Luka Darimu

Luka Darimu
42. Arfa dan Arina


__ADS_3

Gibran memilih untuk pergi setelah ia mengobrol panjang lebar dengan Arfa, tanpa disadari ia kembali ke ruangan ayahnya yang di mana ayahnya sedang memegang infus, berjalan menuju ke ranjangnya.


Mungkin saja ayahnya habis ke kamar mandi. Ia pun masuk ke dalam lalu menutup kembali pintu ruangan ayahnya.


“Yah,” Panggil Gibran melangkah maju dekat dengan ranjang tempat ayahnya sedang duduk di tepi.


“Iya,” sahut Arshal dengan mengangkat kakinya naik ke ranjangnya dan Gibran tersenyum tipis.


“Yah katanya dokter besok sudah bisa pulang.” Putranya memberitahu dan Arshal menganggukkan kepala.


“Iya jugaan ayah sudah tidak betah ada di sini, apalagi di sini rasanya tidak sebebas di rumah.” Jawab ayahnya dengan menutupi raut wajahnya yang terlihat tidak rela untuk meninggalkan rumah sakit ini.


Memang di rumah sakit ia dijamin untuk makanan dan segala fasilitas, namun jika sudah berada di rumah apakah dia seenak menikmati yang ada di rumah sakit.


Sepertinya tidak, hanya angan-angan yang berterbangan di setiap pikirannya.


“Hm, iya...”


Rasanya memang sedikit canggung lantaran Gibran itu tidak pernah dekat dengan ayahnya dari lahir, kemungkinan kecilnya situasi seperti ini harus dihindari.


Lelaki itu lantas mengangkat kakinya berjalan ke tempat duduk yang ada di sana. Tak jauh dari ranjang tempat ayahnya berada.


“Nak,”


Gibran menolehkan kepalanya dan ia duduk dengan posisi menatap ayahnya yang sedang menurunkan kakinya kembali. Padahal niat hati emang mau mendekatkan bagaimanapun caranya ia harus bisa merebut warisan itu kembali.


“Nggak usah turun yah,”


“Kenapa?”


“Iya sudah di sana saja! Ayah kan harus banyak-banyak istirahat biar besok cepet pulang.” Ujar Gibran menasehati.


Arshal mengurungkan diri untuk tidak menghampiri putranya.


“Ada apa?” sambung Gibran sambil bertanya.


“Nak, tolong. Ayah minta bantuan kamu, buat ngomong pelan-pelan sama ibu kamu agar ibu kamu pulang ke rumah sama kamu juga jika mau pulang, pintu rumah akan terbuka lebar buat kamu.” Jelas Arshal dengan pelan-pelan dan menatap penuh harap kepada lelaki yang sudah beranjak dewasa bentar lagi ingin wisuda, lulus dari pendidikannya.


Gibran mencerna perkataan ayahnya sendiri.

__ADS_1


Lelaki itu menganggukkan kepala kecil, “Maaf jika Gibran belum bisa menerima sepenuhnya buat peran ayah buat Gibran sendiri, tapi Gibran sendiri mengusahakan buat membicarakan hal ini kepada ibu nanti.” Ucapnya menekan kata nanti dan Arshal hanya menganggukkan kepalanya, namun di lain dari hati. Sebenarnya ini kesempatan buat dia mencari perhatian serta wajahnya untuk dibaik-baikkan kepada putranya sendiri.


“Ya sudah, ayah menunggu kalian berdua.”


“Iya makasih, yah.”


Arshal hanya menganggukkan kepala.


Gibran termenung diam menatap ayahnya yang membenarkan kepalanya lalu membenarkan posisi duduknya menjadi membaringkan tubuhnya.


Mata Gibran seolah tidak berhenti di situ saja, anak itu melihat bekas makanan yang sedikit tercecer di meja tanpa ia ketahui juga laki-laki itu akan mencari.


“Sudah makan, yah?” tiba-tiba emang dia kepikiran untuk menanyakan hal itu.


Ayahnya lalu menengokkan kepalanya ke arah Gibran, “Iya sudah, tadi diantarkan suster makanannya.” Dengan mengalihkan tatapannya ke arah lain untuk menghindari tatapan Gibran.


Laki-laki itu tentu menaruh rasa curiga dengan ayahnya ini yang sebenarnya memang tidak memakan makanan yang sudah diantarkan oleh suster sebab ia melihat ada bekas plastik yang tertinggal di atas meja.


Laki-laki itu mengikuti arah pandang ayahnya daripada nanti yang ada dia bukan anak yang baik buat ayahnya sendiri, mau bagaimanapun ia memiliki keturunan darah dari Arshal.


Arshal mengubah mimik ekspresinya agar tidak diketahui oleh Gibran, tapi siapa sangka Gibran malah mendapatkan bekas ceceran makanan yang kemungkinan besarnya dibuang di kotak sampah.


Arshal yang ketar-ketir, takut itu lantas membalikkan badannya.


Salah sendiri kan!


Gibran menyunggingkan senyumnya, “Apa perlu makan bubur tanpa ada rasa, yah?” tanya Gibran dengan nada suaranya yang dingin plus muka misteriusnya, sungguh kejam bagi ayahnya sendiri.


Arshal bergidik ngeri, kenapa ini anak mendadak berubah jadi kejam padahal dahulu dia lah yang paling kejam di antara keduanya.


***


Sementara di kamar Arina, tepatnya dia sedang mengelus-elus Arfa yang sedang bergelanyut manja di ketiak perempuan berhijab itu. Layaknya seorang anak kepada ibunya, momen itu lah yang ditunggu oleh Arfa dahulu sejak ia dilahirkan ke dunia.


Ya, mamahnya Arfa telah menutup matanya sejak dilahirkannya laki-laki itu dan saat itu memang menjadi suatu pertimbangan untuk papahnya Arfa karena dokter sudah menyatakan jika putra yang dikandung oleh istri dari papahnya Arfa itu mengalami gagal jantung saat itu dan memang suatu pertimbangan berat bagi laki-laki itu, pada akhirnya istri dari papah Arfa harus mempertahankan pendirian papah Arfa supaya menyelamatkan putranya—Arfa.


“Ibu...” panggil Arfa dengan mengelus-elus tangan Arina dan Arina mendengar hanya tersenyum tulus kepada ponakannya yang sudah ia anggap sebagai anak kandung sendiri.


Mau gimana lagi Arfa tetaplah ponakannya, karena dia sadar akan tentang keluarganya jika sebentar lagi kecebong kecil ini akan keluar ke dunia untuk menemani gelak tawa hangat di keluarga kecilnya walaupun tanpa sosok ayah, kasian memang.

__ADS_1


“Iya apa?”


“Kata papah, Arfa nggak boleh beli yang aneh-aneh. Minta mobil harganya sekian miliyar tidak dibolehkan sama papah,” mendengar keluh kesah ponakannya itu membuat ia membulatkan matanya, apa-apaan ini anak namanya itu menguras dan menarik kolor papahnya yang ada.


Pantas saja tidak diperbolehkan.


“Kalau bisnis aja papah maju paling depan, anaknya sampai disuruh buat gantiin gimana itu ada hikmahnya pokoknya papah ambil, suatu keuntungan katanya daripada beli mobil nggak jelas.” Papar Arfa melanjutkan sebelum Arina berbicara.


Arina menyatukan rambut Arfa sembari memain-mainkan, kan ya gimana agak gabut dia. Mau ke putranya malah putranya nggak tahu kemana keberadaannya.


Katanya ini anak, balik ke kamar ayahnya.


Ya sudah ia percaya dengan perkataan Arfa jika Gibran benar-benar ke kamar ayahnya.


Papah Arfa yang di sana membuka pintu ruangan adeknya itu lantas membelalakkan matanya mendengar paparan Arfa yang sangat jelas mendengung di setiap telinga kanan-kirinya.


Papah Arfa menghampiri Arfa yang sedang kepalanya masih di ketiak Arina.


Lelaki itu lalu mengode lewat tatapan matanya agar untuk tidak memberitahu kepada putranya jika orangnya memang ada di sini, dan ia di sini sendiri.


Untung saja masih selamat kepalanya, jika tidak mungkin saja papah mereka akan memenggal papah Arfa yang tidak menuruti kemauan putra semata wayangnya sendiri. Mau itu berat untuk dirinya setidaknya tak menyesal karena tidak bisa membelikan kemauan anaknya sendiri.


Yang ada ujung-ujungnya anaknya akan berbuat nekat, tanpa persetujuan orang tua akan dilakukan demi mendapatkan sebuah hadiah.


Arina tidak berani berkomentar lantaran dihadapannya sudah ada kakak laki-lakinya yang dulu sudah ia susahkan sekarang masa iya dia mau di pihak Arfa sendiri.


“Ekhm...” Arina berdehem agar Arfa bangun dari tidurannya sebab rasanya kakinya pincang sebelah. Sakit badannya, mau ngeluh itu tidak mungkin dalam hidup Arina.


“Iya bu, harusnya papah itu kalau kata kakek kan aku anak semata wayangnya, harusnya dituruti mau habis berapa kan bebas. Asalkan nggak lebih dari nominal kehidupan papah, kan kehidupan papah aja selama ini normal tanpa ekonomi sulit di berada posisi bawah.” Lagi dan lagi Arina belum menjawab, Arfa sudah bertubi-tubi merentetkan pembicaraan.


Arina hanya mendengarkan keluh kesah ponakannya itu tersenyum tipis dan tangannya tidak berhenti untuk bergerak-gerak di atas kepala Arfa.


--


**Oke makasih yang udah mampir, bersedia buat baca karya Din😚...


Ya udah nanti kalau rame dibahas gift away nya siapa tahu ada yang dapet, target harus kecapai ya🙏...


Ayok ramein❤**

__ADS_1


__ADS_2