
Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Juna segera mengambil laptop Jihan. Dia mulai membukanya, dan langsung membuka satu-persatu email dari Baesik. Kedua matanya langsung terbelalak setelah membaca satu file yang menunjukkan bahwa terdapat suatu bukti kuat yang menyatakan kalau nama asli Charly dari ia lahir adalah Candra.
Bukan hanya itu, satu file lainnya yang dikirim Baesik menunjukkan silsilah keluar Charly yang selama ini dia sembunyikan. Tidak hanya itu saja, file lainnya juga terdapat semua catatan kejahatan yang pernah dilakukan Charly sebelum mengubah namanya, dan yang selama ini dia tutupi dari semua orang.
“Dia benar-benar psikopat,” batin Juna menyibakkan rambutnya, karena merasa semakin kesal setelah membaca semua file yang dikirim Baesik.
“Tapi dengan semua bukti ini, masih belum cukup untuk membuktikan dia bersalah, dan menghukumnya menjadi pelaku pembunuhan berantai yang sebenarnya,” gumamnya dalam hati.
Ditengah-tengah mengerjakan pekerjaan, Jihan menatap ke arah adiknya yang dari tadi tidak bersuara. “Juna! Are you ok?” ucap Jihan.
“Ho?! Ho, aku baik-baik saja,” balas Juna sedikit terkejut dengan sapaan sang Kakak.
“Juna, Kakak ini sudah hidup sama kamu selama bertahun-tahun, jadi Kakak tahu pasti ada yang kamu sembunyikan dari Kakak kan?” jawab Jihan.
Juna menutup laptop yang ada dihadapannya, dan sesuai perkataan Kakaknya, dia mengembalikan ke tempatnya semula. Bermaksud untuk menceritakan masalahnya, Juna berjalan mendekati sang Kakak dan duduk di kursi yang ada disebelah Kakaknya.
“Jadi begini Kak, baru-baru ini aku sudah menangkap orang yang tertuduh sebagai pembunuhan berantai, tapi aku sendiri belum yakin kalau dia adalah pelaku sebenarnya. Karena firasat aku mengatakan ada sesuatu yang janggal.” Tatapan Juna yang kusut sembari menceritakan keluh kesahnya semakin menunjukkan kebingungan yang ada di hati dan pikirannya.
“Terus baru-baru ini aku juga baru tahu kalau Charly adalah Candra, anak dari pelaku pembunuhan yang ditangkap ayah bertahun-tahun yang lalu. Tidak hanya itu, Ayah dan sahabatnya adalah penyokong hidup dia,” jelas Juna melanjutkan ceritanya.
Jihan langsung menghentikan kesibukannya, dan menatap Juna yang ada disebelahnya. “Tunggu, Ayah penyokong hidup anak dari seorang pembunuh? Dari mana kamu tahu? Sampai mana kamu menyelidikinya?” pekik Jihan terkejut.
“Dari Pak Beni, sahabat Ayah yang masih hidup. Ayah bekerja sama dengan Pak Beni untuk menyekolahkan Candra. Baru saat Ayah meninggal, Pak Beni yang melanjutkannya,” jawab Juna.
“Lalu kenapa Ayah dan sahabatnya melakukan hal yang tidak perlu seperti itu? Apa alasannya?” tanya Jihan kembali.
Sebelum melanjutkan ceritanya, Juna menghembuskan nafas beratnya. “Karena Ayah merasa bersalah, setelah salah menangkap dan menghukum Ayah Candra,” sambungnya.
“Heee?! What...? Jadi maksud kamu Ayah melakukan salah tangkap orang yang tidak bersalah, lalu menghukumnya. Lalu dia merasa bersalah, dan dengan sahabatnya... Dia membiayai anaknya sampai lulus sekolah? Begitu?” Seketika Jihan memasang komuk yang bingung sekaligus terkejut.
“Heem, aku sendiri sangat terkejut dan tidak percara terhadap apa yang Ayah lakukan. Karena itu kebakaran yang terjadi di rumah kita, kematian Keysa, dan pembunuhan yang terjadi baru-baru ini, aku curiga semua ini dilakukan oleh Candra alias Charly ini, tapi dia mengkambing hitamkan orang lain.” Juna kembali menjelaskan apa yang dia simpan selama ini.
“Terus kecurigaan kamu ini gak ada bukti kuatnya, makanya kamu bimbang sampai seperti ini?” Sebagai Kakak yang bertahun-tahun hidup dengan Juna, Jihan langsung mengetahui apa yang ada dipikiran Juna, setelah mendengar ceritanya.
__ADS_1
Juna seketika menghela nafas beratnya, untuk mengurangi beban yang dia pikirkan. “Itu dia. Aku punya semua bukti catatan kejahatan yang selama ini dia sembunyikan, tapi aku gak punya bukti yang menyatakan kalau dia pelaku pembunuhan berantai, pelaku yang membunuh Keysa, dan orang yang membakar rumah kita,” jawab Juna yang semakin terlihat bingung.
“Kenapa kamu gak minta tolong sama anggota tim yang lainnya? Minta mereka kerja sama sama kamu, tapi tidak ngasih tahu Charly?” usul Jihan setelah melihat kebingungan diwajah adiknya itu.
“Masalahnya, aku di Kantor Polisi ini orang baru. Kalau sampai merencanakan sesuatu, dan rencana itu gagal... Menurut Kakak siapa yang lebih dipercaya?” Juna mengerutkan alisnya setelah mendengar rencana yang diusulkan Kakaknya.
“Iya juga. Terus bagaimana kamu mau mengatasi semua ini?” balas Jihan kembali.
“Aku berencana meminta bantuan ke Baesik, untuk mendatangkan tim khusus yang pernah aku bentuk dulu, untuk melakukan misi jebakan. Lalu setelah punya bukti yang kuat, baru melibatkan tim ku yang sekarang,” ucap Juna sangat yakin dengan rencana yang dia buat.
Jihan kembali melakukan pekerjaannya, sembari masih melanjutkan pembicaraannya dengan adiknya. “Hey, kalau kamu sampai meminta bantuan Baesik, dan mendatangkan tim khusus... Bukannya misi yang akan kamu lakukan ini terlihat sangat berbahaya?” ucapnya.
Mereka berdua yang sedang asik berdiskusi, tiba-tiba saja dikejutkan oleh kedatangan Kais yang langsung membuka pintu ruangan Jihan, tanpa sapaan sedikitpun.
“Bahaya? Misi apa yang akan kamu lakukan?” celetuk Kais setelah mendengar pembicaraan suami dan Kakak iparnya.
Kedua mata Juna seketika terbelalak, dia pun sampai berdiri dari kursi yang dia duduki. “Chagi, sejak kapan kamu ada disana? Kamu mendengarkan semua yang kita katakan?” tanyanya.
Karena desakan dari Kais, Juna semakin bingung mau menjawab apa. Kedua matanya mulai tidak fokus, dia memutar kedua bola matanya ke kiri dan ke kanan, memikirkan jawaban apa yang akan dia berikan.
“Sudahlah kalau kamu memang gak mau jawab, aku gak akan maksa. Tapi aku berharap, sebelum kamu bertindak sudah menceritakan semuanya sama aku,” ujar Kais menghentikan desakannya.
“Oh iya Kak, aku kesini sebenarnya mau ambil sampel yang aku serahkan kemarin sore. Apa udah selesai?” Karena tidak mendapatkan jawaban, Kais akhirnya mengalihkan kembali ke perkerjaannya.
“Ah... Ini, sudah aku analisa semuanya.” Jihan berdiri dari kursinya, dan mengambil beberapa lembar kertas yang ada di atas mejanya.
“Oke, kalau begitu aku kembali ke ruangan ku dulu.” Kais membalik badannya, kedua tangannya sudah siap membuka handel pintu, tapi dia tiba-tiba menghentikan tangannya.
Tiba-tiba Kais kembali membalik badannya ke arah Juna berdiri, dengan tatapan tajamnya dia mengatakan, “ Kamu! Aku kasih waktu sampai nanti malam, kalau sampai belum cerita juga... Sebaiknya kamu tidur di sofa!” ucapnya dengan marah, hingga hampir menyatukan kedua alisnya.
Wajah kusut Kais mengiringi langkahnya keluar dari ruangan, pintu yang tidak berdosa pun juga jadi perantara amarahnya.
Kepergian Kais dengan nada marah, membuat Jihan sedikit terkejut, hingga kedua matanya masih belum bisa berhenti menatap ke arah pintu. “Waw... Ini sebabnya aku harus memikirkan 1000x sebelum memutuskan untuk menikah,” gumamnya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Hey! Sebaiknya kamu ceritakan semuanya ke adik ipar. Karena aku tahu gimana khawatirnya dia, melepas orang yang dia cintai ke medan perang yang penuh bahaya,” saran Jihan, kembali duduk di kursinya.
“Ho, aku juga sudah berniat mau menceritakan. Yasudah kalau begitu aku balik ke Kantor Polisi dulu,” pamit Juna melenggang pergi meninggalkan ruangan Jihan.
Jihan yang kembali fokus dengan pekerjaannya, hanya menghela nafas berat mengiringi kepergian Juna dari ruangannya.
Hari terus berlalu, langit yang sebelumnya cerah kini sudah berubah menjadi warna jingga, itu artinya tim golden time harus berpisah. Karena tidak ada kasus mendadak, Juna dan seluruh tim nya pulang lebih awal.
Juna yang sudah lelah dan letih, dia pulang dengan pakaian yang sudah tidak rapih. Tanpa memerdulikan omongan orang lain, dia memasuki apartemennya dengan menenteng jaket yang biasa dia gunakan.
Sesampainya di kamar, Juna langsung membanting badannya di atas kasur yang empuk, didukung lampu ruangan yang belum ia nyalakan, seketika Juna terlelap dalam tidurnya.
1 Jam kemudian....
Karena pekerjaannya yang lumayan banyak, Kais baru sampai di apartemennya saat langit sudah berubah menjadi gelap. Kedua bola matanya menyusuri rungan, dia tidak menemukan tanda-tanda kehidupan satupun.
Semua lampu yang ada di rungan masih dalam kondisi mati, secara otomatis dia mulai menyalakan semua lampu yang ada di ruangan.
Sesampainya di kamar, dia juga tidak lupa menyalakan lampu kamarnya. Disitulah dia merasa sedikit terkejut, sesosok laki-laki tinggi dan berwajah v line sudah terlentang di atas kasurnya.
Dilihat dari jauh pun dia sudah mengetahuinya, kalau itu adalah….
.
.
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1