
Ega berjalan keluar dari lif menuju lobi perusahaan nya,ega mengantarkan rekan bisnis yang baru saja selsesai meeting dengan nya.
saat akan sampai ke pintu netra nya beradu pandang dengan netra sila yang juga kini sedang menatap nya tak percaya.
"ayah...."ara berlari ke arah sang ayah dan memeluk erat sang ayah,pandangan ega pun terputus kala sang anak menghampiri nya dan memintanya untuk membawa tubuh mungil sang anak ke gendongan nya.
"indra tolong antar pak toni sampai ke mobil beliau...mohon maaf pak saya tidak bisa mengantar sampai mobil berhubung sang pemilik tubuh ini sudah disini."titah nya pada indra sang asisten pribadi dan meminta maaf kepada rekan bisnis nya karna tak dapat mengantar sampai pak toni masuk kedalam mobik nya.
indra dan pak toni pun berlalu dari situ dan meninggalka para sahabat yang kini telah reuni dadakan.
"ayah minta maaf ya tadi rapat nya agak lama jadi ga bisa jemput ara...maafin ayah ya sayang."sesal ega pada sang anak karna tuntutan pekerjaan nya ega sampai harus ingkar janji tuk kesekian kali kepada anaknya itu.
"baiklah ara maafin...untung bunda bidadari mau ngantar ara kesini jadi marah ara sama ayah hilang deh."senyum ara mengembang kala membahas tentang bunda baru nya itu.
"bunda bidadari.?"tanya ega heran.
"iya ayah...disekolah ara punya teman baik yang ara panggil bunda bidadari karna bunda orang yang baik dan cantik kaya bidadari."lanjut ara.
"bunda sini...kenalin ini ayah ara yang selalu ingkar janji itu."ara melambaikan tangan nya ke arah sila.
__ADS_1
dan kedua mata itu pun kembali saling menatap penuh dengan arti masih masih,tatapan ega yang penuh kerinduan dan tatapan sila penuh dengan tanya tapi tak sanggup terucap karna masih syok dengan pertemuan mereka yang tanpa direncana.
sila hanya berdiri mematung dihadapan ega dan juga putri,badan nya terasa lemas tak bertenaga begitu tau kalo ara gadia kecil yang imut dan menggemaskan itu adalah putri dari ega,sahabat yang ingin dia lupakan.
"sila kamu ga apa apakan.?"tanya putri merasa cemas begitu melihat wajah sila yang berubah memucat.
sila hanya menggelengkan kepala nya karna masih syok dan berusaha mencerna kejadian hari ini yang benar benar membuatnya terkejut sampai hampir pingsan.
tanpa kata sila pun berlalu dari perusahaan ega,dengan setengah berlari sila keluar dari lobi itu dan menyetop taksi dan bergegas memasuki nya.
"sila..."teriakn ega,ega hendak menyusulnya tapi putri menahan nya.
"biarkan dia sendiri dulu ga...aku yakin dia masih syok dan butuh waktu untuk ini."ega pun mengurungkan niatnya.
walaupun lelah mendera tapi ega tak bisa membiarkan 2 wanita yang dia sayang itu terabaikan,apalagi putri sang sahabat yang kini tengah hamil tua dan ditinggal sang suami ke luar kota guna menyelesaikan tugasnya mewakili ega sang atasan.
didalam mobil ega benar benar kurang fokus,untung saat ini dia menggunakan jasa supir karna kalo tidak mungkin ega sudah membahayakan 3 nyawa sekaligus.
"sayang tadi itu siapa.?kok ara manggil nya bunda.?"tanya putri yang sudah tak bisa menahan rasa kekepoan nya.
__ADS_1
"itu ibu guru nasila mamah...ara minta sama bu guru buat panggil bunda kalo diluar sekolah dan ibu guru menyetujui nya."
"masya allah sayang...alhamdulillah...akhirnya."ucap syukur putri terputus kala pandangan nya melihat ke arah ega yang menggelengkan kepalanya.
putri mengerti mungkin belum saatnya ara tau kalo sila adalah sang bunda yang selalu dia rindukan.
percakapan putri dan ara pun terus berlanjut sampai tak terasa mobi mereka telah sampai disebuah rumah minimalis yang asri dan menyejukan
"makasih ya ga udah mau nganterin aku pulang."kata putri sebelum keluar dari mobil.
"kalo udah mulai kontraksi hubungi gue ya put...sepertinya reza masih belum bisa pulang sampai hari minggu besok."sambung ega merasa khawatir meninggalkan sahabat nya itu yang kini telah hamil tua tanpa suami disisi nya hanya ditemani 2 art dan 1 orang supir.
"siap big boss."jawab putri sambil terkekeh.
putri pun keluar dan begegas masuk kedalam rumah,putri sempat menyesal tidak dapat berpamitan dengan ara karna gadia kecil itu telah asyik menyambangi alam mimpi.
sementara didalam taksi sila tak henti henti nya mengusap air mata yang sedari tadi terus turun membasahi seluruh wajah nya.
seketika pikiran nya dipenuhi pertanyaan tentang ega,putri dan juga ara.
__ADS_1
tapi satu hal yang pasti yang sila dapat simpulkan bahwa Tiara Putri Handoyo adalah anak yang sila lahirkan dan sila buang diwaktu yang sama.
ada rasa sakit dan juga sesah kala bayangan wajar ara muncul dalam benaknya,"pantas saja muka nya mirip aku dan matanya mirip ega.....dia adalah anak kami yang telah aku tolak kehadiran nya bahkan tanpa aku lihat wajah bayi mungil itu."gumam nya dan kembali air matanya lolos begitu saja dan kembali membanjiri wajah cantiknya.