
Sila melepaskan pelukan putri dan menatap tak percaya akan apa yang dia katakan.
"kamu bilang apa put?ega mencintai aku?kamu yakin put?"tanya sila yang masih meragukan perkataan putri.
"yakinlah,orang dia sendiri yang bilang sama aku dan reza dan itu sudah berlangsung lama banget,kamu nya aja yang ga peka bahkan tak menganggap perhatian nya selama ini"
"aku ga tau put,aku kira dia melakukan itu karna dia udah nganggap aku adik,sungguh aku ga tau"lirih sila.
"ya sudah,sekarang lebih baik kamu dan ega coba berbicara dari hati ke hati,ingat kalian harus membicarakan masalah ini dan memberi tahu ara kalo kamu benar benar bunda nya"
"iya nanti aku coba bicara sama ega"
"oh iya,bukan nya dia keluar kota ya?kok bisa sekarang dia disini?bentar ya sil aku kesana dulu"putri pun bergegas mendekati meja ega dan sang suami.
"ga,bukan nya tadi kamu bilang mau keluar kota yah kok udah balik aja"putri langsung menodong ega dengan pertanyaan begitu sampai didepan meja ega.
"tanyain tuh sama suami rese kamu,ngerjain orang ga tanggung tanggung untuk belum naik pesawat coba kalo sudah takeoff,untung pak indra telpon kalo ngga bisa kayak orang bego aku disana"
"oh iya ga,kamu anterin sila pulang ya,aku sama mas reza mau langsung kerumah mamah,tadi mamah telpon nyuruh kesana begitu mas eza pulang"pinta putri pada ega
"emang ga apa apa?kalo aku sih ya ayo ayo aja,tapi gimana kalo sila nya yang keberatan"
__ADS_1
"enggak kok,kali ini dia pasti mau kamu anterin pulang."
mereka pun memutuskan pulang,reza dan putri memasuki mobil mereka sedangkan sila,ega dan juga ara memasuki mobil yang tadi dibawa uleh ega.
selama diperjalanan semua membisu tak ada yang memulai pembicaraan.Sila di sibukan dengam berbagai macam pertanyaan dalam pikiran nya,begitu pun dengan ega tapi ega maupun sila tak berani membuka pembicaraan di antara mereka berbeda dengan si kecil ara yang asyik menyambangi alam mimpi nya.
30menit berlalu dan mobil ega pun sampai didepan rumah sila,iya sila telah kembali tepatnya setahun yang lalu kala mendapat tugas mengajar disekolah yang ara tempati.
"masuklah dan istitarah,terimakasih karna sudah bantuin jaga ara selama disekolah"ega mencoba membuka komunikasi walaupun masih canggung.
sila menanggapi dengan anggukan,saat akan membuka pintu mobil sila berhenti sejenak dan kembali berbalik menghadap ega yang masih setia menatap nya.
"kok diem?ga mau nyimpen kontak aku ya?ya udah deh maaf kalo bikin kamu ga nyaman"sila pun memasukan ponselnya kembali kedalam tas dan segera berbalik tapi saat sila akan membuka pintu ega menarik tangan sila dan membawa nya kedalam pelukan nya.
"maafkan aku sil,maaf,aku benar benar minta maaf"ucap ega semakin mempererat pelukan nya,sila merasakan tubuh ega bergetar dan bahu nya mulai terasa basah.
iya ega tengah menangis didalam pelukan sila,sila yang telah mengetahui cerita dibalik malam naas itu membalas pelukan ega tak kalah erat.
"nggak ga,aku yang minta maaf,aku yang egois,aku yang terlalu meratapi kehancuran dan kesedihan aku tanpa memikirkan posisi kamu,tanpa mau mendengar penjelasan kamu,aku yang minta maaf"
"nggak sil,aku yang salah aku"sanggah ega semakin mempererat pelukan nya.
__ADS_1
"terus kalo aku salah kamu juga salah,siapa yang harus terlebih dahulu memaafkan?"tanya sila mencoba mencairkan suasana.
"kamu dulu,aku yang minta maaf dan kamu yang memaafkan....apa kamu memaafkan aku sil?"sila hanya menganggukan kepala nya.
"kok cuma ngangguk,jadi ragu dimaafin atau nggak"ujar ega mengurai pelukan nya dan menatap dalam mata sila.
"iya,aku maafin kamu"jawab sila memalingkan wajahnya ke arah lain,terlalu malu untuknya menatap lama pria yang tak sengaja menjadi ayah dari anaknya.
"kalo ngomong liat lawan bicara nya dong,masa dicuekin"ega menarik dagu sila agar kembali menatap nya.
"maafin aku ya ayah ara,maaf karna terlambat mengetahui fakta yang sebenarnya"sila memberanikan diri menatap manik mata hitam ega yang basah usai tangisnya pecah dalam pelukan sila.
"kok ayah nya ara?panggil mas dong biar lebih enak didengar"ega mengkerling mencoba menggoda sila.
semburan merah pun mencuat dikedua pipi sila mendengar ega meminta nya memanggil 'mas'.
"iiihhh...apa sih ga,kaya suami istri aja manggil nya mas"sila merenggut menutupi kegugupan nya.
"emang bunda nya ara mau jadi istri seorang Rega prayoga handoyo?"tanya ega merubah raut wajahnya menjadi serius.
"hah...apa?"tanya sila kaget mendapat pertanyaan dari ega.
__ADS_1