
Sementar itu di Rumah Sakit....
“Dokter saya boleh langsung pulang kan?” tanya Juna setelah mendapatkan perawatan pada lengannya.
“Iya Pak, Anda boleh pulang tapi dalam seminggu sekali, Anda harus melakukan rawat jalan dan mendapatkan suntikan pencegah infeksi. Karena dari hasil pemeriksaan kuman atau bekas dari gigitan tidak langsung hilang, dan satu hal lagi Pak, kalau Anda merasakan kondisi Anda menurun segera ke rumah sakit,” ucap sang Dokter yang merawatnya.
“Baik Dok kalau begitu, terimakasih banyak,” balas Juna dengan senyuman.
Setelah mendapatkan izin dan surat dari Dokter, Juna langsung balik ke apartemennya.
-- Apartemen Juna --
Juna terlentang di tempat tidurnya yang luas, dengan mentap langit-langit kamarnya yang kosong dan berwarna putih.
“Haaaahhh, aku pikir ini lukanya cukup ringan, tapi kata dokter malah bisa bikin infeksi. Apa aku harus mengambil cuti saja ya? Tapi luka nya ini kan gak sampai menghalangi gerak tangan ku,” gumam Juna terus menatap perban yang melilit di pergelangan tangannya.
“Lebih baik gak usahlah, masak iya aku cuti terus. Lagian polisi kan sudah sering terluka seperti ini, jadi buat apa juga aku pakai cuti segala,” batinnya yang akhirnya membatalkan keinginannya sendiri.
-- Keesokan Harinya --
Juna akan berangkat ke kantor polisi seperti biasanya, tetapi saat ia merogoh-rogoh tasnya, ia menemukan foto Ayahnya bersama anggota tim nya.
“Aah... iya lupa, padahal aku kan ingin meminta tolong ke Jiny untuk mencarikan orang yang ada difoto ini. Sebaiknya nanti segera aku tanyakan aja langsung, tapi lebih baik aku foto saja dengan hp, dari pada harus membawa foto berharga ini,” gumam Juna menatap ke arah foto yang ia pegang.
Juna mengambil beberapa foto dari 1 lembar foto milik Ayahnya itu, lalu ia segera berangkat ke kantor polisi seperti biasanya.
-- Kantor Polisi --
“Agen J! Ada yang ingin saya bicarakan dengan kamu, apa kamu sibuk?” Juna mengetok meja Jiny dan langsung melemparkan pertanyaan kepadanya.
“Oh, iya Kap ada apa?" jawab Jiny.
__ADS_1
"Bisa ke ruangan saya sebentar,” tanya Juna.
“Iya Kap.” Jiny mengekor Juna berjalan menuju ke ruangannya.
-- Ruangan Juna --
“Kalau boleh saya tau, ada apa ya Kap?” tanya Jiny memulai pembicaraan.
“Jadi begini, saya ingin meminta tolong untuk mencarikan seseorang lagi. Kira-kira umurnya sekitar 60 tahunan, dulunya dia adalah seorang polisi yang menyelidiki kasus pembunuhan berantai pertama di Indonesia. Apa mungkin kamu bisa menemukannya?” papar Juna menjelaskan dengan cukup detail.
“Bisa sih Kap, tapi sepertinya agak lama. Karena berkas-berkasnya pasti sudah lama dan susah dicari,” jawab Jiny.
“Oh ya, foto anak kecil yang pernah aku kirim kan ke kamu itu, sudah kamu cari tau siapa dia?” tanya Juna menyinggung hal lain yang masih memiliki hubungan.
“Aaa... kalau soal foto itu sudah ketemu Kap, tapi...informasinya hanya sepenggal dan seperti ada bagian yang hilang. Beberapa file terkunci dan kalau ingin membuka file itu harus menggunakan IP Korea Selatan Kap. Waktu itu sudah aku coba pakai VPN, tapi tetap tidak bisa terbuka, padahal VPN itu paling canggih diantara VPN lainnya, tapi tetap saja... tidak bisa dibuka,” jelas Jiny mengatakan apa yang ia ketahui.
“Kalau begitu kirimkan file nya ke aku melalui email. Nanti foto yang aku minta kamu selidiki, juga akan aku kirim melalui email. Aah, kalau bisa jangan sampai hal ini diketahui oleh anggota lainnya, cukup kita berdua saja yang tau, karena bisa menimbulkan rasa curiga dan saling tuduh. Lagian hal ini juga belum pasti ada kaitannya dengan pembunuhan yang ada di masa sekarang,” ucap Juna.
“Haaaahhh... seandainya rumah kita tidak kebakar pada malam itu, pasti semuanya lebih mudah sekarang,” gumam Juna dalam lamunannya.
“Ngomong-ngomong soal rumah, apa benar tidak ada yang tersisa disana? Apa aku harus mencoba kesana,” batin Juna.
“Iya sekecil apapun kemungkinannya, aku harus kejar.” Juna bangkit dari duduknya dan berangkat menuju Rumah lamanya.
-- Rumah Lamanya --
“Aku memang gila, ngapain juga aku mengharapkan sesuatu dari bangkai rumah seperti ini,” gerutu Juna dalam hati menatap kondisi rumah lamanya yang sudah benar-benar hancur.
Saat sedang menatap ke arah rumahnya, tiba-tiba ada seorang bapak-bapak tua yang terjatuh, saat sedang berjalan.
“Pak, Bapak tidak apa-apa?” Juna bergegas menghampiri bapak-bapak itu dan berniat menolongnya.
__ADS_1
“Saya tidak apa-apa nak, saya sudah terbiasa terjatuh seperti ini, karena kaki saya yang kadang lemas dengan sendirinya,” sahut Pak tua itu.
“Oh ya Pak, rumah Bapak dimana? Biar saya antarkan Bapak sampai rumah,” ujar Juna menawarkan bantuan.
“Dekat kok nak disana,” tunjuk Pak tua itu.
“Kalau begitu biar saya antarkan, supaya Bapak tidak terjatuh lagi,” ajak Juna.
Pak tua itu setuju Juna mengantarnya hingga sampai rumah, dan rumahnya juga tidak terlalu jauh dari rumah lamanya.
“Jadi ini rumah Bapak,” tanya Juna memastikan.
“Iya nak ini rumah Bapak, terimakasih banyak ya nak sudah mengantarkan Bapak. ”Pak tua itu menyalami Juna dan mengucapkan terimakasih dengan sangat tulus.
Beberapa detik kemudian. “Ayah! Ayah dari mana saja, saya cariin dari tadi juga,” tanya seorang perempuan berusia 40 tahunan yang keluar dari rumah Pak tua itu.
“Oh, mas nya siapa ya? Ada perlu apa mas?” tanya perempuan itu.
“Saya Juna, saya cuman menolong Ayah nya Kakak yang tadi terjatuh di depan rumah lama saya,” jawab Juna.
“Juna? Rumah lama kamu? Maksud kamu, Rumah disebelah yang habis karena kebakar itu?” tanya perempuan itu yang menunjukkan kalau dia mengenal keluarga Juna.
“Iya, Kakak mengenal keluarga saya?” sambung Juna.
“Itu artinya kamu Juna anak dari…,” balas perempuan itu.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung~