Love And Mystery

Love And Mystery
-51- Meninggalkan kenangan lama, Membuat kenangan baru


__ADS_3

Dengan tatapan kosong dan dipenuhi rasa terkejut, Juna menatap sang istri yang ada disebelahnya. Setelah menatap cukup lama, dengan cepat Juna meraih lengan sang istri dan langsung memeluknya.


Juna mendekap sang istri dengan perasaan yang dalam, kedua lengan-lengannya yang berotot itupun tidak membiarkan sang istri lepas, seakan-akan ia tak ingin dipisahkan sedetikpun.


“Hei, kamu kenapa? Apa mimpi kamu sangat buruk sampai kamu seperti ini,” kata Kais dengan wajah bingung melihat perlakuan sang suami.


“Ho. Aku merasa, aku merasa sangat buruk menjadi Kakak buat Keysa. Aku, juga merasa sangat buruk untuk menjadi seorang polisi.” Dengan dekapan yang erat, Juna menjawab pertanyaan sang istri secara perlahan.


Secara perlahan, Kais menepuk-nepuk punggung sang suami dengan satu tangannya. “Kamu, bukan Kakak yang buruk buat Keysa. Kamu juga bukan polisi yang buruk dimataku, dan yang kamu lihat itu cuman mimpi, jadi jangan dipikirkan lagi... Oke,” ucapnya yang mencoba menenangkan sang suami.


Setelah merasa tenang, Juna kembali melanjutkan tidurnya dengan ditemani sang istri yang masih setia ada disampingnya.


Keesokan Harinya~


Hari yang cukup cerah, mereka bangun secara bergantian. Kais bangun lebih dulu, ia langsung menyibukkan dirinya di dapur setelah menyegarkan badannya. Selanjutnya Juna menyusul, dan terbangun dari tidurnya karena mencium aroma makanan dari arah dapur.


“Kamu ngapain?” tanya Juna yang langsung duduk di kursi tinggi yang ada di dekat meja dapur.


Kais membalik badannya, ia sudah melihat sang suami sudah duduk didekatnya. “Kamu sudah bangun ternyata. Ini aku memasakkan sesuatu buat kamu, itung-itung ini masakan terakhir aku di apartemen ini,” jawabnya sembari melempar senyum.


“Kalau begitu, aku harus benar-benar menikmatinya,” balas Juna membalas senyum sang istri.


Ucapan kecil mereka menandai waktu sarapan telah tiba, Kais mulai memindahkan perlengkapan makan ke atas meja makan. Tidak lupa, Kais juga memindahkan lauk dan nasi yang sudah dia buat ke atas meja. Setelah semuanya siap, mereka berdua mulai menyantap semua makanan yang ada dihadapan mereka.


“Aku tadi sudah menghubungi jasa pindahan, dan katanya akan datang nanti jam 10. Jadi kita masih sempat mengemas semuanya kedalam kardus,” celetuk Kais memecah keheningan saat makan.


“Emm, baiklah kalau begitu, habis ini aku akan memasukkan semua barang-barang pribadi kita kedalam kardus,” balas Juna sembari mengunyah makanan yang ada dimulutnya.


Waktu makan pagi pun berlalu dengan cepat, setelah membersihkan sisah makanan dan semua piring-piring kotor, Juna mulai mengemasi barang-barangnya dan juga barang-barang sang istri kedalam kardus.


Barang yang akan mereka bawa ke rumah baru tidak banyak, karena sebelumnya memang kebanyakan barang yang ada di apartemen itu bukan milik Juna. Melainkan fasilitas yang sudah ada saat pertama kali Juna menempati apartemen tersebut.


“Chagi, kamu sudah mengemas semua barang-barang kita? Kenapa gak minta bantuan ke aku? Kan sudah aku bilang, kita akan mengemasnya bersama.” Kais muncul dari balik pintu kamar, dia langsung melayangkan kata-kata protesnya.


“Kamu tenang saja, barang-barang kita gak terlalu banyak kok. Jadi kamu tenang saja, ini semua hampir selesai kok,” jawab Juna menatap ke arah sang istri dengan senyum lebarnya.


Kais hanya menghelah nafas setelah mendengar jawaban Juna. “Yasudah kalau begitu biar aku yang mengemas semua pakaian, kamu cukup sampai barang-barang yang berat itu saja,” katanya.


Tampa menunggu perintah lagi, Kais masuk kedalam kamarnya dan mulai mengambil 4 koper besar yang ada disebelah lemari miliknya. Satu-persatu pakaiannya dan pakaian sang suami dimasukkan kedalam 4 koper besar itu.

__ADS_1


Pukul 10.07~


Petugas jasa pindahan sudah sampai di apartemen mereka, satu-persatu barang-barang mereka dibawa ke mobil petugas jasa pindahan. Sementara Juna sudah berdiri di belakang mobil yang dia sewa untuk mengawasi semua barangnya yang sedang dimasukkan kedalam mobil.


Sedangkan Kais masih didalam apartemennya, untuk memastikan semua barang-barang pentingnya tidak ada yang ketinggalan.


Sesudah semuanya masuk kedalam mobil, Kais mulai turun ke parkiran mobil untuk menghampiri sang suami. “Semuanya sudah masuk? Gak ada yang ketinggalan kan?” tanya Juna setelah melihat sang istri sudah ada dihadapannya.


“Heem, semuanya sudah masuk,” angguk Kais mengkonfirmasi jawaban Juna.


“Baik kalau begitu, Pak tolong kirim ke alamat yang sudah saya kasih ya. Kita akan mengikuti mobilnya dari belakang,” kata Juna terdahap petugas pindahan yang membawa barang-barangnya.


“Baik Pak, kalau begitu kita berangkat sekarang.” Tanpa kata-kata lagi, petugas pindahan itu mulai masuk kedalam mobilnya, dan memacu mobilnya ke alamat yang sudah Juna berikan.


Mobil yang membawa barang-barang mereka berdua pun akhirnya berangkat lebih dulu menuju rumah baru mereka.


Sebelum masuk kedalam mobil, sekali lagi Kais menatap ke arah gedung apartemen yang memiliki cukup banyak kenangan buatnya. Hingga membuatnya mengeluarkan nafas beratnya dan mengatakan, “Sayang banget kita harus pindah dari apartemen ini, padahal apartemen ini cukup punya banyak kenangan.”


“Heem, tapi kamu gak usah sedih. Karena kita masih bisa menciptakan kenangan lain di rumah baru,” jawab Juna.


“Heem, yasudah kalau begitu kita berangkat sekarang.” Kais masuk kedalam mobilnya, dan disusul Juna.


Rumah baru Juna dan Kais~


Mobil yang menganggut barang-barang Juna dan Kais sudah sampai lebih dulu, dan disusul mobil Juna yang juga sudah sampai di rumah baru mereka.


Setelah Juna membuka pintu rumah barunya, petugas jasa pindahan mulai menurunkan barang-barangnya dan memasukkan kedalam rumah satu persatu.


Beberapa menit setelah memindahkan barang, tiba-tiba saja mobil lain yang berukuran cukup besar juga berhenti depan rumahnya. Ternyata mobil yang berukuran cukup besar tersebut mengangkut barang-barang baru yang sudah dipesan Juna, seperti sofa baru, tempat tidur baru, kitchen set baru, almari baru, TV baru, dan barang barang lainnya yang dia butuhkan untuk mengisi rumah yang masih kosong.


Semua barang-barang besar tersebut, satu-persatu juga dimasukkan dan diletakkan sesuai keinginan Juna. Satu hari itupun menjadi hari tersibuk mereka berdua selama mereka hidup.


Jam 7 malam~


Waktu berlalu dengan cepat, semua barang sudah diletakkan ditempat-tempat yang seharusnya. Namun, beberapa barang juga masih banyak yang berserakan dan belum tertata dengan rapih.


Hari sudah semakin larut, Juna melihat sang istri sudah menyandarkan badannya ke sofa putih yang baru dia beli.


Dengan senyuman kecilnya yang mengiringi langkahnya, Juna menghampiri sang istri dengan menenteng dua minuman kaleng.

__ADS_1


“Ini kamu minum dulu, kamu pasti capek hari ini.” Juna datang dan menyodorkan sebuah minuman kaleng yang sudah dia buka.


“Heem, thank you,” jawab Kais yang langsung menenggak minuman kaleng yang sudah diberikan sang suami.


“Kalau begitu kamu istirahat dulu aja, biar aku yang merapihkan sisahnya,” ucap Juna yang kembali berdiri dari duduknya.


“Tapi itu kan masih banyak yang belum di rapihkan. Kamu gak akan mampu merapihkannya sendiri, sini... biar aku bantu.” Setelah meminum minuman kaleng setengah, Kais kembali berdiri dan membantu sang suami merapihkan beberapa barang-barang lainnya yang masih ada dalam kardus.


Suami dan istri itu pun terus saling bahu membahu merapihkan barang-barangnya yang masih tersisah didalam kardus. Setelah semuanya rapih, mereka berdua terlihat sangat kelelahan, hingga membuat mereka terlelap di atas sofa putih yang cukup besar memenuhi seperempat dari ruang tengah mereka.


Keesokan Harinya~


“Srraaacckkk!!” Suara gorden yang disibakkan dengan sekali hentakan. Seketika sekumpulan sinar matahari langsung masuk kedalam ruang tengah, tempat Juna tidur.


“Bangun tuan muda, ini sudah pagi! Kamu harus pergi kerja,” ucap Kais dengan nada sedikit tinggi, setelah membuka gorden ruangan.


“Huaaaaaaa….” Perlahan Juna terbangun dari tidurnya, yang diiringi dengan uapan dari mulutnya yang sudah terbuka lebar.


“Owh... hei, cepat mandi sana! Jangan terlalu sering membuka mulut selebar itu, nanti sobek tau rasa kamu,” goda Kais melempar bantal sofa ke wajah Juna yang masih kucel.


Tanpa menjawab perkataan sang istri, Juna segera melangkah menuju kamar mandi tanpa membawa handuk ataupun baju gantinya. Sementara, Kais sudah sibuk diruangan ganti sedang mempersiapkan baju gantinya.


Beberapa menit kemudian....


Juna keluar dari kamar mandi dengan tidak memakai selembar kainpun. Tanpa rasa bersalah, dia berjalan memasuki ruang ganti yang masih ada Kais didalam ruangan itu.


Sementara Kais yang akan keluar dari ruang ganti tiba-tiba membeku setelah berpapasan dengan….


.


.


.


.


.


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2