Love And Mystery

Love And Mystery
-43- Menjerat Kambing Hitam


__ADS_3

Beberapa jam kemudian...


Juna akhirnya sampai di apartemennya, dia segera masuk kedalam. Begitu membuka pintu, ia melihat keadaan ruangannya gelap dan hening, karena jarum pada jam dinding juga sudah menunjukkan pukul 00.25. Karena ia cukup lelah, tanpa sadar ia langsung membanting badannya ke sofa panjang yang ada di ruang tamu.


Keesokan harinya...


Kais mulai terbangun dari tidurnya, dengan kedua mata yang masih tertutup, dia mencoba meraba bantal yang ada disebelahnya. Ketika seseorang yang dia cari tidak ada, dia langsung membuka matanya, dan benar kalau tempat disebelahnya kosong.


Kais hanya bisa menghela nafas, ia turun dari tempat tidurnya tanpa mengganti piamanya, dia berjalan menuju dapur, tapi langkahnya langsung terhenti begitu melihat suaminya tertidur di sofa.


Kais mencoba mendekati Juna, ia mengelus lembut rambut Juna, dan dengan tatapan dalam ia juga mencoba menyingkirkan poni rambut yang menutupi wajah Juna.


Karena merasa terganggu, Juna pun akhirnya membuka kedua matanya. “Kamu sudah bangun,” sapa Juna setelah melihat wajah cantik Kais.


“Ho. Kamu tadi malam pulang jam berapa? Kenapa gak tidur dikamar, malah tidur di sofa,” tanya Kais yang masih menatap kedua mata Juna.


Juna bangkit dari tidurnya, dan langsung merubah posisinya menjadi duduk. “Tengah malam, itu sebabnya aku tidur disini. Karena aku gak mau membangunkan mu,” ucapnya sambil melempar senyum termanisnya.


“Lalu apa yang kamu dapatkan setelah keluar kota dan pulang tengah malam seperti itu?” Kais berdiri dari duduknya, dan merubah posisi duduknya disebelah Juna.


“Pak Beni adalah donatur yang selama ini menyokong hidup Charly, dan team kepolisian yang dulu juga mengetahui kalau Charly adalah anak dari pelaku pembunuhan yang ditangkap beberapa tahun yang lalu,” jelas Juna dengan suara pelan.


“Whattt...? Aku gak nyangkah dia punya latarbelakang yang mengejutkan,” sahut Kais sedikit terkejut.


“Bukan hanya itu, nama asli Charly sebelumnya itu Candra. Baru setelah keluar negeri, dia ganti nama menjadi Charly,” ujar Juna kembali.


“Ah, jadi begitu. Oh... Ya, ada yang mau aku tunjukin ke kamu.” Kais beranjak dari duduknya, ia melangkah menuju kamar.


Setelah keluar dari kamar ia menenteng sebuah laptop miliknya, dan kembali duduk disebelah Juna.


Kais mulai membuka laptopnya, dan mengklik sebuah sebuah dokumen. “Ini laporan identifikasi tentang palu yang ditemukan salah satu tim kamu, saat menemukan… Keysa,” ucapnya menyodorkan laptop ke Juna.


“Oke, thank you. Aku akan teruskan ke Jiny, untuk melacak keberadaan orang yang punya sidik jari ini,” balas Juna yang langsung melihat dokumen yang sudah terbuka di layar laptop.


“Juna...,” panggil Kais menatap Juna dengan wajah khawatir.


“Heem,” sahut Juna membalas tatap Kais.


“Kamu harus hati-hati, saat menangkap orang ini. Dia... Terlihat sangat berbahaya,” ujar Kais kembali.


“Ho, pasti. Aku akan pulang dengan selamat.” Juna meredahkan kekhawatiran Kais dengan mengelus lembut satu pipinya.

__ADS_1


“….” Tanpa berkata-kata lagi, Kais hanya membalas perlakuan Juna dengan senyuman manisnya.


“Yasudah kalau begitu aku mau mandi dulu, aku akan mandi di kamar mandi utama, dan kamu bisa pakai kamar mandi yang ada di kamar. Jadi kita bisa berangkat bareng.” Juna meletakkan laptop yang dari tadi dia pegang, dan beranjak dari duduknya untuk menuju ke kamar mandi.


“Oke, kalau begitu aku juga akan mandi.” Mengikuti kata-kata Juna, Kais juga ikut berdiri dan melangkah ke kamarnya.


Mereka berdua pergi menyegarkan badannya sebelum berangkat melakukan kegiatan masing-masing.


Kantor polisi~


“Agen J, gimana... Kamu sudah menemukan lokasi orang itu?” tanya Juna yang sudah berdiri di samping meja Jiny.


“Terakhir dia menggunakan kartu kreditnya di daerah Bandung, tapi itu pun sudah 2 hari yang lalu kap,” balas Jiny masih fokus ke arah layar komputernya.


“Oke, kalau begitu kamu terus pantau. Kirim alamatnya ke aku sekarang, biar aku dan Yuyun coba ngecek kesana langsung, jangan lupa kabarin aku setiap waktu kalau menemukan hal baru.” Juna mulai menyusun rencana sebelum mulai bertindak.


Rencana sudah dibuat, Juna mulai melangkah menuju tim nya yang sedang berkumpul di meja meeting.


“Yun, kamu ikut aku ke Bandung sekarang. Kita harus melacak keberadaan pelaku secara langsung, terus Marco lacak orang yang menjual senjata pelaku, Charly kamu tetap disini sama Jiny.” Untuk memudahkan pekerjaannya, Juna mulai membagi tugas ke semua anggota timnya.


Tugas sudah terbagi rata, Charly dan Jiny mulai bekerja sama. Marco juga sudah berangkat untuk melacak penjual senjata pelaku, sedangkan Juna dan Yuyun juga sudah tancap gas menuju Bandung.


….


Mobil Juna dan Yuyun sudah terlihat diparkirkan disebuah tempat parkir dekat lokasi yang sudah dikirim Jiny. Juna turun dari mobil dengan kedua mata yang terus menjelajahi lingkungan sekitar, begitu pula Yuyun yang langsung menatap jauh keseberang jalan.


“Kap, daerah sana banyak pertokohan, sepertinya kita harus mengecek kesana,” tunjuk Yuyun ke arah yang dia maksud.


“Daerah sini juga banyak pertokohan, gimana kalau kita bagi tugas. Kamu cek semua pertokohan yang ada disana, terus biar aku yang cek daerah sini,” jawab Juna yang kembali menunjukkan wibawahnya sebagai seorang pemimpin.


“Baik Kap.” Sesudah menjawab perintah Juna, Yuyun segera melangkah ketempat yang dia tuju.


Sementara Juna juga mulai berjalan menyusuri jalan yang terdapat di depan beberapa toko yang berjajar. Tanpa menunjukkan identitas aslinya, dia mencoba bertanya dengan menunjukkan foto yang dia bawa. Sedangkan dia juga mencoba meminta rekaman cctv yang ada di beberapa toko dengan menunjukkan identitasnya sebagai polisi.


Setelah melihat rekaman cctv, Juna mencoba mengikuti langkah pelaku dengan petunjuk yang minim dan tidak terlalu jelas jejaknya.


“Ini gak akan berhasil, sebaiknya aku menggunakan sentuhan lebih cepat.” Merasa mencari dengan petunjuk yang minim, Juna mulai menggunakan kemampuannya. Dia mulai menyentuh beberapa benda untuk dijadikan petunjuk.


Setiap benda yang Juna sentuh menuntunnya ke sebuah tempat cukup terpencil, di tempat itu hanya ada 5 rumah yang berjajar. Tanpa menunggu lagi, di menyentuh handel pagar setiap rumah, tapi dia tidak menemukan orang yang dia cari. Sampai akhirnya dia tiba dirumah terakhir, dia merasakan ada yang aneh dan merasakan firasat yang sangat kuat.


Dengan perasaan dag-dig-dug, Juna perlahan mulai menyentuh handel pagar depan. Seketika muncul banyak kejadian dalam pikirannya, dan semua kejadian yang ia lihat adalah kejadian yang mengerikan. “B*jing*n! Dia benar-benar bukan manusia,” batinnya dalam hati.

__ADS_1


Sebelum memasuki rumah, Juna mulai mengeluarkan tongkat lipat yang ia bawa. Dalam sekali hentakan tongkat itu langsung memanjang seperti yang dia inginkan. Setelah tongkat itu memanjang dengan sempurna, ia secara perlahan mulai membuka pagar rumah.


“Kriiieeettt....” Sialnya pagar rumah tersebut mengeluarkan bunyi selayaknya pagar tua yang hampir berkarat.


Langkah demi langkah Juna lalui, dengan tangan kanan yang siap memukul dengan tongkat besi yang sudah ia pegang, dan kedua mata yang terus waspada menyusuri setiap inchi sudut halaman rumah yang ia lewati.


Sesampainya di depan pintu, perlahan Juna memegang handel pintu dan bersiap untuk membukanya. Dengan perasaan yang berani dan juga deg-degan, dia mulai membuka pintu dengan cara mendorongnya secara perlahan.


Kedua mata Juna semakin waspada setelah pintu mulai terbuka, setiap inchi dari isi rumah ia perhatikan sembari langkahnya terus maju dengan hati-hati.


Dalam hati Juna merasa aneh, karena rumahnya terasa sepi dan hening. Sehingga membuatnya semakin sedikit berani terus melangkah. Tapi saat Juna sudah berada ditengah-tengah ruang tamu, dia merasa dari belakang ada langkah kaki.


Dan... “Buaaackkkk!!” Sang pelaku tiba-tiba muncul dengan melempar tong kosong berwarna biru tua.


“Sudah ku duga, ada yang aneh. Hei, dari pada membuang waktu untuk berkelahi, lebih baik menyerah saja,” sindir Juna menatap sang pelaku yang ada dihadapannya.


Pelaku menatap dengan sinis ke arah Juna. “Kamu pikir mudah untuk menangkap ku? Hahahaha.” Dengan tatapan tidak berdosa, sang pelaku malah menantang Juna dengan berani.


“Oke, kalau itu mau kamu. Kita selesaikan disini juga, dan sekarang juga,” jawab Juna yang sudah memasang kuda-kuda untuk bersiap menghadapi sang psikopat.


Tanpa diduga sang pelaku malah mengeluarkan pisau lipat dari kantong celananya, dan menggenggam erat ditangan kanannya, sementara Juna masih tetap dengan senjata tongkat panjangnya yang terbuat dari besi.


Beberapa detik kemudian sang pelaku mulai maju dan menyerang Juna, dengan kemampuan beladirinya yang hebat, Juna terus menangkis pisau yang terus diarahkan ke arahnya. Tidak hanya itu, kakinya juga menjadi sasaran sledingan dari kaki sang pelaku, yang terus berusaha menjatuhkan Juna.


Meskipun beberapa kali wajah Juna terkena pukulan siku dari sang pelaku, ia terus berusaha mengembalikan pukulan, hingga membuat sang pelaku terjengkang kebelakang, setelah kena tendangan kaki Juna.


Nafas Juna semakin memburu setelah menjatuhkan pelaku. “Aku udah bilang menyerah saja, kamu gak akan bisa kabur dari tempat ini,” ucapnya.


“Haaa... Pertarungan belum selesai,” sahut pelaku yang kembali berdiri.


Melihat sebuah kunci inggris yang nganggur dilantai, sang pelaku langsung….


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2