
“Ada apa?” tanya Kais dengan wajah bingung.
“Tim beta sudah sampai di bandara, aku harus kesana sekarang. Ah, iya aku lupa mau ngasih ini.” Juna mengeluarkan kunci mobil dari saku celananya, dan meletakkannya di meja panjang yang ada didepannya.
“Apa ini? Kamu sudah beli mobil baru?” ucap Kais kembali.
“Ho, mobilnya warna biru dan aku parkir di blok B2. Kamu bisa mengeceknya sendiri nanti.” Juna mulai beranjak dari duduknya, untuk bersiap pergi.
“Oke, nanti aku cari sendiri,” angguk Kais mengerti.
“Kalau gitu aku pergi dulu. Ah, aku lupa bilang kalau mobilnya warna kesukaan kamu.” Juna berjalan keluar dari ruangan setelah menyampaikan kata terakhirnya.
Keluar dari gedung BFN, Juna segera memanggil taxi online melalui hp pribadinya. Setelah beberapa menit menunggu, taxi online yang sudah dia pesan sudah sampai, dan dia pun segera berangkat ke bandara untuk menjemput teman-temannya.
Bandara Soekarno Hatta~
Tanpa turun dari taxi online nya, Juna segera menelepon Baesik. Dia ingin memberitahu Baesik, kalau dia sudah menunggu didepan pintu Bandara.
“Hey! Baesik!!” teriak Juna ke arah junior nya yang bernama Baesik.
Mendengar suara yang memanggilnya, Baesik pun seketika langsung menoleh ke arah sumber suara. Tanpa menunda waktu lagi, Baesik segera berjalan ke arah mobil yang ditumpangi Juna.
Saat Baesik sudah mendekat ke jendela mobil yang Juna naiki, dia mulai menyampaikan rencana pertamanya. “Aku sudah pesankan 2 taxi buat kalian semua, jadi sampaikan ke mereka suruh naik 2 mobil itu, tapi kamu harus satu mobil sama aku dan mobil kita akan berangkat lebih dulu,” pintanya.
“Baik Kak, kalau begitu biar aku sampaikan ke mereka,” balas Baesik.
“Jangan lupa masukkan barang-barang kamu ke bagasi,” ucap Juna kembali.
“Oke.” Setelah menjawab ucapan Juna yang terakhir, Baesik segera melaksanakan perintah Juna.
Baesik memberitahu 9 teman lainnya yang datang bersamanya, dia memberitahu dengan detail tentang apa yang sudah di pintahkan Juna.
Beberapa menit kemudian, dia kembali ke mobil yang di tumpangi Juna, untuk memasukkan koper besarnya dan barang-barang lainnya ke dalam bagasi mobil, dan setelah semuanya beres dia segera masuk kedalam mobil, duduk disebelah Juna.
Melihat semua temannya sudah masuk kedalam mobil, Juna segera menyuruh supir yang mengendarai mobil yang dia tumpangi untuk segera berangkat lebih dulu.
45 menit kemudian~
__ADS_1
Akhirnya mereka semua sampai di rumah Juna, semuanya pun turun dari mobil yang mereka tumpangi masing-masing, Baesik dan 9 teman-temannya menurunkan barang-barang mereka dari dalam bagasi, sementara Juna menghampiri satu-persatu supir taxi online untuk membayar ngkos kendaraan yang sudah mengantar mereka.
Setelah itu mereka semua masuk ke rumah Juna dengan semua barang bawaan mereka. Sesampainya di ruang tengah, mereka meletakkan barang bawaan mereka di sebelah sofa panjang, kemudian barulah mereka menyenderkan badan mereka di sofa yang empuk.
“Baesik, ikut aku,” ajak Juna untuk mengikutinya.
Baesik yang sangat menghormati seniornya itu, langsung mengekor kemana Juna melangkah, tanpa satu pertanyaan apapun yang keluar dari mulutnya.
Dengan langkah yang cukup cepat akhirnya mereka sampai di lantai 3 rumah Juna, di lantai itu ada 2 ruangan kamar tidur dan satu kamar mandi, dimasing-masing kamar ada 4 kasur angin yang empuk sudah berjajar, 2 berjajar menghadap ke utara dan 2 lagi menghadap ke selatan.
“Ini kamar yang akan mereka gunakan, terus barang-barang mereka bisa diletakkan disini,” tunjuk Juna ke arah 2 kamar yang hanya terisi 8 kasur beserta bantalnya.
“Tapi Kak, kita ada 10 orang, dan disini hanya ada 8 kasur?” sahut Baesik menatap ke arah setiap kamar.
“Kalau itu... kamu tenang aja, masih ada ruangan lain di lantai 2.” Juna kembali berjalan meninggalkan lantai 3, dan turun ke lantai 2 yang terdapat 3 ruangan lagi yang kosong.
“Nah, kamu dan satu teman lainnya yang belum dapat tempat tidur bisa istirahat disini, kamu tenang aja disini juga sudah ada kamar mandinya,” tunjuk Juna.
“Wahh... ternyata disini juga ada 2 ruangan lagi.” Kedua mata Baesik terus menyusuri setiap jangka lorong yang ada di lantai itu.
“Kamu salah, disini ada 3 ruangan, dan satu ruangan lainnya ada disini.” Juna berjalan menuju ke rak buku yang menjulang tinggi, hingga mencapai langit-langit rumah.
Tanpa diduga, ternyata dibalik rak buku yang terbuka itu ada sebuah ruangan lain yang cukup besar, besar ruangan itu setara dengan satu kamar utama. Di ruangan kosong itu hanya ada 4 tikar yang tergulung rapih, dan sebuah meja besar yang diletakkan di tepi sebelah tembok.
“Wahh... ini lebih hebat lagi, bisa ada ruang rahasia seperti ini,” ucap Baesik dengan mata berbinar, karena kagum dengan ruangan rahasia yang diperlihatkan Juna.
“ruangan ini kedap suara, jadi kita bisa gunakan sebagai ruangan diskusi untuk membuat rencana yang akan kita lakukan, dan disebelah sana ada kamar utama ku,” jelas Juna menunjukkan hal-hal lainnya ke Baesik, supaya bisa menjelaskan ke teman-temannya.
“Heemm... oke aku sudah paham Kak, nanti aku akan jelaskan ke yang lainnya,” balas Baesik menganggukkan kepalanya, tanda ia mengerti.
“Oke, kalau begitu kalian beres-beres aja dulu... terus istirahat, nanti malam baru kita mulai bahas masalah pekerjaan. Semua barang yang diperlukan untuk rencana kita, langsung letakkan di ruangan ini, dan untuk barang pribadi... bisa kalian letakkan di kamar masing-masing, atau kalau gak muat bisa kalian letakkan di depan kamar.” Juna kembali menjelaskan ke Baesik sebelum meninggalkannya.
“Baik, kalau begitu aku akan sampaikan ke mereka dulu,” angguk Baesik memahami ucapan Juna, dan ia segera berjalan menuruni tangga.
“Yaudah kalau gitu aku mandi dulu. Ah, karena disini gak ada pelayan... jadi kalian nanti kalau lapar bisa pesan makanan aja, nomor teleponnya ada di buku yang ada di laci TV ruang tengah,” balas Juna sembari menatap ke arah tangga dan berjalan pelan menuju kamarnya.
“Iya Kak!” sahut Baesik dengan nada cukup tinggi.
__ADS_1
Juna masuk kedalam kamar pribadinya, dan dia ingin segera menyegarkan badannya dengan mandi sore nya. Sementara Baesik dan yang lainnya mulai menaikkan barang bawaan mereka satu persatu ke lantai 3 secara bertahap, dan setelah semuanya beres... mereka semua istirahat di kamar yang sudah dipersiapkan.
Beberapa jam pun telah berlalu~
Hari pun telah berlalu begitu cepat, langit yang sebelumnya cerah kini sudah berubah menjadi gelap. Pada waktu itu, adalah jam pulang Kais dari kerjanya.
Kais yang baru masuk ke ruang tengah merasa sedikit kaget dan bingung begitu melihat keramaian yang ada di rumahnya.
“Owh, Kak Kais sudah pulang. Hallo Kak,” sapa Baesik dengan menggunakan bahasa Korea, tidak lupa pula ia langsung menundukkan kepalanya.
Sementara teman-teman Baesik lainnya pun juga mengikuti apa yang dilakukan Baesik, mereka menyapa dan menundukkan kepala.
Meskipun merasa sangat aneh dan kikuk, Kais mencoba tetap ramah kepada mereka yang menyapa mereka. “Ho, selamat datang di Indonesia. Kalian semua pasti tim beta dari Seoul kan?” jawab Kais yang sama-sama menggunakan bahasa Korea.
“Iya Kak, kita tim pasukan khusus yang bernama tim beta. Maaf ya Kak kita mengganggu ketenangan kalian disini.” Baesik terus menjawab ucapan Kais dengan menggunakan bahasa daerahnya.
“Gak apa-apa, kalian santai saja, anggap saja rumah sendiri. Aku permisi mau istirahat dulu.” Jawaban Kais untuk terakhir kalinya itu, menandakan kalau ia harus segera pergi kekamarnya, karena ia merasa mulai kurang nyaman mengobrol dengan laki-laki lain yang gak terlalu akhrab dengannya.
Sementara itu~
Di kamar tidur pribadinya, Juna terlihat sedang memainkan laptop pribadinya yang ia letakkan di pangkuannya, sambil duduk santai diatas kasur, dan bersandar pada sandaran yang ada di tempat tidurnya, dengan dua buah bantal empuk yang menjadi tumpuan punggungnya.
Keseriusan Juna dalam bermain laptop hingga membuatnya tidak menyadari kedatangan sang istri, yang sudah duduk di tepi tempat tidur.
Beberapa detik kemudian tangan Juna mulai cape, satu-persatu jarinya pun mulai ia regangkan, dan saat ia mulai memalingkan pandangannya dari laptop yang ada di hadapannya, seketika ia mulai terkejut bukan kepalang.
“Astaga! Sejak kapan kamu sudah ada disana? Kenapa kamu gak bersuara sama sekali?” Terkejut, itu yang Juna rasakan, begitu melihat ada sepasang mata bola yang menatapnya dengan tajam.
“Kamu yang ngapain aja dari tadi? Sampai gak dengar aku masuk loh,” tanya Kais dengan kedua alis yang hampir menyatu.
“Ah, ini aku lagi....” tunjuk Juna ke arah laptop.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung~