
Malam menyapa, mereka yang ada di rumah sederhana. Tinggal berdua, mereka berinisiatif untuk tidak tinggal di rumah itu lagi karena kejadian malam tadi.
"Ayah kamu kemana sih nak?" Ibunya sejak tadi menggumamkan nama ayahnya, Gibran sudah tidak menganggap dia ayah atau itu laki-laki yang penting di hidupnya.
"Bu, nanti ibu jadi capek!" kesal Gibran yang membuatkan susu hamil untuk ibunya, ia sendiri sedikit meringankan bahu ibunya yang capek membunting itu perut.
Gibran menatap nyalang ketika ibunya yang tadi mondar-mandir sekarang duduk sambil memakan tisu.
"Hah!!! Bu, jangan gitu lah!"
Ia mendekati ibunya yang ternyata bukan tisu melainkan makanan yang ibunya ambil di atas kulkas tadi.
"Apa sih nak?"
"Nggak ada,"
Ia malu sendiri, Gibran lantas mengasihkan susu hamil itu di meja dan dihadapan ibunya.
Ibunya mengerutkan keningnya dalam, "tak biasanya nak?"
"Nggak kok, ini buat ibu. Bukan buat dedek bayinya ya," sindir halus Gibran yang mengambil tempat duduk.
Ia pun duduk di samping ibunya, Arina memang tampak betul jika ia mengandung adek tak berguna itu menyusahkan kalau kata Gibran.
Gibran mengambil sebungkus cookies dan membukanya, ia pingin sekali menyemil tapi tidak keturutan soalnya.
Brak...
Brak...
Suara seperti dobrakan pintu, membuat mereka berdua berjengkit kaget saja karena ada seseorang yang mendobrak pintu.
Berhasil membuat engsel pintu rusak, ibu Gibran menatap miris suaminya yang lemas tak berdaya limbung di atas lantai dingin itu.
Gibran menatap malas pemandangan kali ini, tapi kasihan dengan ibunya yang sudah mengandung adek siwalan itu.
"Mari bu, Gibran bantu!" seru Gibran yang menawarkan bantuan dan tiba-tiba saja ayahnya bergerak, berdiri dengan langkah tertatih dan menyunggingkan senyuman devilnya.
Jahat.
Ia tertawa nyaring seperti biasa orang mabuk bawaannya ya gitu.
"Saya minta kamu keluar dari sini! Saya nggak sudi lihat muka kamu lagi," ucapnya keras dan nada mengusir.
Tiba-tiba ia mendengarnya agak ragu, Arina mengabaikan.
Sepatutnya Arina yang terkejut itu memegang dahinya yang sedikit pusing.
Kenapa tiap pulang suaminya begini?
Gibran sudah siap siaga pasang badan, kalau seumpamanya ayahnya mencelakai ibunya sendiri. Bagaimanapun ibu sudah melahirkan dia tanpa melahirkan kebencian sekalipun.
Menerima kehadirannya dengan ikhlas dan tulus untuk merawatnya sampai besar sekarang.
"Nak, ayah keknya mabuk. Kebawa sama arus mabuk." Simpul ibunya dan Gibran mengangguk malas.
"Iya nanti Gibran mandiin ayah, daripada ibu dari tadi ngomel terus." capek Gibran dengan merubah sorot matanya.
"Sekarang Gib!" perintah ibunya dan Gibran dengan malas ia mengangkat tubuh ayahnya yang amat berat jika mabuk begini.
"Iya-iya."
"Nggak usah saya masih sadar! Kalian silakan pergi dari sini!" Arshal menolak mentah.
Usiran dari Arshal membuat mereka tersadar jika Arshal ini sepenuhnya masih sadar tapi mabuknya juga masuk akal.
__ADS_1
"Saya minta kalian berdua keluar! Ngerti bahasa manusia nggak sih!" Kata Arshal dengan keras.
"Berapapun nanti, saya akan menceraikan kamu dan uang asuh anak bisa minta sama papah saya." ucapnya enteng tak perlu memikirkan lagi dan Arshal menyeret kakinya untuk pergi ke dapur.
Arina mencerna perkataan Arshal yang ucapannya sebenarnya tak main-main.
Melihat gerak-gerik Arshal membuat mereka berdua saling memandang.
Melalui ekor matanya, Arina menajamkan pandangannya.
"Ayah kamu mau apa nak?"
Gerak-gerik itu, ayahnya pun melayangkan suatu benda itu.
"Nggak tahu bu,"
Sontak mereka melotot ketika Arshal membawa pisau tajam mengkilat itu dan tersenyum devil.
"Mau saya bunuh atau pergi dari sini?" Pertanyaan dengan penuh lantang dia mengucapkan begitu.
Arshal yang mulai mendekati keduanya itu pun Gibran mengambil alih tempat. Tapi, ibunya memaksa untuk menjadi tameng dan ibunya segera mengambil ancang-ancang untuk mengatakan kata-kata.
"OKE, BAIK KITA CERAI!" ucap seorang wanita yang sedang mengandung darah daging laki-laki di hadapannya ini.
"Iya, tahu saja kalau begitu silakan keluar! Pintu rumah terbuka lebar." Dengan begitu diiringi dengan ketawa dan Gibran ingin menempeleng kepala ayahnya itu.
Seenaknya jidat mengatakan begitu dan ibunya berbalik badan.
"*GILA AYAH! NGGAK PUNYA OTAK!" ucapnya sambil mengeluarkan kiasan kata yang dimaksud agar ayahnya sadar.
"Nggak, buktinya masih sadar ayah? Dan kamu bocah ingusan kemarin sore, nggak usah tahu tentang masalah keluarga!" sarkastik ayahnya yang menuju ke kursi sofa.
Melihat perlakuan mereka bagaimana.
Ibunya pun menahan badan Gibran supaya tidak menyerang orang tuanya.
"Mending kita keluar aja Gib! Ibu juga udah muak sama sifat ayah kamu."
"Iya lah bu," Mereka akhirnya memutuskan untuk meninggalkan tempat ini sebagai kenangan saja dan mereka akan menjadi dua orang sebagai keluarga.
Setelah itu, mereka menyadari dan sekarang di posisi itu mereka sampai di apartemen yang Gibran sewa selama seminggu tidak pulang di rumah.
Gibran mulai memikirkan kembali, bagaimana caranya biar ibunya tak merasakan kesakitan ketika mengandung banyak sekali cobaan yang diberikan.
Sekarang ini ibunya sedang mandi sampai mendengarnya saja Gibran serasa amat pilu.
Muntah-muntah, sampai teler begini.
Karena tadi sempat kehujanan jadi ibunya mandi, eh malah begini keadaannya. Gibran mengurusi dan membuka pintu kamar mandi, ia tak tega soalnya.
"Bu," Panggilnya bergetar dan Gibran mematikan showernya.
"N-ak. To-long amb-ilkan handuk!" Masih saja bisa berbicara, kalau ini Gibran jika tak punya hati ingin membunuh anak itu yang ada di dalam kandungan ibunya.
Dia merasa nanti jika lahir anak itu bakal menjadi pesaingnya dan apalagi bisa dibandingkan, harus mengalah.
"Iya,"
Dia pun melangkah keluar dan mengambilkan handuk tebal untuk menutupi seluruh tubuh ibunya, ibunya yang masih telanjang dan ia menghargai itu ibunya bukan wanita lain.
Wanita yang melahirkan dirinya yang pasti menjaga penuh atas dasar akal dan pikirannya harus nyambung.
"Ini bu,"
Ia memakaikan dan ia pun menggendong tubuh ibunya yang lemas tak berdaya menempel di dinding itu.
__ADS_1
Ia tak mau ibunya sakit dan mengangkat tubuh ibunya, berat badan mereka mungkin bisa dibicarakan.
Akhirnya Gibran juga menggantikan baju ibunya dan ia memasakkan bubur di dapur.
Ibunya tetap saja memuntahkan cairan dan ia jadi masak tidak tenang begini.
"Sabar ya bu!" Ia mondar-mandir menunggu masakannya hingga matang.
Tergesa-gesa mengambil mangkuk dan hampir saja meleset dari perkiraan jika sendok yang ia gunakan untuk mengaduk mengenai tangannya.
"Hufft," Ia pun mengusap tangannya dan mengelus pelan.
"Semoga saja ibu cepat pulih ya, ngga tegaan gini mana bisa jagain ibunya." Cecar dirinya sendiri dan ia membawakan mangkuk itu menuju kamar.
Di sana terdapat ranjang dengan sprei dan selimut yang bernuansa abu-abu menutupi seluruh tubuh ibunya.
Ternyata ibunya tertidur setelah reaksi yang dikeluarkan berlebihan jadi tepar begini.
"Huh, kalau nggak gara-gara ni anak mana mungkin aku bisa melihat ibu gue yang sekarang kayak gini liat dia hidup di dalam kandungan." Ucapnya ingin mempenyet perut ibunya, ide brilian itu muncul tiba-tiba.
Maaf buka brilian tapi jahat.
Gibran meletakkan mangkuk berisi bubur itu dengan asap yang masih mengepul.
"Gimana ya? Ngga enak nanti jadinya."
"Alah bodo amat, sekarang ngerjain tugas matematika dulu lah." Ia pun mengambil buku di lemari.
Di sana fasilitasnya nggak main dan ternyata memang ia tidak salah pilih dengan apartemen itu.
Beberapa lama setelah memikir keras akhirnya dia sudah menyelesaikan tugasnya dengan cepat.
Ia masih mampu jika mengerjakan perhitungan begini, kalau bahasa Indonesia sama sejarah nggak dulu. Dia menghindari kalau mata pelajaran itu.
"Hm, gus tiba-tiba kepikiran. Itu ibu kok bisa bertahan ya dengan sikap kekeras kepalaan ayah yang tiada banding dan orangnya kejam lagi." ucap dirinya mengingat jika ibunya masih bertahan dengan tubuh yang tidak berbentuk.
Pernah satu kali tubuhnya remuk redam merasakan sakit yang amat pilu dan tiap malam hanya menangis.
Menangis sampai nangis darah pun rasa sakit itu nggak bakal digantikan dengan rasa bahagia suaminya yang tiap hari hanya bisanya menghamburkan uang ibunya.
Gibran mengepalkan tangannya, ia benci masa lalu.
Makanya ia tak suka sejarah, jadi agak lain cerita memang ini anak.
"Kalau gue jadi ibu pun bakal ninggalin dari dulu, mana gue nurut aja gitu terus keluarganya ibu aja mana ada yang tahu tentang ini. Aduh," Sambil mengomel sendiri, ia menikmati pemandangan atas apartemen yang indah dengan kota Jakarta.
Punya cerita tersendiri bagi anak itu.
"Hm, gue mau cerita sebenarnya saja ama kakek dan nenek. Apa nggak jantung mereka kumat bakalan, segede ini masalahnya dan mereka sebagai besan menutupinya." Iya, kakek dan nenek dari pihak ayahnya memang tak ingin berita itu tersebar cepat.
Apalagi kedudukan orang tua ibunya memang di atas mereka dan secara sebelah pihak informasi bakal di tangan wartawan.
Bakalan mereka malu sendiri.
Aduh, nanggung biaya hidup kek gini amat. Ia pun menggusak rambutnya kasar, frustasi lama-lama.
Bagaimana dengan keadaan broken home yang tiap hari mendengar orang tuanya marah dan ujung-ujungnya pelariannya ke pasangannya masing-masing.
Bakalan anak itu akan merasa dijauhi oleh kedua orang tuanya, yang orang tuanya masa bodo dengan mereka yang egois kepada putusannya masing-masing.
**woke...
mangga buat mampir dan selamat membaca ya, jangan lupa like and komen😌❤
__ADS_1
yahhh**...