Love And Mystery

Love And Mystery
-29- Pentingnya Sebuah Kejujuran


__ADS_3

-- Apartemen Juna --


Juna merasa keadaan badannya belum kembali pulih, setelah mengalami demam cukup tinggi, suhu badannya turun untuk sementara waktu, dan kembali naik pada malam hari, terutama ketika ia memikirkan sesuatu yang cukup memberatkan pikirannya.


“Aaahh, sepetinya aku kehabisan obat. Apa aku telepon dia untuk minta tolong mengirimkan obat, tapi dari kemarin dia bahkan tidak mengangkat teleponku. Haaaah... sepetinya aku terpaksa harus meminta tolong Kak Jihan,” gumam Juna dengan wajah pucatnya ia mencoba meraih hp nya yang ada di atas meja lampu tidur.


“Halo, Kak!” ucap Juna memulai pembicaraan di telepon dengan suara lemasnya.


“Hai adik ku yang biasanya mengaku paling tampan, ada apa tumben menelepon ku?” tanya Jihan dengan nada bercanda.


“Kak, bisa membelikan ku obat...” balas Juna.


“Obat? Obat apa? Kenapa suara kamu seperti ini, tumben sekali,” jawab Jihan.


“Ceritanya panjang. Kakak tolong ke rumah sakit, aku akan memberikan resep obatnya ke Kakak,” ucap Juna dengan nafas yang semakin berat.


“Juna, sebenarnya kamu kenapa? Kamu sedang sakit? Katakan dimana apartemen kamu dan password kuci apartemen kamu, Kakak akan langsung kesana dan aku akan antar kamu ke rumah sakit,” jawab Jihan.


“Kak... hah... hah... apartemen ku di….” Tiba-tiba Juna sudah tidak bersuara dari balik panggilannya, padahal panggilan mereka masih terhubung.


“Halo... Juna! Juna! Kamu masih disana? Juna!” panggil Jihan yang mulai panik.


Jihan bingung harus bagaimana, karena Juna yang tiba-tiba tidak bersuara di balik panggilannya. Dia ingin langsung pergi ke apartemennya, tapi ia tidak tau lokasinya dan kalaupun tau lokasinya, dia juga tidak tahu password pintunya.


Akhirnya dia memiliki harapan terakhir yang dapat mempercepat langkahnya, yaitu dengan bertanya kepada orang yang kemungkinan lebih tau daripada dia. Dia dengan cepat berlari ke ruangan orang itu.


“Braaacck!!!”


“Kais, Kamu tau lokasi dan password apartemen Juna kan?” tanya Jihan dengan wajah panik.


“Memang ada apa dengan Juna Kak?” tanya Kais mengalihkan pandangannya ke Jihan.


“Sepertinya terjadi sesuatu dengannya!” jawab Jihan dengan wajah khawatir.


“Sesuatu? Sesuatu bagaimana maksud Kakak?” tanya Kais yang ikut menjadi khawatir.


“Dia tadi menelepon ku dan meminta membelikan sebuah obat, tapi belum selesai percakapan kita, tiba-tiba dia sudah tidak bersuara. Padahal panggilannya masih terhubung,” jelas Jihan.


“Apa! Kita harus segera kesana.” Kais berdiri dari tempat duduknya, ia langsung mengambil tasnya dan keluar dari ruangan Jihan yang melihat sikap Kais hanya bisa mengekor menyusul berjalan cepat dibelakangnya.


-- Apartemen Juna –

__ADS_1


Kais dan Jihan akhirnya sampai di apartemen Juna, tanpa berpikir panjang Kais langsung memasukkan password apartemen. Lalu mereka masuk kedalam, dan berjalan cepat ke kamarnya.


Kais sampai di kamar Juna lebih dulu, ia melihat Juna sudah tak sadarkan diri diatas kasurnya, melihat hal itu ia langsung berlari menghampiri Juna dengan perasaan cemas dan khawatir.


“Juna! Juna bangun... Juna!” teriak Kais dengan panik, sembari ia terus menggoyang-goyangkan badan Juna.


“Nadi nya lemah, Kak tolong segera panggil ambulance,”ucap Kais dengan nada panik.


“O... oke,” jawab Jihan memegang telepon dengan tangan gemetaran.


“Heeyy! Bangun... aku mohon bangunlah!” pekik Kais dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Sudah beberapa kali Kais membangunkan Juna, tetapi ia belum bangun juga. Ambulance yang ditunggu dari tadi akhirnya datang, mereka segera membawa Juna ke Rumah Sakit.


-- Rumah Sakit --


“Dokter, bagaimana keadaan adik saya?” tanya Jihan yang melihat Dokter keluar dari ruangan.


“Adik Anda keadaannya sudah stabil, infeksi di tangannya tidak terlalu parah dan hanya masuk kedalam darah sedikit. Untungnya juga segera dibawa ke Rumah Sakit dengan cepat, kalau terlambat sedikit bisa bahaya,” jelas Dokter yang merawat Juna.


“Selain itu penyebab infeksinya lebih cepat menyebar, itu karena ia dalam kondisi strees, seperti sekarang ini. Jadi pastikan tidak membuatnya memikirkan hal berat terlebih dahulu setelah ia sadar nanti,” sambung Dokter yang merawat Juna.


“Iya, sama-sama.” Dokter pergi dari hadapan Jihan setelah menyampaikan kondisi Juna.


“Hei, kamu kenapa terus menangis? Juna sudah gak apa-apa.” Jihan menghampiri Kais yang duduk di kursi tunggu, sembari terus meneteskan air matanya.


“Kak maafkan aku, pikiran berat yang dipikirkan Juna pasti dari ku,” ucap Kais disela-sela tangisnya.


“Sudah jangan dipikirkan, sekarang dia sudah baik-baik saja,” jawab Jihan.


“Tapi tetap saja, gara-gara aku dia menjadi drop seperti ini. Kalau saja waktu itu, aku tidak mengajaknya bertengkar, pasti dia tidak akan sampai seperti ini,” tuturnya sembari masih terus meneteskan air matanya.


“Aku yakin Juna sendiri, gak menganggapnya seperti itu. Jadi jangan terus menyalakan diri kamu sendiri, oke,” ujar Jihan yang terus mencoba menenangkan Kais yang belum berhenti menangis.


Juna akhirnya dipindahkan ke kamar rawat inap, Jihan kembali ke apartemen Juna untuk mengambil beberapa pakaian dan barang-barang lainnya, sedangkan Kais masih terus duduk disebelah Juna yang masih tertidur. Dia hanya terus menatap Juna dengan mata sembabnya, karena terlalu banyak menangis.


Pukul 2.40 dini hari….


Perlahan Juna membuka matanya, pandangannya langsung tertuju pada Kais yang sedang tertidur di tepi tempat tidurnya. Hanya menggunakan kedua tangannya sebagai bantal, menandakan tidurnya yang kurang nyaman, membuat Juna hanya menghela nafas saat menatapnya.


Juna yang haus mencoba menggapai botol minum yang terletak di meja sebelahnya, tapi karena tangannya licin, botol itu pun terlepas dan terjun ke bawah, hingga menimbulkan bunyi gaduh yang menggemah di kamarnya.

__ADS_1


“Maaf sudah membangunkan mu,” ucap Juna menyadari Kais yang sudah membuka mata dan menatapnya.


“Kamu sudah sadar, aku harus memanggil Dokter,” ucap Kais yang langsung beranjak dari duduknya.


“Gak perlu! Aku baik-baik saja, cukup keberadaan kamu disini, sudah membuat keadaan ku menjadi lebih baik,” cetus Juna menggapai lengan Kais yang akan pergi, sembari ia juga melempar senyumnya.


Kais kembali meneteskan air matanya ketika menatap Juna. “Juna maafkan aku, kalau waktu itu aku gak memulai pertengkaran hari itu, pasti kamu gak akan ada disini,” ucap Kais kembali duduk.


“Hei, ini bukan kesalahan siapa pun. Akhir-akhir ini aku memang sedang banyak pikiran. Aku ingin berbagi seperti yang kamu katakan, tapi disisi lain aku juga gak ingin semua orang yang aku sayang ikut terseret kedalam lingkaran bahaya, apabila tebakan ku selama ini benar.” Juna menghapus air mata yang menetes di pipi Kais, dia juga langsung menjelaskan semua alasan yang belum pernah ia katakan.


“Hei, kemarilah,” ucap Juna memberi ruang di tempat tidurnya sembari ia juga menepuk-nepuk ruang yang kosong itu.


“Tapi nanti Kak Jihan bisa tau,” tolak Kais.


“Biarkan saja, aku gak perduli,” balas Juna yang langsung menyeret lengan Kais, hingga membuatnya tertidur disebelahnya.


“Juna, tapi ini cukup sempit untuk berdua,” celetuk Kais yang mulai merasa gugup.


“Gak apa-apa, aku bisa atasi itu semua. Tidurlah, aku tau tidur kamu tadi kurang nyaman,” kata Juna yang terus membelai kepala belakang Kais.


“Memang kamu pikir, posisi seperti ini nyaman?” balas Kais.


“Heem, sangat nyaman. Hey! Posisi kamu bukan seperti itu, tapi seperti ini.” Juna meraih lengan Kais yang masih terlihat gugup, dan meletakkan tangan Kais untuk merangkulnya.


“Gimana, nyaman kan?” tanya Juna kembali.


“Heeem, sangat nyaman,” jawab Kais dengan ekpresi malu-malu, wajahnya langsung berubah menjadi merah seperti udang goreng.


Mereka tertidur dengan posisi berpelukan, hingga pagi menjelang. Pada pagi hari Jihan kembali ke Rumah Sakit, saat membuka kamar rawat inap Juna, Jihan melihat sesuatu yang membuat ia sangat terkejut dan hanya bisa membuatnya menghela nafas.


.


.


.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2