Love And Mystery

Love And Mystery
-16- Sahabat Bagai Rama Shinta


__ADS_3

Kais melepas sepatunya, ia berlari menyusul Juna dan langsung memeluknya dari belakang. “Juna! Jangan pergi, aku gak paham kamu marah ke aku karena apa, tapi aku mohon jangan pergi. Aku bisa menerima sikap dingin kamu, tapi aku gak sanggup melihat kamu marah ke aku dan benar-benar berkata dingin seperti itu. Aku tau mungkin ini sedikit terlambat tapi, aku harus menyampaikan ini ke kamu, kalau aku... kalau aku... aku mulai menyukaimu,” gagap Kais.


“Bukan sebagai sahabat, tapi sebagai seorang perempuan ke laki-laki,” tambah Kais.


“Apa? Apa yang kamu katakan tadi. Ini gak mungkin, kamu ngomong seperti ini... cuman untuk mencegah aku pergi kan?” jawab Juna yang langsung menghentikan langkahnya.


“Aku serius, entah mulai kapan aku merasa seperti ini. Tapi... aku yakin ini bukan perasaan untuk sahabat, jadi aku mohon jangan pergi,” ucap Kais yang memasang wajah senduh nya, sembari ia masih memeluk Juna dari belakang.


Juna berusaha melepaskan pelukan Kais dan langsung menatapnya. “Hei... kamu menangis?” ujar Juna melihat air mata menetes di pipi Kais.


“Kamu serius dengan ucapanmu? Tapi ini gak mungkin,” imbuh Juna masih tidak mempercayai ucapan Kais.


“Akan akan buktikan, kalau yang aku ucapkan ke Kak Juhyuk tadi bukan sesuatu yang kamu dengar.” Kais kembali memakai sepatunya dan menghapus air matanya, ia memegang lengan Juna dan membawanya menuju ke suatu tempat.


Mereka kembali memasuki rungan, di sana Kais berusaha mencoba mencari Juhyuk. Hingga akhirnya dia menemukan Juhyuk sedang bermain billiard.


“Kak Juhyuk!” panggil Kais.


“Oo, Ada apa? Kenapa kamu malah membawanya menemuiku?” kesal Juhyuk memasang wajah dinginnya.


“Tolong katakan jawaban sudah aku berikan ke Kakak tadi,” pinta Kais.


“Apa? Heeii! Kamu belum cukup mempermalukan aku didepan anak-anak lainnya, sekarang kamu mau mempermalukanku didepan teman-teman aku dan di depan dia?” sindir Juhyuk melirik ke arah Juna yang berdiri di sebelah kanan Kais.


“Ho, katakan sekarang, aku mohon,” kata Kais yang mencoba memohon agar Juhyuk mau mengabulkan permintaannya.


“Aku gak mau! Enak banget kamu ngomong seperti itu, aku sudah melupakan perasaan ku yang tadi. Masih banyak wanita lain yang lebih cantik didunia ini, jadi kenapa aku harus mengabulkan permintaan wanita ****** seperti kamu?” jawab Juhyuk dengan sinis.


“Buaaakk!!” Tanpa berkata-kata Juna langsung melayangkan sebuah pukulan ke wajah Juhyuk.

__ADS_1


“Haaaahh!” Perbuatan yang dilakukan Juna hingga membuat Kais sendiri menjadi terkejut.


“Jangan sembarangan bicara, Kakak lebih baik diem dari pada menghina orang dengan mulut kotor Kakak,” celetuk Juna dengan ekspresi marah setelah melayangkan sebuah pukulan.


“Kurang ajar!” Juhyuk berdiri, dia langsung mengembalikan pukulan ke wajah Juna.


Mereka terus memukul dan membalas pukulan, hingga akhirnya...


“Krraaacck!!” Mendengar suara tersebut, Juna langsung menghentikan pertengkaran mereka.


Kais terjatuh karena berusaha menghentikan pertengkaran, gaun bagian atasnya sedikit sobek. Dia segera menahannya dengan menggunakan tangannya.


“Kamu gak apa-apa? Gaun kamu sobek.” Juna melepas jas yang dia pakai dan memakaikannya ke Kais.


“Ho, aku gak apa-apa,” balas Kais, ia berusaha menutupi bagian gaunnya yang sobek dengan jas pemberian Juna.


“Cuman segitu doang keberanian kamu?” Juhyuk berdiri, menyekah luka diujung bibirnya dengan ibu jarinya.


“Juna! Hentikan, bawa aku pergi dari sini.” Kais menahan lengan Juna.


“Menyerah karena wanita? Dasar penyecut!” ejek Juhyuk.


“Jangan dengerin dia... aku mohon, kita pergi saja dari sini,” ujar Kais dengan nada senduh.


Pada awalnya Juna sangat ingin kembali memukul Juhyuk kembali, tapi saat menatap sekelilingnya, ia mendengar banyak yang berbisik dan mengatakan hal buruk ke Kais. Dia berdiri dan mengajak Kais pergi dari tempat itu, meskipun Juhyuk terus mengolok-ngoloknya.


Mereka berdua keluar dari tempat pesta, dan karena jemputan mereka belum datang, mereka memutuskan untuk menaiki taxi menuju rumah.


-- Rumah --

__ADS_1


“Haaa, kenapa wajah tuan muda menjadi seperti itu?” tanya salah satu pembantu rumah tangganya.


“Aah, bukan apa-apa kok Bi. Ini cuman luka kecil,” jawab Juna sembari ia masih bisa melempar senyumnya.


“Oh iya tuan, saya mendapat pesan, kalau nyonya besar akan melakukan perjalanan bisnis ke Jepang, hingga 3 hari kedepan. Jadi kalau tuan muda balik ke Indonesia sebelum nyonya pulang, sebaiknya menghubunginya terlebih dahulu,” ucap salah satu asisten rumah tangganya.


“Baiklah kalau begitu Bi, terimakasih informasinya,” Jawab Juna.


Asisten rumah tangganya itu menundukkan sedikit kepalanya dan berlalu meninggalkan mereka berdua.


“Istirahatlah, kamu pasti capek. Masalah gaun, kamu gak usah khawatir, itu masih bisa diperbaiki,” tutur Juna melihat Kais dengan tatapan yang lebih hangat daripada sebelumnya.


Kais hanya menjawab dengan anggukan kepalanya, ia melangkah menuju kamarnya.


Melihat Kais sudah masuk kedalam kamarnya, Juna juga pergi ke kamarnya.


Setiap langkahnya, sesekali ia mengecek luka yang tercetak di ujung bibirnya itu dengan ibu jari tangan kanannya.


***


Disisi lain...


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2