
Sementara Kais yang akan keluar dari ruang ganti tiba-tiba membeku setelah berpapasan dengan Juna yang tidak mengenakan sehelai kain pun di tubuhnya.
“Hei, kenapa kamu gak pakai handuk? Haaaaiisss... dasar cabul, cepat pakai ini! Jangan berkeliaran dengan penampilan seperti itu.” Perlahan Kais mulai terbangun dari lamunannya, dia dengan cepat membalik badannya, dan meraih satu baju yang tergantung untuk diberikan ke sang suami yang tubuhnya terekspos dengan bebas.
“Ca... cabul? Chagi, kamu bilang aku cabul? Tapi aku kan... aku kan suami kamu? Kamu juga sudah sering lihat kenapa kamu masih terkejut?” jawab Juna sedikit merasa heran.
“Ya tetap aja, seharusnya kamu jangan berkeliaran tanpa busana seperti itu! Untung disini cuman ada aku, gimana kalau ada orang lain disini? Kamu mau memperlihatkan semua itu ke orang lain! Haaaiiss... cepat pakai baju kamu, aku keluar dulu.” Kais terus saja mengeluarkan omelannya tanpa menatap ke arah Juna yang ada dihadapannya.
“Heeiisssh... kenapa disini jadi panas banget, padahal AC nya sudah nyala,” gumam Kais yang perlahan melangkah keluar ruangan.
“Apa itu tadi? Dia marah, tapi wajahnya memerah?” Kekeh Juna dengan smirk andalannya.
Beberapa menit kemudian....
“Chagi!! Aku berangkat ke Kantor duluan!” teriak Kais dari ruang tengah.
“Hei tunggu dulu! Kamu mau berangkat naik apa? Karna mobil itu akan diminta kantor nanti jam 9,” sahut Juna yang langsung menghampiri sang istri.
“Oh ya? Terus kamu nanti berangkat naik apa dong?” tanya Kais balik.
“Kalau masalah itu kamu gak usah khawatir, aku sudah atur semuanya. Eeem... gimana kalau kamu pesan taxi online aja, biar gak perlu nunggu lama,” balas Juna mencoba memberikan solusi.
“Yasudah kalau begitu,” jawab Kais menyetujui solusi yang diberikan sang suami.
Sembari memaikan hp nya, Juna menanggapi ucapan sang istri dengan tindakan inisiatifnya. “Heem... Aku sudah pesanin taxi online nya, bentar lagi juga datang.”
“Yasudah kalau begitu biar aku tunggu diluar saja,” ujar Kais melangkah pergi.
“Heem, itu lebih baik,” sahut Juna.
Beberapa menit kemudian....
Hp Juna yang masih dia pegang tiba-tiba berdering, saat Juna mengecek siapa yang meneleponnya, dia melihat nama Baesik yang muncul pada layar hp nya.
Tanpa menunda lagi, dia segera menjawab panggilan telepon tersebut. Dalam pembicaraan mereka yang cukup lama membahas tentang rencana pertemuan mereka, dan tempat dimana Baesik beserta tim khusus lainnya menginap.
Tepat setelah perbincangan mereka berakhir, dari luar rumah terdengar suara orang berteriak, “Permisii!! Apa ada orang di rumah!!”
__ADS_1
Juna yang mendengar suara tersebut segera berlari keluar rumah. “Iya Pak. Sebentar saya bukakan pagar nya terlebih dahulu,” sahut Juna, perlahan membuka pagar rumahnya.
Setelah pagar yang cukup lebar terbuka sebagian, orang yang bertamu ke rumah baru Juna tersebut segera menyampaikan maksud kedatangannya. “Apa benar ini kediaman Bapak Bae Juna?” tanya nya.
“Iya benar. Ahh... jadi Bapak kesini mau nganterin mobil? Kalau begitu biar saya buka seluruh pagarnya terlebih dahulu,” tebak Juna sembari menatap ke arah 2 truk besar yang membawa 2 mobil yang sudah dia pesan.
Secara perlahan Juna menggeser pagar yang berukuran cukup tinggi itu sendirian, dengan wajah yang terlihat sedikit kelelahan Juna mempersilahkan pengantar mobil mulai memindahkan mobil pesanannya.
Satu persatu mobil pesanan Juna diturunkan dari truk yang mengangkutnya, dan dua petugas pengantar mobil mulai memasukkannya kedalam halaman rumah baru Juna.
“Permisi Pak, tolong tanda tangannya,” celetuk kurir mobil, sambil menyodorkan map terbuka yang sudah berisi kertas.
“Ah, baik,” balas Juna meraih map yang diberikan Pak kurir.
“Seperti rencana awal, semua surat-suratnya diuruskan sekalian kan Pak?” tambah Juna.
“Iya sesuai perjanjian awal, surat-suratnya akan kami urus sekalian. Semua urusan balik namanya akan selesai dalam waktu 1 bulanan, jadi kalau semuanya sudah selesai kita akan mengantarnya langsung.” Pak Kurir pengantar mobil mulai menjelaskan dengan sangat jelas tentang apa yang ditanyakan Juna.
Juna memang sengaja membeli mobil bekas, supaya bisa langsung digunakan. Selain itu, karena tabungannya sudah mulai menipis, dia juga harus mempertimbangkan harga dari mobil yang dia beli.
Setelah urusan selesai, Pak kurir yang mengantarkan mobil pun segera meninggalkan rumah Juna. Sementara Juna sendiri kembali masuk kedalam rumahnya, dia terlihat kembali menatap hp nya.
Ada 2 jenis mobil yang baru dia beli, yang akan dia gunakan sendiri adalah mobil SUV berwarna merah darah, dan satu mobil lainnya yang dia berikan kepada sang istri adalah mobil sejenis mini coper berwarna biru laut.
Sesampainya di Kantor Polisi~
Juna tidak langsung menuju ruangannya, melainkan dia menelepon Eunbyul dari dalam mobilnya.
Beberapa menit kemudian....
Eunbyul yang sudah datang langsung masuk kedalam mobil Juna, tidak lupa pula dia juga menutup pintunya. “Ada urusan apa kamu manggil aku kesini? Kenapa gak langsung masuk ke ruangan?” cecar Eunbyul dengan pertanyaan yang sudah dia tahan sejak mendapat telepon dari Juna.
“Aku akan berhenti dari Kantor Polisi ini,” balas Juna dengan singkat.
“What!! Kenapa? Bukan, maksud aku... kalau kamu berhenti gara-gara ucapan aku sebelumnya, aku minta maaf. Kamu gak perlu mengambil tindakan seperti ini,” pekik Eunbyul, seketika kedua matanya terbuka lebar setelah mendengar ucapan Juna.
“Bukan karena itu, tapi karena masalah lain. Ada hal lain yang harus aku lakukan, dan aku kesini mau minta tolong sama kamu,” jawab Juna.
__ADS_1
“Apa?” sahut Eunbyul dengan cepat menjawab permintaan Juna.
“Tolong kasih tau semua kegiatan tim golden time setelah aku keluar, dan kalau pada saatnya nanti aku minta bantuan ke kalian... Tolong bantu aku,” sambung Juna.
“Hei, sebenarnya apa yang mau kamu lakukan? Bantuan? Kapan kamu butuh? Kalau kamu gak katakan semua rencana kamu, gimana aku mau mewujudkannya?” balas Eunbyul sambil menghela nafas.
“Renca ini lumayan berbahaya, jadi sebaiknya kamu...-” Ketika akan menjelaskan lebih lanjut, perkataan Juna kembali dipotong oleh Eunbyul. “Kamu apa? Aku gak boleh tahu?”.
Melampiaskan rasa kesalnya Eunbyul menghela nafas berat sebelum melanjutkan kata-katanya. “Juna, kamu minta tolong pun pasti berkaitan dengan hal berbahaya. Jadi apa bedanya aku tahu setengah, seperempat, atau seluruhnya?” sambungnya.
“Jadi katakan rencana kamu seluruhnya, atau aku gak akan bantu sama sekali,” tambah Eunbyul dengan wajah sedikit kusut.
“Oke aku akan ceritakan semuanya, tapi kamu harus janji jangan bilang sama siapapun,” ucap Juna.
Saat itu dan diwaktu itu juga Juna mulai menceritakan semua yang dia rencanakan, termasuk hal yang melibatkan pasukan khusus yang akan dia datangkan dari Seoul.
Beberapa menit kemudian....
Sesudah mendengar rencana Juna, Eunbyul kembali menghela nafas. “Hei, rencana kamu itu... sangat berbahaya. Kalau sampai gagal….” Eunbyul terlihat menghela nafas untuk kesekian kalinya, setelah menyampaikan tanggapannya.
“Karena itu jangan sampai gagal, dan untuk memperkecil kegagalan, aku sangat membutuhkan bantuan kamu. Kalau kamu mau, kamu bisa datang ke rumah aku saat ada Baesik dan yang lainnya, tapi kalau kamu merasa kurang nyaman kita bisa ketemu diluar seperti ini,” jelas Juna kepada Eunbyul.
“Kamu tenang aja, aku sudah baik-baik saja. Justru aku malah takut gak enak sama istri kamu,” balas Eunbyul.
“Masalah Kais kamu gak usah pikirkan, dia juga pasti ngerti kalau masalah pekerjaan. Kalau begitu begini saja, kamu bisa datang saat kita semua sedang meeting. Jadi kamu gak perlu merasa gak enak,” kata Juna.
“Oke gitu aja kalau begitu,” angguk Eunbyul.
“Oh, udah jam segini. Aku harus kembali, kalau kelamaan aku bisa dicariin. Kamu tenang aja soal permintaan kamu tadi, akan aku lakuan secara diam-diam. Kalau begitu aku kembali dulu.” Eunbyul pun turun dari mobil Juna, tidak lupa pula dia juga izin meninggalkan mobil sebelum turun dari mobil.
“Oke,” jawab Juna dengan senyum kecilnya.
Setelah Eunbyul terlihat sudah masuk kedalam Kantor, selanjutnya Juna juga mengikuti masuk ke dalam Kantor. Berbeda dengan Eunbyul yang masuk ke ruangan tim nya, Juna malah menuju ruangan….
.
.
__ADS_1
.
Bersambung~