khawatir sekaligus ikut sedih dengan apa yang terjadi pada Keysa.


Sesekali ia menghela nafas, seakan ingin membuang seluruh rasa frustasinya.


Saat Juna sampai di depan ICU, ia melihat Kais yang tertunduk lemas, secara perlahan ia berjalan mendekatinya. Dan saat Juna sudah berada di jarak yang cukup dekat, tiba-tiba Kais langsung menatap Juna, ia menyadari kedatangannya.


Tanpa berkata apapun, Kais langsung berdiri dari duduknya dan sambil menangis ia berjalan cepat ke arah Juna, dengan perasaan kacau dia langsung memeluk Juna yang sudah dihadapannya.


Juna hanya bisa menenangkan Kais dengan membalas pelukannya, sesekali ia megusap lembut kepala belakang Kais dan menepuk-nepuk punggungnya.


“Kamu sudah makan?” tanya Juna setelah melepas pelukannya.


Kais hanya menjawabnya dengan menggelengkan kepalanya, sembari terus berusaha menghapus air matanya yang terus menetes.


“Kamu harus makan, kamu juga butuh tenaga. Ikut aku sekarang, aku ingin menyampaikan sesuatu,” ajak Juna mengahapus air mata Kais dengan baju lengan panjangnya, lalu ia menggenggam tangan Kais menuju ke suatu tempat.


--Kafetaria Rumah Sakit--


“Ini, aku gak tau ini bakal mempermudah kamu membuat keputusan yang sangat sulit, atau bakalan lebih mempersulit kamu membuat keputusan, tapi yang jelas ini pesan dari Keysa untuk kamu. Dia sengaja meminta aku merekam ini, karena mungkin dia tau keadaannya akan menjadi seperti ini.” Juna menyerahkan sebuah mp3 kecil yang sudah berisi rekaman suara Keysa.


Kais mengambil mp3 kecil itu dengan tangan gemetaran, lalu memasang headset ke satu telinganya. Dia mendengarkan rekaman itu sembari terus mengunyah dan menelan makanan secara perlahan, semakin lama ia mendengarkan rekaman itu, air matanya kembali menetes.


“Aku pernah melihat wajah seperti itu, kesedihan dan kemarahan tak bertuan, ibarat seperti sebuah tabung kosong yang tak berudara dan bersuara. Kau boleh bersedih dan marah, tapi tolong bertahanlah sedikit lagi, aku berjanji akan menangkap pelakunya, dan sampai kapan pun aku akan selalu ada disisimu,” batin Juna sambil terus menatap dalam ke arah Kais yang terus bercucuran air mata.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2