
Sesampainya di BFN…..
Mereka langsung turun dari mobil dan berjalan menuju ke dalam. Juna masuk ke dalam ruang untuk menyaksikan otopsi seperti biasanya, sedangkan Kais masuk kedalam ruang otopsi, dan bersiap untuk melakukan otopsi.
2 jam kemudian….
Di ruang tunggu otopsi hanya tersisa Juna dan Yuyun sedangkan yang lainnya sudah kembali ke Kantor Polisi, otopsi yang dilaksanakan dari tadi akhirnya selesai. Terlihat para asisten Kais sedang membereskan setelah melakukan otopsi, sedangkan Kais sebagai Dokter utama yang telah melakukan otopsi langsung menghampiri Juna dan Yuyun dan akan menjelaskan detail yang sudah ia temukan.
Kais menghela nafas panjang. “Yuyun, aku akan jelaskan ke kamu,” celetuk Kais mengalihkan tatapannya Ke Yuyun.
“What! Tapi kenapa? Dokter, maksud saya... disini ada Kapten Juna. Kenapa gak Dokter sampaikan langsung ke dia,” tanya Yuyun cukup kaget.
“Aaah... kalau masalah itu, karena saya punya alasan tersendiri. Saya akan mulai jelaskan jadi dengarkan baik-baik,” ucap Kais tidak memberikan alasan yang pasti.
“Oke,” jawab Yuyun singkat.
Sementara itu Juna kembali duduk dengan tersenyum kecil dan dia hanya bisa menebak-nebak kenapa Kais tidak mau menjelaskan kepadanya, tapi malah menjelaskan ke Yuyun.
Beberapa menit kemudian…
“Iya Dok, saya paham dengan apa yang Dokter jelaskan. Kalau begitu kita permisi terlebih dahulu,” pamit Yuyun setelah cukup lama bercakap-cakap dengan Kais.
“Iya silakan,” jawab Kais dengan nada cukup ramah.
Yuyun menundukkan kepalanya sedikit dan keluar dari ruangan lebih dulu. Sebelum pergi dia memberi kode Juna kalau dia sudah melaksanakan tugasnya.
Juna berdiri dari tempat duduknya saat melihat Yuyun memberi sebuah kode. “Aku juga duluan,” pamitnya singkat.
“Apa? Hey! Tunggu dulu, cuma ngomong begitu doang?” sahut Kais menarik lengan Juna dengan cepat, sambil menunjukkan wajah cukup terkejut.
“Ho, memang apa lagi?” jawab Juna bingung.
“Kamu gak tanya alasan aku karena tidak mau menjelaskan ke kamu?” tanya Kais balik.
Juna menghela nafas singkat. “Baik, memang apa alasan kamu?” tanya nya.
“Karena aku... gak fokus, dan takut lupa semua kalau ngejelasin ke kamu sambil menatap mata kamu,” cetus Kais.
“Aaa... ternyata alasannya cuman sepele, oke aku mengerti. Lakukan yang menurut kamu paling terbaik, kalau begitu aku permisi mau kembali ke Kantor dulu,” tutur Juna menganggukkan kepalanya dan berbalik akan keluar dari ruangan.
“Aaa! Hampir lupa... kemungkinan nanti aku akan pulang malam, karena harus ke Bogor terlebih dahulu. Jadi jangan menungguku, dan langsung tidur, oke,” tambah Juna kembali membalikkan badannya sebelum pergi.
__ADS_1
“Tunggu dulu, mau ngapain kamu ke Bogor?” cetus Kais tiba-tiba kembali menarik lengan Juna yang akan pergi meninggalkannya.
“Aku ingin mencari sesuatu, bisa dikatakan itu sebuah bukti, tapi juga bisa dikatakan sebuah alibi,” jawab Juna dengan bahasa sulit dipahami.
“Apa? Chagi, tolong katakan dengan jelas,” balas Kais bingung.
“Intinya kamu jangan khawatir meskipun aku pulang terlambat... oke.” Juna melihat kiri dan kanan, lalu mecium kening istrinya itu, dan melangkah pergi keluar dari ruangan.
Dengan perasaan yang cukup khawatir, Kais hanya bisa menatap Juna pergi dari hadapannya. Tapi disisi lain dia juga tidak bisa melarang atau mencegahnya, karena dia sudah sangat hafal dengan sifat suaminya itu.
Juna kembali ke Kantor Polisi, dan mulai membahas mayat yang sudah mereka temukan. Selain itu mereka juga membahas tentang perkembangan Kasus pembunuhan permen mint. Tapi disisi lain, dia juga tidak mengatakan tentang sesuatu yang sudah ia selidiki bersama Jiny. Begitu pula dengan Jiny, tidak mengatakan apapun tentang penyelidikannya bersama Juna.
Setelah diskusi bersama tim, akhirnya Juna memutuskan pergi ke Bogor untuk menemui Pak Beni. Dengan mengendarai mobilnya sendiri ia segera berangkat ke Bogor sebelum hari semakin larut.
--Bogor, Ciwaringin--
2 jam setengah akhirnya Juna sampai di Rumah Pak Beni. Dia turun dari mobilnya dan kedua bola matanya seketika memutar, seakan ia ingin mengamati seluruh halaman rumah Pak Beni, sembari ia juga mencari keberadaan Pak Beni. Perlahan ia melangkah memasuki halaman luas rumah Pak Beni, dia melihat ke kiri dan ke kanan, tapi tetap tidak melihat Pak Beni.
Ketika akan memasuki teras Rumah Pak Beni tiba-tiba….
“Berhenti disana!” teriak seseorang yang suaranya sontak mengagetkan Juna.
Secara otomatis Juna langsung mengangkat kedua tangannya, tanda dia menyerah. “Saya... Juna, putra Kapten Arya, mendiang polisi yang meninggal karena rumahnya terbakar,” ucap Juna sembari perlahan membalikkan badannya.
“Ayah saya, sering membanggakan saya? Apa bapak mengenali saya?” tanya Juna balik.
“Jelas saya mengenali kamu, siapa yang gak kenal sama anak laki-laki satu-satunya Pak Arya.” Pak Beni mulai mendekat ke Juna.
Juna hanya menghela nafas dan membalas dengan senyuman kecilnya.
“Kalau begitu silakan masuk, kita lanjutkan ngobrol di dalam,” ujar Pak Beni menggandeng tangan Juna dan membimbingnya masuk kedalam rumahnya.
Mereka berdua masuk kedalam rumah Pak Beni. Di dalam rumahnya, Juna duduk dengan santai di sebuah kursi anyaman rotan yang cukup mewah berwarna coklat. Beberapa menit kemudian Pak Beni datang membawakan dua cangkir kopi, dan langsung disajikan di atas meja.
“Silakan diminum, ini kopi asli dari berkebunan dari sekitar sini. Semoga kamu suka rasanya,” celetuk Pak Beni yang ikut duduk di sebelah kursi depan Juna.
“Terimakasih Pak,” balas Juna yang langsung menyeruput kopi yang disajikan.
“Ada apa? Kamu kesini pasti ada alasannya kan? Jadi apa alasan kamu datang menemuhi saya?” ucap Pak Beni secara tiba-tiba.
“Emm... jadi begini Pak, saya ingin bertanya sesuatu sama Bapak, dan ini semua tentang pembunuhan berantai yang pernah di tangani Ayah saya dan tim nya. Apa Bapak bisa menjelaskan semua yang masih Bapak ingat.” Juna mulai mengatakan maksud dan tujuan dia datang ke menemuhi Pak Beni.
__ADS_1
“Baik, apa yang ingin kamu ketahui?” balas Pak Beni.
"Jadi begini Pak...." Juna mulai menjelaskan apa yang ingin dia tanyakan.
Pak Beni pun akhirnya menceritakan semua yang masih dia ingat, sesekali pula Juna juga bertanya kepada Pak Beni, tentang apa yang membuat dia penasaran.
40 menit kemudian...
Setelah berbicara dengan panjang lebar, dan semua pertanyaan sudah Juna tanyakan. Akhirnya ia mengakhiri perbincangan mereka berdua, karena hari semakin larut.
“Baik, kalau begitu saya permisi terlebih dahulu Pak. Karena hari juga semakin larut, Bapak juga harus istirahat,” pamit Juna berdiri dari kursi yang ia duduki dari tadi.
“Aaah, ia sudah tidak berasa sudah jam segini. Kamu mau langsung pulang? Karena sudah larut, apa kamu tidak mau menginap disini saja dulu, dan pulang besok pagi.” Pak Beni mengikuti Juna, ia juga ikut berdiri dari tempat duduknya.
“Terimakasih banyak Pak, tapi tidak perlu. Saya masih kuat mengemudi sampai rumah, dan juga saya gak mau merepotkan Bapak,” balas Juna.
“Baiklah kalau memang itu keputusan kamu, biar saya antar sampai depan.” Pak Beni berjalan mendekati Juna dan berjalan keluar lebih dulu.
Sesampainya di gerbang depan Juna kembali berpamitan sebelum masuk kedalam mobil. “Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu Pak, dan terimakasih untuk semuanya,” ucap Juna menundukkan sedikit kepalanya.
“Iya, sama-sama,” balas Pak Beni, diiringi senyum kecilnya.
Beranjak dari hadapan Pak Beni, Juna langsung masuk kedalam mobil. Dia segera menancap gas mobilnya pulang menuju rumahnya.
Beberapa jam kemudian...
Juna akhirnya sampai di apartemennya, dia segera masuk kedalam. Begitu membuka pintu, ia melihat keadaan ruangannya gelap dan hening, karena jarum pada jam dinding juga sudah menunjukkan pukul 00.25.
Karena ia cukup lelah, tanpa sadar ia langsung membanting badannya ke sofa panjang yang ada di ruang tamu.
Keesokan harinya...
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.