Love And Mystery

Love And Mystery
-8- Sebuah Undangan Masa Lalu


__ADS_3

-- Keesokan Hari nya --


“Drrreeeettt... drrreeettt....” Hp Juna berbunyi karena mendapatkan notifikasi baru.


Juna menatap layar ponselnya yang menyala dan membaca undangan reuni SMA nya. “Apa ini reuni sekolah menengah, aaahh... mana bisa aku pergi ke Seoul minggu ini,” gumam Juna.


Juna bangkit dari kasurnya, lalu dia menuju ke kamar mandi untuk menyegarkan badannya.


Selesai mandi dan berganti pakaian, ia akan mengambil berkas dari laci lemari nya tiba-tiba satu foto terjatuh.


“Aaahh, benar... aku hampir lupa, aku ingin menyelidiki lagi tentang kasus ayah yang dulu, tapi dari mana aku harus memulainya,” gumam Juna sambil menatap selembar foto ayahnya dan tim nya sewaktu masih bekerja dikepolisian.


Juna memasukkan foto ayahnya ke dalam tasnya, dan dia segera berangkat ke kantor polisi.


Waktu itu Juna sekilas melupakan masalah foto, karena ia disibukkan harus membaca berkas-berkas penting.


“Tok... tok....” Seseorang mengetok pintu ruangan Juna.


“Kap, ada informasi dari BFN kalau hasil tes dari mayat yang ditemukan di tandon air sudah keluar dan akan dijelaskan langsung sama dr. Kais dan analis BFN.” Yuyun masuk kedalam ruangan Juna dan menyampaikan pesan penting.


“Eeemm, baik kalau begitu tolong kamu yang kesana sama Agen C,” jawab Juna.


“Tapi Kap, dr. Kais sendiri yang bilang kalau kapten harus kesana sendiri,” ucap Yuyun mengerutkan dahinya.


“Apa? Yasudah sampaikan aku akan datang langsung,” balas Juna yang kembali fokus dengan pekerjaannya.


"Baik kalau begitu Kap,” jawab Yuyun keluar dari ruangan.


Beberapa menit kemudian....


Mereka berdua berangkat ke BFN dengan mengendarai mobil Juna, setibanya di BFN mereka langsung menuju ke ruangan dr. Kais.


Katika sudah diruangan dr. Kais....


“Silakan diminum, cuman ada kopi disini.” Kais menyajikan kopi dan meletakkan di meja.


“Terimakasih banyak,” celetuk Yuyun.


“Thank you,” ucap Juna tersenyum ke arah Kais.


“….” Kais tidak mengucap apapun dan hanya menunjukkan isyarat tangan OK.


“Ah, Juna... eeemm, aku gak apa-apa kan manggil dia tanpa Kapten dan aku sedikit ingin membahas masalah pribadi lebih dulu, boleh kan?” celetuk Kais secara tiba-tiba menatap ke arah Yuyun, seakan ingin neminta pesetujuan.


“Silakan, apa aku perlu keluar ruangan lebih dulu,” balas Yuyun menatap ke arah Juna, lalu kembali menatap Kais.


“Ah... gak perlu, tapi anggap saja kamu gak dengar apa-apa soal apa yang ingin aku tanyakan ini,” cetus Kais menggoyang- goyangkan kedua tangannya menghadap ke Yuyun.


“Baiklah kalau begitu,” jawab Yuyun singkat.

__ADS_1


“Apa kamu juga mendapatkan undangan reuni SMA?” tanya Kais secara tiba-tiba.


"Heem," jawab Juna singkat.


"Kalau gitu, apa kamu niat datang ke acara itu?" tanya Kais.


“Enggak,” balas Juna dengan sangat singkat.


“Apa! Hei… apa gak bisa gitu kamu pikir-pikir dulu sebelum menjawab?” protes Kais tentang pendapat Juna.


“Kalau aku memang dari awal sudah berniat gak datang memang apa yang harus dipikirkan kembali?” tegas Juna.


“Kamu enak bisa ngomong seperti itu, karena dulu kamu termasuk siswa yang populer. Sedangkan aku? Juna apa kamu tidak mau hadir kali ini saja, heeuumm,” bujuk Kais.


“Kenapa kamu terus meminta hadir ke acara itu? Lagian acara itu juga gak….” Omongan Juna belum sempat ia selesaikan.


“Subi, Suhyang dan Debi... aku gak ingin diremehkan mereka lagi seperti dulu,” selah Kais.


“Kalau begitu jangan perdulikan saja mereka,” ucap Juna dengan sangat mudah.


“Jangan perdulikan? Yang seperti ini harus aku abaikan?” Kais menunjukkan DM instagram yang ada di hp nya.


Pembicaraan mereka belum selesai dan tiba-tiba….


“Tok... tok....”


“Maaf sebelum nya saya telat karena.” Omongan orang itu terhenti dan langsung menghela nafas panjang.


“Heeei... kenapa kamu disini? Bukannya harusnya kamu masih ada di Seoul?” tanya orang itu langsung terbelalak begitu bertatapan langsung dengan Juna.


“Kak Jihan sendiri kenapa ada disini? Kais kamu sudah tau kan tentang semua ini?” ucap Juna kebingungan.


“Sudah... sudah... Kak, Kak Jihan duduk dulu. Kita selesaikan dulu masalah pekerjaan, masalah pribadi kita bahas nanti,” celetuk Kais.


Perempuan yang baru masuk ke ruangan tersebut adalah Jihan, Kakak nya Juna.


“Yasudah kalau begitu,” balas Jihan dengan pasrah.


Jihan duduk di sebelah adiknya dan mulai membahas tentang pekerjaan atau hasil analis otopsi mayat yang di temukan di tandon air.


Setelah beberapa menit kemudian….


“Ada yang belum jelas?” tanya Jihan.


“Sudah jelas kalau dari aku, Agen Y... kamu paham kan?” Juna menatap Yuyun yang mengangguk-angukan kepalanya.


“Oo... haa, mengerti Kap,” jawab Yuyun dengan cepat ke Juna.


“Bagus kalau begitu, aaahh... Kais aku tagih janji kamu sekarang, bawa aku melihat mayat yang ditemukan di tandon air sekali lagi,” kata Juna.

__ADS_1


“Bodoh amat! Kamu sendiri aja gak mau bantuin aku, kenapa aku harus perduli sama kamu.” Kais langsung menekuk wajahnya dan keluar dari ruangan.


“Heei!” Juna mendengus kesal melihal sikap kekanak-kanakan Kais mulai muncul.


“Juna, apa kalian beneran berkencan?” tebak Jihan.


“Kak! Kenapa kakak selalu saja….” Juna menyibakkan rambut coklatnya yang lebat, sembari ia mendengus dengan kesal, karena mendengar ucapan kakaknya.


“Oke... oke… maaf, tapi gimanapun juga kalau cewek dan cowok berantem, itu artinya pasti yang salah cowoknya. Berkencan atau tidak, memang sepeti itu dari dulu takdirnya,” terang Jihan, berbicara sebagai orang yang lebih tua.


“Yasudah kalau begitu, aku mau balik ke ruangan,” pamit Jihan.


“Agen Y sepertinya kita harus kembali juga ke Kantor,” ajak Juna yang langsung beranjak dari duduknya.


Ketika Juna akan keluar, ia mendapat sebuah telepon, dan nomer tersebut dia lihat berasal tari luar negeri.


“Iya Tante Dewi ada apa?” jawab Juna.


“Juna kamu gak sedang sibukkan minggu ini?” tanya orang yang ternyata adalah Tante Dewi, orang yang selama ini membesarkan Juna dan Kakak nya Jihan dengan penuh kasih sayang.


"Memangnya ada apa Tan?" balas Juna.


“Jadi begini Juna, Tante barusan menemukan sesuatu di makam Ayah kamu dan sepertinya ini miliknya, karena di 5 lembar kertas ini terlihat seperti sebuah….” Tante Dewi memberi semua informasi penting ke Juna.


Karena satu hal tersebut, ia berubah pikiran dan akan pergi ke Korea Selatan, dia berpikir sekalian hadir diacara reuni itu, disisi lain agar Kais tidak marah lagi kepadanya dan dia juga bisa mengambil sesuatu yang dikatakan Tante Dewi kepadanya.


Karena Kais sedang tidak ada di ruangan itu, dia akhirnya terpaksa menuliskan pesan di sebuah kertas note dan menempelkannya di layar komputernya, bermaksud agar langsung dilihat.


Melihat tidak ada yang bisa dilakukan lagi disana, dia segera keluar dari ruangan itu dan kembali ke kantor.


.


.


.


.


.


Bersambung.


***********************************************


*Cuplikan episode 9*


“Hahahaha... yaa, sekalian air pel nya juga.” Subi terkekeh melihat anak culun itu bermandikan minyak belut yang menyebabkan seluruh seragamnya basah dan bau.


“Siap Subi.” Debi mengambil seember air pel dan mengguyurkan ke anak culun itu.

__ADS_1


“Hahahahaha, Kais... ini peringatan buat kamu, jangan pernah mencoba-coba menggoda Juna.” Subi mendekat ke anak culun tersebut yang ternyata dia adalah Kais.


“Yaaa!! Apa yang sudah kalian lakukan!” teriak seorang....


__ADS_2