Love And Mystery

Love And Mystery
-44- Menjerat Kambing Hitam 2


__ADS_3

Melihat sebuah kunci inggris yang nganggur dilantai, sang pelaku langsung memungutnya dan melemparnya kewajah Juna. “Duaaacckk!!”


“Accchhkk...!!” Pekik Juna yang tiba-tiba mendapatkan sebongkah besi mendarat di dahinya.


Melihat Juna yang tidak fokus karena masih kesakitan, sang pelaku mencoba melarikan diri dari Juna, tapi karena kabur dengan buru-buru, sesampainya di halaman depan, tanpa sadar menginjak jebakan yang sudah dia pasang sendiri.


Jebakan yang mengenai pelaku langsung menjerat kaki sang pelaku, dan membuat sang pelaku gagal melarikan diri. Semakin mencoba melarikan diri, kaki sang pelaku semakin terluka dan semakin membuat darah semakin mengucur.


Sementara Juna yang merasa buruannya terlepas langsung mengejarnya, tapi dia sendiri tidak menduganya kalau buruannya sedang duduk di halaman depan.


“Hah... Ngapain duduk disini? Aku pikir sudah kabur jauh, ternyata menyerah juga. Aku harus berterima kasih dengan orang yang membuat jebakan ini,” kata Juna dengan smirk diwajahnya.


“Haiiissshh---.” Dengan wajah kusut, pelaku mendengus kesal, karena usaha kaburnya gagal.


Satu alis Juna mulai terangkat, smirk dibibirnya sudah dia tampakkan, dan tangan kanannya mulai mempererat pegangannya pada besi panjang yang masih ia bawa, yang menandakan rasa kesalnya semakin memuncak. “Sepertinya sudah terlihat siapa yang akan menang,” ucapnya mulai melangkah mendekat ke pelaku, dan secara langsung memukul tepat diwajah pelaku dengan alat yang dia bawa.


“Buaaacckkk!!!” Dengan sekali pukulan keras, pelaku langsung terjengkang kebelakang dan tidak sadarkan diri, setelah Juna melayangkan tongkat besinya.


“Haahh! Kalau bukan karena hukum negara, sudah aku habisi dia disini,” gumam Juna sembari menatap pelaku dengan tatapan penuh amarah.


Setelah pelaku tak sadarkan diri, Juna mulai menelepon Yuyun untuk memberitahu keberadaannya. Sebelum pelaku kembali sadar, Juna langsung memborgol kedua tangannya dan membuang senjata yang tergeletak di dekatnya.


….


Beberapa menit kemudian~


“Kap! Haa... Dia, berhasil tertangkap? Kapten menangkapnya sendiri?” kata Yuyun setelah sampai di rumah pelaku.


“Ho. Cepat bawa dia, tapi karena kita cuman berdua... tutup kepalanya dengan kain hitam setelah sampai di mobil. Aaah... Jangan lupa obati kakinya, karena perjalanan kita cukup jauh,” pinta Juna.


“Baik Kap.” Yuyun melaksanakan perintah kaptennya.


Sepanjang jalan para warga yang berpapasan dengan mereka berdua terus mengawasi, karena merasa tidak nyaman dengan tatapan mereka semua, Juna mulai mengalungkan identitasnya sebagai polisi di lehernya, agar tidak disalah pahami orang lain, sebagai seorang penculik.


Pelaku berjalan dengan keadaan setengah sadar, dan kaki pincang. Meskipun keadaan pelaku seperti itu, Yuyun tetap menyeret lengan menggenggam erat lengan pelaku yang sudah terborgol.


Sesampainya di mobil, Yuyun duduk dibelakang. Dia sengaja duduk disebelah pelaku untuk melaksanakan perintah kapten tim nya.


….

__ADS_1


Kantor polisi Jakarta~


Perjalanan yang cukup panjang berhasil Juna dan Yuyun lewati, sesampainya di Kantor Polisi, pelaku langsung dimasukkan kedalam ruang introgasi.


“Kap! Kapten bai-baik saja?” tanya Jiny yang tiba-tiba berlari ke arahnya.


“Ho, cuman lecet sedikit, karena melawan psikopat seperti dia,” jawab Juna melihat ke arah Jiny.


“Juna, maaf aku baru datang kesini setelah kamu pergi ke Bandung. Tapi, apa kepala dan bibir kamu baik-baik saja? Sepertinya cukup parah.” Tiba-tiba Eunbyul juga datang menghampiri Juna, dan mencoba memegang luka yang ada diujung bibir Juna.


Secara spontan Juna langsung menghindar dan memalingkan wajahnya. “Aku baik-baik saja, kamu introgasi dia. Aku mau ngobatin luka aku dulu, kalau ada perkembangan cepat kasih tahu aku.” Setelah memberi tugas, Juna melangkah pergi dari hadapan Eunbyul dan Jiny.


“Oke,” jawab Eunbyul dengan nada sedikit tinggi, agar didengar Juna yang sudah melangkah pergi.


….


Dengan langkah cepat, Juna berjalan menuju ruangan timnya. Dia mengeluarkan alcohol, obat merah, cotton buds. Lalu ia kembali duduk dikursinya, dan mulai berkaca untuk memeriksa luka-luka yang ada diwajahnya.


“Haahh... Memang rasanya gak terlalu sakit, tapi kenapa visualnya buruk sekali. Kalau begini, Kais bisa khawatir berlebihan,” gumam Juna setelah melihat luka-lukanya.


“Bodoh ah... Lebih baik obati dulu. Biar gak terlihat terlalu parah.” Juna mulai mengambil cotton buds, dan meneteskan alcohol secara perlahan.


Sesudah terlihat sedikit mengering, plester mulai ditempelkan di pelipis kanan Juna. Sedangkan luka yang ada diujung bibirnya hanya diolesi salep yang berbentuk krim.


….


Beberapa menit kemudian~


“Juna, ini rekaman dari pengakuan pelaku. Beberapa sudah dia akuin, dan beberapa masih terus menyangkalnya. Malam ini kamu harus minta surat penahanan, dan untuk sisanya yang belum dia akui... Kita tanyakan besok.” Eunbyul datang ke meja Juna, dan menyerahkan sebuah flasdisk yang ia letakkan diatas meja Juna.


“Oke, terimakasih sudah bekerja keras. Aku akan urus sisanya,” balas Juna yang langsung berdiri menuju keruangan pimpinan untuk meminta surat penahanan seperti yang dikatakan Eunbyul.


Surat perintah pun sudah didapatkan, pelaku dimasukkan kedalam penjara. Karena hari sudah mulai malam, seluruh anggota tim pulang ke rumah masing-masing, setelah hari yang cukup panjang.


….


Hari semakin petang, Juna yang sudah sampai di tempat parkir apartemennya merasa ragu untuk turun dari mobil. Tapi tiba-tiba saja hp nya berdering, terlihat Kais sudah mulai menelepon Juna, untuk menanyakan keberadaannya.


“Baik... Sepertinya aku harus turun, yang penting aku pulang dalam keadaan masih hidup. Aahh... Aku bisa gunakan ini untuk menutupi luka-luka ku, meskipun nantinya pasti ketahuan.” Juna mengambil sebuah topi beanie dan sebuah masker hitam.

__ADS_1


Setelah hampir semua wajahnya tertutupi, Juna mulai turun dari mobilnya dan berjalan masuk kedalam gedung apartemennya.


Sesampainya didepan unit apartemennya, ia masuk dengan langkah tanpa ragu. Keadaan apartemennya saat itu masih gelap, dan dia hanya berfikir kalau Kais belum pulang kerumah.


Tapi----


Tiba-tiba saja.... “Buaaacckk!!” Sebuah pukulan melayang dari sebelah kanan Juna.


“Maling... Maling... Beraninya masuk rumah orang!” ucap seorang wanita yang melayangkan pukulan ke arah Juna.


“Aaacchk... Aaachhk... Ini aku Juna, Bae Juna!” balas Juna dengan nada tinggi, sembari masih merasa kesakitan karena pukulan yang terus dilayangkan ke arahnya. Sementara itu dia juga langsung membuka masker yang menutupi setengah wajahnya.


“Juna?! Sebentar,” pekik perempuan yang melayangkan pukulan, akhirnya mulai menyalakan semua lampu apartemennya.


“Chagi... Kamu tega banget melayangkan sapu ke arah ku,” jawab Juna yang akhirnya mengetahui siapa yang memukulnya dengan sapu.


“Maaf, habisnya kenapa kamu menutupi seluruh wajah kamu. Kan... Aku pikir kamu penguntit,” ucap Kais dengan cepat berjalan mendekati Juna.


“Tapi tunggu dulu, aahhh... Sekarang aku paham kenapa kamu pakai semua ini. Kamu terluka lagi?! Cepat kesini, pasti tidak hanya ini kan lukanya.” Kais dengan cepat mengetahui apa yang disembunyikan Juna, kerena itu dia dengan cepat menyeret Juna untuk duduk di sofa panjang yang ada diruang tamunya.


Sesuai firasatnya Kais mulai mengetahui kalau luka Juna tidak hanya ada di ujung bibirnya, tapi juga dibagian pelipisnya. “Apa-apaan ini kenapa kamu terluka cukup parah hari ini?” tanya Kais.


Kedua mata Juna melirik ke kanan dan ke kiri untuk mencari alasan. “Eeemm... Aku tadi melawan seorang pencopet, terus pencopet itu---.” Juna terus mencari alasan yang tepat, agar tidak ketahuan bohong, tapi ucapannya langsung dipotong Kais.


“Terus pencopet itu melempar barang ke arah kamu, dan akhirnya jadi seperti ini. Juna, kamu pikir aku anak kecil yang bisa kamu bujuk dengan alasan yang terlihat masuk akal seperti itu?” sambung Kais terlihat sedikit kesal.


“Pasti ada yang kamu sembunyiin kan dari aku? Tentang apa? Cepat kasih tahu, atau aku gak akan pernah memaafkan kamu,” tambah Kais dengan kedua alis yang terlihat hampir menyatu.


Juna menatap kedua mata istrinya itu dengan sangat dalam, kemudian dia segera….


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2