Love And Mystery

Love And Mystery
-18- Sweet Moments In N Tower


__ADS_3

Selesai mandi Juna pergi keluar untuk mengambil mobilnya yang ia tinggal di butik semalam, lalu ia pergi ke Namsan Tower sendirian.


Disana ia hanya berjalan-jalan dan menikmati pemandangan yang tersaji di sepanjang jalan dan pohon yang tidak berdaun berjajar di setiap jalan mengiringi langkahnya.


Langkah demi langkah ia lalui, saat dia menatap ke suatu arah ia melihat sepasang kekasih yang sedang berciuman. Karena hal tesebut, dia kembali memikirkan kejadian semalam, saat Kais sedang mengutarakan perasaannya.


Juna menghelah nafas panjangnya. “Kenapa aku malah memikirkan hal itu? Tapi apa kata-katanya serius? Seharusnya aku bahagia, tapi kenapa malah jadi banyak berpikir seperti ini? Seakan aku masih tak percaya kalau harapanku yang terikat di love lock benar-benar terjadi,” batinnya.


Juna terus melanjutkan langkahnya, hingga pada akhirnya tak terasa ia sudah sampai dipuncak Namsan Tower.


Dia berjalan mendekati ribuan love lock yang terpasang disana, lalu dia mencoba mencari miliknya sendiri, dan membaca setiap kata-kata yang sudah ia tulis.


Dan tiba-tiba saja. “Apa semua itu benar?” ucap seseorang dari arah belakang Juna.


Juna terkejut mendengar suara yang ia kenal. “Kamu ngapain disini? Kenapa kamu bisa…,” jawabnya.


“Juna, aku sudah membaca semua yang kamu tulis. Dan aku menebak semua tulisan itu... semua tulisan itu, untukku kan? Aku yakin... tunggu, aku malah sangat yakin itu ditujukan kepadaku,” tebak orang itu yang ternyata adalah Kais.


“Bukan, ini cuman harapan kosong. Kamu jangan asal menebak,” sangkal Juna mengalihkan tatapannya.


Kais menghela nafas dan langsung mendekat ke Juna. “Kalau begitu, coba tatap aku secara langsung dan katakanlah dengan lantang. Kalau kamu gak suka sama aku dan gak akan pernah mencintaiku, lalu satu lagi-katakan juga kalau kamu mengizinkan aku berkencan dengan laki-laki lain,” ucap Kais sambil tangan kanannya memutar wajah Juna untuk menatapnya.


Begitu Kais mengatakan hal tersebut, wajah Juna terlihat semakin bingung. Dia kembali menelan ludah, ketika mereka kembali bertatapan.


“Aku... aku... haaahh... aku gak bisa melakukan itu,” ujar Juna menunduk lemas.

__ADS_1


“Itu artinya memang benar, tulisan itu memang buat ku. Kalau begitu kenapa tidak kita lakukan semua yang tertulis disana, kita akhiri masa persahabatan ini dan kita mulai cerita baru diantara kita, huuhh?” tanya Kais sambil meraih tangan Juna dan langsung menggenggamnya dengan erat.


“Entahlah, Aku... sangat ingin melakukan itu, tapi... apa kamu yakin? Kamu tidak menyesal dengan ucapan kamu?” balas Juna yang mulai menatap Kais dengan tatapan yang cukup dalam.


“Haaahh... kenapa harus menyesal, kamu gak ingat apa yang aku katakan tadi malam?” Dengan tersenyum Kais menjawab keraguan Juna.


“Baiklah kalau begitu, aku akan segera mengakhirinya, tapi... kalau aku sudah memulainya, itu artinya aku tidak dapat menariknya kembali. Apa kamu siap dengan resiko itu?” tanya Juna lagi yang kini tangan kanannya sudah berada diatas pundak Kais.


“Ho, aku sudah sangat siap menanggung semua resikonya,” balas Kais mengangguk.


Setelah mendengar jawaban Kais tersebut, Juna maju satu langkah dan lebih membuatnya lebih dekat dengan Kais. Kemudian tangan kanannya tanpa ragu memegang tengkuk Kais, ia mulai menunduk dan langsung menciumnya.


Kais yang menerima perlakuan Juna tersebut, langsung memejamkan matanya. Kedua tangannya yang tadinya cuman menggantung disamping, kini sudah menggenggam erat coat hitam yang dikenakan Juna.


-- Beberapa menit kemudian --


“dreet... dreet...” hp Juna tiba-tiba berdering saat ia sedang makan.


“Heum ada apa?” tanya Juna ke orang yang meneleponnya.


“Heeeii!! Kamu di Seoul? Kenapa gak bilang-bilang?” teriak orang yang meneleponnya itu, ternyata adalah Jihan.


“Kakak tau dari mana aku di Seoul?” tanya Juna heran.


“Siapa? Kak Jihan ya?” bisik Kais secara tiba-tiba.

__ADS_1


“Apa itu tadi? Kais? Kamu mengajaknya ke Seoul? Juna, Tante kan sedang di Jepang, itu artinya kamu cuman berdua dong di rumah? Hei! Jangan kamu apa-apain dia, maksudku... kalian sedang ada di negara bebas seperti Seoul, jadi jangan sampai…,” celoteh Jihan.


“Kak, Kakak pikir aku laki-laki seperti apa! Lagian dirumah juga ada puluhan asisten rumah tangga dan beberapa pengawal yang tiap jam keliling, jadi jangan berlebihan seperti itu. Sudah, aku tutup sekarang,” potong Juna yang pusing mendengar celotehan Kakaknya.


Kais terkekeh sedikit mendengar ucapan Jihan. “Kak Jihan... dia khawatir berlebihan, lagian kita sendiri kan sudah dewasa, kenapa juga pakai berkata seperti itu dan melarang-larang kamu melakukan yang ia sebutkan” celetuk Kais.


“Dewasa?" sahut Juna terkejut mendengar jawaban Kais.


"Ho, dewasa... bukankah itu yang sering dikatakan semua pasangan di Korea Selatan, untuk memulai suatu kegiatan yang lebih serius,” canda Kais dengan mengedipkan satu matanya dan tersenyum ke arah Juna.


“Hee! Jangan berfikiran yang aneh-aneh, lagian aku juga gak akan melakukan hal itu,” balas Juna langsung menenggak air minum yang ada di gelasnya.


Sekali lagi Kais terkekeh kegirangan melihat reaksi Juna. “Sepertinya kamu yang harus menjernihkan pikiran, lihat muka kamu sampai merah seperti itu,” ujar Kais tersenyum lebar.


Setelah menghabiskan waktu untuk makan siang, mereka pergi ke Lotte World. Lotte World, merupakan taman hiburan tebesar di Korea Selatan.


-- Lotte World --


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2