
Charly langsung menghubungi tim forensik dan beberapa menit kemudian tim forensik tiba di TKP. Saat itu Kais turun dari mobil tim forensik, ia melihat Juna sedang mengobrol dengan Eunbyul, sesekali Eunbyul juga menunjukkan rasa khawatir terhadap Juna.
Hal itu yang membuat raut wajah Kais langsung berubah. Karena mereka sedang ada di TKP, jadi dia hanya bisa menatap mereka berdua dengan wajah kusut. Dia tetap mencoba bersikap professional dan segera berlalu pergi menuju ke lokasi tempat mayat ditemukan.
Beberapa menit kemudian….
“Oh... Jaguar kenapa kamu keluar lagi? Apa pengambilan buktinya sudah selesai? Cepat banget,” tanya Yuyun melihat jaguar keluar dari ruangan.
“Bukan begitu, aku diusir sama dr. Kais, katanya aku teledor sudah menumpahkan cairan dan hampir merusak bukti. Padahal dia sendiri yang minta cairan itu di letakkan di sebelahnya,” keluh Jaguar menceritakan apa yang dia alami.
“Maksudnya bagaimana? Aku sama sekali gak paham,” sahut Marco ikut nimbrung.
“Jadi gini, aku disuruh menuang beberapa cairan untuk mengambil bukti. Setelah aku tuang ke tempat kecil, dia menyuruh meletakkan disebelah nya, terus ku turuti perintahnya dengan meletakkan cairan itu di sebelahnya. Tapi saat itu dia sedang memotret dengan berjongkok dan berjalan mundur, cairan itu langsung tumpah karena tersenggol kakinya, dan saat itu dia mulai marah,” jelas Jaguar kepada Yuyun dan Marco yang ingin mengetahui kejadian lengkapnya.
“Aah... bukan marah lagi, tapi lebih tepatnya langsung murka. Sepertinya dia ada masalah, atau mungkin dia masih belum bisa melupakan mendiang adiknya,” gumam Jaguar yang masih bisa didengar orang lain.
Mendengar cerita Jaguar dari jauh, Juna menjadi kepikiran kenapa Kais kembali mengeluarkan amarahnya, padahal diantara mereka sedang tidak ada masalah apapun.
“Juna!” panggil Eunbyul.
“Ho, kenapa?” tanya Juna sedikit terkejut.
“Kenapa ekspresi wajah kamu seperti orang terkejut waktu aku panggil,” ucap Eunbyul menatap ke arah Juna.
“Aaah, enggak kenapa-kenapa aku cuma kepikiran sesuatu.” Juna menggelengkan kepala dan tetap menjawab pertanyaan Eunbyul dengan ramah seperti biasanya.
“Kalau gak ada orang lain, aku boleh kan panggil nama?” cetus Eunbyul.
“Boleh, lagian dari kuliah kamu juga panggil aku seperti itu. Kalau begitu Eunbyul, aku permisi mau istirahat di mobil dulu. Sembari menunggu proses ini selesai,” pamit Juna.
“Oh, oke silakan,” sahut Eunbyul mempersilakan Juna dengan senang hati.
“Kok, aku merasa tatapan Eunbyul aneh. Seperti dia ingin mengatakan kalau dia masih suka sama aku,” batin Juna dengan pedenya, sembari terus berjalan menuju ke mobilnya.
“Kap mau kemana?!” teriak Yuyun.
“Istirahat di mobil! Kalau mau ke BFN, kasih tahu aku!” balas Juna dengan berteriak.
Selesai pengambilan bukti di TKP, para tim forensik keluar dari ruangan dengan menandu mayat yang ditemukan. Begitu keluar dari ruangan, Kais langsung celingak-celinguk mencari suaminya, tapi dia tidak menemukannya disisi manapun.
__ADS_1
“Dokter mencari Kapten?” celetuk Yuyun langsung mendekat ke arah Kais, seperti kehilangan sesuatu, dan seolah mengerti apa yang dicari Kais.
“Ho, dimana dia?” tanya Kais dengan nada dingin seperti biasanya.
“Dia di mobil Dok,” jawab Yuyun menatap ke arah parkiran.
“Di mobil? Cuma berdua sama sih Eunbyul?” cetus Kais kedua matanya langsung terbelalak, terkejut mendengar ucapan Yuyun.
“Eunbyul? Aaah... maksud Dokter, Kaptwo? Iya dia juga sudah ada di mobil. Tapi di mobil tim, kalau Kapten dari tadi istirahat di mobilnya sendiri,” balas Yuyun menjelaskan secara detail apa yang dia ketahui.
“Haaahh... aku pikir,” ujar Kais melangkah menjauh meninggalkan Yuyun dan menghampiri tim nya.
“Ooh... dia main pergi gitu aja, haahh... lagian kenapa dia bisa tau nama Kaptwo? Aaa... pasti Kapten yang menceritakannya,” gumam Yuyun mengangguk-anggukan kepalanya dan merasa sedikit kesal karena di tinggal begitu saja sama Kais.
*****
Sementara itu Kais menghampiri tim nya, dan menyampaikan kalau dia berangkat ke BFN bersama Juna. Dia beralasan ingin berbicara hal penting ke Juna, anggota tim nya yang sudah tahu mereka bersahabat, hanya mengatakan iya, tanpa bertanya panjang lebar lagi.
Setelah lapor ke anggota tim nya, Kais langsung menuju ke mobil Juna. Saat membuka pintu mobil, ia melihat suaminya itu sedang tertidur pulas.
“Haahh, dia bahkan tidak mendengar aku datang,” gumam Kais yang sudah duduk disebelah Juna.
“Kap, kita akan akan berangkat ke BFN. Aku sama Charly akan ke BFN, sedangkan Kaptwo dan yang lainnya akan langsung mengintrogasi.” Tiba-tiba suara muncul dari mini phone yang masih terpasang di telinga kanan Juna.
“Ho, aku akan langsung berangkat kesana,” balas Juna terbangun dari tidurnya sambil mengusap-ngusap matanya.
“Astaga!! Haahh... kenapa kamu sudah ada disini? Tunggu sebentar aku mau matikan ini dulu,” kata Juna terkejut melihat Kais yang sudah ada disebelahnya, tidak lupa ia juga langsung mematikan mini phone nya agar pembicaraan mereka tidak didengar orang lain.
“Kanapa dimatikan? Biar aja semua di tim kamu tahu, aah... kalau perlu biar saja semua orang di kepolisian tahu,” balas Kais dengan tatapan dingin.
“Benar kata Jaguar, apa ada yang terjadi sama kamu? Kenapa kata-kata kamu jadi sangat dingin seperti itu?” tanya Juna dengan polos sembari terus menguap.
“….” Kais tidak dapat menjawab pertanyaan Juna, ia hanya terdiam dan mengalihkan pandangannya.
“Kalau kamu terdiam seperti ini, artinya memang benar kamu ada masalah. Mungkin kamu gak mau cerita ke aku karena punya alasan sendiri, oke gak apa-apa aku ngerti. Tapi Chagiya... aku mau minta tolong ke kamu, boleh kan?” sambung Juna menatap Kais yang duduk di sebelahnya.
“Minta tolong apa?” balas Kais singkat, dan nada dingin andalannya.
“Tolong gantikan aku menyetir mobil,” ujar Juna dengan melempar senyum kecilnya.
__ADS_1
“Apa?! Tapi kenapa aku....” Kais terkejut dengan permintaan yang dilontarkan suaminya itu, tapi kata-kata protes yang akan diutarakan seketika terhenti dan kalah cepat dengan tindakan Juna.
Sebelum Kais semakin mengoceh dan menolak permintaannya, dengan cepat Juna membungkam mulut Kais dengan bibirnya. Kedua mata Kais langsung terbelalak, dia sangat terkejut dan hanya bisa mengedip-ngedipkan kedua matanya.
“Kamu mau kan melakukannya?” Juna kembali bertanya setelah melepaskan ciuman singkatnya.
“….” Sementara Kais yang masih terkejut hanya bisa menganggukkan kepalanya. Patuh tanpa mengajukan syarat apapun, seperti orang yang terhipnotis.
Mereka turun dari mobil dan berganti posisi tempat duduk, Juna di kursi penumpang dan Kais dikursi kemudi. Di tengah perjalanan Juna kembali memejamkan matanya, sedangkan Kais fokus menyetir, tapi sesekali ia Juga menatap Juna.
“Apa ini, dia kembali tidur? Bisa-bisanya dia tertidur setelah melakukan itu secara mendadak. Kalau begini ceritanya bagaimana aku bisa marah dan mempertanyakan soal pembicaraannya dengan Eunbyul?” gumam Kais yang masih dapat didengar orang lain.
“Aaah... jadi kamu dingin seperti tadi itu karena Eunbyul?” sahut Juna membuka matanya, tapi masih menatap ke depan.
“Kamu mendengar yang aku katakan?” celetuk Kais terkejut mendengar suara Juna.
“Ho, terdengar sangat jelas. Lagian kenapa gak langsung kamu tanyakan? Kenapa harus melampiaskan ke tim kamu, kasihan tau mereka. Selalu kena semprot amarah kamu,” ujar Juna menoleh ke arah Kais.
“Padahal aku gak bermaksud seperti itu ke mereka, mereka aja yang selalu teledor. Jelaslah aku marah,” kilah Kais.
“Eunbyul tadi hanya bertanya apa aku terluka? Karena aku mengikuti pelaku sendirian, dan bertindak sendiri. Karena lama-kelamaan aku merasa tidak nyaman dengan tatapan Eunbyul, akhirnya aku memutuskan pergi tidur di mobil. Cuman itu, enggak ada lagi yang kita bicarakan.” Juna menjelaskan dengan detail ke istrinya yang sedang menyetir itu.
“Aaahh... jadi begitu,” balas Kais setelah Juna menjelaskan semuanya.
“Ho, kamu puas sekarang,” tutur Juna menarik ujung bibirnya, membentuk sebuah senyuman kecil.
Mereka melanjutkan perjalanan menuju BFN dengan diselingi obrolan-obrolan kecil dan membahas sesuatu secara acak, kadang sesekali membuat mereka tertawa bersama-sama.
.
.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1