
Penyerahan sertifikat kepemilikan itu, menjadi akhir pertemuan mereka berdua. Petugas real estate dan Juna berpisah didepan rumah yang sudah menjadi milik Juna, setelah semua urusan rumah selesai... Juna segera memacu mobilnya kembali ke apartemennya.
Sesampainya di apartement~
Juna telah tiba di ruangan tengan apartementnya, dengan tatapan lesuh dan capek. Berkas-berkas yang dari tadi dia bawa, dia letakkan begitu saja diatas meja. Lampu ruangan pun sengaja tidak dia nyalakan, yang ada dipikirannya saat itu adalah untuk istirahat.
Niat hati mau istirahat sebentar di sebuah sofa panjang yang ada di ruang tengah, Juna malah ketiduran dengan posisi duduk dan masih bersandar pada sofa yang menempel dengan tembok.
30 menit kemudian~
Kais pulang dengan menenteng 3 kotak besar yang tersusun rapih di tangan kanan nya, sementara ditangan kiri nya melingkar tas kerja yang biasa dia bawa.
Ketika memasuki ruang tengah Kais sedikit merasa terkejut, saat melihat ada orang yang duduk di sofa sambil bersandar di tembok yang menempel dengan sofa.
Tanpa membangunkan Juna, Kais berjalan ke arah dapur untuk mengambil gelas dan 2 buah piring kecil, dengan langkah pelannya dia juga kembali mendekati tempat dimana Juna sedang tertidur dengan posisi duduk.
Langkah Kais pun seketika terhenti setelah menyenggol beberapa berkas yang tergeletak di atas meja. “Haduh... ini pasti berkas penting, tapi kenapa di letakkan disini,” batinnya dalam hati.
Berpikir berkas itu adalah berkas penting, Kais langsung memungutnya. Tanpa sengaja dia malah menjatuhkan beberapa kertas dari isi map, saat itulah dia melihat namanya yang terketik rapih di dokumen yang sedang dia pegang.
“Apa ini?!” guma Kais sedikit terkejut. Kedua tangannya dengan cepat membuka dokumen yang dia pegang, kedua matanya juga segera membaca tiap kata yang terketik di dokumen itu dengan cepat.
Merasa terganggu dengan suara Kais yang sedang membolak-balik lembaran kertas, seketika Juna mulai membuka mata. Saat itu juga Juna langsung mengalihkan pandangannya ke arah sang istri yang sedang mengotak-atik lembaran kertas.
“Eeemm... Kamu sudah datang,” ucap Juna saat pertama kali membuka kedua matanya di ruangan yang sudah terang karena sinar lampu yang ada di ruangan menyala dengan sempurna.
“Chagi, jelasin ke aku, apa maksud dari dokumen ini? Kenapa sertifikat rumah ini ada sama kamu?” Kais dengan cepat melempar pertanyaan begitu melihat Juna sudah membuka mata.
“Oh, kamu sudah melihat semuanya?” tanya Juna seketika membuka lebar kedua matanya.
“Ho. Kenapa? Kamu masih gak mau jelasin? Atau memang mau kamu sembunyikan selamanya dari aku?” balas Kais dengan wajah cemberutnya.
“Bukan begitu maksud aku,” jawab Juna menghela nafas. “Sini kamu duduk dulu, aku akan jelasin semuanya.” Juna menarik lengan sang istri untuk duduk disebelahnya.
“Yasudah jelasin semuanya. Sekalian juga jelasin yang masalah misi bahaya,” sindir Kais dengan kedua alis yang hampir menyatu karena kesal.
“Oke, jadi gini.” Saat itu juga Juna menjelaskan satu-persatu maksud dia membeli kembali rumah mewah milik Kais yang dulu.
….
“Oh, jadi begitu. Itu artinya kita harus pindah dong, berapa hari lagi kita harus mengosongkan apartement ini?” seru Kais dengan ekpresi mulut termanyun.
__ADS_1
“Kontrak aku tinggal 2 minggu, tapi setidaknya minggu ini aku harus kembalikan semua fasilitas yang diberikan kepolisian,” jelas Juna.
“Jadi kita harus pindah minggu ini Juga?” ucap Kais kembali.
“Ho.” Juna kembali menjawab diiringi dengan anggukan kepalanya.
“Lalu! Gimana dengan misi bahaya kamu? Apa jadi kamu lakukan?” tanya Kais kembali.
Juna seketika mengalihkan tatapannya, dan merasa ragu untuk memberitahu sang istri. Dia tetap merasa sang istri tidak perlu mengetahui rencana bahayanya.
“Hey! Jawab!” pekik Kais setelah tidak mendapatkan jawaban yang dia inginkan dari sang suami.
Teriakan Kais membuat Juna langsung terkejut, hingga membuatnya sedikit bergetar. “Oke-oke akan aku jelaskan. Aku sudah menghubungi Baesik untuk datang ke Indonesia beserta tim khusus, setelah mereka datang kesini aku baru akan mendiskusikan rencana yang paling aman untuk menangkap pelaku yang sebenarnya,” jelas singkat Juna.
“Kalau begitu besok aku akan menghubungi jasa penyewaan truck,” sahut Kais.
Juna mengerutkan dahinya. “Mau ngapain?” tanyanya heran.
“Ya, jelas untuk pindah rumah,” jawab Kais.
“Heeeem... yasudah kalau begitu aku akan izin gak masuk sehari,” balas Juna.
“Begitu lebih baik,” ucap Kais, sembari sibuk merapikan meja dari barang-barang yang berserakan. “Sekarang lebih baik kita makan dulu, ini aku sudah beli 3 kotak pizza,” sambungnya.
“Heeeemm... pada awalnya sih gak ada perayaan, karena aku cuman mau nonton film sama kamu malam ini, sambil nyemil pizza dan minum cola. Tapi, berhubung besok kita akan bersiap pindah kerumah baru... jadi anggap saja ini sebagai makan malam terakhir di apartemen ini.” Kedua mata Kais seketika menyusuri setiap sudut ruangan dengan kedua matanya.
Sementara Juna hanya memberikan respon senyuman kecil diwajahnya, saat melihat sang istri yang merasa sayang untuk meninggalkan apartemen.
….
“Chagia, kalau boleh tahu apa alasan kamu memilih membeli rumah, dari pada beli apartemen lagi seperti ini?” celetuk Kais kembali sambil mengunyah pizza.
“Hem! Ah... itu karena apartemen seperti ini terlalu kecil untuk keluarga ku nanti,” balas Juna sambil meminum cola dari sebuah gelas berukuran sedang.
Mendengar ucapan Juna, Kais memiliki ide untuk menggodanya. “Memang kamu mau punya berapa keluarga lagi?” sindir Kais.
“Ho?! Hei... bukan itu maksud aku, yang aku maksud itu keluarga kita. Terus anak-anak kita nanti juga supaya punya tempat bermain pribadi, dan kamar pribadi,” sahut Juna dengan cepat mengklarifikasi pertanyaan sang istri.
Sambil menahan tawanya yang sudah tak tertahankan, Kais mengatakan, “Iya aku tahu kok, meskipun gak kamu perjelas seperti itu.”
“Waaahh... jangan-jangan kamu sengaja ya, mau menggoda ku?” balas Juna menarik ujung bibirnya.
__ADS_1
Kais menganggukkan kepalanya. “Heem... Memang aku sedang menggoda kamu.” Kais sengaja mendekatkan wajahnya ke wajah Juna.
Melihat sang istri mendekatkan wajahnya, Juna hanya membalasnya dengan senyum lebarnya. “Sudahlah, aku mau menyalakan TV dulu. Kita menonton film sesuai keinginan kamu,” ujar Juna.
Juna mulai meraih remot TV yang ada didekatnya, dia mulai menekan tombol power yang ditandai dengan warna merah di remotnya. Setelah TV menyala, dia segera menekan channel Beflix.
Ketika film yang dia putar mulai menyala, Juna mematikan lampu yang ada di ruangan tengah. Menit demi menit durasi film yang mereka putar terus berjalan, belum sampai setengah durasi kepala Juna tiba-tiba terjatuh di bahu kanan sang istri yang ada disebelahnya.
Kais yang sedang fokus menonton film merasa sedikit terkejut, hingga membuatnya memalingkan wajah ke bahu kanannya. “Dia pasti sangat kelelahan, beberapa hari ini dia terus ngurusin masalah pembunuh berantai itu,” gumamnya.
Melihat posisi tidur sang suami terlihat tidak nyaman, Kais mencoba menjatuhkan kepala dan badan Juna yang bersandar di bahu kanannya ke pangkuannya.
Juna terlihat masih tertidur pulas, dan tidak terganggu sedikitpun dengan perlakuan sang istri. Dia hanya menggeliat sedikit, dan kembali tertidur.
“Apa ini... apa dia masih merasa kurang nyaman dengan posisi seperti ini?” gumam Kais.
Secara perlahan tapi pasti, Kais mengangkat kepala sang suami yang ada di atas pahanya, lalu dia mulai berdiri dari sofa, dan mengambil sebuah bantal yang tergeletak disebelahnya. Kemudian bantal itu diletakkan dibawah kepala Juna yang masih tertidur sangat pulas. Sementara dia sendiri duduk di lantai, tepat di sebelah Juna yang sedang tertidur di sofa.
“Dia bahkan tidak terbangun sedikitpun, waktu aku memindahkannya,” gumam Kais secara lirih, sembari masih menatap wajah sang suami dari dekat.
Sementara... dalam tidur Juna yang lelap, dia mulai memimpikan sesuatu. Didalam mimpi itu dia melihat Keysa sang adik ipar sedang dikerjar-kejar Charly sambil menangis, dan terus memanggil namanya. Sementara dia terlihat hanya bisa mengejar dengan berlari berada di belakang pelaku, dengan wajah khawatir dan sangat marah. Setelah berhasil mendapatkan Keysa, sang pelaku langsung tiba-tiba mengeluarkan pisau, dan langsung menggoreskannya di leher Keysa, hingga membuat Keysa terluka parah, dan meninggal saat itu Juga.
“Tidaaaaaakkkkk... Keysaaaaa!!!” teriak Juna yang seketika terbangun dari tidurnya, dengan keringat yang sudah membasahi dahi dan seluruh badannya.
Teriakan Juna yang lumayan keras sampai membangunkan Kais yang tadinya tidur disebelahnya dengan posisi duduk dan bersandar pada sofa. “Juna, kamu kenapa? Kamu baik-baik saja kan? Kenapa kamu berkeringat cukup banyak seperti ini?” ucap Kais, sambil menyekah keringat yang membasahi dahi Juna, dengan lengan baju yang dia kenakan.
Dengan tatapan kosong dan dipenuhi rasa terkejut, Juna menatap sang istri yang ada disebelahnya. Setelah menatap cukup lama, dengan cepat Juna meraih lengan sang istri dan langsung memeluknya.
Juna mendekap sang istri dengan perasaan yang dalam, kedua lengan-lengannya yang berotot itupun tidak membiarkan sang istri lepas, seakan-akan ia tak ingin dipisahkan sedetikpun.
“Hei, kamu kenapa? Apa mimpi kamu sangat buruk sampai kamu seperti ini,” kata Kais dengan wajah bingung melihat perlakuan sang suami.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung~