
Beberapa menit setelah acara makan malam….
“Tock... tock...”
“Kais! Aku mau bikin coklat panas, kamu mau atau tid....” Juna mengetuk kamar Kais, tapi saat itu pintu kamarnya tidak sengaja terbuka karena dorongan, dan ternyata sang pemilik rumah tidak ada di kamarnya.
Juna mencoba mencari ke setiap ruangan dan ke area kolam renang juga, tetapi dia tidak menemukan Kais.
“Kemana dia sebenarnya? Apa mungkin dia beneran pergi ke namsan tower? Eeeiii gak mungkin kan? tunggu dia kan bukan, anak yang mudah menyerah atas keputusannya.” Dengan perasaan khawatir, Juna berjalan keluar dan menanyakan ke pengawalnya yang berada di ruang keamanan.
“Pak, apa Bapak melihat teman perempuan saya Kais?” tanya Juna yang langsung membuka ruangan petugas keamanan.
“Aaa, teman tuan muda yang cantik itu? Saya lihat dia pegi keluar tadi dan setelah saya tanya, katanya dia mau ke Namsan Tower,” jawab salah satu petugas keamanannya.
“Aahh, baik kalau begitu Pak.” Juna yang mulai khawatir sekaligus panik, dia langsung ke dalam dan langsung mengganti pakaiannya dengan terburu-buru, lalu ia mengambil kunci mobilnya yang biasa dia gunakan dulu dan segera memacu mobilnya menuju namsan tower dan dengan perasaan yang tidak tenang.
***
Sementara itu….
“Heeehh, apa-apaan dia benar-benar gak mau diajak kesini... yasudahlah aku bisa menikmati pemandangan indah ini sendiri,” gumam Kais sembari ia memandang jauh ke namsan tower yang berdiri kokoh.
Kais berjalan sendiri dengan menikmati udara dingin yang sedang mengelilingi sekitarnya, langkah demi langkah ia lakukan untuk mencapai Namsan Tower, ia hanya menginggalkan jejak diantara udara dingin yang menyelimuti kota Seoul. Dan tiba-tiba saja...
Dua orang laki-laki mendekati Kais. “Nona! Nona sendirian saja? Lebih baik sama Kakak, kita bisa menghangatkan diri bersama,” ucap salah satu pria yang mendekatinya tersenyum dengan aneh.
“Iya, kita bisa minum dikedai sana, lalu bisa menghangatkan diri di penginapan itu, hehehe.” Salah satu pria itu mulai mendekat dan mulai memegang tangan Kais.
“Apa-apaan sih lepasin!! Aku gak suka minum, aku cuman mau ke namsan tower!!” bentak Kais yang berusaha melepaskan pegangan laki-laki itu.
“Eeiii, jangan menolak. Pertamanya saja kamu menolak, nanti lama-lama juga akan suka.” Laki-laki itu kembali memegangi tangan Kais, kali ini pegangan laki-laki itu sangat kuat hingga Kais tidak berhasil melepaskannya kembali, ia hanya bisa meronta-ronta.
“Enggak apa-apa, tenang saja kita gak akan menyakiti wanita cantik seperti kamu. Karena itu, lebih baik kita pergi bersenang-senang sekarang.” Laki-laki satunya yang ikut memengangi pundak Kais dan menggiringnya ke tempat lain.
Kais yang semakin ketakutan hanya bisa terus meronta-ronta dan berusaha melepaskan dirinya dari dua laki-laki mesum itu.
***
Disisi lain….
Akhirnya Juna sampai juga di Namsan Tower, dengan ekspresi panik ia langsung berlari masuk ke area taman.
Dia menatap setiap sudut taman yang ada di namsan tower, tapi belum juga menemukan Kais, dengan nafas terengah-engah ia terus berlari dan mencarinya, selang beberapa menit kemudian dia menemukan Kais sedang dipaksa dua laki-laki untuk menuju ke suatu tempat, melihat hal tersebut Juna langsung berlari ke arah Kais dan langsung....
“Buuaaakk....” Juna menendang salah satu laki-laki yang memaksa Kais.
“Aaahh!!” Rintih laki-laki itu yang langsung jatuh tersungkur setelah ditendang Juna.
“Aaaiisshh, ganggu malam kita saja. Harus diberi pelajaran, yaaacckk!!!” Laki-laki lainnya yang tadinya memegangi Kais, langsung menyerang Juna begitu mengetahui temannya jatuh tersungkur.
Juna yang merasa diserang, terus membalas pukulan para laki-laki itu. Hingga akhirnya Juna memborgol dua laki-laki itu dengan borgol yang selalu dia bawa dan mengaitkannya ke sebuah pagar besi yang dekat dengan perkelahian.
“Aaiisshh, ternyata dia seorang polisi,” desis salah satu laki-laki itu mendengus kesal.
“Makanya jangan sembarangan berbuat onar di tempat umum!” balas Juna.
Beberapa menit kemudian petugas kepolisian datang, dan salah satu petugas kepolisian itu mengenal Juna.
“Kak Juna!” panggil salah satu petugas kepolisian itu.
“Baesik, kamu sendiri yang datang kesini?” balas Juna menatap ke juniornya.
__ADS_1
“Eeeii... saat Kak Juna pergi, kini aku yang menjadi ketua tim kejahatan berat dan kami mendapat laporan telah terjadi penyerangan,” jawab junior Juna yang bernama Baesik.
“Aaa... baguslah kalau begitu. Kamu bawa mereka, yang hampir membahayakan temanku,” pinta Juna, sambil melepaskan borgol miliknya.
“Kak Juna masih lama disini? Setidaknya kita harus minum bersama, karena sudah lama tidak bertemu,” ucap Baesik.
“Masih 2 hari, 2 malam lagi aku disini... gampanglah kalau soal itu,” balas Juna menganggukkan kepalanya.
“Baik kalau begitu aku permisi dulu Kak,” pamit Baesik.
“Ho,” jawab Juna secara singkat.
Polisi membawa dua laki-laki masum itu ke kantor polisi, sementara itu….
“Kais, kamu enggak apa-apa?” Juna memegang kedua pundak Kais yang tertunduk ketakutan.
“Heeek... heeekk... heeeeee.....” Kais menyandarkan kepalanya ke dada bidang Juna dan air matanya mulai membasahi kedua pipinya.
“Yaa, tenang... pelaku sudah dibawa ke kantor polisi,” ujar Juna sembari terus mencoba menenangkan Kais dengan menepu-nepuk punggungnya dengan perlahan.
“Aku takut... aku sangat takut mereka berdua akan menyentuhku,” ucap Kais di tengah-tengah tangisnya.
“Aku tau, aku juga sangat khawatir. Karena itu aku langsung berlari kesini,” jawab Juna dengan suara hangatnya.
“Sebaiknya kita duduk dulu disana,” ajak Juna dengan merangkul Kais dan berjalan menuju bangku taman yang ada di sekitar.
“Ini minum dulu, untuk meredahkan ketakutanmu.” Juna berlari membawa air minum yang sudah ia beli dari penjual yang ada disekitar.
“…” Kais masih terlihat seperti ketakutan. Saat menerima botol dari Juna tanggannya masih bergetar dan akhirnya mejatuhkan botol air yang dia pegang, hingga membuat semua air di botol tersebut tumpah.
“Oh, maaf Juna,” cakap Kais menatap ke arah Juna dengan tatapan senduh.
“Gak apa-apa, ini masih ada satu lagi. Kali ini biar aku yang pegang.” Juna kembali membukakan botol air yang baru dan membantu Kais minum dari tangannya.
“Tidak, ini murni kesalahanku. Seharusnya aku tidak pergi sendiri dan memaksa pergi kesini," potong Kais yang masih terlihat sedih.
“Eeemm, karena kita sudah disini... bagaimana kalau kita sekalian nikmatin suasanya yang ada disini? Hhaaahh, sepertinya pemandangan dari atas Namsan Tower bagus. Bagaimana kalau kita sesana?” Juna mencoba mengalikan ke hal lain, agar Kais tidak terus memikirkannya.
“Haaahh!” celetuk Kais dengan nada sedikit terkejut.
“Ngapain masih disana, ayo!” Juna menarik lengan Kais dan memaksanya untuk mengikutinya.
Ketika sudah tepat di depan Namsan Tower….
“Hey, gimana kalau kita coba memasang love lock,” celetuk Juna yang melihat para penjual love lock berjajar.
“Heee, kata kamu kita bukan pasangan? Gak usahlah, lagian aku cuman ingin jalan-jalan ke sini dan memasang love lock bukan sesuatu dari daftar kinginanku,” kilah Kais yang langsung berjalan pergi meninggalkan Juna.
“Bi ini berapa harganya?” tanya Juna ke salah satu penjual love lock.
“8000 won,” jawab penjual love lock.
“Ini Bi,” juna memberikan uang yang disebutkan.
“Terimakasih,” ucap penjual love lock kembali.
“sama-sama,” balas Juna yang langsung berlari menuju ke Kais yang hampir tidak terlihat.
Sesampainya di atas....
“Waaahh... indahnya!!” teriak Kais sambil menatap ke setiap sudut pemandangan malam Seoul.
__ADS_1
“….” Tidak ada suara dari Juna.
“Juna coba lihat kesini! Bagian Seoul yang sebelah sini lebih terang, dari pada yang sebelah sana,” ujar Kais yang menunjuk ke arah yang dia maksud.
“.…” Masih tidak ada respon dari Juna.
Kais yang merasa masih dicuhkan, akhirnya menoleh ke arah Juna dan melihat Juna sedang sibuk melakukan sesuatu.
“Hooy... kamu ngapain aja dari tadi?” celetuk Kais secara tiba-tiba yang sudah berada di belakang Juna.
“Yaaiisshh, mengagetkan saja,” umpat Juna secara reflek karena terkejut.
Begitu mengetahui Kais sudah ada di dekatnya, ia langsung menutup kertas tempat dia menulis.
“Aku tanya kamu lagi nulis apa? Kamu beneran akan memasang love lock?” tanya Kais sekali lagi.
“Ho, memang kenapa?” balas Juna dengan dingin.
“Kalau begitu satunya kasih ke aku,” ucap Kais secara tiba-tiba.
“Kenapa harus kasih ke kamu?” tanya Juna dengan heran dan mengerutkan dahinya.
“Karena aku sekarang, juga ingin memasang love lock,” cetus Kais dengan mudahnya.
“Heei, katanya tadi bukan salah satu keinginan kamu, tapi kenapa sekarang jadi ingin memasangnya juga?” canda Juna dengan sedikit mulai jail.
“Tadi masih belum kepikiran mau nulis apa, dan sekarang....” Kais ingin mengatakan jawabannya, tetepi terpotong oleh kata-kata Juna.
“Heelee, bilang saja kamu tidak mau membelinya kan? maunya yang gratisan?” ejek Juna dengan kata-kata jail nya.
“Hee! Kalau gak mau ngasih yasudah, aku memang tidak terlalu ingin memasang kok,” sahut Kais memanyunkan bibirnya, ia mulai menunjukkan tanda-tanda mau ngambek.
“Ini, eh... dengan syarat, 1 love lock harganya 1 corn dog.” Juna memberikan love lock yang tersisa ke Kais dengan menyertakan syarat yang dia inginkan.
“Oke, kalau masalah itu jangan khawatir.” Kais langsung menyambar love lock yang dipegang Juna dan membawanya menjauh dari Juna, untuk menuliskan kata-kata yang akan digantung di love lock.
Sementara itu Juna langsung memasang love lock nya yang sudah dia beri kata-kata dan harapannya, lalu membuang kuci love lock di tempat yang sudah disediakan dan khusus untuk membuang kunci love lock.
Setelah selesai menulis, Kais langsung memasang love lock nya di tempat yang cukup jauh jaraknya dengan love lock milik Juna.
Beberapa detik kemudian….
Salju mulai turun, setiap butiran salju menghiasi kota dan tempat mereka berdiri saat itu.
“Waaahhh... salju mulai turun, gak menyangka bisa melihat salju pertama di Seoul tahun ini,” celetuk Kais menadahkan tangannya dan berusaha memegang butiran salju yang turun, ia memancarkan senyum cerianya ketika menatap setiap butiran salju yang turun.
“Ho, aku juga gak menyangka kalau bisa kembali ke Seoul waktu musim dingin seperti ini.” Juna bukan menatap ke arah langit seperti Kais, tapi ia malah menatap ekspresi Kais yang kembali tersenyum ceria saat menatap butiran salju.
Dan harapan yang mereka berdua tulis....
“Semoga aku dapat kembali kesini dengan orang yang aku cintai dan apakah mungkin perasaan sepihak ini kembali muncul? Kalau perasaan ini benar-benar kembali muncul, aku mohon agar perasaan ini dapat segera terbalas dan tidak berakhir dengan penolakan seperti beberapa tahun yang lalu, sejujurnya aku sangat ingin mengakhiri cerita persahabatan ini dan memulai kisah baru bersamanya,” tulis Juna dalam bahasa Korea di kertas yang tergantung bersama dengan love lock yang dia pasang.
“Apakah aku harus mengakhiri masa persahabatan ini? Ataukah persahabatanku akan terus berjalan seperti ini selamanya? Tolong beri aku petunjuk, apakah perasaannya sudah hilang atau masih ada yang tersisa. Karena kebodohanku membuatku baru menyadari perasaan ini, setelah menolaknya beberapa tahun yang lalu," tulis Kais di kertas yang ia gantung bersama love lock.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung….