Love And Mystery

Love And Mystery
-12- Coklat Panas Penjawab Keraguan


__ADS_3

Bersantai di Namsan Tower telah usai, Juna dan Kais akhirnya memutuskan untuk turun dari namsan tower.


“Heei... tunggu dulu, pakai ini.” Juna berjalan dengan cepat dan menyusul Kais yang berjalan di depannya, lalu Juna mengalungkan sebuah syal yang cukup tebal ke leher Kais.


“Apa ini, kenapa perlakuan dia ke aku semakin hangat? tidak seperti cara dia bicara sebelum nya,” batin Kais sambil membenarkan syal pemberian Juna.


“Juna, tunggu aku!” teriak Kais yang langkah nya tertinggal oleh Juna sudah berada di depannya.


“Oo, ada penjual corn dog. Heei... aku mau nagih janji kamu sekarang.” Juna memberi kode ke Kais agar mau membelikannya corn dog sesuai janji saat diatas Namsan Tower.


“Haaahh, ayo... ayo kita beli sekarang,” jawab Kais yang melangkah lebih dulu ke penjual corn dog.


“Ternyata dia masih Juna yang sama, dia Juna yang aku kenal,” batin Kais didalam hati nya, sambil menatap Juna sedang mengunyah corn dog.


Ketika mereka sedang asik menikmati hangat nya corn dog, tiba-tiba ada dua orang perempuan yang menyapa Juna.


“Juna, kamu Bae Juna kan?” sapa salah satu perempuan yang juga sedang membeli corn dog.


“Kamu siapa?” jawab Juna dengan dingin.


“Haaahh, aku Subi. Kamu lupa sama aku? ow tapi lihat siapa itu, Kais? Wauw, ternyata benar perubahan kamu sedrastis itu, dan Juna kamu masih berteman dengannya?” ucap Subi yang memperkenalkan diri ulang, karena Juna lupa akan dirinya, selain itu Subi menyadari keberadaan Kais yang berdiri di sebelah Juna.


“Ho, memang kenapa? Gak ada urusannya sama kamu,” ketus Juna dengan dingin.


“Iya memang gak ada urusannya sama aku, tapi Juna... setelah lulus dari sekolah jujur aku masih belum bisa melupakan kamu, apa aku boleh bertukar nomer hp sama kamu?” tanya Subi yang masih mencoba mendekati Juna, Subi sudah mengeluarkan dan menyodorkan hp nya ke Juna


“Maaf tapi aku hanya memberikan nomer hp ku ke orang terdekat bukan orang asing,” jawab Juna masih memasang wajah dinginnya.


“Haaahh, oke... gak apa-apa, tapi pastikan kalian berdua besok kalian datang ke acara special night. Karena ada kejutan buat kalian berdua, terutama kamu Kais yang sudah berhasil terlahir kembali menjadi angsa putih,” sindir Subi, yang langsung pergi setelah mengucapkan semua itu.


“Haaahh, mulut dia benar-benar tajam. Jangan dipikirkan kata-kata....” Juna membalik badannya dan menatap Kais yang tertunduk dengan tangan yang masih gemetaran.


“Kais, kamu gak apa-apa? Sebaiknya kita pergi dari sini sekarang... tunggu sebentar.” Juna membayar corn dog yang sudah mereka makan, lalu pergi dari tempat itu dan pulang menuju rumah Juna.


Setelah sampai dirumah….


Kais turun dari mobil dan langsung masuk ke kamar nya….


Juna yang melihat perubahan Kais menjadi pendiam seperti itu, tidak dapat berbuat apapun termasuk menghiburnya juga mungkin belum cukup.

__ADS_1


Akhirnya Juna berinisiatif pergi ke dapur dan membuat dua coklat panas, berharap coklat panas tersebut dapat menenangkan pikiran Kais.


“Tok... tok...”


“Kais, aku membuat coklat panas kesukaan kamu, kalau kamu mau mencicipi coklat buatan ku, kamu bisa mengambilnya sendiri di dapur, dan kalau kamu butuh sebuah hiburan...


eeemmm aku ada di kolam renang,” tutur Juna dari luar pintu kamar Kais yang masih tertutup rapat.


Juna membawa satu cangkir coklat panas yang akan ia minum ke area kolam renang dan dia duduk santai di salah satu kursi santai yang ada disana.


Dia menyeruput sedikit demi sedikit coklat panas itu, lalu meletakkannya di meja kecil yang terdapat disana.


3 menit kemudian….


“Juna!” panggil Kais yang tenyata sudah duduk di kursi santai sebelahnya.


“Ho, kamu disini. Aku kira kamu bakal terus merenung dikamar.” Juna langsung bangkit dari kursi santai, setelah sempat memejamkan matanya.


“Apa aku ganggu tidur kamu?” tanya Kais yang melihat Juna sempat memejamkan matanya.


“Enggak sama sekali, aku cuman menikmati coklat panas yang aku buat, bagaimana rasanya masih tetap enak kan? Heeemm.” Juna melempar senyumnya dan menatap Kais yang sedang memegang cangkir coklat panas.


“Baik kalau itu yang kamu inginkan, tapi sebelumnya ada yang perlu kamu ketahui. Kalau kamu batal datang ke acara itu, Subi akan terus meremekan kamu, kamu akan selamanya dianggap sih culun bau dan satu hal yang paling penting, sih Subi akan selamanya merasa berada diatas kamu dan itu artinya sama saja kamu memberikan dia kesempatan untuk terus menginjak-injak kamu didepan teman-teman dan para senior lainnya. Apa kamu gak merasa risih dengan kelakuannya yang seperti itu? Coba pikirkan lagi,” balas Juna menjawab atas perubahan keinginan Kais secara tiba-tiba.


“Kais! Kamu tenang saja selama ada aku disini, mereka gak akan bisa menyentuh kamu lagi seperti dulu, tampil lebih percaya dirilah. Sekalian kalau kamu ingin songong sama mereka lakukanlah, sombongkanlah kalau kamu seorang Dokter forensik yang paling hebat seasia,” tutur Juna.


“Ah... dan satu lagi, aku gak tau ini bisa menambah kepercayaan diri kamu atau tidak, tapi menurut rekan aku di kepolisian Seoul, kalau Indonesia punya dokter forensik yang hebat, tapi sayangnya Indonesia belum bisa memaksimalkan kemampuannya dan saat itu aku belum tau kalau orang yang mereka maksud adalah orang yang sangat aku kenal,” tambah Juna.


“Selain itu menurut Yuyun dan Marco, kamu seseorang yang memiliki tangan emas, karena katanya keputusan pengadilan bisa langsung berubah setelah otopsi ulang yang sudah kamu lakukan,” puji Juna yang masih mencoba menghibur Kais dengan cerita yang cukup panjang.


“Yuyun dan Marco pernah cerita soal keputusan pengadilan yang pernah berubah itu?” respon Kais.


“Ho, meskipun mereka sering mengatakan kamu psiko saat di ruang otopsi, tapi ternyata mereka tetap menjadi penggemar rahasia kamu, astaga,” jawab Juna sambil menyeruput coklat panas nya.


“Hhaaahh, psiko? Kenapa banyak yang menyebutku seperti itu, padahal aku gak sekejam itu sama mereka semua,” protes Kais yang mulai sedikit tersenyum.


“Gak sekejam itu? hhaaahh, oke... terserah kamu, tapi kamu juga bisa gunakan sifat itu untuk menghadapi Subi dan teman-temannya,” saran Juna membalas senyum Kais.


“Haaahh, kamu ada benarnya juga... baiklah kalau begitu, aku akan mencobanya,” jawab Kais dengan kembali melempar senyumnya yang lebih ceria.

__ADS_1


“Aahh, aku mau tanya satu hal lagi sama kamu,” ujar Kais secara tiba-tiba akan melemparkan sebuah pertanyaan kembali.


“Tanya apa?” balas Juna.


“Teman kamu dulu yang pernah meminta saran ke kamu bagaimana nasibnya sekarang? Apa teman kamu itu jadi mengungkapkan perasaannya ke teman lamanya?” Kais mempertanyakan sesuatu yang dapat dikatakan sangat mengejutkan untuk Juna.


Juna tersedak coklat panas yang ia minum. “Apa kamu bilang tadi? Temanku?” Juna sangat terkejut dengan apa yang ditanyakan Kais, terlebih lagi itu pertanyaan lama, dia heran karena Kais masih mengingatnya.


“Ho, temanmu yang kata kamu dulu meminta saran dan akan mengutarakan perasaannya ke teman lamanya," jawab Kais dengan ekspresi santainya.


“Dia... eeemm, mengutarakan perasaannya... meskipun tidak secara langung, tapi saat itu juga dia ditolak. Dan sampai sekarang mereka masih terus bersahabat.” Juna mengutarakan jawabannya, tapi disisi lain dia juga takut salah bicara ketika menjawab pertanyaan Kais.


“Sayang sekali, tapi aku sangat yakin perempuan itu pasti sangat menyesali keputusannya yang dulu, lalu mungkin saat ini perempuan itu sedang berharap waktu dapat berputar kembali, jadi dia bisa langsung menerima perasaan laki-laki baik itu.” Saat mengatakan hal tersebut, Kais terus melempar senyumnya sembari menatap Juna.


“Kenapa kamu berfikiran dia ingin memutar kembali waktu?” tanya Juna yang sedikit kebingungan mendengar apa yang dikatakan Kais.


“Iya, karena belum tentu sekarang perasaan laki-laki itu masih sama seperti yang dulu,” jawab Kais dengan mudahnya.


“Haaahh... hei, kamu pikir laki-laki itu sangat mudah melupakan perasaannya? astaga... sebelum perempuan itu asal menebak, seharusnya dia mengamati dulu perilaku laki-laki itu. Kalau dia tetap hangat sama seperti dulu, itu artinya perasaan laki-laki itu tidak berubah, dan begitu juga sebaliknya,” jawab Juna yang tidak sadar sudah memberi sebuah jawaban, yaitu sesuatu yang membuat Kais penasaran selama ini.


“Aaa... jadi begitu, itu artinya aku masih ada kesempatan,” gumam Kais yang sedikit didengar oleh Juna.


“Eehh... kesempatan? Kesempatan apa yang kamu maksud?” tanya Juna balik yang mendengar gumaman Kais.


“Hah! Aaa... enggak kok bukan apa-apa, eeemm... Juna, aku mau ke kamar dulu karena sudah semakin larut, dan thank you untuk coklat panas nya,” ucap Kais yang beranjak dari tempat tersebut dan menuju ke kamarnya.


“Haaaahh... apa yang dia katakan tadi, sudahlah lebih baik aku juga ke kamar untuk istirahat,” gumam Juna sendiri.


Setelah Kais pergi ke kamarnya, sekarang giliran Juna yang pergi ke kamarnya, untuk istirahat.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2