Love And Mystery

Love And Mystery
-17- Sahabat Bagai Rama Shinta 2


__ADS_3

Disisi lain...


“Dia pasti masih merasa kesakitan, karena luka-lukanya,” batin Kais didalam kamar mandinya yang kosong dia melamun menatap langit-langit, saat dia masih berendam di dalam bak mandi.


“Sebaiknya setelah ini aku harus mengobati luka-lukanya, dia menjadi seperti itu juga karena perbuatanku,” gumam Kais menghela nafas panjangnya, kemudian untuk menjernihkan pikirannya, ia membenamkan dirinya didalam bak mandi.


***


Sementara itu...


Terlihat Juna sudah tertidur pulas di kasurnya yang empuk dari ia datang tadi, sesekali ia memang merasa sedikit merasa kesakitan, tapi hal itu tidak terlalu mengganggu tidur pulasnya.


Beberapa menit kemudian Kais masuk ke kamar Juna membawa kotak obat kecil, ia langsung mendekat ke sebelah tempat tidur Juna. Dia terus menatap Juna yang sedang tetidur dengan pulas seperti bayi.


“Itu pasti sakit, kenapa dia bisa tidur dengan luka yang cukup parah itu,” gumam Kais pelan.


Kais mengambil kapas dan mengoleskan sedikit alkohol ke kapasnya, dan perlahan ia mencoba menyekah luka Juna yang ada di ujung dibibirnya.


Tapi tiba-tiba tangan Juna memengang tangan Kais. “Apa yang kamu lakukan?” ucap Juna yang langsung membuka matanya.


“Haaa! Juna, kamu sudah bangun?” Kais terkejut, hingga membuat kedua matanya terbelalak, ia menelan ludah karena dia sendiri bingung apa yang harus dia katakan.


“Aku nyuruh kamu istirahat, bukan malah ke kamarku dan mencoba mengobati luka ku,” tegas Juna.


“Iya aku tahu, tapi luka kamu...,” jawab Kais.


“Kais, tolong dengarkan aku kali ini saja, huh. Luka ini bukan apa-apa buat ku, aku sudah sering terluka-bahkan pernah lebih parah dari ini, jadi kamu gak usah terlalu mengkhawatirkannya, aku baik-baik saja,” seru Juna, langsung membalikkan badannya dengan tidur membelakangi Kais yang masih duduk di sebelah tempat tidurnya.


“Tapi tetap saja aku masih khawatir, mungkin perasaan itu yang membuatku menjadi khawatir berlebihan seperti ini. Kalau begitu aku akan tetap berada disini, jadi misal lukamu sewaktu-waktu sakit, aku jadi bisa langsung mengobatinya,” kata Kais masih terus mempertahankan sifat keras kepalanya.

__ADS_1


Juna yang sebenarnya belum tidur itu mendengar apa yang diucapkan Kais, tapi ia pura-pura tidak mendengarnya dan berharap Kais segera pergi dari kamarnya.


Takdir berkata lain, sewaktu Juna merasa kehausan di tengah malam, Juna berniat untuk mengambil minum, tapi begitu ia membuka mata, dirinya menatap Kais masih berada di kamarnya, bahkan sampai tertidur dengan posisi duduk disebelah tempat tidur Juna dan mejadikan tangannya menjadi bantal.


“Dia benar-benar keras kepala,” gerutu Juna dalam hati.


Juna turun dari tempat tidurnya, lalu ia menggendong Kais, dan menidurkannya di kasur empuk miliknya, tidak lupa juga dia menyelimuti tubuh Kais. Setelah melakukan itu, ia keluar dari kamarnya dan tidur di kamar Kais yang kosong.


-- Keesokan Paginya –


“Apa ini, kenapa aku tidur diatas kasur? Lalu dia sekarang dimana?” batin Kais terkejut melihat dirinya terbangun di atas kasur Juna.


Kais langsung keluar dari kamar Juna, dan mencoba mencarinya dengan turun ke lantai bawa. Lalu ia melihat Juna sudah duduk diruang tengah, sedang tertawa karena menonton film.


“Oo, kamu sudah bangun?” sapa Juna melihat kehadiran Kais yang berdiri tepat di sebelah sofa yang ia duduki.


“Aku baik-baik saja. Hee! Jangan menatapku seperti itu, lebih baik tonton film ini bersama, huh,” ucap Juna kembali melempar senyum seperti biasanya.


“Kalau begitu tunggu disini dulu, aku akan kembali.” Kais beranjak dari tempat duduknya dan berlari seperti ingin mengambil sesuatu.


Dan benar saja, Kais datang dengan membawa kotak obat yang tertinggal di kamar Juna.


“Itu lagi? Haaah... hey! berapa kali aku bilang aku baik-baik….” Omongan Juna terpotong, ia menghentikan kata-katanya karena terkejut dengan perbuatan Kais.


Tanpa aba-aba, Kais langsung menarik baju yang Juna kenakan dan menahan badannya dengan tangan kirinya, untuk membuatnya mendekat kepadanya.


“Kali ini aku tak terima penolakan,” ucap Kais yang langsung mengobati luka yang ada di ujung bibir Juna, sesekali ia juga meniup luka yang sudah diolesi obat.


Jarak wajah mereka yang terlalu dekat membuat Juna merasakan jantungnya berdetak dengan tempo yang tidak normal, beberapa kali ia juga menelan ludah karena merasa gugup.

__ADS_1


Telinga Juna juga tiba-tiba berubah menjadi merah, dan saat mata mereka bertatapan, wajah Juna langsung memerah seperti kepiting rebus.


“Juna, kamu punya kelainan jantung?” tanya Kais secara tiba-tiba.


“Ho, aahh. Enggak siapa bilang, aku sehat-sehat saja kok,” tampik Juna melepaskan tangan Kais yang memegang pundaknya.


“Tapi kenapa denyut jantung kamu sangat cepat? Apa gara-gara kita sangat dekat seperti tadi?” ucap Kais secara terang terangan.


“Hee! Gimana bisa hal seperti itu bisa membuat denyut jantung berdebar,” kilah Juna yang sedikit salah bicara.


“Aku cuman bilang denyut jantung kamu bertambah, bukan berdebar, tapi kenapa…,” jawab Kais melihat reaksi Juna yang semakin aneh.


“Bertambah atau berdebar, artinya sama saja. Sudahlah aku mau ngambil mobil dulu,” balas Juna, sembari ia melangkahkan kakinya meninggalkan Kais.


“Sekarang?!” teriak Kais melihat Juna yang sudah berjalan di tangga.


Melihat Juna tidak meresponnya, ia langsung pergi ke kamarnya dan pergi ke kamar mandi.


.


.


.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2