
Pada hari mulai pagi Jihan kembali ke Rumah Sakit, saat membuka kamar rawat inap Juna, Jihan melihat sesuatu yang membuat ia sangat terkejut dan hanya bisa menghela nafas.
Dengan terpaksa Jihan hanya bisa menunggu dengan duduk di kursi panjang yang ada diluar ruangan.
Beberapa menit kemudian....
“Dreett... dreett… dreettt...”
Juna terbangun mendengar hp nya bergetar, ia langsung mencari hp nya dan mengangkat nya.
“Ho, ada apa Agen J?” jawab Juna, sambil berusaha melepaskan tangan Kais yang masih memeluknya dan ia juga merubah posisinya menjadi terlentang.
“Kapten sudah gak apa-apa? Kemarin aku telepon, Kapten gak mau angkat sama sekali,” ujar Jiny.
“Aku sudah lebih baik hari ini, ada info penting apa?” tanya Juna.
“Begini Kap, aku sudah menemukan informasi tentang orang yang Kapten cari. Aku sudah kirim file lengkapnya melalui email,tapi….” Jiny menghentikan kata-katanya karena ragu.
“Tapi kenapa?” sambung Juna.
“Orang itu adalah sponsor utama yang membiayai Charly sampai SMA,” tutur Jiny.
“Hee... apa? Tunggu dulu, Charly siapa yang kamu maksud?” ucap Juna sangat terkejut, sampai membuat Kais yang masih tidur disebelahnya membuka matanya.
“Charly anggota tim kita Kap,” balas Jiny dengan santai.
“Kok bisa?” sambung Juna.
“Itu juga aku kurang tau Kap, apa perlu aku cari tahu lagi?” ucap Jiny memberi tawaran.
“Ho, kalau bisa tolong cari tau lagi. Kenapa bisa orang itu mensponsori Charly, dan pastikan dia tidak mengetahui tentang kita menyelidikinya,” pinta Juna.
“Baik Kap akan aku selidiki lebih dalam lagi,” jawab Jiny.
“Ho, kerja bagus,” balas Juna terakhir dan langsung menutup teleponnya.
“Ada masalah apa?” sahut Kais yang langsung menatap Juna.
“Oh, itu tadi ternyata salah satu teman Ayah ku mensponsori Charly. Menurut kamu... bukannya itu sangat aneh, kalau sampai mensponsori, itu artinya mereka saling kenal dong?” Juna kembali memposisikan badannya menghadap ke Kais.
“Heem, mungkin saja Charly masih saudaranya,” jawab Kais, ia langsung berdiri dari tempat ia tidur.
“Hei! Kamu mau kemana?” tanya Juna terkejut melihat Kais tiba-tiba berdiri.
“Juna... ini sudah pagi, nanti Dokter akan kesini memeriksa kamu. Makanya aku bangun,” jawab Kais yang masih terlihat kantuk di wajahnya.
“Yaaa...” protes Juna dengan bibir mengerucut.
“Aku mau beli kopi dulu di kafetaria Rumah Sakit, kamu mau juga? Aah, tapi kamu masih sakit,” keluh Kais setelah bertanya.
__ADS_1
“Yaudah kalau gitu, aku nitip susu aja. Jangan lupa susu coklat,” jawab Juna dengan senyum tercetak diwajahnya.
“Oke, kalau begitu mana uangnya?” tanya Kais menaikan satu alisnya.
“Jadi ini ceritanya kamu minta belikan aku? Aku pikir pakai uang kamu,” balas Juna sambil tersenyum lebar.
“Ho, maaf tapi karena tadi malam buru-buru aku lupa gak bawa dompet,” ujar Kais membalas senyum Juna.
“Tapi aku juga gak bawa uang. Kamu lupa, semalam aku datang ke Rumah Sakit ini dengan kondisi seperti apa? Hp aja kebetulan dibawa sama Kak Jihan,” balas Juna menarik ujung bibirnya.
Kais mendengus kesal. “Terus gimana dong ini?” keluh Kais.
“Cekleekk!!”
“Pakai uang ku aja dulu, ini,” sahut Jihan yang langsung masuk ke dalam ruangan dan menyodorkan sebuah uang 100 ribu.
“Kakak sejak kapan disana?” tanya Juna terkejut melihat kemunculan Jihan.
“Sejak tadi pagi, dari kalian masih tidur,” balas Jihan membentuk smirk di bibirnya.
“Apa? Jadi Kak udah….” Juna memotong kata-katanya setelah melihat ekspresi Jihan.
“Eeemm... kalau begitu aku permisi ke kafetaria dulu.” Kais yang terlalu malu menghadapi ucapan Jihan, akhirnya pergi dengan menyambar uang yang ada ditangan Jihan.
“Hey! Sejak kapan hubungan kalian berubah,” tanya Jihan penasaran, ia segera meletakkan barang yang dia bawa dari rumah Juna di sebuah lemari kecil yang ada di kamarnya.
“Kenapa Kakak jadi kepo begini? Ini nih sebabnya aku gak mau kasih tau Kakak. Hubungan kita berubah sejak di Seoul,” balas Juna.
“Kak!! Aku gak pernah berbuat seperti itu, lagian kenapa Kakak punya pikiran yang sangat kotor seperti itu. Jangan-jangan Kakak sendiri pernah ngelakuin ya?” pekik Juna dengan sangat terkejut dengan apa yang dikatakan Jihan.
“Enak aja kamu, emang kamu pikir Kakak seorang ****** apa, bisa tidur sama semua laki-laki,” sangkal Jihan dengan keras.
“Yasudah, kalau begitu jangan samakan aku juga dengan para laki-laki mesum yang bertebaran di jalanan,” sambung Juna.
“Oke, tapi kalau misalnya adik ipar sendiri yang minta. Apa kamu tetap gak mau kasih?” ledek Jihan.
“Kak Jihan!! Haaaiisshh... lebih baik Kakak keluar sekarang, aku semakin sakit kalau Kakak terus disini dan membahas itu terus. Lagian siapa suruh Kakak manggil dia seperti itu,” kata Juna yang mulai kesal dengan kata-kata Jihan.
“Heii... Juna, Kakak sudah menantikan saat-saat ini, saat-saat akhirnya Kakak bakal punya adik perempuan,” imbuh Jihan.
Beberapa detik kemudian....
Kais kembali ke kamar inap Juna dengan membawa dua gelas kopi dan satu gelas susu untuk Juna.
“Aku mau balik dulu,” pamit Jihan beranjak dari duduknya.
“Cepet banget Kak, kenapa gak tidur disini aja dulu,” sahut Kais.
“Yakin kalian ingin aku tetap disini?” goda Jihan menatap keduanya.
__ADS_1
“Enggak! Sudah... lebih baik Kakak segera pulang, dari pada ngerusuh disini,” usir Juna dengan nada becanda.
“Oke... oke aku akan pergi sekarang. Kais jangan dia baik-baik, jangan sampai kamu menyesal seperti kemarin malam, oke! Aku mempercayakan barang antik ini ditangan kamu sekarang,” bisik Jihan menepuk pundak Kais pelan dan langsung keluar dari kamar.
Setelah Jihan keluar….
“Barang antik apanya? Dia pikir aku barang koleksi apa,” gumam Juna menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Ha... ha... ha... memang benar kok kamu barang koleksi, tapi…,” jawab Kais yang sengaja memotong kata-katanya.
“Tapi?” tanya Juna balik.
“Tapi hanya aku yang boleh mengoleksinya,” sambung Kais yang langsung memalingkan wajahnya karena malu dengan ucapannya sendiri.
Sedangkan Juna hanya bisa berdehem ria. “Haahh... hey! Kalau kamu malu sama ucapan kamu sendiri, seharusnya kamu tidak mengucapkan itu,” sahut Juna melihat ekspresi Kais.
“Aku gak malu, siapa juga yang malu. Aaa... ini susu pesanan kamu,” ujar Kais menyodorkan gelas ke Juna.
“Oke, thank you,” balas Juna meraih gelas susu yang disodorkan Kais.
“Dreett... dreettt... dreettt...”
“Ho, halo iya Keysa ada ap….” Kais mengangkat telepon yang masuk ke hp nya.
“Kak... Kakak harus nolong aku sekarang. Aku takut Kak, akuu ditempat… aaaakkk!!” cetus Keysa yang meminta tolong ke Kakaknya, tetapi teleponnya langsung terputus dan juga terdengar suara tamparan keras.
“Halo, Key... Keysa, Keysa kamu kenapa tolong jawab....” Ekspresi Kais seketika berubah menjadi khawatir.
“Haaaiissshh... anak sialan, bisa-bisanya dia kembali menelepon seseorang.” Tiba-tiba Suara laki-laki muncul di panggilan Keysa, lalu panggilannya langsung terputus.
“Key... halo. Yaaaiisshhh!!” pekik Kais tiba-tiba emosi dan terlihat kesal.
“Kais kenapa, ada apa dengan Keysa?” tanya Juna yang langsung bangun dari tempat tidur nya.
“Keysa... sepertinya dia di culik,” jawab Kais dengan mata mulai berkaca-kaca.
“Drreett... dreett...” hp Juna tiba-tiba berdering.
“Kap, kita butuh bantuan Kapten,” ucap….
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.