Love And Mystery

Love And Mystery
-49- Rumah Kenangan


__ADS_3

Pak Komisaris duduk didekat Juna dengan membawa sebuah map kertas berwarna biru yang sudah diletakkan diatas meja.


“Saya memanggil kamu kesini karena masalah kontrak kamu yang hampir habis,” kata Pak Komisaris.


“Menurut yang sudah tertulis didalam kontrak, kamu ditugaskan ke Kepolisian ini hanya untuk membantu menangkap pelaku pembunuhan berantai, dan sekarang pelaku itu sudah tertangkap jadi masa kerja di Kepolisian ini hampir berakhir, dan bukan itu saja... apartemen dan mobil kamu juga harus dikembalikan,” tambah Pak Komisaris.


Sebelum mulai berbicara, Juna menanggapinya dengan senyuman kecil diwajahnya. “Saya mengerti Pak, saya akan menggembalikan semua fasilitas yang Kepolisian ini berikan, tapi... Sebenarnya saya masih memiliki rasa curiga kalau yang tertangkap itu bukan pelaku pembunuhan berantai yang sebenarnya,” katanya.


Pak Komisaris seketika mengerutkan dahinya. “Bukan pelaku sebenarnya?! Bagaimana maksud kamu?” tanya Pak Komisaris.


“Jadi begini Pak, sebelumnya saya gak pernah cerita ke orang lain tentang keahlian saya ini, karena jelas orang itu gak akan percaya dan pasti saya akan dianggap gila.” Juna mulai membuka apa yang selama ini jarang ia ceritakan ke orang lain.


“Tapi, percaya atau tidak... Saya bisa melihat memori seseorang dan memori benda hanya dengan sentuhan, dan saat saya tidak sengaja menyentuh pelaku yang sudah kita tangkap... Saya melihat kalau ada orang lain yang mengontrol semuanya, agar orang yang sudah kita tangkap menjadi kambing hitam atas kesalahan pelaku sebenarnya,” jelas Juna dengan panjang lebar.


“Tapi... Bagaimana mungkin? Karena semua bukti sudah mengarah ke orang yang sudah kita tangkap sekarang,” balas Pak Komisaris dengan menggelengkan kepalanya, karena masih tidak percaya.


“Karena itu... Saya mau meminta waktu 2 minggu lagi untuk membuktikannya. Bukan hanya itu, saya akan meminta tim tambahan secara rahasia dari Seoul, untuk mempercepat melakukan penangkapan ini,” sambung Juna kembali.


“Memang perlu untuk mendatangkan tim dari Seoul lagi, lalu bagaimana dengan tim golden time?” sahut Pak Komisaris.


“Tim golden time juga akan terlibat, tapi hanya dibagian permukaan. Sedangkan tim rahasia yang datang dari Seoul akan menjadi tim bayangan, hanya saya dan teman saya dari Seoul yang tahu. Dengan cara yang sudah saya rencanakan, saya yakin bisa menangkap pelaku yang sebenarnya dalam waktu 2 minggu.” Juna mencoba meyakinkan Pak Komisaris dengan cara yang tidak dia sebutkan.


“Oke, 2 minggu. Kalau kamu tetap tidak bisa membuktikan kita salah menangkap orang, maka pelaku yang sekarang akan dibiarkan menjadi pelaku sebenarnya,” sahut Pak Komisaris.


“Baik kalau begitu Pak, kalau memang sudah tidak ada yang dibicarakan lagi, apa saya boleh permisi keluar,” pamit Juna dengan nada sangat sopan.


“Iya silahkan, kamu boleh keluar,” jawab Pak Komisaris.


Sebelum pergi, Juna kembali menundukkan kepalanya dihadapan Pak Komisaris untuk menunjukkan rasa hormatnya. Barulah dia melangkah pergi keluar ruangan dengan langkah tegapnya.


Dari ruangan Pak Komisaris, Juna kembali ke ruangan tim nya dan duduk di kursinya. Tatapan tajamnya mengarah ke arah komputer yang ada dihadapannya, jari-jemarinya terus menari-nari diatas keyboard komputernya.


Nampak di layar komputernya kalau dia sedang mengirim email untuk mengundang seseorang datang ke rumahnya, tapi yang dia ketikkan itu menggunakan huruf Hangeul. Huruf Hangeul sendiri merupakan huruf yang biasanya digunakan oleh orang Korea, atau biasa disebut abjad Korea asli.

__ADS_1


Juna memang sengaja menggunakan huruf itu, dengan maksud agar tidak ada orang yang mengerti apa yang dia kirim, kalau misalnya ada orang yang iseng menghack komputernya.


Tapi, Juna juga tidak melupakan kalau Charly pernah tinggal di Korea, jadi dia tidak terlalu menunjukkan tujuan aslinya mengirimkan email undangan tersebut.


Sesudah mengirim email, Juna mulai membuka-buka salah satu situs agen real estate. Secara tiba-tiba dia menaikkan satu alis nya, karena merasa sedikit terkejut setelah melihat bentuk rumah yang dia kenal.


Pada awalnya Juna tidak mengenali rumah nya, karena sudah mengalami sedikit perubahan. Iya, rumah itu sudah dibangun 2 lantai lagi diatasnya, dan bagian depan rumah juga diberi kanopi berwarna hitam yang tampak elegan. Sementara saat dilihat dari gambar 3D nya, rumah itu sudah dipercantik dengan taman dan sebuah kolam renang yang diletakkan di bagian halaman belakang.


Tanpa berpikir panjang lagi, Juna mulai menelepon real estate yang menjual rumah tersebut, dia menjadwalkan sebuah janji temu untuk melihat rumah tersebut.


….


Hari berlalu dengan cepat ketika tim golden time tidak terlalu sibuk, meraka juga bisa pulang lebih awal saat tidak menangani kasus yang rumit.


Juna yang sudah membuat janji dengan sebuah real estate, segera berangkat untuk memenuhi janji temu di sebuah rumah yang sudah dilihat Juna dari gambar 3D.


Sesampainya di rumah yang dimaksud~


Saat masuk dihalaman depan Juna mulai menyusuri visual indah yang terdapat dihalaman depan rumah. Pandangan Juna saat itu langsung tertuju pada kolam ikan yang berukuran sedang, pada kolam itu terdapat air terjun buatan yang mengalir secara perlahan melewati batu-batu kecil yang tertempel di tembok. Lalu di air kolam yang sangat tenang itu juga dipenuhi banyak ikan warna warni yang terus mengelilingi kolam.


Sementara pada bagian tembok yang terhubung dengan pagar utama juga dipenuhi banyak tanaman gantung yang semakin mempercantik halaman. Halaman depan rumah juga semakin indah, dengan adanya rumput-rumput yang tumbuh diantara batu-batu paving yang berjajar, bagaikan hamparan karpet hijau yang memiliki motif.


Puas dengan halaman depan, Juna dan petugas real estate masuk kedalam rumah, mereka mulai menyusuri semua ruangan yang ada dirumah itu. Tiga lantai rumah itu dijelajahi Juna secara langsung, dan setibanya dihalaman belakang, dia kembali takjub akan keindahannya.


Tanaman yang ditanam langsung ditanah, sudah berjajar rapih di tepi bagian kirinya. Dari pohon mangga, jambu air, tanaman cabe, dan berbagai bunga sudah ditanam di kebun mini yang dilihatnya itu.


Sementara dibagian tengah ada kolam renang yang berukuran cukup luas, disebelah kanan kolam renang juga terdapat seluncuran dewasa yang berbentuk satu kelokan. Tidak lupa juga dibagian tepi kolam renang bagian tengah ada kursi santai yang biasa digunakan untuk berjemur.


Lalu Juna juga melihat ada sebuah panggangan untuk pesta barbeque yang berukuran sedang, sudah berdiri tepat disebelahnya.


Setelah melihat kemegahan dan beberapa perubahan yang ada pada rumah, kini Juna semakin yakin akan membeli rumah itu.


“Bagaimana Pak Juna, apa Bapak sudah memutuskan untuk mengambil rumah ini?” tanya petugas real estatae yang ada disebelahnya.

__ADS_1


“Sebelum saya mengambilnya, saya ingin tanya... Kenapa bagian depan rumah ini tidak banyak perubahan?” tanya Juna balik.


Petugas real estate tersenyum sebelum menjawab. “Karena pemilik rumah sebelumnya berpesan, rumah ini boleh menjadi lebih baik, tapi... Kenangan yang ada dirumah ini jangan sampai hilang sepenuhnya. Itu katanya, karena itu kita hanya memperbaruinya... Tapi tidak merubah sepenuhnya,” jawab petugas real estate dengan kata-kata bijak dari pemilik rumah sebelumnya.


Juna mengangguk diiringi senyuman kecilnya, dia kembali bertanya, “Kalau boleh tahu, siapa pemilik rumah ini sebelumnya?”


“Saya lupa nama lengkapnya, tapi seingat saya dia sering dipanggil Ka... Ka... Kais. Iya Kais namanya, dia seorang dokter forensik,” jawab petugas real estate sembari mencoba menggali ingatannya.


“Jadi rumah ini belum terjual lagi sejak saat itu?” tanya Juna kembali.


“Tentu saja belum, karena pekerjaan pemiliknya sebagai dokter forensik, banyak orang yang menganggap rumah ini menyeramkan dan sebagainya,” balas petugas real estate sambil menghela nafas. “Meskipun sudah kami perbarui sampai seperti ini, tetap saja belum laku juga sampai sekarang,” sambungnya.


“Kalau begitu biarkan saya yang membelinya.” Juna mulai mengeluarkan hp nya dan membuka sebuah aplikasi saat itu.


“Saya akan mentransfer uangnya sekarang juga, tolong berikan rekening nya.” Setelah aplikasi itu terbuka, Juna menyodorkan hp nya dan menyuruh petugas real estate mengetik no. rekening bank real estate yang menjual rumah itu.


Sambil tersenyum lebar, petugas real estate itu mengetikkan rekening perusahaannya itu dengan cepat. Setelah uang itu berhasil di transfer, tidak lupa pula Juna langsung menandatangani pembelian rumah yang sudah dibawa petugas real estate.


Setelah resmi menjadi pemilik rumah, sang petugas real estate itu juga tidak lupa menyerahkan sertifikat kepemilikan dan berkas-berkas lainnya ke Juna. Di sertifikat itu bahkan belum berganti nama, tertulis di sertifikat itu masih atas nama Kais Jung.


Penyerahan sertifikat kepemilikan itu, menjadi akhir pertemuan mereka berdua. Petugas real estate dan Juna berpisah didepan rumah yang sudah menjadi milik Juna, setelah semua urusan rumah selesai... Juna segera memacu mobilnya kembali ke apartemennya.


.


.


.


.


.


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2