
“Pasti ada yang kamu sembunyiin kan dari aku? Tentang apa? Cepat kasih tahu, atau aku gak akan pernah memaafkan kamu,” tambah Kais dengan kedua alis yang terlihat hampir menyatu.
Juna menatap kedua mata istrinya itu dengan sangat dalam, kemudian dia segera memeluknya. “Oke, tapi biarkan aku menobati luka aku dulu,” ucap Juna sembari terus memeluk Kais dengan sangat erat.
Setelah mendengar ucapan Juna, Kais segera melepaskan dirinya dari dekapan kedua tangan suaminya itu. “Jadi luka kamu ini belum diobati? Kan aku sudah bilang kamu harus---.” Kata-kata Kais kembali terpotong karena tindakan yang dilakukan Juna.
“Aku tahu aku harus mengobatinya dengan segera... Tapi yang aku maksud bukan itu,” sambung Juna.
“Lalu apa yang kamu maksud?” Dengan wajah datar, Kais merasa bingung dengan apa yang diucapkan suaminya itu.
Perlahan Juna mulai melepaskan pelukannya. “Aku sudah menangkap orang yang membunuh Keysa. Setelah mendengar yang dia ucapkan... Aku merasa gagal sebagai seorang polisi, sekaligus merasa gagal sebagai kakak ipar.” Juna seketika menunduk, waktu mulai menceritakan beban yang ada dihati nya.
“Kamu sudah menangkap b*jing*n itu? Tunggu dulu... Jadi maksud kamu, semua luka kamu ini disebabkan oleh b*jing*n itu? Aku harus datang ke kantor polisi besok, aku mau bertanya langsung kepadanya.” Seketika wajah Kais terlihat sangat marah, kedua alisnya langsung menyatu dan matanya seketika terbuka lebar saat mendengar ucapan suaminya.
“Gak bisa, aku gak akan memperbolehkan kamu bertemu dengannya langsung. Aku takut kamu akan semakin terluka kalau mendengar ucapannya,” balas Juna mengalihkan tatapannya ke Kais yang ada disebelahnya.
“Tapi aku sangat ingin bertanya kenapa menjadikan Keysa sebagai target? Kenapa harus Keysa? Memang Keysa pernah berbuat apa ke dia? Kenapa---.” Kais mulai meneteskan air matanya, saat mengatakan apa yang ada didalam hatinya.
Melihat istrinya mulai menyekah air mata yang terjatuh, Juna perlahan mengeluarkan sebuah benda kecil dari kantong celananya. “Kalau kamu ingin mengetahui alasannya, kamu bisa melihat vidio rekaman ini. Meskipun sama-sama akan merasa sakit setelah menontonnya, tapi seenggaknya kamu gak perlu ketemu langsung dengannya,” ucapnya sembari menyodorkan sebuah flashdisk ke istrinya yang masih terlihat sesenggukan.
“Tapi kalau kamu ragu lebih baik enggak usah,” tambah Juna yang terlihat kembali akan memasukkan kedalam kantong celananya.
“Enggak, aku... Tetap ingin melihatnya.” Dengan gerakan cepat Kais langsung menyambar flashdisk dari tangan suaminya, dan dengan langkah cepat pergi mendekati laptopnya yang ada di kamarnya.
Melihat sifat istrinya yang sudah membulatkan keinginan, Juna hanya menunduk lesuh. Dia hanya bisa menatap punggung istrinya yang melangkah pergi.
Kamar~
Sesampainya di kamar, Kais mulai mengambil laptop dan duduk di atas tempat tidurnya. Dengan bersandar dia mulai membuka laptopnya, dan memasang flashdisk ke laptop yang sudah ia pegang.
Setelah masuk disebuah folder, Kais menemukan sebuah vidio yang sudah dikatakan Juna sebelumnya.
Sesudah menontonnya beberapa menit, air mata Kais kembali menetes. Tidak hanya itu, dia semakin sesenggukan setelah menonton seluruh durasi vidionya.
Mendengar suara tangisan Kais semakin menyesakkan, Juna segera menghampirinya yang ada di atas tempat tidur, dan langsung memeluknya dengan cepat.
__ADS_1
“Sudah jangan dilihat lagi, kamu gak perlu menderita lagi. Biarkan aku yang menyelesaikan semuanya.” Dengan kedua tangannya, Juna memeluk erat sang istri dengan penuh cinta. Sedangkan satu tangannya mencoba menenangkan istrinya dengan membelai lembut kepala belakangnya, dan tangan lainnya menepuk-nepuk pelan punggung sang istri.
“Dia benar-benar b*jing*n, aku harus bagaimana chagi... Kasihan Keysa... a... a... Dia kehilangan nyawanya gara-gara manusia br*ngs*k seperti itu,” kata Kais sembari terus nagis sesenggukan.
Dengan kedua tangan yang masih mendekap Kais dalam pelukannya. Juna mengatakan, “Itu sebabnya dari awal aku sudah bilang, kamu jangan melihatnya. Cukup aku saja yang mengurusnya, serahkan semuanya pada ku. Seperti yang dikatakan Keysa, aku akan selalu melindungi kamu.”
Merasa Kais sudah merasa sedikit tenang, Juna perlahan melepaskan pelukannya. “Kamu tunggu disini dulu, aku sudah buatin coklat panas buat kamu.” Juna turun dari tempat tidurnya, dan melangkah keluar kamar.
Sementara Kais hanya menjawab Juna dengan anggukan kepalanya. Sebelum Juna kembali, Kais hanya menunggu dengan tenang dan hanya menyandarkan punggungnya di tepian tempat tidurnya.
Beberapa detik kemudian, Juna kembali masuk ke kamar dan naik ke atas tempat tidur dengan membawa segelas coklat panas. “Ini kamu minum pelan-pelan, karena masih sedikit panas.” Juna memberikan gelas yang berisi coklat panas ke istrinya yang baru terlihat tenang.
Setelah menatap istrinya beberapa saat, Juna kembali mengambil laptop yang tadi dia singkirkan. Juna mulai membuka laptop dengan bermaksud ingin mengirim email kepada seseorang.
“Kamu mau ngapain?” celetuk Kais yang masih duduk disebelah Juna.
“Aku mau mengirim email ke Baesik untuk menyelidiki seseorang,” balas Juna yang masih fokus ke arah layar laptop yang ada dihadapannya.
Sebari menyeruput coklat panas yang ada di gelas, Kais mulai bertanya ke Juna, “Apa ini ada hubungannya dengan pelaku?”
“Heem,” sahut Kais sambil menganggukkan kepalanya, dia juga menyerahkan gelas yang dari tadi dia pegang ke Juna yang ada disebelahnya sebelum merebahkan badannya.
Tanpa berpikir panjang Juna segera menerima gelas yang disodorkan kearahnya, dan meletakkan di meja sebelah tempat tidurnya. Setelah menyelesaikan urusannya Juna meletakkan laptopnya, dan ikut merebahkan badannya disebelah istrinya.
Melihat Juna yang ikut tidur disebelahnya, Kais yang merasa suasana hatinya kurang baik saat itu, langsung menautkan lengannya ke badan Juna. Melihat perlakuan istrinya saat itu, Juna hanya bisa membalasnya dengan perlakuan yang sama.
Keesokan Harinya~
Dipagi yang cerah Juna mulai terbangun dari tidurnya, dengan kedua mata yang masih tertutup, dia mencoba merabah-rabah bantal yang ada disebelahnya. Merasa tidak menemukan yang dia cari, dia segera membuka kedua matanya, dan benar seperti dugaannya kalau disebelahnya memang sudah tidak ada yang dia cari.
Akhirnya Juna memutuskan turun dari tempat tidurnya, dan saat dia akan pergi ke kamar mandi, dia tiba-tiba mencium bau makanan yang terasa lezat dibenaknya.
Bau lezat yang dicium Juna pun berhasil membuatnya mengalihkan langkahnya menuju dapur. Sesampainya ia di dapur, Juna melihat sesosok perempuan yang sedang asik memasak didapur sembari membaca buku resep.
Tanpa rasa keraguan, Juna segera melangkah mendekati perempuan yang dia lihat, dan memeluknya dari belakang. “Kamu ngapain?” ucapnya cukup mengejutkan perempuan yang ia peluk.
__ADS_1
“Kamu sudah bangun? Kalau begitu kamu tunggu sebentar, lauknya akan segera siap,” balas Kais yang langsung menoleh ke arah bahu kanannya, tempat Juna menyenderkan dagunya.
Bukan mengejutkan lagi, kalau ternyata orang yang dipeluk Juna dari belakang adalah Kais. Sedangkan Juna sendiri hanya bersikap manja seperti biasanya, seolah semalam tidak terjadi apapun dan tidak melihat apapun.
“Aku enggak mau, aku akan seperti ini sampai kamu selesai masak,” sahut Juna yang masih terus menggelayut manja pada istrinya.
“Yaa~ Kalau kamu seperti ini terus kapan selesainya?” Dengan kedua tangannya, Kais mencoba melepaskan tautan tangan sang suami yang masih melilit di pinggangnya.
“Kamu tunggu dengan duduk disana, aku akan pindahkan ini ke mangkok dulu,” tunjuk Kais ke arah kursi yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
“Oke,” balas Juna dengan sangat patuh.
Juna melangkah menuju kursi yang dimaksud Kais, dan langsung duduk di kursi itu. Sementara Kais masih sibuk memindahkan lauk dan sebuah sup rumput laut yang sudah dia masak ke mangkok yang berukuran sedang.
Setelah semua lauk tertata rapih, Juna memperlihatkan ekspresi yang aneh. “Kamu kenapa? Ada yang salah sama masakan aku?” tanya Kais.
“Enggak, aku cuman bingung kenapa kamu masak sup rumput laut? Apa ada yang berulang tahun hari ini? Tapi setahu aku hari ini bukan hari ulang tahun kamu, dan juga bukan ulang tahun Keysa. Lalu buat apa---.” Sambil mengerutkan dahi, Juna mencoba menjelaskan rasa bingung yang memenuhi kepalanya.
“Untuk ungkapan rasa syukur, karena kamu pulang dengan keadaan luka yang tidak terlalu parah setelah menangkap pelaku yang sudah merenggut nyawa Keysa. Selain itu untuk kamu yang masih ada di samping aku sampai saat ini, dan menepati janji kamu kepada Keysa,” sahut Kais menjawab semua keraguan yang ada dikepala Juna saat itu.
Mendengar kata-kata yang dilontarkan istrinya, Juna hanya mampu menjawabnya dengan senyuman kecil dibibirnya. “Kalau begitu, aku harus menghabiskan semuanya,” ucapnya yang langsung mengganti sumpit dengan sebuah sendok, dan mulai memakan makanan yang ada dihadapannya dengan sangat lahap.
Beberapa menit kemudian sebelum semua makanan yang ada dihadapannya habis, Juna mendapatkan pesan dari….
.
.
.
.
.
Bersambung~
__ADS_1