Love And Mystery

Love And Mystery
-39- Kecil Tak Berdosa Mengalami Hal Pahit


__ADS_3

Setelah sampai diruang penyimpanan mayat, dr. Jonny langsung mengeluarkan mayat yang ingin dilihat Juna dari dalam pendingin. Juna mulai menyentuh mayat itu, dan disaat itu pula dia mendapatkan petunjuk baru. Ternyata dia adalah penjual senjata palu besar milik pelaku yang sempat dia lawan di gua.


Sontak Juna langsung terkejut mengetahui hal itu, hingga membuatnya terdiam sejenak.


“Apa Kapten Juna tidak apa-apa?” tanya dr. Jonny menatap ke arah Juna.


“Ye! Aaah... saya tidak apa-apa,” jawab Juna sembari menebar senyumnya.


“Oh, Kais! Ternyata benar kamu juga bekerja disini,” celetuk dr. Jonny secara tiba-tiba yang mengenal Kais yang baru masuk ke ruangan.


“Jonny, kenapa kamu bisa ada disini?” sambut Kais dengan bingung melihat dr. Jonny.


“Aaah... itu karena aku memang sudah pindah ke Indonesia sejak 2 tahun yang lalu, tapi pada awalnya gak berada di Jakarta,” balas dr. Jonny.


Ketika mereka berdua sedang berbincang, tiba-tiba hp Juna berdering. “Dreeett... dreeettt... dreettt….”


“Ho, ada apa?” jawab Juna.


“Kap, terjadi kasus penganiyayaan. Seorang anak laki-laki bernama Rudi berusia 7 th menelepon, dia di tusuk oleh ibu kandungnya sendiri, dan dia sedang bersembunyi disebuah mesin cuci.” Dengan cepat Kokoh melaporkan sebuah kasus terbaru yang tiba-tiba terjadi.


“Baik, aku akan segera kesana. Beritahu kejadian lengkapnya melalui mini phone,” ucap Juna langsung menutup teleponnya.


“Aaa... maaf semuanya saya harus segera pergi, karena ada kasus mendadak,” pamit Juna menghampiri kedua Dokter yang tadinya sedang berbincang.


“Oh, baik kalau bagitu Kap,” jawab dr. Jonny.


"Hati-hati, jangan sampai terluka,” celetuk Kais meraih tangan Juna.


“Heem,” balas Juna dengan anggukan kepalanya dan senyumannya. Lalu dia segera berlari pergi keluar dari ruangan itu.


“Kamu kenal dia secara pribadi?” tanya dr. Jonny melihat interaksi Kais dengan Juna.


“Heem, dia... dia sahabatku. Tapi dia juga orang terpenting dalam hidupku saat ini,” ujar Kais yang sempat bingung harus menjawab apa.


*****


20 menit sebelum terjadi penyerangan terhadap anak bernama Rudi….


Seorang anak bernama rudi tangannya diseret oleh Ibu nya ke sebuah kamar mandi, dengan masih menggunakan kaos dalam bermotif bintang-bintang, dia suruh masuk ke dalam bak mandi, lalu sang Ibu menguyur anaknya tersebut menggunakan shower.


“kamu harus mandi! Kamu harus bersih sebentar lagi Ayah kamu pulang!” cetus sang Ibu sembari terus menggosokkan sebuah spons mandi ke badan Rudi.


“Kamu lakukan sendiri, saat Ibu kembali ke sini kamu harus sudah dalam keadaan bersih,” tambah sang Ibu pergi meninggalkan anaknya di dalam bak mandi.


1 menit kemudian….

__ADS_1


“Kenapa kamu belum bersih juga, kenapa kamu gak nurut perkataan Ibu!” bentak sang Ibu datang dengan membawa senjata tajam.


“Ampun Bu, maafkan aku... maafkan aku, aku janji akan mandi lagi hingga bersih,” mohon anak yang bernama Rudi itu.


“Terlambat! Ayah kamu sudah pergi, karena melihat anaknya yang kotor seperti ini!!” teriak sang Ibu bertambah marah.


“Ampun Bu... ampun... Rudi janji gak akan mengulanginya lagi,” mohon Rudi sembari terus menggesek-kesekkan kedua tangannya, air matanya mulai menetes.


“Kamu benar-benar anak gak tau terimakasih, gara-gara kamu... Ayah kamu pergi, hingga tidak bisa menemui kita lagi!!! Karena itu sebaiknya kamu menyusul dia sekarang!” Senjata tajam yang di bawa sang Ibu akhirnya menyakiti sang anak, hingga membuatnya merintih kesakitan, seketika darah pun menetes di kamar mandi itu.


Rudi yang sudah kesakitan langsung mengusap sabun cair ke mata Ibunya, dan dengan cepat ia melangkah pergi dari kamar mandi. Keluar dari kamar mandi ia menemukan sebuah hp tergeletak di atas meja, sekilas ia sempat memandang jendela kecil yang menghubungkan langsung dengan dunia luar rumahnya.


Karena ketakutan Rudi membawa hp itu bersamanya, lalu berlari ke ruangan mencuci baju, dan tanpa berpikir panjang ia langsung masuk ke dalam mesin cuci yang masih dipenuhi baju-baju kotor itu, lalu dia menelepon ke panggilan darurat kepolisian.


34 menit setelah pelaporan….


“Agen J, kirimkan alamat Rumah Rudi. Aku akan langsung kesana,” ucap Juna sembari masih fokus menyetir.


“Baik Kap,” balas Jiny.


Alamat yang diminta Juna akhirnya dikirim Jiny ke hp Juna melalui pesan singkat. Setelah menerima pesan singkat tersebut, Juna semakin mempercepat laju mobilnya, agar cepat sampai di tujuan.


--TKP--


Juna turun dari mobil, ia melihat anggota tim nya sudah berkumpul, dan dia juga melihat Eunbyul sedang bertanya kepada Satpam kompleks.


“Katanya tidak ada penghuni yang mencurigakan, tapi kata salah satu Ibu-ibu penghuni kompleks, ada satu Rumah yang sering membuang sampah yang banyak berisi pakaian, kapas dan tisu berdarah,” jawab Eunbyul.


“Dimana Rumah itu?” ujar Juna kembali.


“Blok M no. 28,” balas Eunbyul.


“Oke kalau begitu kita bagi tugas. Agen M ikut aku ke Rumah mencurigakan itu, sedangkan Agen C dan Agen Y ikut Kaptwo, kalian cek kembali lingkungan sekitar,” pinta Juna membagi tim nya.


Juna dan Marco pergi ke blok M, sedangkan sisanya memeriksa sekitar. Sesampainya di blok M, Juna dan Marco menemukan sebuah kantong plastik yang berisi baju dalam anak kecil dengan banyak bercak darah.


“Haaahh! Ini gila, bagaimana seseorang bisa melakukan ini,” gumam Juna.


“Dia jelas bukan seorang manusia Kap,” sahut Marco mendengar ucapan Juna.


Tanpa berpikir panjang lagi Juna mengeluarkan semua pakaian berdarah itu dan mulai menyentuhnya.


“Lokasi nya bukan di blok M, tapi di blok E. Kita salah alamat,” celetuk Juna langsung meletakkan pakaian itu dan kembali berlari menuju blok E.


“Kap, apa maksud Kapten salah alamat?” cetus Marco sembari terus berlari cepat di belakang Juna.

__ADS_1


“Akan aku jelaskan nanti,” balas Juna masih fokus berlari.


“Semuanya ke blok E no. 27 sekarang!” pinta Juna semakin mempercepat langkah kakinya.


Sesampainya di blok E....


“Rumah pelaku ada di no 27, Agen Y dan Agen M ikut masuk bersamaku Kaptwo dan Agen C tunggu disini. Kalau ada yang mencurigakan segera laporkan ke yang lainnya.” Sekali lagi Juna sebagai kapten tim membagi timnya.


“Ya Kap,” jawab Yuyun.


Mereka bertiga mulai bergerak, berjalan masuk ke Rumah korban. Sedangkan Eunbyul dan Charly tetap diluar memantau situasi.


Juna pelan-pelan melangkah masuk ke dalam Rumah korban, diikuti Yuyun dan Marco dibelakangnya. Mereka juga sudah menyiapkan pistol mereka dan mengarahkannya ke depan.


Ketika akan membuka pintu depan, Juna menatap ke Yuyun dan Marco untuk memberi tanda akan membuka pintu Rumah itu.


“Braaackk....” Pintu itu akhirnya terbuka, dan mereka segera masuk ke dalam. Didalam Rumah itu hanya ada sang Ibu yang sedang duduk terdiam.


“Dimana Rudi? Dimana dia sekarang!” bentak Juna kepada Ibu Rudi.


Namun sayang nya, sang Ibu yang sudah melakukan penganiayaan itu hanya terus diam seribu bahasa.


“Kap, kamar mandi, ruangan untuk mencuci dan termasuk mesin cuci tempat dia sembunyi kosong,” cetus Yuyun setelah memeriksa beberapa ruangan dan tempat.


“Kamar tidur 1, kamar tidur 2, dan gudang juga kosong Kap,” ujar Marco melaporkan ruangan yang sudah ia periksa.


“Bu, Ibu tau kan kalau misalnya ada apa-apa dengan Rudi, Ibu bisa dihukum dengan berat, bahkan Ibu bisa menghabiskan sisa umur Ibu dipenjara. Sekarang katakan dimana Rudi, kalau Ibu katakan sekarang, hukuman Ibu lebih ringan dan Ibu bisa kembali hidup normal,” bujuk Juna dengan kata-kata sedikit lembut.


Ibu Rudi menatapnya dan berkata, “dia membawanya, dia sudah membawanya pergi. Kalian sudah terlambat.”


“Siapa yang membawanya pergi? Apa suami Ibu?” tebak Juna setelah menyentuh baju berdarah yang sudah ia temukan.


“….” Sekali lagi Ibu Rudi hanya menjawabnya dengan menggelengkan kepalanya.


“Kap, Ibu Rudi memiliki nama asli….,” celetuk Jiny melalui mini phone di tengah-tengah Juna membujuk pelaku penganiayaan.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2