Love And Mystery

Love And Mystery
-31- Perburuan


__ADS_3

“Drreett... dreett...” hp Juna tiba-tiba berdering.


“Kap, kita butuh bantuan Kapten,” ucap Jiny.


“Apa ini tentang seorang anak bernama Keysa?” sahut Juna.


“Oh, bagaimana Kapten bisa tau?” ucap Jiny.


“Kebetulan aku mengenal dia, lalu bagaimana penyelidikannya?” balas Juna.


“Tim sudah berangkat ke lokasi GPS terakhir hp nya Keysa Kap, tapi dia tidak ditemukan.” Jiny mencoba menjelaskan apa yang sudah ia dan tim lakukan tanpa Juna.


“Kalau begitu... Agen J, apa bisa menyambungkan ku dengan mini drone yang ada di lokasi? Dan satu lagi, karena aku tidak membawa mini phone, jadi tolong jangan tutup telepon ini,” ucap Juna mulai menekan loudspeaker.


“Baik Kap,” balas Jiny.


Juna mengambil tablet miliknya, dan langsung menyalakannya. Beberapa detik kemudian, Jiny mengirim sebuah link, dan dengan cepat Juna mengklik link itu dan langsung menontonnya.


“Seperti yang Kapten lihat, rumah itu adalah lokasi terakhir hp Keysa menyala,” papar Jiny.


“Agen J, cari tau jalan tercepat lari dari tempat itu. Jalan tersembunyi maupun jalan utama, dan tunggu dulu, itu sepertinya ada pintu lagi di lantai,” balas Juna.


“Baik Kap, tapi... dimana ada pintu?” tanya Jiny balik.


“Sebelah kiri kaki Agen M,” jawab Juna.


Setelah mengucapkan itu, Jiny memberi tahu anggota tim lainnya. Dari tablet Juna terlihat kalau tim lapangan membuka pintu itu, dan mereka langsung masuk.


Didalam ruang yang gelap itu terdapat banyak alat-alat yang mengerikan, mereka terus berjalan menyusuri ruangan hingga Marco menemukan pintu lain, dengan cepat Marco membuka pintu itu, dan dia menemukan jalan lain.


Marco yang terkejut, dengan cepat memanggil anggota tim lainnya. Mereka mengatur rencana, dan membagi tim. Beberapa menit setelah mengikuti jejak yang tersisah, tim lapangan pun harus terpaksa berhenti, karena kebingungan harus bagaimana.


Juna yang melihat tim nya kebingungan, hanya bisa mendengus kesal, karena kalau dirinya ikut kelapangan pasti tidak sampai kehilangan jejak.


“Agen J sampaikan ke mereka, kalau aku akan segera kesana,” ucap Juna melepas infus yang tertancap di lengannya dan melangkah turun dari tempat tidurnya, ia juga mematikan hp nya.


Melihat hal yang dilakukan Juna, Kais segera menghampiri Juna. “Apa yang akan kamu lakukan? Kenapa kamu melepas infus kamu? Dan kamu mau kemana?” tanya Kais.


“Aku harus turun ke lapangan langsung, kalau tidak kita akan kehabisan waktu,” kata Juna dengan tatapan seriusnya.


“Tapi Juna, keadaan kamu baru membaik. Selain aku mau Keysa selamat, aku juga gak mau mengorbankan kamu,” ujar Kais mencoba menghalangi Juna berganti pakaian.


“Aku sudah sembuh, kamu gak usah terlalu khawatir. Aku janji akan balik dengan selamat.” Juna meraih tangan Kais yang memegang lengannya, dia mencoba menenangkan Kais.


“Dreeett... dreett....” Hp Juna kembali berdering.

__ADS_1


“Ho, kenapa?” jawab Juna.


“Kap, Kapten yakin mau bergabung dengan tim lapangan? Bukannya Kapten masih di Rumah Sakit? Karena aku dengar Kapten baru masuk Rumah Sakit tadi malam,” tanya Jiny yang ingin memastikan kembali.


“Aku sudah baik-baik saja. Aku segera berangkat, ku kabari jika sudah di jalan.” Juna menutup teleponnya, setelah menjawab petanyaan Jiny.


“Juna! Kamu harus janji pulang dengan selamat, paling tidak kamu harus kembali dengan keadaan sadar.” Kais tiba-tiba memeluk Juna dari belakang, dengan suara cemas.


“Aku janji, aku akan kembali dengan selamat.” Juna memengan dan mengelus lembut tangan Kais yang memeluknya dari belakang, ia lalu membalikkan badannya dan langsung memeluk Kais, untuk meredakan rasa khawatirnya.


Setelah melakukan itu, Juna melangkahkan kakinya keluar dari ruangan dan menuju apartemennya dengan menaiki taxi untuk mengambil mobil dan mini phone miliknya. Baru dia langsung memacu mobilnya menuju kantor polisi.


--Kantor Polisi--


“Gimana perkembangannya Agen J?” tanya Juna tiba-tiba masuk ke golden time room.


“Kap, tim lapangan masih ada di tempat terakhir mereka kehilangan jejak. Semuanya masih bingung harus bagaimana,” jawab Jiny.


“Kalau begitu aku akan menyusul mereka kesana,” ucap Juna kembali pergi dari ruangan dan segera menuju ke tempat yang ia maksud.


Saat diperjalanan….


“Semuanya, aku akan menuju ke tempat kalian. Tapi sebelum aku sampai, tolong selidiki lagi tempat itu, kumpulkan barang apapun yang kalian curigai dan menurut kalian berhubungan dengan kejadian ini,” pinta Juna melalui mini phone sembari ia masih fokus mengemudi.


“Baik Kap,” balas seluruh anggota timnya yang hampir serentak.


“Kap, kita sudah mengumpulkan semua barang yang mencurigakan.” Yuyun langsung menghampiri Juna yang baru masuk kedalam ruangan.


“Oh, bagus,” puji Juna sambil menatap setumpuk benda yang sudah di kumpulkan anggota timnya.


Juna berjalan mendekati barang-barang mencurigakan itu, kemudian dia berjongkok untuk menyentuh satu-persatu benda yang mencurigakan itu.


Beberapa barang merupakan benda biasa dan tidak ada hubungannya, tapi 3 benda lainnya mengandung petunjuk dimana lokasi pelaku berikutnya.


“Agen J, cari tau kapan jadwal berikutnya kapal yang akan menyeberang ke pulau Sumatera,” pinta Juna.


“Kapal berikut akan berangkat 30 menit lagi Kap,” balas Jiny.


“Semuanya, kita ke pelabuhan sekarang juga, sebelum ada kapal yang berangkat, kita harus temukan korban,” ajak Juna kembali berdiri dan beranjak dari tempatnya.


“Baik Kap,” jawab Yuyun mengekor di belakang Juna dan diikuti anggota tim yang lain.


Semua tim berangkat ke pelabuhan sesuai yang dikatakan Juna, dan 13 menit kemudian mereka sampai di pelabuhan yang dimaksud Juna.


“Cari peti kontainer dengan kode TGHU 756622 dengan cepat, kita hanya punya waktu 17 menit sebelum kapal berangkat.” Juna memberi arahan kepada seluruh anggota tim nya sebelum berpencar.

__ADS_1


“Agen J, sebar lokasi mini drone juga,” ucap Juna melalui mini phone.


“Siap Kap,” jawab Jiny.


Seluruh anggota tim berlari sembari terus memperhatikan kode yang tercetak di peti kontainer yang berjajar rapih, termasuk Juna yang berlari berlawanan dengan anggota tim nya.


Tak disangkah Juna akhirnya lebih dulu menemukan peti kontainer yang sedang mereka cari, dengan cepat ia langsung mencoba memegang tuas pembuka, tapi secara mengejutkan.


“Buaaaacckk!!”


Seseorang datang dari belakang memukul Juna dengan menggunkan balok kayu, pukulan itu tidak sampai membuat Juna terjatuh, karena dia dengan cepat bersandar pada dinding container yang kebetulan jaraknya dekat dengannya.


“Owh, rupanya tikus ini kuat juga,” ucap orang itu dari belakang.


“Hah... hah... tikus? Haaahh... kalau aku tikus, lalu dirimu apa? Aaa, pasti seekor kucing, yang hanya berani melawan dari belakang.” Juna membalikkan badannya, ia membalas perkataan orang itu dengan senyum sinisnya.


“Aiisshh... kurang ajar!!” Orang itu mengeluarkan pisau lipat dari sakunya, ia dengan cepat mengarahkan pisau itu ke Juna.


Juna yang merasa dirinya terancam dengan refleks langsung menghindar, orang itu masih terus menyerang Juna, mengarahkan pisaunya ke kiri dan ke kanan.


Hingga akhirnya orang itu langsung mengarahkannya ke wajah Juna, dengan sigap ia menahan lengan orang itu sembari menarik wajah nya untuk sedikit menjauh, tapi keberuntungan tidak selalu memihak Juna.


Meskipun sudah menghindar pisau itu tetap sedikit menggores wajah Juna.


“Hah! Cepat juga kamu, rupanya kamu benar-benar ingin hidup? Hahahaha... kalau begitu kenapa kamu biarkan anak itu menunggu terlalu lama,” cetus pelaku dengan smirk tercetak di ujung bibirnya.


“Apa! Heii! Dimana dia? Katakan sekarang juga dimana dia!!” bentak Juna yang sudah sangat marah.


“Dia sudah dibeli orang lain, dan sekarang dia bukan tanggung jawab ku lagi, hahaha,” tawa orang itu dengan cukup keras.


“Diam, kalau begitu dimana terakhir kamu menyerahkannya,” tanya Juna dengan nafas yang masih ngos-ngosan mencoba mengulur waktu dengan bertanya, agar dia bisa melihat orang itu dengan kemampuan yang ia miliki.


“Dia sudah dibawa ke…,” jawab sang pelaku.


Juna yang sudah mengetahui kemana pelaku lain membawa korban pergi segera memerintahkan seluruh anggota tim nya mengikutinya.


Sebelum pergi, tidak lupa Juna memborgol penculik pertama yang sudah ia tangkap. Lalu ia menyerahkan ke polisi patroli, agar langsung dibawa ke Kantor Polisi.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2