
“Aku dengar, memang kondisi seperti apa? Sudahlah kamu tidur saja,” sahut Juna mendengar celotehan Kais.
“Aku gak bisa tidur, aku mau minum aja dulu.” Kais bangkit dari kasur dan mengambil semua kaleng bir yang ada di lemari es kecil milik hotel, lalu ia meletakkan semua itu di atas meja.
“Hey! Kamu beneran gak ingin nemenin aku minum?” ucap Kais.
“Enggak, aku mau tidur,” tolak Juna.
“Yasudah kalau gitu, biar aku yang minum semua,” balas Kais mulai membuka 1 kaleng bir.
“Haaahh... kamu ini benar-benar ya.” Mendengar ucapan Kais, Juna langsung bangkit dan merubah posisinya menjadi duduk.
“Okeeyy... jjan!” balas Kais mengajak Juna bersulang.
Beberapa menit kemudian....
Mereka berdua terlihat sudah mabuk, Juna hampir tertidur dan kedua matanya hampir tidak bisa terbuka. Sedangkan Kais masih terus ingin menghabiskan minumannya, sembari terus berceloteh.
“Junaaa! Kenapa kamuu suka sama akuu,” celetuk Kais yang tiba-tiba berpindah tempat duduk disebelah Juna.
“Kamuuu... cantik, lucu... eeemm... dan imut,” jawab Juna dengan mata yang hampir tidak bisa dibuka.
“Akuuu, wanita dari Korea Selatan asli, dan kamu jugaaa besar di Seoul. Tapi kenapa kamu tidak pernah sekalipun berperilaku seperti orang Korea? Apa menurut kamuuu... aku kurang menarik, atau aku kurang sexyyy... seperti Subi dan teman-temannya! Apa kurangnya akuuu!!” Dengan kesadaran semakin minim, Kais semakin bertingkah aneh dan menarik-narik kemeja Juna yang juga kesadarannya semakin berkurang.
“Baiiikk... kalau kamu memang gak mau melakukan lebih dulu, aku akan memulainya lebih dulu.” Dengan cukup kasar Kais langsung menarik kemeja Juna dan langsung menyiumnya.
Juna yang tadi benar-benar hampir tidak sadarkan diri, tiba-tiba kedua matanya langsung terbuka lebar karena perlakuan Kais.
Kais melepaskan ciumannya dan tersenyum dengan menatap Juna, pandangannya juga teralihkan ke arah kemeja Juna yang 5 kancing nya terlepas satu persatu saat dia menariknya.
“Astaga, maaf,” ucapnya yang langsung menelan ludah, entah apa yang di tatap Kais.
“Kamuuu... sudah memancing jiwa liar dalam diriku untuk keluar, akuu... gak bisa menghentikan ini,” cetus Juna yang langsung kembali mencium Kais.
Mereka terus saling membalas ciuman itu, hingga membuat mereka berdiri, dan terdorong sampai ke tempat tidur, dengan cepat satu persatu baju terlempar ke lantai. Lalu mereka mengambil selimut, untuk menutupi tubuh mereka masing-masing.
--Keesokan harinya--
“Aaaak! Kepala ku sakit banget, padahal aku cuma minum 2 kaleng. Apa ini kenapa aku bisa tidur disini? Kenapa aku tidur di sebelahnya? Dan kenapa bagian bawah ku berasa dingin? Apa jangan-jangan....” Juna membuka matanya secara perlahan, ia menoleh ke arah Kais yang masih tertidur disebelahnya, dan karena dia merasakan hal aneh, ia langsung mengintip dibalik selimutnya.
__ADS_1
“Haaiisshh... bodoh, apa yang sudah aku lakukan semalam. Haaahh... ini semua pasti gara-gara alkohol itu, aku harus bagaimana ini,” batin Juna setelah mengintip di balik selimut yang menutupi tubuhnya.
“Oh, sudah jam segini. Sepertinya tempat pendaftaran itu sudah buka.” Juna beranjak dari tempat dia tidur, dan satu persatu memakai celana dan baju nya.
“Hei! Kamu mau kemana, ini masih pagi,” celetuk Kais membuka kedua matanya, dan menatap Juna yang duduk di tepi tempat tidur.
“Ho, kamu gak lihat ini sudah jam berapa? Kita harus segera ke tempat pendaftaran itu, agar balik ke Jakarta nya juga gak terlalu malam,” jawab Juna berdiri dari tempat tidurnya.
“Aah iya aku lupa, sepertinya aku juga harus….” Kais yang sedikit terkejut ikut bangun dari tempat tidurnya.
“Tunggu dulu, berhenti! Dan jangan bergerak dari tempat tidur, aku akan memakai toilet lebih dulu. Setelah aku selesai, baru kamu boleh bergerak dari tempat tidur,” pekik Juna menghentikan Kais yang akan bergerak dan turun dari tempat tidur.
Setelah menerapkan suatu larangan, Juna segera ke kamar mandi, dengan membawa baju ganti ke dalam kamar mandi.
“Apa itu tadi? Kenapa reaksi dia berlebihan seperti itu? Terus dia juga membawa baju ganti ke dalam kamar mandi? Itu kan bukan kebiasaannya. Jangan bilang dia merasa bersalah tentang kejadian semalam?” tebak Kais dengan muka bingung.
“Eeeiii... gak mungkin kan? Tapi... kalau beneran merasa bersalah itu artinya, dia benar-benar berbeda dari laki-laki yang ada di Korea Selatan. Haaahh! Pantesan, apa karena ini dulu Subi mencoba mendekatinya,” gumam Kais yang sesekali menarik ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman kecil.
Beberapa menit kemudian….
Selesai mandi Juna keluar sudah menggunakan pakaian lengkap, dan dia langsung memasang sepatunya dan akan keluar dari kamarnya.
“Enggak bukan gitu, aku akan tunggu kamu di lobby. Supaya kamu bisa segera bersiap-siap, aaah... aku hampir lupa, semua berkasku sudah aku bawa, jadi jangan lupa bawa berkasmu saat keluar nanti,” ujar Juna langsung keluar dari kamarnya.
“Bisa segera bersiap-siap apanya. Haaahh! Dia ada di dalam kamar atau tidak, aku akan melakukannya seperti biasa.Tapi sepertinya dia benar-benar merasa bersalah atas kejadian semalam, padahal tadi malam dia lebih aktif dari dugaanku,” gumam Kais, membentuk smirk di bibirnya.
Beberapa menit kemudian….
Mereka berangkat dari hotel dengan menaiki taxi, di dalam taxi keadaan menjadi canggung secara tidak terduga. Tanpa Juna sadari, ia terus menggerakkan jari telunjuk kirinya selama di perjalanan.
“Juna!” panggil Kais secara tiba-tiba.
“Ho, ada apa? Kamu perlu sesuatu?” pekik Juna dengan nada terkejut.
“Aku cuma mau bilang, kalau misalnya kamu merasa bersalah soal kejadian semalam, sebaiknya kamu segera lupakan perasaan bersalah itu, aku gak apa-apa dan aku juga gak menyesal sama sekali,” celetuk Kais secara tiba-tiba membahas yang sesuatu yang ada dipikiran Juna saat itu.
Kais menghela nafas dan menatap Juna. “Hei, kenapa kamu menatap aku dengan wajah seperti itu? Aku bilang aku gak apa-apa, karena menurutku melakukan sekarang atau nanti itu sama saja. Jadi jangan menatapku seperti itu dan jangan pernah menyesal, seakan membuatku merasa menjadi wanita gampangan,” sambung Kais.
“Kalau bukan kamu yang melakukan, aku juga pasti gak mau dan langsung penolaknya, jadi jangan samakan aku dengan wanita lainnya,” tambah Kais yang masih berusaha menjelaskan ke Juna.
__ADS_1
“Aah... maaf Pak, sepertinya saya bicara terlalu vulgar ya,” ucap Kais menatap ke arah supir taxi yang melihat mereka dengan menahan tawanya, seperti ia tau apa yang Kais bicarakan.
“Tidak apa-apa nona, saya juga pernah menjadi pengantin baru,” sahut sang supir taxi.
“Sebenarnya kita belum menjadi pengantin baru Pak, tapi akan segera menjadi pengantin baru beberapa menit lagi,” jawab Kais menatap ke arah supir taxi melalui kaca kecil yang ada di depan.
“Aaah... jadi begitu,” balas supir taxi singkat.
7 menit kemudian….
Mereka akhirnya sampai di tempat yang mereka tuju, ditempat itu mereka langsung melakukan pendaftaran, dengan mengisi beberapa lembar kertas berdasarkan berkas yang sudah mereka bawa.
5 menit kemudian….
Selesai mengisi semua kolom yang ada di lembaran kertas itu, Juna segera menyerahkan kembali ke petugas. Petugas yang menerima lembaran kertas yang sudah terisi tersebut segera memprosesnya, hingga 2 menit kemudian sebuah berkas dengan keterangan resmi menikah itu telah terbit, dan berkas itu kembali diserahkan ke Juna.
Setelah menyelesaikan semua urusan mereka di tempat itu, mereka pergi dengan kembali menaiki taxi menuju ke suatu tempat.
“Chagi, kita mau kemana?” celetuk Kais secara tiba-tiba.
“Cha... gi? Haahh... kenapa tiba-tiba kamu memanggil aku seperti itu?” jawab Juna sedikit terkejut.
“Kenapa? Kita sudah menikah, seharusnya memang seperti itu. Mulai sekarang aku akan panggil kamu dengan sebutan Chagi kalau enggak ya... Oppa,” ujar Kais melempar senyumnya.
“Oke, tapi ingat jangan panggil seperti itu di tempat kerja. Bukannya aku gak mau tapi…,” ucap Juna yang terpotong.
“Aku tau, tapi diluar kantor dan pekerjaan aku akan panggil kamu dengan sebutan itu setiap hari,” sambung Kais tiba-tiba menggenggam tangan Juna dan menatapnya dengan lembut.
“….” Sedangkan Juna tidak mengatakan apapun dan hanya membalas tatapan Kais dengan senyum dibibirnya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.