Luka Darimu

Luka Darimu
10. Terkejut dan Kaget


__ADS_3

Untuk satu kata hari ini, Arshal sedang berpikir keras karena ia dikasih waktu selama beberapa menit untuk memikirkan perusahaan yang akan jatuh di tangan dia, apakah keberuntungan atau kesiawalan.


"Di perusahaan tenang aja, papah bakal bantu kamu kalau kamu mengalami kesulitan." Papah Arshal menyinggung batin Arshal karena memang satu anak ini sudah lulus wisuda, tapi entah mengapa otaknya nggak diasah dan dikembangkan.


"Iya tapi masalahnya ini, aku bisa nggak mengelola perusahaan itu pah." Kekeuh Arshal dan papahnya menghela napas kasar.


"Keterlaluan juga ya kamu, lama-lama makin aneh." sarkas papahnya sambil mengeluarkan satu puntung rokok yang terbungkus oleh bungkus rokok.


Arshal terlihat gurat wajahnya tersenyum miring, "pah, kok ngerokok di sini? Nggak di depan mamah," sindir Arshal yang batinnya ia lebih bisa menghargai seorang perempuan tapi pada kenyataannya papahnya sendiri saja berkhianat dari kata-katanya.


Sok alus bener ini orang tua satu.


Nyatanya lebih berandalan.


"Iya, mau?" tawar papahnya tersenyum kecut dan Arshal menggenggam tangannya sebagai tanda terima kasih sebagai tawarannya.


Karena ia memang tidak menyukai rokok dan jadi ia baik-baik bersama pria yang sudah lulus anti perokok.


"Pah, tapi kalau nanti turun gimana sahamnya?"


"Ya nggak mungkin lah, orang nanti juga bakal jadi begitu hanya beberapa saat dan Arshal kamu itu calon bibit unggul keluarga ini, jangan malu-maluin keluarga papah kalau berkumpul!"


Pria itu menghirup udara dalam-dalam. Sungguh ini papahnya amat menyesakkan ketika memaksa seperti ini, ia pun mengetukkan pulpen itu di atas meja kaca yang tak ternilai harganya di mata papahnya.


Entah Arshal heran dengan papahnya yang amat menyukai barang branded kecuali tak ada minuman keras di sini, karena itu Arshal tak betah jika satu hari disuruh menginap pula jika tak ada tandingannya yaitu minuman keras.


Dan ia salah satu pecandu alkohol.


Hidupnya bebas jika di luar tanpa ada kekangan dari mamahnya sendiri terutama, sebab mamahnya sungguh mencintai putra tunggalnya ini.


Bila sampai mendengar ini kesalahan paham atas keluarga Arshal mungkin jantungnya akan kumat lagi dan bisa-bisa Arshal akan disumpah sendiri oleh mamahnya untuk tidak dilanggar kembali.


Mamahnya bakal membawa mereka ke rumah ini dan menghidupi keluarga Arshal sendiri, nah makanya papahnya seolah menutup mulut dan ketika ditanya menutupi masalah yang ada di dalam keluarga Arshal.


Sebenarnya papah Arshal baiknya dia nggak diam saja, ia tetap memantau kondisi menantunya dan meski sudah tampak tua, serta berbagai lipatan itu memenuhi badannya.


Fisiknya masih kuat buat berjalan sepanjang beberapa kilo pada saat ada acara fashion show dan papah Arshal memang dipantau kesehatannya oleh dokter, makanan pun diatur ahli gizi.


Beneran aneh ini orang tua, serba diurus oleh orang lain.


Tapi, memang menghasilkan cuan yang banyak ampe keturunan kesepuluh bakal nggak mencair itu cuan.


Mengalir terus.


"Pah, udah tua waktunya bertaubat.." saran Arshal yang melihat papahnya tampak menandatangani dan menyobek kertas yang ada di sebelah dokumen penting itu, isinya berbagai laporan.


Bikin kepala nyut-nyutan emang ini orang tua.

__ADS_1


"Ya sudah, kamu belajar dari sini dulu." Mata orang tua satu ini masih awas karena sejak tadi melihat Arshal yang mengamati dokumennya ketika dibuka.


***


Sementara Gibran, sekarang dia di posisi diapit oleh ibunya dan Syifa yang tengah duduk di sofa itu.


Sungguh ia ingin bergeser sedikit tapi keburu tatapan ibunya melihat dirinya saja sudah tidak ingin pindah.


"Bu, nanti pak Angga ke sini." ucap Gibran tiba-tiba dan Arina menatap anaknya, memegang paha putranya itu.


"Siapa?"


"Papahnya Syifa, jadi mau jengukin aja. Selama ini udah bantu kita soalnya mereka," jawab Gibran secara terang-terangan dan mendengar penjelasan Gibran, Arina bingung.


"Bagaimana bisa?"


"Oh ya sulit buat menjelaskan dari awal, intinya sih Gibran menolong anggota keluarga mereka dan mereka baik banget sampe mau biayain kuliah--


"Kamu merepotkan mereka banget Gib, perasaan Gibran nggak begitu. Anak ibu itu cukup buat minta sama orang lain, lebih baik mengasihi." Sela Ibunya dengan mata membulat.


Melihat Syifa terlebih dahulu, memang betul mirip tapi entah papahnya nanti.


Untung nggak kebablasan buat membicarakan tentang papah Angga jadi baiknya ia cukup ceritakan sampai sini saja.


Syifa tersenyum tipis, "Udah nggak papa Syif, biasa aja. Ibu sukanya bercanda,"


Sesekali dia menyelamatkan Syifa dulu, pahlawan kesiangan daripada nanti itu Syifa kena semprot sama ibunya yang kata-katanya benar pedas menajam, menukik.


"Iya,"


"Jangan iya doang kamu ini!"


"Udah bu, ini masalahnya bukan apa-apa 'kan?" tanya Syifa sebagai penyelamat dan Gibran mengangguk.


"Nggak ada,"


"Diem kamu!" potong ibunya tajam dan ketika ingin mencubit perut putranya malah ada suara ketukan pintu dari luar.


"Masuk aja paman!" suruh Gibran dan seseorang melangkah dengan sepatu mengkilap nya itu diketukkan di lantai.


"Pah," sapa Syifa yang meletakkan mangkuknya karena memang sudah habis namun betah memegangnya sambil menonton TV acara yang seru pastinya.


Angga menatap lama seseorang perempuan yang masih fokus dengan Gibran yang mengupas sebuah apel.


"Assalamu'alaikum,"


Ketika ada salam, di saat itu pula perempuan itu menengok dan bagaikan disambar petir di siang bolong.

__ADS_1


Arin terkejut, sampai dia menurunkan posisi wajahnya.


Raut wajahnya sebenarnya sudah bisa ditebak jika ia tampak kaget dengan kedatangan Angga.


"Angga," reflek ia mengucapkan begitu dan Angga mengangguk.


Ia pun ingin rasanya merengkuh tubuh kecil dan hangat dahulu kala namun sekarang sudah dimiliki oleh orang lain.


"Bu, kok kenal?" tanya Gibran menghentikan aktivitasnya dan melihat mereka berdua saling kaget saja.


"Ada apa?" Syifa berhubung bingung, mending bertanya saja.


"Oh engga ini Angga temen lama aja," jawab Arin ceplas-ceplos tanpa memikirkan raut wajahnya Angga yang meringis.


Agar tidak menyebarkan sekarang, sebab ia tak mau jika mereka berdua saling berdekatan lagi bila orang tua mereka sudah dekat.


"Hah..." kaget mereka karena sudah dilihat dari tatapannya, mereka tidak menyangka jika orang tua dari masing-masing masih ada sedikit perasaan, selebihnya sudah tidak perduli dengan cintanya.


Berarti selama ini dia menghidupi putra dari mantan pacarnya ini, benar-benar Angga kaget saja selama ini ingin menemui Arin sudah tak mampu rasanya.


Hari-harinya dipenuhi oleh dokumen jadinya nggak sempat.


"Oh jadi ini bapak dari Syifa ya?" tanya Arin yang menyimpulkan senyumnya dan melihat Syifa, ia memeluk Syifa tiba-tiba.


"Nyaman banget sama--


"Kayak bapaknya." kompak mereka berdua dan mereka yang sudah menjadi orang tua itu mengerutkan keningnya.


"Berarti ini yang real bukan kita, tapi anak kita Ga." ujar Arin berharap saja mereka bisa seperti apa yang dicontohkan oleh orang tua mereka.


"Iya lah," timpal Angga tersenyum tipis.


Menerka saja mereka bisa bertemu tapi tetap saja hati Angga sedikit terenyuh ketika mengulang cerita Gibran yang sudah mempercayai Angga sebagai tempat berpulang untuk bercerita.


"Makasih sekali lagi," ucap lembut Arin sambil menjabat tangan Angga dan Angga mengangguk tanpa merubah raut wajahnya yang dingin itu.


Tanpa mau basa-basi pun dia dingin itu nggak bakal terkalahkan.


---


Woke..


gimana😭


Ncing apa kabar baik dan sehat ya...


Makasih buat kalian yang sudah mampir sayang❤

__ADS_1


__ADS_2